
“Arisannya siang, kan? Kita berangkat jam berapa?” tanya Rio pada Jennifer.
“Jam dua belas siang nyampe sana juga nggak masalah kayaknya, Pi. Keluarga istrinya Toni giliran datengnya pagi. Wulan bilang biar nggak kebagi-bagi perhatiannya. Dia khawatir nyuekin temen.” Jennifer sedang melihat-lihat dress di dalam lemari.
“Anak-anak ikut semua?” tanya Rio lagi. Ia sedang menelungkup di atas ranjang dengan ponsel di tangannya.
“Ikut semua. Kata Wulan harus ikut semua. Dia mau rumahnya rame. Jadi keinget acara yang lalu, Wulan belum ikut, ya. Dia masih belum ikutan momen kumpul-kumpul yang pertama.” Jennifer mengeluarkan dua dress dari dalam lemari.
“Oh, iya. Aku juga baru nyadar. Pantes Wulan semangat banget. Yang pertama dia belum ikutan. Padahal yang pertama di rumah Toni. Tapi, kayaknya itu bukan arisan, deh, Mi. Itu acara ngebujuk Mami Toni tema keluarga,” ujar Rio. “Yang warna krem bagus, Mi.” Rio menunjuk sebuah gaun yang berada di tangan kanan Jennifer.
“Krem, ya? Oke. Aku pake yang ini. Bukan dress baru, Pi.” Jennifer memasukkan kembali dress satunya ke dalam lemari.
“Mami nggak perlu dress baru. Pakai apa aja tetap cantik, kok.” Rio memandang Jennifer yang mematut dress-nya di depan cermin lemari.
“Makasi, Papi Rio.” Jennifer menoleh suaminya dari pantulan cermin.
“Mami udah beli kado untuk anaknya Tirta?” tanya Rio.
“Udah. Di bawah. Nanti ingetin lagi. Jangan sampai lupa,” tukas Jennifer. “Aku mandi sekarang. Nanti malah kelamaan dandan. Papi liat Gio, ya. Tadi sibuk mau bawa mainan. Katanya mau main sama Dirja.” Jennifer memutar tubuhnya.
“Gimana kalau quickie? Aku lagi pengen,” kata Rio.
Mulut Jennifer mencebik. “Kemarin malem nggak mau. Nanti kita bisa terlambat,” tukas Jenni.
“Ayo, sini. Sebentar aja. Aku janji nggak lama.” Rio memberi kode jari telunjuknya mengajak Jennifer mendekat ke ranjang.
“Aku belum mandi. Papi juga. Aku sukanya yang wangi-wangi,” ucap Jennifer, menunggu Rio berjalan dan berdiri di belakang tubuhnya.
Rio berdiri melepaskan pakaian yang membungkus bagian bawah tubuhnya.
“Nanti mandi bareng juga bisa,” kata Rio. “Kapan lagi kita bisa gini? Mengutip kata-kata Dean, ini adalah masa keemasan buat kami para laki-laki. Memasuki usia 34 tahun,” sahut Rio, membuka resleting terusan yang dipakai Jennifer.
Rio langsung melepaskan seluruh pakaian dalam istrinya. Seperti halnya dengan istilah quickie, yang sering diartikan sebagai bercinta dalam waktu cepat. Rio melewatkan pemanasan dan menempeli tubuh istrinya hingga lutut Jennifer menyentuh tepi ranjang.
“Pelan-pelan. Aku belum—”
“Aku yang basahi,” potong Rio, mengusap bagian kewanitaan istrinya sebelum ia memasuki tubuh istrinya dengan cepat.
Rio mencengkeram pinggang Jennifer dengan erat. Menghunjam berkali-kali dengan cepat.
“Mami mau juga? Atau aku sendiri aja?” tanya Rio.
“Papi aja. Aku nggak konsen kalo buru-buru,” sahut Jennifer seraya meringis.
“Oke,” sahut Rio terengah, semakin mempercepat gerakannya. Tak sampai sepuluh menit, Rio menunduk dan mencengkeram dada istrinya. Ia menggerakkan pinggulnya beberapa kali menumpahkan hasil bercinta cepatnya.
“Udah?” tanya Jennifer masih membungkuk. “Aku mau mandi,” sambungnya lagi.
“Ayo, sama-sama aja. Udah,” jawab Rio, melepaskan bagian tubuhnya dan langsung pergi berjingkat ke kamar mandi.
Jennifer memunguti pakaian mereka dan pergi bergegas ke kamar mandi.
“Yang mungut pakaian tetep aku. Padahal yang enak dia,” sungut Jennifer pergi menyusul suaminya ke kamar mandi.
***
“Mima .... Ambilin handuk! Please ...,” seru Langit dari depan pintu kamar mandi.
Jingga yang sedang menyiapkan pakaian sepasang anak kembarnya di atas ranjang buru-buru berdiri dan menyambar handuk dari gantungan besi di dekat lemari pakaian.
“Kebiasaan! Didi kalo teriak ngagetin aja. Kirain ada apa,” kesal Jingga menyodorkan handuk.
“Aku lupa,” sahut Langit tertawa.
“Mandi nggak dimanajemen,” sungut Jingga melenggang pergi, kembali melanjutkan pekerjaannya.
Pintu kamar terbuka dan dua pasang langkah kaki kecil masuk ke kamar tanpa mengetuk.
“Mima, udah mandi.” Zurra mendekati ibunya dengan handuk yang dililit asal.
“Aku juga udah,” sambung Kalla tak mau kalah.
“Enggak ada mainan sabun lagi, kan?” tanya Jingga, meraba bagian tubuh Zurra apakah ada yang masih lengket. Tadi ia sudah memandikan anak kembar itu dengan bersih sampai akhirnya ia meninggalkan mereka di dalam bath tub berendam.
“Enggak, kok.” Kalla menyahuti.
“Anak Didi juga,” sambung Langit. “Mima, kok, belum mandi?” ledek Langit. Ia menunggu istrinya balik mengomel.
“Pake nanya. Ya, beresin yang dua ini dulu. Kalo nggak, aku juga nggak bakal tenang mau dandan.” Jingga mengeringkan tubuh Zurra dengan kecepatan luar biasa. Merawat sepasang anak kembar tanpa bantuan babysitter membuat Jingga sangat terlatih.
“Aku bantu sebentar lagi,” jawab Langit mendorong satu sisi lemari dan menarik satu hanger yang berisi jajaran celana chinos favoritnya.
“Buruan, Di. Udah siang. Enggak enak kalo kita telat dateng. Rumah kita paling jauh,” tambah Jingga.
“Kado buat Tirta udah beres?” tanya Langi.
“Udah. Kemarin malem aku kemas waktu anak-anak udah tidur.” Jingga selesai memakaikan pakaian Zurra. “Zurra jangan ke mana-mana dulu. Rambutnya belum disisir,” ujar Jingga.
“Zurra sini, sama Didi aja. Didi yang sisirin,” tukas Langit, menghampiri Zurra dan mendudukkan gadis kecil itu di depan meja rias.
“Mas Toni udah bahagia, ya. Maminya pelan-pelan udah sehat. Anaknya laki-laki juga sehat dan ganteng. Keluarga udah lengkap. Meski kisah cintanya sedikit berliku, akhirnya Mas Toni tetap kembali ke Mbak Wulan.” Jingga tersenyum seraya memakaikan baju Kalla.
“Cinta sejati selalu akan menemukan jalannya, Mima .... Kayak kita,” cetus Langit tersenyum, memandang istrinya yang juga tengah tersenyum memandangnya.
***
“Win .... kamu di mana? Jangan tinggalkan aku dengan semua anak-anak kita. Kami semua masih membutuhkan kamu, Bu.” Dean menggendong Handaru yang sedang menangis di gendongannya.
“Kenapa?” tanya Bu Amalia pada Dean.
“Nangis. Mungkin haus. Ibunya Dirja mana, Ma?” tanya Dean, mengubah posisi gendongannya di tubuh mungil Handaru.
“Di dapur. Dita minta buatin nasi goreng nggak pedes,” jawab Bu Amalia.
“Ya, ampun. Siang mau arisan ke rumah Toni. Jam segini istriku masih bikin nasi goreng,” ujar Dean.
“Jangan ke dapur. Nanti ibunya Dirja terganggu. Sebentar lagi pasti selesai masaknya,” pesan Bu Amalia.
“Pak! Mas jahat!” Widi menangis menarik kaos oblong Dean.
“Kenapa Mas jahat? Mana Mas Dirja? Mas Dirja ...,” panggil Dean.
Dirja datang berlari dari ruang keluarga. “Mas nggak jahat. Widi cengeng. Itu memang mainan Mas. Widi sukanya ngambek,” tutur Dirja.
Mendengar hal itu Widi semakin meninggikan suara tangisnya. Handaru yang berada di gendongan Dean pun ikut semakin mengeluarkan suara tangis bayinya.
“Win ....” Dean berjalan menyeberangi ruang makan menuju dapur. Namun, belum tiba di sana, Winarsih muncul dengan nampan di tangannya dan Dita yang sedang mengekori ibunya.
“Ayo, sini. Mbak Dita duduk yang bener abisin nasi gorengnya. Tadi Mbak yang minta, kan? Jadi harus dihabiskan, ya,” pesan Winarsih, menarik salah satu kursi dan menaikkan Dita.
Winarsih mengatur piring makan anaknya dan membagi nasi goreng yang dibawanya dalam satu wadah mangkuk besar.
“Mama mau juga, kan?” Winarsih menata piring untuk ibu mertuanya.
“Pantes ... jangan ganggu,” gumam Dean, memandang ibunya.
“Widi nangisnya udahan. Nanti nggak cantik lagi,” ujar Winarsih sambil menyendokkan nasi goreng untuk ibu mertuanya.
“Masih ada? Kok, kayaknya enak. Udah lewat jam sarapan. Tapi, nasi goreng buatan ibu Dirja susah ditolak.” Pak Hartono tiba di ruang makan dan segera menempati kursi di sebelah kanan istrinya.
“Ya, ampun. Semuanya makan nasi goreng. Apa nggak ada yang mau bantuin Dean?” tanya Dean seraya kembali mengubah posisi gendongannya pada Handaru.
“Enggak ada. Enggak ada yang mau bantuin. Baru beberapa jam di rumah jaga anak. Dari pagi protes terus. Suaranya kedengeran di seluruh penjuru rumah,” gumam Bu Amalia. “Enak banget, Win. Makasi,” kata Bu Amalia setelah makan dua suapan.
“Jangan terlalu banyak. Inget stroke,” tukas Dean dengan sadisnya, karena melihat Bu Amalia menyendokkan makanan dengan antusias.
“Tolong dijelasin, Win.” Bu Amalia memandang Dean.
“Gorengnya pakai minyak zaitun, Mas. Sedikit aja,” sahut Winarsih meringis.
“Aku juga mau,” kata Dean.
“Mas tadi sudah sarapan. Nasi gorengnya habis,” jawab Winarsih.
“Maaf, ya, De.” Pak Hartono mengangguk pada Dean dan tersenyum.
“Ayo, Win. Ke atas. Bawa Widi sekalian,” pinta Dean. Ia cemberut memandang orang tuanya yang makan sambil bercerita dengan suara rendah.”
To Be Continued