GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
120. Keluarga Besar (1)


“Ma, pegang Nuna, dong! Dean mau siap-siap,” kata Dean, menyodorkan tangan bayi perempuan berusia setahun kepada Bu Amalia.


Namanya Aruna Danastri Hartono. Bayi perempuan putri bungsu dari pasangan Dean dan Winarsih yang bisa dipastikan tidak akan gagal bungsu lagi. Winarsih sudah memasang IUD sesaat setelah melahirkan Aruna. Gadis kecil itu kini sudah berusia setahun dan sedang giat-giatnya melangkahkan kaki.


“Memangnya mau siap-siap gimana lagi?” tanya Bu Amalia dari sofa. Heran melihat putranya yang sudah rapi tapi mengatakan akan kembali bersiap-siap.


“Liat, dong. Rambut Dean masih kayak gini,” jawab Dean, menyugar rambutnya.


“Itu juga udah rapi,” gumam Bu Amalia, mengalihkan perhatiannya pada Aruna yang tangannya berpegangan pada tepi sofa.


“Enggak banget kayak gini keluar rumah,” kata Dean sambil pergi meninggalkan putri bungsunya.


“Enggak banget—enggak banget. Ya, resiko banyak anak kalau nggak bisa dandan kayak biasa. Bapak kamu maunya ganteng terus. Padahal udah tua,” ucap Bu Amalia, menjawil pipi Aruna yang menatapnya dengan wajah serius.


“Nuna ikut arisan?” tanya Pak Hartono yang tiba di ruang keluarga.


“Ikut kata Dean. Makanya udah rapi begini,” jawab Bu Amalia, kembali menuntun tangan Aruna ke dekatnya. “Untung wajahnya mirip ibunya. Coba kalau enggak … Mama bisa bayangin keselnya Winarsih,” ujar Bu Amalia.


Aruna seperti mengerti perkataan utinya. Gadis kecil itu lagi-lagi melontarkan tatapan serius memandangnya.


“Cara Nuna ngeliat kita mirip banget sama ibunya. Mukanya serius terus. Serius tapi kalem,” kata Pak Hartono.


“Tapi pasti yang ini bikin bapaknya takut. Tatapan matanya mengintimidasi sejak kecil.” Bu Amalia tertawa memandang cucu bungsunya.


Dan apa yang dikatakan oleh Bu Amalia memang sepenuhnya benar. Tak hanya mewarisi kemiripan wajah dari Winarsih, sikap Aruna dan pembawaan bayi itu emang mirip ibunya. Aruna tidak cengeng dan dinobatkan sebagai bayi paling kooperatif di rumah itu. Saat dia baru lahir pun, Dean tak begadang menjaganya. Tapi meski begitu, Aruna yang kalem malah membuat Dean seakan tak bisa menolak permintaan putrinya.


“Enggak usah bawa boneka yang ini, ya? Bawa yang lebih kecil aja. Ini besar banget. Lebih besar bonekanya ketimbang kamu,” kata Dean, mengambil boneka gajah yang biasa dipakai Aruna untuk tidur sambil menyusu botol.



Aruna tak mengatakan apa-apa. Tangannya melepaskan boneka gajah, tapi tatapannya tak lepas memandang wajah bapaknya.


“Boleh? Kita bawa yang lebih kecil, ya?” Dean menyodorkan boneka gajah berukuran mini pada Aruna.


Wajah Aruna tak menunjukkan ekspresi kesal atau mau menangis. Gadis itu mendekap boneka gajah mini dengan raut kecewa.


“Ya, ampun. Mukanya jadi kayak gitu. Ya, udah kita bawa aja. Bapak tuker lagi dengan yang besar. Jangan sedih gitu. Kamu ini memang paling jago bikin bapak ngerasa bersalah. Mirip banget sama—”


“Ibu kamu?” potong Winarsih, berjalan mendekati Dean yang duduk di tepi ranjang kamar Dita dan Widi. “Sedikit-sedikit ngomongnya mirip ibu kamu,” kata Winarsih, meraih tangan Aruna dan mulai menyisir rambut bayi itu.


“Tapi memang iya, Win. Aku agak serem sama Nuna. Aku berasa dipelototin sama kamu. Bayi ini sering bikin aku ngerasa terpojok dengan tatapannya.” Dean terkekeh mencubit pelan pipi putrinya.


“Kapan aku melototin? Kayaknya enggak pernah,” jawab Winarsih, yang siang itu sudah sangat cantik dengan dress berwarna krem bermotif bunga kuning.


“Enggak melototin yang gimana. Tapi cara kamu ngeliat itu, ya, mirip bayi ini. Ayo … udah selesai, kan? Kita berangkat sekarang. Kali ini ide arisannya Jennifer luar biasa. Satu cafe disewa setengah hari.” Dean mengangkat Aruna ke dalam gendongannya. Tangan kanannya terentang menunggu Winarsih bangkit. Ia memeluk bahu istrinya dan mencium puncak kepala wanita itu sebelum keluar kamar.


“Ayo—ayo, Mas Dirja digandeng adiknya. Widi kenapa cemberut?” tanya Dean pada Widi yang menekuk wajahnya.


“Kurang suka warna bajunya. Katanya mau pakai yang kemarin aja. Kan, lagi kotor. Padahal yang dipakai juga bagus. Widi harusnya nggak boleh gitu,” ucap Winarsih, merapikan dress selutut berwarna kuning yang dikenakan putrinya.


Seorang babysitter menggandeng Widi naik ke mobil dan langsung menuju jok paling belakang. Dirja dan Dita sudah naik lebih dulu. Dua bocah itu terlihat seperti kembar sepasang karena besar tubuhnya hampir sama. Terlebih lagi wajahnya.


Dean masih berdiri di depan pintu mobil yang terbuka sambil menggendong Aruna. Winarsih berada di sebelahnya mengecek anaknya satu persatu sebelum masuk ke mobil.


“Kurang satu lagi ini,” ucap Dean, memandang ke dalam mobil.


“Aku—aku,” kata Handaru yang muncul digandeng seorang babysitter. “Tunggu, mau liat itu,” kata Handaru, menunjuk ke langit. Sebuah pesawat terbang terlihat melintas di angkasa.


“Gak keliatan, lho, Mbak. Itu tinggi banget!” Handaru memandang wajah Babysitter-nya dengan wajah mengasihani.


Dean dan Winarsih saling pandang. Mereka sudah paham akan ucapan Handaru yang terkadang bisa sangat tajam. Dean meringis memandang bocah yang usianya hampir tiga tahun itu. “Ayo, Daru naik. Bapak mau ngabsen,” pinta Dean.


Handaru naik ke kursi depan digandeng Babysitter-nya. Keluarga Hartono sekarang mempekerjakan empat orang babysitter. Satu orang mengurusi kebutuhan Dirja dan Dita, seorang masih mengemong Widi yang moody. Seorang lagi mengurus Handaru yang kritis dan selalu memiliki hal untuk dikomplain. Serta seorang lagi membantu Winarsih menjaga Aruna.


Dirja tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan bijaksana untuk anak seusianya. Fungsinya menjadi hakim bagi adiknya yang berebut mainan. Sedangkan Dita sering menjadi penghibur bagi adiknya yang menangis karena kalah akan keputusan Dirja.


Widi tetap menjadi anak yang suka mengadu dan peka. Sedangkan Handaru menjadi adik yang sering mengatakan kalau kakaknya itu cerewet.


Handaru pernah mengatakan, “Mbak Widi cerewet kayak bayi. Nuna baik,” ucap Handaru saat membandingkan Widi dan Aruna.


“Satu, dua, tiga, empat … lima. Perut kamu udah dipastikan kosong, kan, Bu?” tanya Dean memandang wajah Winarsih di sebelahnya. Winarsih langsung merapatkan giginya memandang suaminya. “Kosong kalo gitu. Ayo, kita berangkat.” Dean menyentuh punggung Winarsih, meminta istrinya itu naik lebih dulu.


Mobil segera melaju menuju ke sebuah kafe yang bertema keluarga. Dilengkapi arena bermain untuk anak-anak. Supir mereka masih Pak Noto. Supir yang awalnya adalah supir pribadi Bu Amalia, sekarang sudah menjadi supir pribadi bagi Winarsih.


Seperti kata Dean, perpindahan kekuasaan di keluarga besar Hartono terjadi perlahan namun pasti. Winarsih sudah memiliki kekuasaan yang setara dimiliki oleh ibu mertuanya di rumah itu.


Jika soal perpindahan kekuasaan terjadi di tangan para perempuan, beda halnya dengan Dean. Ia menanggung hal yang dulu dilakukan oleh papanya. Yaitu menanggulangi semua pengeluaran di rumah itu.


"Aku dikirimin foto cafe-nya sama Mbak Jenni. Memang bagus, Pak. Cocok buat bawa anak-anak," kata Winarsih di perjalanan.


"Kamu nanti di sana enggak main? Mau meluk boneka gajah aja?" tanya Dean memandang wajah Aruna di pangkuannya. Bayi itu menoleh bapaknya dengan wajah berbinar. Tangannya mencengkeram leher boneka gajah. "Bapak jadi berasa mangku anak gajah juga. Ayo, kamu cium Bapak dulu," pinta Dean pada Aruna.


Gadis kecil itu melepaskan gajahnya dan bangkit melingkarkan kedua tangannya di sekeliling leher Dean. Aruna membenamkan hidung mungilnya di pipi Dean cukup lama. Dean tertawa kecil kemudian menjauhkan wajahnya. Ia lalu menangkup wajah Aruna dan mencium pipi bayi itu berkali-kali.


"Kamu ini memang Winarsih sachet," ucap Dean pada Aruna. "Bapak sayang kamu," sambung Dean.


Aruna adalah satu-satunya bayi yang dikandung Winarsih dan berhasil membuat Dean melalui penderitaan cukup lama. Hampir sembilan bulan Dean menjalani hidup sebagai budak cinta istrinya. Kecemburuan Winarsih yang membabi buta nyaris membuatnya tak bisa berkutik. Saat Dean membayangkan Aruna bayi akan membuatnya terjaga sepanjang malam selama tiga bulan, ternyata meleset. Aruna ternyata merupakan bayi yang paling tenang dibanding kakak-kakaknya.


Winarsih melihat interaksi mesra Dean dan Aruna dengan senyum terkulum. Ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Dengan segala kekurangannya, bagi Winarsih, Dean adalah sosok suami dan bapak anak-anaknya yang paling sempurna.


"Pak!" panggil Widi dari belakang.


"Ya?" sahut Dean, menoleh ke belakang.


"Sama aku nggak sayang?" tanya Widi sedikit cemberut.


"Yang ini beda lagi," gumam Dean, melirik Winarsih yang terkekeh. "Sayang banget, Mbak Widi. Sayang Bapak ke Mbak Widi itu sampe tumpah-tumpah," jawab Dean lalu menghela napas panjang.


Terdengar suara tawa cekikikan Dirja dan Dita. Lalu disambung dengan perkataan, "Halah ...." dari Handaru.


To Be Continued


Tampaknya harus dibagi dua endingnya.


Hehehe ....


Jangan lupa dipilin tombol likenya.


Catatan :


Boneka gajah bernama Jattestor bisa dibeli lewat IKEA online. Hahaha (Gak penting, njuss!)