GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
80. Mengurai Simpulan Masa Lalu


Napas Toni seketika tertahan. Suaranya tercekat di kerongkongan. Untungnya pencahayaan di dalam mobil itu sangat minim. Bagian depan mobil mengarah ke sebuah lapangan tenis yang gelap dan lengang. Hingga tak ada yang perlu menyaksikan mulut Toni yang ternganga seperti orang bodoh karena menantikan bibir lembut mengecupnya di bawah sana.


Matanya memejam dan giginya langsung menggigit bibir bawah sedikit keras. Sapuan bibir wulan yang lembut dan basah seakan menelannya. Erangan panjang yang menyerupai rasa lega meluncur cepat dari mulutnya. Jemarinya mengurai rambut Wulan yang semakin ringan karena beranjak kering. Satu tangannya mengusap keras punggung Wulan. Dan satu tangan lainnya menelusuri kulit kepala wanita itu. Mencoba menyatukan seluruh rambutnya dalam satu tangkupan tangan.


Toni bisa merasakan ujung-ujung jemari kakinya ikut menegang karena gerakan simultan yang diciptakan Wulan untuk dirinya. Menggelitik dan membuatnya nyaris memaki sesaat tadi. Desaah napas kasar bersahutan seiring dengan kedua tangan Toni yang seolah sepakat berkumpul untuk memainkan rambut wanita itu. Menyisirinya, meraupnya berulang kali, lalu menyatukannya di belakang leher wanita itu.


Tak sengaja, nalurinya menajam di saat terlena. Tangannya dari punggung berpindah untuk menyemangati kepala Wulan yang sudah bergerak naik turun. Ternyata kerinduan itu bukan hanya miliknya. Ia mendengar Wulan mengerang di antara penyatuan permukaan kulit mereka di bawah sana. Semakin lama, mereka tak bisa menghentikan suara yang terlepas sahut menyahut dalam ketergesaan.


Toni seakan terbang tinggi tak menjejak bumi. Betapa cinta dan hasrat adalah perpaduan paling nikmat. Yang akan selalu melekat erat. Begitulah orang berpendapat.


Tangan Toni yang sejak tadi sibuk mengacak rambut Wulan, kini bergerak semakin liar. Resleting pakaian Wulan yang sudah terbuka setenga, memudahkannya menarik atasan hingga turun melewati bahu wanita itu. Ia tak ingin menyia-nyiakan kemurahan hati Wulan malam itu. Sedikit lagi, dan telapak tangannya terasa kembali perlu menyentuh.


Uap hangat keluar semakin cepat dari mulut mereka. Toni memekik tertahan. Ia menekan kepala Wulan untuk masuk lebih dalam. Seketika gelombang menuju pelepasan itu menghampirinya. Toni mengangkat tubuh Wulan secepat yang ia bisa. Bibirnya kembali meraup bibir wanita itu dalam ciuman dalam untuk meredam suara pekikannya sendiri.


Ia merasakan Wulan kembali menggenggamnya. Membantunya melewati masa krisis yang harus dihadapinya dengan muka tembok. Dikelilingi tangan mungil Wulan yang erat, Toni mengerang saat hentakan itu datang bertubi-tubi. Tumpah ruah membanjiri jemari Wulan yang ikut bernostalgia. Napas mereka sama terengahnya. Toni kembali menyatukan dahi mereka. Ia berterima kasih melalui kecupan bertubi-tubi di sekujur wajah wanita yang baru saja menenangkan kegelisahannya.


“Maaf,” bisik Toni. Kalau tempat itu terang, mungkin Wulan bisa melihat betapa merah wajahnya saat itu. Harusnya ia bisa menjaga image di hadapan Wulan. Setidaknya beberapa hari ke depan, Wulan masih harus penasaran soal dirinya.


Setelah ini, Toni yakin bahwa ia pasti tak bisa tidur. Bukannya merasa cukup tapi pasti akan semakin terobsesi.


Dalam kegelapan tangannya meraba-raba dasbor mencari kotak tisu. Mobilnya tak pernah ada tempat tisu khusus. Kotak tisu itu pun bertuliskan nama tempat doorsmeer yang Minggu lalu didatangi supirnya. Ia bukan Dean yang harus memiliki kotak tisu sewarna dengan jok mobil dan mengomeli siapa saja yang mengubah letak benda di dalam mobilnya. Siapa saja, kecuali Winarsih.


“Sini, aku bersihin.” Toni mengambil segenggam tisu untuk menyeka tangan Wulan yang benar-benar seperti kebanjiran. Ia mengatakan kata maaf berkali-kali. Dan Wulan juga menjawab tak apa-apa berkali-kali. Kecanggungan itu membuat mereka seperti dua orang asing yang bertubrukan di tengah jalan.


“Kayaknya tetep perlu—”


“Aku punya—sebentar,” ucap Wulan, meraba bagian kakinya tempat di mana bumbagnya terjatuh karena kegaduhan tadi.


“Apa? Oh.” Toni langsung terdiam saat Wulan mengeluarkan sebungkus tisu basah yang tak pernah absen menjadi penghuni isi tasnya. Ia bersikukuh membantu Wulan membersihkan tangannya. Mencoba mengabaikan soal atasan Wulan yang masih melorot menuruni bahu.


Padahal selama Wulan membersihkan tangannya, ia bisa membereskan pakaian wanita itu. Tapi, Toni sengaja mengulur waktu. Renda tipis penutup dada itu sudah kembali ke tempatnya semula. Namun, ia masih ingin menikmati siluet puncak dada dari balik penutupnya. Benda yang memenuhi telapak tangannya tadi. Toni merasa kuduknya kembali merinding.


Seperti tersadar sedang dipandangi, Wulan mengangkat wajahnya. Mata mereka tak bertemu. Wulan menangkap basah Toni yang baru saja menelan ludahnya dengan susah payah.


“Mas,” panggil Wulan. Wajahnya terlihat geli sekaligus malu. “Aku tutup, ah. Ternyata diem ngeliatin ini,” ucap Wulan. Toni meringis, lalu mencubit pelan pipinya.


Sejurus kemudian, Toni sudah membereskan kepalan tisu dan mencampakkannya ke bagian belakang.


“Maaf, ya.” Toni membelai rambut Wulan yang kini sudah mengering. “Rasanya … luar biasa.” Toni hampir berbisik saat mengatakan hal itu. Yang membuat luar biasa adalah rasa cinta itu sendiri, pikirnya.


“Aku nggak ditanya lagi mau makan apa enggak,” rengek Wulan manja. Ia ingin memecah kekikukan di antara mereka.


“Eh, iya. Maaf—maaf,” ucap Toni. “Kita berangkat sekarang,” sambungnya lagi.


Suasana mendadak hening. Toni dan Wulan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Toni sedang kembali mengingat buncahan perasaan yang dialaminya semasa berpisah dari Wulan. Seorang wanita sebelum Tasya, serta Devy yang menyatakan perasaannya beberapa waktu yang lalu. Pada siapa ia memiliki getar serupa seperti tadi? Ia begitu merindukan Wulan atau adrenalinnya yang berpacu lebih cepat karena mereka sedang di tempat umum? Atau gabungan keduanya? Toni merasakan sisa-sisa getaran halus di lututnya.


Wulan sedang terdiam menenangkan debar di dadanya. Ia tak menyangka mereka kembali mengulang layanan singkat memacu hasrat yang dulu sering mereka lakukan. Di tempat sempit dan gerakan yang terbatas. Saat memikirkan hal itu, ia sedikit meringis.


Mereka pernah bercinta di dalam mobil. Di garasi rumah mereka sendiri. Ketika itu ia yang memaksa Toni. Buntut dari perasaan gerah, berkali-kali pintu kamar digedor oleh perawat ibu mertuanya. Saat itu mereka berhimpitan dan menyatukan tenaga membuat mobil berguncang. Toni memangkunya dari awal hingga akhir.


Malam itu tak banyak pembicaraan lain, selain itu-itu saja. Sepertinya isi kepala mereka sudah sama kotornya. Wulan menyelamatkan diri dengan mengatakan dirinya mengantuk dan ingin langsung tidur. Ia khawatir memperpanjang kebersamaannya bersama Toni, akan membuatnya terbaring polos di sebelah pria itu.


Toni menyambut keputusan Wulan dengan legowo. Ia langsung pamit seusai mengecup kening Wulan di depan lift. Ia khawatir kalau ikut membuntuti Wulan hingga ke depan pintu kamar wanita itu, bisa-bisa ia langsung menggendong Wulan dan memojokkannya di dinding.


***


“Hari Minggu, Yah.” Toni duduk di ruang tamu rumah keluarga Wulan saat mengatakan hal itu.


“Benar-benar seminggu lagi. Ya, udah. Kali ini cukup, ya, Ton. Sakit ibu kalian … sama parahnya,” kata Ayah Wulan.


Toni menoleh ke arah wanita yang sedang terbaring lemah di depan televisi. Mengerti dengan maksud dan harapan pria yang duduk di depannya.


Ibu Wulan hanya mengangguk-angguk saja saat mereka meminta izin. Kedua adik wanita itu bergantian menjabat tangan Toni seakan pria itu adalah saudara jauh yang sudah lama tak bertemu.


Hubungan Toni dengan keluarga Wulan selalu baik sejak masa mereka masih berpacaran. Toni tak perlu bekerja keras mengambil hati orang tua Wulan untuk kali kedua.


“Kalo gitu, Jumat aku izin keluar bareng anak-anak, ya.” Toni tersenyum mengusap pipi Wulan yang sedang menunduk mengecek ponselnya.


Wulan langsung mengangguk. Ia mendongak sekilas menatap jalanan di depan mereka lalu kembali menunduk. Acara minta izin ke keluarga ternyata tak seseram bayangannya. Ia bisa kembali berkonsentrasi pada urusan lain.


Toni berencana akan segera menelepon Dean untuk memesan tempat di Beer Garden. Pelepasan masa lajang itu juga harus kembali dilakukan. Setibanya di apartemen Wulan dan wanita itu izin untuk mandi, Toni cepat-cepat mengambil ponselnya untuk menelepon Dean.


Hari Sabtu dan Minggu, menelepon Dean memerlukan kesabaran ekstra. Setelah deringan ke lima, Dean akhirnya menyahut dari seberang.


“De!” panggil Toni. “Jumat malam pesenin tempat ama Diky. Pesta lajang!” pekik Toni terkekeh-kekeh.


“Pesta lajang? Beer garden? Kenapa nggak di rumah makan Padang aja sekalian?” tanya Dean sarkastik.


“Jadi di mana? Spill!” cetus Toni sedikit terkekeh membayangkan pesta lajang di rumah makan Padang.


“Club dong! Yang ada penari gembelnya,” kata Dean, lalu tergelak.


“Penari gembel?”


“Iya, gembel. Enggak pake baju,” bisik Dean kemudian.


“Yakin, lo?” tanya Toni.


“Enggak sih. Tapi ini untuk kebaikan lo juga. Pemanasan! Lo masih inget semboyan kita?” Dean menunggu dua detik agar Toni mengingatnya.


Lalu, serentak kedua pria itu mengatakan, “Lebih baik pulang tinggal nama, dari pada gagal di malam pertama.”


Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


To Be Continued