GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
94. Hadiah Dari Sahabat


“Toni, Wulan, ini ada sedikit hadiah dari kami. Untuk modal memulai hidup baru yang tak lagi baru. Jangan dilihat dari seberapa besar jumlahnya. Tapi nilailah dari bagaimana kami sulit mengumpulkannya.” Dean mewakili ketiga orang temannya untuk memberikan amplop cokelat tebal, yang jelas menunjukkan bahwa itu adalah beberapa ikat uang kertas.


“Ada-ada aja. Pake ngasi duit segala,” kata Toni. “Eh, beneran duit nggak, sih?” tanya Toni curiga karena melihat raut Langit dan Rio yang tersenyum-senyum jahil. Hanya wajah Dean yang tampak begitu serius.


“Bener, dong … jangan pesimis gitu,” kata Dean. Waktu menunjukkan pukul tiga sore dan acara pernikahan itu sudah usai di restoran. Mereka semua akan kembali ke hotel dan sebagai penutupan, tiga pria itu menyerahkan kado mereka kepada Toni.


“Gue buka sekarang boleh? Penasaran berapa ratus juta isinya,” sindir Toni terkekeh-kekeh. Belum lagi mendapat persetujuan dari ketiga orang temannya, Toni membuka amplop cokelat besar yang baru diserahkan Dean.


Winarsih tak mengetahui apa isinya. Begitu pula dengan Jennifer dan Jingga yang mengatupkan mulut karena ikut menunggu amplop itu dibuka. Wulan tersenyum-senyum dengan pandangan bergantian. Sekilas mata Wulan menatap amplop di tangan Toni. Sekilas berikutnya pandangan wanita itu berdiam pada wajah bahagia suaminya.


Toni memasukkan tangannya ke dalam amplop. “Beneran duit. Tapi gue curiga—” Lalu Toni menarik sepuluh ikat uang keluar dari dalam amplop. “Makasih, ya …,” ujar Toni terkekeh. Lo semua emang niat banget bikin beginian. Semua orang yang berada di sana, tertawa terbahak-bahak.


Amplop cokelat itu berisi sepuluh ikat uang pecahan sepuluh ribu rupiah. Total semuanya sepuluh juta rupiah. Mereka sepakat memberikan hal itu pada Toni karena sahabat blasteran mereka itu selalu repot tiap mencari uang pecahan kecil.


“Nah, dengan uang itu lo nggak perlu ribet tiap mau bayar parkiran, pengamen, atau apa aja yang membutuhkan uang kecil. Lumayan, kan. Lama habisnya,” tukas Rio.


“Boleh juga—boleh juga idenya,” kata Toni.


Saat makan malam di resor, Toni tak menampakkan batang hidungnya. Dean, Langit dan Rio hanya bertemu dengan keluarga Wulan yang menempati dua meja di dekat mereka.


“Gue bilang juga apa, lo kayak nggak ngerti aja. Emangnya lo abis nikah ngapain?” tanya Rio pada Dean.


“Kunjungan resmi,” jawab Dean terkekeh. Winarsih pura-pura tak dengar saat suaminy mengatakan hal itu.


“Makanya Lo jangan ribet nyariin Toni,” kata Langit.


“Gue nggak ribet, anj—gue cuma bilang dia janji makan malem bareng kita.” Dean merendahkan suaranya karena saat memaki Langit barusan, Winarsih kembali meremat pahanya di bawah meja. Rematan itu sangat dekat dengan pangkal pahanya yang membuat ia sedikit terhenyak.


“Ya, udah. Kita makan, jalan-jalan buat yang mau jalan-jalan. Reuni malam pertama buat yang mau reuni. Tidur buat yang mau tidur. Besok siang kita check out.” Langit meletakkan sendok garpunya kemudian mengambil serbet putih dan mengelap sudut bibirnya.


“Pilihan lo yang mana?” tanya Rio pada Langit.


“Jelas reuni pastinya.” Dean menyahuti. Langit terkekeh membenarkan ucapan Dean.


Sementara itu, pengantin baru yang sedang digunjingkan di meja makan tidur nyenyak. Toni dan Wulan yang bangun terlalu pagi, malah ketiduran saat mengobrol soal tamu dan acara yang baru mereka lewati.


Pukul delapan malam, Wulan menggeliatkan badan. Lagi-lagi tangannya menampar pipi Toni yang tidur nyenyak di sebelahnya.


“Maaf—maaf,” kata Wulan. Ia mengusap-usap pipi Toni yang baru saja tak sengaja kena tamparan tangannya.


“Baru beberapa jam, aku udah jadi korban kekerasan istri.” Toni memegang pipinya dengan bibir mencebik.


“Maaf—maaf,” gumam Wulan masih mengusap-usap pipi Toni. “Udah lama banget tidur sendiri di ranjang gede. Giliran ada yang nemenin, malah ditampar,” ucap Wulan terkekeh.


“Udah malem. Kayaknya kita terlambat untuk makan bareng keluarga dan temen-temen. Kita keluar sekarang?” tanya Toni.


“Ha?” Toni setengah melongo. Ia masih mengenakan kemeja putih dan celana bahannya tadi siang. Wulan berganti dengan dress piyama berwarna salem yang sangat cantik di tubuhnya


“Mas, laper?” tanya Wulan, menyatukan kedua tangannya dan meletakkan di bawah kepala. Tubuhnya miring menghadap Toni yang juga berbaring menghadapnya. Jarak mereka hanya setengah meter.


“Kalo kita sekarang keluar, pasti ketemu dengan mereka. Aku pasti ditahan Dean lebih lama. Dia suka jahil,” kata Toni.


“Kalo gitu?” tanya Wulan.


“Kalo gitu, makan masih bisa menunggu.” Toni menggeser tubuh mendekati istrinya.


Wulan menjulurkan tangan untuk membelai Toni. Jari-jarinya menyelusup di antara helai-helai rambut cokelat pria itu. Telapak tangannya merasakannya rambut halus. Dengan tangannya yang lain, Wulan membuka kancing kemeja putih yang sejak tadi belum ditanggalkan suaminya. Tangan Wulan bergerak perlahan dan sensual. Ia mendengar Toni terkesiap karena gerakan sederhananya itu.


Wulan mendongak, mengecup bagian bawah rahang Toni. Ia melihat Toni memejamkan mata. Dan itu membuat Wulan menggandakan usahanya untuk menggoda Toni. Pria itu sudah menjadi suaminya lagi. Dulu sekali mereka pernah melakukan hal seperti ini. Malam pertama yang terburu-buru, dengan hanya sedikit menikmati.


Ia menjilati leher pria itu. Dari mulai garis tengah lehernya, lalu melebar hingga mencapai telinga. Berdiam di sana untuk untuk menelusuri tiap lekukan telinga Toni.


Tangan Toni menekan punggung Wulan. Membuat Wulan terkesiap, namun semakin menikmati kenakalan yang sudah ditahannya sejak kemarin. Ia menelusupkan jari-jarinya ke dalam kemeja putih, membelai dada Toni yang halus dan berotot. Toni menunduk menatap wajahnya, dan ia menunduk untuk memandang bagian bawah tubuh pria itu. Sudah ada yang terlihat berbeda di sana.


Tangan Wulan yang tadi terselip di dalam kemeja putih Toni, keluar menuju kancing celana pria itu. Wulan membuka satu kancing sebelum Toni menumpukan satu tangannya di belakang kepala.


“Mau ngapain?” goda Toni dengan senyum tertahan.


“Memenuhi rasa ingin tahu sejak tadi.” Wulan langsung menyelipkan tangannya ke bawah kain celana, dan Toni yang tak menyangka Wulan akan langsung melakukan hal itu, seketika berjengit. Dorongan gairah seketika melanda diri Wulan. Ia menggenggam bagian bawah tubuh Toni yang sudah mengetat di bawah telapak tangannya.


“Masih sama buru-burunya,” bisik Toni. Wulan sudah menggenggamnya di bawah sana. “Mmm … Sayang.” Toni mendengar dirinya sendiri menggeram.


Wulan menggenggamnya dengan lembut beberapa kali, mengusapnya dengan ibu jari dari atas ke bawah. Gesekan pelan itu malah membuatnya menggigit bibir. Kemudian, Wulan melepaskan genggamannya, dan mulai menurunkan celana serta pakaian dalam, hingga ke bawah pinggul.


Toni membantu usaha Wulan dengan mengangkat pinggul dan melepaskan satu set pakaian bawahnya dengan tergesa. Merasa perlu menunjukkan pada Wulan tentang tubuh telanjangnya yang menawan, Toni menarik kemejanya dari atas kepala lalu mencampakkannya.


“Mau bereksplorasi, Nyonya?” lirih Toni. Wulan tersenyum mengejek, lalu mengangguk.


Toni berbaring dan menikmati jemari mungil Wulan menyentuh lembut dadanya. Mengitari bagian puncak dadanya, lalu turun menyusuri perutnya. Perpindahan sentuhan tangan Wulan yang kini berpindah ke dadanya, membuat bagian tubuh Toni di bawah sana meminta perhatian.


Di bagian bawah sana, sudah lebih dari kata menantang.


“Mau nyiksa aku?” tanya Toni dalam bisikan. Ia lalu menyambar tangan Wulan, dan membimbingnya ke bagian yang mereka inginkan. Toni sampai memejamkan mata saking leganya. Selanjutnya genggaman dan tekanan jemari Wulan di sana, membuatnya membenamkan ciuman dalam di bibir wanita itu.


Keduanya memejam. Toni yang menikmati kehangatan tangan mungil yang menggenggamnya. Serta Wulan yang menikmati sesuatu yang dirindukannya.


To Be Continued


Bantu tombol like-nya diklik, kemudian scroll ke bawah untuk lanjutannya.