GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
63. Menuju Penyelesaian


“Yan, nanti siapin surat kronologis untuk Rey. Surat peralihan saham perusahaan Wulan. Surat pelunasan hutang. Pengalihan saham ke Toni juga.” Dean mendiktekan hal yang harus disiapkan sekretarisnya sebagai bekal pertemuan mereka dengan Rey.


“Buat gue? Gue nyiapin apa?” tanya Toni.


“Lo siapin dana buat ngembaliin uang si Rey. Pembelian saham juga. Trus dana untuk bayar agen yang gue sewa. Invoice tarif gue perlu juga nggak?” tanya Dean.


“Untuk itu gue cek rekening dulu. Kalo masih masuk budgetnya, gue keluarin success fee.” Toni meringis.


“Padahal kalo dibayar gue rencana mau upgrade mobil,” ujar Dean.


“Masih kurang kaya, ya, De?” sindir Langit.


“Karena Toni juga kaya,” jawab Dean. “Gue cuma mengisap dana dari orang-orang kaya. Karena motto gue belom berubah. Maju tak gentar membela yang bayar. Camkan,” kata Dean.


“Baik, Pak! Saya camkan,” seru Santoso, tiba-tiba.


“Dean udah pinter lagi,” tukas Rio, meringis. “Acara di rumah Toni gimana? Menurut lo Wulan langsung diajak atau enggak? Itu yang belum jelas.”


“Menurut gue nggak usah diajak dulu. Kita menciptakan family vibes yang kental di depan Mami Toni. Gue bakal bawa semua anak-anak gue demi meramaikan kampanye itu. Biar Mami Toni ngerasa kalo anaknya ternyata nggak laku selain ama Wulan. Gitu, kan, Ton?” tanya Dean, menatap Toni yang mencibir dan menatap sinis padanya.


“Terserah lo, De—terserah lo.” Toni tak ingin memperpanjang perdebatan itu. Baginya yang terpenting adalah bagaimana memberi pengertian dan membuka pintu hati wanita yang melahirkannya tanpa menyakiti.


“Sekarang lo hubungi Wulan. Minta dia ngajak si Rey ketemu. Trus kabari gue segera.” Dean mengambil sepotong daging dari piringnya kemudian memindahkan ke piring Winarsih. “Makan yang banyak,” bisik Dean.


“Eh, besok ada jadwal Pak,” sela Ryan. “Mas Toni kalo bisa ngomong ke Mbak Wulan ketemuan sama Rey sore ke malem aja, ya. Pak De pagi ada ketemu klien di kantor. Siang ada sidang lanjutan kasus pailit.” Ryan mengingatkan soal jadwal atasannya.


“Oke—oke, aku kirim pesan aja biar dia bisa baca berulang. Dimengerti, diresapi, dihayati dan—”


“Dinikmati,” sambung Dean. Lalu, ia tertawa terbahak-bahak sendiri. Lalu seketika terdiam saat menyadari ada Winarsih di sebelahnya.


Pukul 21.30 tiga orang teman Winarsih terlihat berdiri dari kursinya. “Win!” Nisa melambai ambil memanggil Winarsih. Dean menoleh, padahal nama Winarsih yang disebutkan.


“Temen kamu mau pamit,” kata Dean, berbisik di telinga istrinya. “Jangan ke sana, ngangguk atau melambai aja.” Dean kembali mengingatkan. Winarsih tersenyum dan melambai pada Nisa. Senior Winarsih yang bernama Pratama itu terlihat ikut melambai dan tersenyum pada Winarsih.


“Dasar nggak sopan. Bisa-bisanya senyum sama istri orang, tapi nggak ngelirik suaminya dikit aja.” Dean bersungut-sungut. “Dia masih sering ke kampus? Ngapain aja? Pasti nggak sibuk sampe punya waktu bolak-balik dateng ke kampusnya. Aku aja nggak sempet kayak gitu saking sibuknya,” tambah Dean.


“Kampus lo di mana? Kalo California deket, lo bisa nongkrong saban sore liat yang bening-bening,” kata Langit, terkikik-kikik melihat Dean yang langsung mendelik padanya.


“Jangan didengerin, Dik Win … nggak mungkin Mas kamu kayak gitu. Mas kamu ini sibuk. Jadwalnya padat,” kata Dean, memandang Winarsih yang mendongak menatapnya. Winarsih tersenyum menanggapi lelucon yang baru disampaikan Langit.


Pukul sepuluh malam mereka keluar dari Beer Garden karena Diky si bartender sudah mendatangi mereka dengan bill di tangan. Sebelum berkendara ke rumah, Dean mengantarkan Ryan dan Santoso kembali ke kantor untuk mengambil kendaraan mereka masing-masing.


“Pak, soal sekretarisnya gimana?” tanya Ryan, sesaat setelah ia turun di lobi basement tempat mobilnya berada. Ia perlu memastikan hal itu di depan istri atasannya agar persoalan sekretaris pengganti menjadi lebih mudah dan simpel.


“Yang mana aja yang efisien dan nggak berisik,” kata Dean, menyipitkan mata memandang sekretarisnya yang ia nilai sangat berisik.


“Oh, oke kalo gitu. Nanti saya aja yang milih langsung, ya …. Cocok, kan, Bu Win?” tanya Ryan. Winarsih tertawa kecil mendengar perkataan Ryan. Dean langsung menutup kaca jendela mobil dan berlalu dari sana.


“Jadi … sekretaris pengganti, bener Ryan yang pilih?” tanya Winarsih, membuka percakapan mereka di dalam mobil.


“Ampun, Win … aku bercanda aja waktu di rumah tadi. Nanti aku pake staf kantor atau anak magang aja.” Dean memijat-mijat lembut bahu Winarsih.


“Sukanya liat yang pake rok-rok pendek. Padahal aku juga bisa,” kata Winarsih.


“Kayak nggak ada kerjaan aja udah tamat, tapi mainnya ke kampus. Apa cari jodoh di kampus?” sungut Dean. Ia masih gusar membahas soal Pratama yang dipuji ganteng oleh Musdalifah dan dipuji gagah oleh Rio.


“Mas Pratama itu, kan, kerjanya di Dinas Pendidikan. Gedung kampusku, kan, ada SMA-nya juga, Mas … Mas Pratama itu sering ada urusan ke gedung SMA,” jelas Winarsih.


“Ngapain kamu manggil, Mas? Enggak usah panggil aku Mas kalo manggil orang lain juga Mas,” rajuk Dean.


“Aku manggil Mas Rio juga Mas. Mas Langit, Mas Toni. Cuma Pak Ryan aja yang aku panggil ‘Pak’,” terang Winarsih lagi. “Selama ini nggak ada masalah dengan ‘Mas-Mas’ ini. Sekarang, kok, jadi masalah?"


“Rio, Langit dan Toni itu beda. Pokoknya aku nggak mau kamu manggil-manggil Mas sama si anu itu. Jangan ketemu-ketemu lagi,” kata Dean.


“Tapi itu juga nggak sengaja ketemunya. Aku, kan, nggak ada janji mau ketemu temen-temenku di sana,” jawab Winarsih.


“Meski nggak sengaja lain kali nggak boleh duduk satu meja. Padahal baru sebentar aja, tapi kamu lupa sama aku. Aku nggak dipedulikan. Kamu ketawa-ketawa kayak gitu di depan laki-laki lain, aku nggak suka.” Dean cemberut.


“Oh, ya, udah. Aku minta maaf. Aku nggak akan gitu lagi di depan orang lain. Tapi besok kalo aku dateng ke kantor, aku nggak mau liat pegawai wanita berusia di bawah 40 tahun, ya, Mas … aku nggak suka. Bapaknya anak-anakku suka nggak sengaja basah-basahin bibirnya kalo udah ngomong sama wanita muda. Mataku juga sakit liatnya,” tukas Winarsih.


“Eh, Win,” ucap Dean, setengah terperanjat. “Tapi pegawaiku banyak yang muda-muda,” kata Dean.


“Ya, aku nggak mau tau. Mas juga nggak mau tau soal temenku. Padahal aku nggak macem-macem. Pergi juga selalu sama Mas. Tapi sebentar ditinggal Mas rewelnya ngalahin Dirja.”


Dean langsung bungkam. “Ya, udah, kamu bikin arisan bareng Jenni, Jingga, sama Wulan. Nanti aku ngomong ke Rio. Dia pasti handal untuk urusan ibu-ibu sosialita. Nanti aku anggarkan dana untuk arisan sama mereka. Udah? Seneng?” tanya Dean, kembali memijat lembut bahu Winarsih. “Aku nggak mungkin mecat pegawaiku yang muda-muda itu. Kerja mereka bagus. Enggak ada alasan untuk itu,” tambah Dean.


“Kalo aku ikut nongkrong temen kuliahku sekali-kali, boleh?” tanya Winarsih.


“Kalo itu tetep nggak boleh, Dik Win,” sahut Dean, secepat kilat. “Aku nggak bisa ngasi izin untuk itu.” Dean mencoba menenangkan Winarsih dengan mengusap pundak istrinya. Winarsih hanya diam mengerucutkan bibirnya. “Kamu jangan cemberut gitu. Mau apa lagi? Aku kasi. Tapi jangan ke mana-mana. Mau yang enak lagi?” tanya Dean, tangannya turun dari bahu Winarsih lalu memijat dada istrinya.


“Ah, bosen aku. Itu aja,” kata Winarsih.


“Kamu ngomong bosen, tapi kalo udah diuwel-uwel suara kamu paling keras.” Dean terkekeh, tangannya lalu mengusap perut istrinya.


“Mas Pratama itu mantan ketua BEM,” kata Winarsih.


“Aku nggak peduli, Win. Mau dia ketua partai, aku nggak peduli. Aku lebih sukses dari dia,” kata Dean.


“Tapi dia wajahnya juga ganteng. Di kampus banyak yang suka,” jawab Winarsih datar.


“Kalo aku nggak ganteng, nggak mungkin kamu langsung yes waktu aku nikahi," potong Dean.


“Mas Pratama itu baik juga orangnya,” ucap Winarsih.


“Kalo aku nggak baik, kamu nggak akan pake sepatu dan tas brand itu sekarang.”


“Masih single, makanya banyak mahasiswi yang jatuh hati,” kata Winarsih.


“Banyak yang jatuh hati, tapi belum terbukti bisa menghamili. Tingkat produktivitas suami kamu lebih tinggi. Aku ini laki-laki perkasa yang nyaris tanpa cela.”


“Bisa aja …,” gumam Winarsih.


“Ya, udah, pokoknya gitu aja. Nanti arisan sama istri-istri temenku. Kamu nggak boleh keluar sendiri dan ngumpul sama temen-temen kampus. Nanti tidur pake yang renda tipis warna merah. Aku mau liat,” kata Dean, menekan klakson di depan pagar kediaman keluarga Hartono.


To Be Continued