GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
87. Malam Gaduh


Tangan Toni masih terangkat di udara, melambai pada Rio yang berada di arah jam satu dari posisinya. Mobil Langit di sebelah Rio, dan mobil Ryan berikutnya. Sedangkan Dean berada di paling pojok sejajar dengannya. Santoso berdiri di antara mereka.


Tiga mobil mini bus baru masuk ke lahan parkir dan meletakkannya secara asal. Toni tak menyadari situasi sampai Dean menyerukan namanya. Pintu mini bus terbuka dan salah seorang pria yang keluar dari mobil ketiga mengeluarkan kayu panjang yang ditariknya dari bawah mobil.


BRAKK!


Toni yang terkejut dengan seorang pria yang tiba-tiba mengarahkan tendangan padanya, langsung menendangkan kakinya juga. Karena tindakan itu tanpa ancang-ancang, punggung Toni menabrak badan mobil. Telapak tangannya menghantam kaca bagian belakang demi menyeimbangkan berdirinya.


Kilasan kejadian itu begitu cepat. Pria yang membawa kayu berjalan terburu-buru ke arahnya. Tiga mini bus itu memuntahkan pria cukup banyak.


“Ton! Ton!” Masih suara Dean yang bisa didengar Toni untuk memberi peringatan. Rio dan Langit menghambur mendekati Toni, namun tertahan oleh tiga pria yang menghadiahi tendangan dan pukulan membabi buta. Dari sudut matanya, Toni bisa melihat Rio terjerembab ke belakang. Sejak dulu, Rio memang jarang sekali ikut adu fisik. Kemahirannya kurang teruji.


Ryan berusaha mengangkat tubuh Rio yang terpelanting sejenak karena tendangan di dadanya. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, Ryan mencoba menendang dan memukul tubuh laki-laki asing yang bisa dijangkaunya.


Santoso mengejar ke depan. Mendekati pria di mobil paling akhir yang sepertinya sedang mengeluarkan senjata lainnya dari balik jok belakang. Santoso memberi tendangan pada punggung pria itu.


“So! CD!” teriak Dean. (*CD, Corpus Delicti artinya barang bukti.)


Mengerti yang dimaksud dengan Dean, Santoso memusatkan perhatiannya pada mini bus paling dekat dengan pintu keluar. Mini bus yang ditinggalkan para penumpangnya untuk menyerang target. Seorang pria berada di balik kemudi. Santoso masuk ke mobil dan menjejalkan tubuhnya yang besar untuk mematikan mesin mobil dan merampas kuncinya.


“Aduh!” pekik Santoso. Tangan pria di belakang kemudi memukuli kepalanya berkali-kali. Seketika kepalanya berdenyut, tapi ia puas karena berhasil menggenggam kunci mobil.


Santoso terseret keluar mobil saat sebuah tenaga kuat menjenggut kuduk kemejanya. Tak ingin kehilangan benda berharga di genggaman tangannya. Santoso mengayunkan pukulannya ke segala arah. Pengemudi mobil yang kehilangan kuncinya buru-buru keluar mengejar.


Prinsip Santoso pada saat itu adalah menutup sumber bencana berikutnya. Suara makian dan erangan terdengar bersahutan. Ia sempat melihat kalau Toni memang target utama para pria tak dikenal itu. Meski tubuh Toni terbilang tinggi tegap, namun empat pria menyerangnya bersamaan tidak bisa dikatakan seimbang. Santoso memutuskan berlari mendekati Toni. Pria yang sedang dipukuli itu, lusa akan menikah.


“Yan!” teriak Dean lagi. Kali ini ia menjeritkan nama sekretarisnya. Saat sedang lengah, sebuah pukulan dari pria yang tiba-tiba datang mengejarnya, tak terelakkan. Bibir Dean yang siang malam diberinya lip balm, menerima satu pukulan yang langsung membuat cairan asin meleleh di sudut bibirnya.


Ryan yang namanya diteriakkan, segera tersadar dengan perintah Dean. Itu bukan kali pertama mereka masuk dalam arena keributan. Ryan mengeluarkan ponselnya dan berlari kembali ke pintu Beer Garden yang gelap. Dengan ponsel di telinganya, ia menggedor-gedor pintu kaca hingga bergetar. Ia paham, jika terlambat sedikit saja, semua laki-laki yang berada di sana bisa bonyok. Penyerang mereka terlalu banyak. Lebih dari sepuluh orang. Kepanikan membuat pandangannya tak fokus. Saat menggedor, ia menoleh ke arah mobil Toni. Pria itu tak boleh terluka, lusa Toni akan menikah. Ryan kembali menggedor pintu kaca.


“Dik! Diky!” teriak Ryan. Pesawat teleponnya masih bertengger di telinga. Di saat seperti ini, nomor telepon kantor polisi terdekat pun sangat susah dicari. Ryan menggulir layar ponselnya terburu-buru. Yang ia temukan pertama kali, malah nomor telepon ambulans. Ia menggelengkan kepalanya. Jangan sampai ada yang masuk rumah sakit.


Ternyata pukulan yang baru didapatnya disudut bibir membuat Dean tersadar. Emosinya seketika memuncak tak terbendung. Ia mencampakkan clutch yang sejak tadi masih dipegangnya meski ia menendangi laki-laki yang merangsek maju mendekati Toni. Sahabatnya itu seperti makanan manis yang sedang dikerubungi semut. Toni tak boleh terluka.Sahabatnya itu harus tampil prima di acara pernikahannya.


BUGG! BUGG!


Dean berhasil membalas pukulan yang didapatnya dengan dua tendangan ke arah dada pria bertubuh atlit di depannya. Penyerangnya terjengkang. Ia lalu merenggut kerah kaus laki-laki yang jatuh meraba-raba tanah dan mengangkatnya sekuat tenaga.


“Heh, tai! Mulut gue luka!” maki Dean.


BUGG!


Dean melayangkan pukulan ke mulut penyerangnya tadi.


“De! De!” seru Langit berlari mendekati Toni. Ia melewati Dean yang masih merenggut kerah seorang pria. Ternyata Toni tersudut. Sahabatnya itu sudah menutupi wajah dengan mengangkat tangan. Toni tak boleh terluka. Lusa pria itu akan melepas masa kesendiriannya. Langit berusaha menghambur untuk memecah kerumunan di sekitar Toni.


“Minggir!” pekik seorang pria. “Kasi ini sekali!” jeritnya lagi. Pria dengan kayu panjang tadi mendekat dan mengangkat senjatanya itu tinggi-tinggi.


Langit menubrukkan badannya pada seorang pria tinggi besar lainnya yang sedang menunduk memungut kayu pendek. Mereka berdua jatuh bergulingan menyapu lahan parkir yang tertutup tanah kering penuh debu.


Melihat hal itu Dean menghempas pria di depannya, lalu berlari menarik kuduk kemeja pria yang berkumpul mengelilingi Toni.


“Yo! Yan!” Dean kembali memanggil semua nama temannya. Ryan masih belum muncul. Dan pria dengan kayu panjang mengarahkan kayunya ke kepala Toni.


BUGG!


Dean merasa tubuhnya didorong ke belakang. Punggung pria tak dikenal menghantam dadanya. Ia terjajar beberapa langkah. Ternyata Toni kembali menendang pria di depannya.


Dean dan Toni bertemu pandang. Mereka membelalak. Detik itu juga mencari arah suara pukulan yang gagal mendarat di kepala Toni.


“Ini bahaya!” pekik Santoso. Ia meringis melengkungkan tubuh memegang punggungnya dengan raut kesakitan.


Ternyata kayu tadi menghantam punggung Santoso.


“Itu! Itu!” jerit Ryan di kejauhan.


“Woi! Anjing!” maki Langit dari atas tubuh seorang pria yang sejak tadi bergulingan dengannya.


“Pak De! Udah! Udah! Tahan aja! Tahan!” Kata-kata Ryan meluncur tak beraturan. Ia meminta Dean berhenti memukul dan menendang karena ia sudah berhasil menghubungi polisi. Ia juga datang bersama Diky, dua pegawai laki-laki dan seorang satpam cafe yang sepertinya baru tiba untuk giliran shift malam.


“Ton, Santoso!” pekik Dean.


“Siapa ini?” tanya Toni dengan napas tersengal-sengal. Sudut bibir dan pelipisnya membengkak.


“Rey, ini Rey! Santoso,” ulang Dean. Ia melihat Santoso saling pukul dengan pria bertubuh paling besar yang sudah kehilangan kayu dari tangannya.


“Yakin?” tanya Toni terengah dengan peluh memenuhi wajahnya.


“A1. Buron dia!” Dean berdiri dengan wajah kilap karena keringat. “Ton! Santoso! Anak gue!” seru Dean kembali memekik.


Para penyerang mulai longgar dan pria dengan kayu panjang masih saling pukul dengan Santoso. Dean berjalan mendekati kayu panjang yang tadi digunakan pria itu untuk memukul Santoso


“Pak! Pak De! Udah!” seru Ryan. Ia ngeri membayangkan Dean memukuli orang dengan kayu itu. “Udah, Pak!”


Dua orang pegawai Beer Garden Dan Diky menarik pria yang tadi berkumpul memukuli Toni. Tersadar dengan bala bantuan yang datang, pria yang sedang bergumul dengan Langit, bangkit mendorong tubuh lawannya. Langit terjengkang ke belakang.


Lima orang pria berlari masuk ke mini bus yang terletak di dekat mereka. Lalu, disusul tiga orang. Mereka menyadari waktu singkat mereka telah habis. Polisi akan tiba di sana.


BUGG!


“Aarghhh!” jerit pria yang menjadi lawan Santoso.


Dean tak mendengarkan perkataan sekretarisnya. Ia mendaratkan sebuah pukulan di punggung pria yang tadi menyerang Santoso dengan kayu itu.


“Enak aja lo main pukul-pukul pegawai gue! Untungnya dia gue bikinin asuransi!” Dean menyeret kayu panjangnya mengitari lawan Santoso.


Rio berlari terpincang-pincang menghampiri Toni. “Lo nggak apa-apa? Polisi sebentar lagi nyampe. Itu yang diamankan ada dua orang, yang lain kabur. Sama sisa yang itu—” Rio memandang Dean dengan kayu panjangnya. “Lo luka, Ton? Kepala lo? Muka lo? Enggak ada yang patah, kan?” Rio mengecek cepat wajah Toni. Sahabatnya itu lusa akan menikah. Toni harus menikah bagaimana pun kondisinya. Mereka semua sudah cukup lama menantikan hal itu.


“Gue nggak apa-apa. Lecet-lecet aja. Muka gue it’s okay-lah.” Toni mengangguk-angguk. “Yo, liat Santoso!” pinta Toni. Ia merasa tak sanggup lagi menanyakan keadaan Santoso. Punggung tangannya sudah berdenyut karena terlalu banyak memukul.


“Yan, Santoso!” Rio bergegas mendekati Santoso yang berdiri bersandar di mobil Toni.


“Ayo—ayo, rumah sakit aja. San, ke rumah sakit.” Ryan merogoh kantong celananya.


“Tunggu polisi aja,” ucap Santoso.


“Pak De! Udah!” seru Ryan.


“Apaan? Mumpung belom dateng polisi!” seru Dean.


“Udah, De!” Rio ikut menimpali.


“Bantai, De! Bantai!” Langit mengatakan itu sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang penuh debu.


“Lang,” tegur Rio. “Ayo, ke teras cafe aja.”


"Lagi seru," sahut Langit girang. Ia tak menyadari setengah pipinya berdebu dan dagunya lecet.


“Mana dia?” tanya Dean, mengangkat kayu panjang itu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Matanya menatap tajam pada pria bertubuh besar yang posisinya setengah berjongkok.


“Siapa?” tanya pria itu.


“Yang bayar elo, dong! Jadi gue nanya siapa? Bokap lo?” sergah Dean.


“Enggak tau!”


“Lagak lo nggak tau!” sergah Dean dengan wajah geram hendak mengayunkan kayu di tangannya.


“Polisi! Polisi!” pekik Ryan. Ia berlari merampas kayu panjang dari tangan Dean dan mencampakkan kayu itu di balik mobil Toni. “Oke, kita proses kayak biasa. Aman, Pak!” lapor Ryan, menatap Dean yang masih mengeraskan rahang menatap pria di depannya.


“Awas aja kalo pegawai gue kenapa-napa karena pukulan lo itu,” gumam Dean.


“Polisi udah dateng. Saya yang buat laporan. Bareng Mas Rio. Yang lain ke rumah sakit. Oke, ya?” Ryan harus memastikan semuanya beres malam itu.


“Oke,” jawab Dean dengan enggan. “So?” ia menengadahkan tangan pada Santoso meminta sesuatu.


Santoso melangkah mendekati atasannya dan menyerahkan kunci mobil yang berhasil ia rampas. Dean tersenyum dengan satu sudut bibirnya. “Keren. Kamu akan segera dapet bonus,” kata Dean.


“Pak Toni nggak apa-apa, itu sudah cukup melegakan,” jawab Santoso.


“Lo denger, Ton? Balasan ketulusan harus luar biasa. Mana hape lo?” Dean meminta ponsel Toni.


Calon pengantin itu tak banyak bertanya. Ia langsung merogoh kantong celananya dan menyerahkan ponsel pada Dean.


Beberapa detik Dean mengutak-atik ponsel Toni, ia lalu meletakkannya di telinga.


“Halo? Mus? Lagi apa? Ini Dean. Maaf mengganggu, saya pakai ponsel atasan kamu. Malam ini dia hampir mati dikeroyok pria suruhan si Rey—”


“Hah?! Jadi? Pak Toni luka-luka? Gimana keadaannya? Rumah sakit mana?” Nada suara Musdalifah benar-benar terdengar panik.


“Syukurnya atasan yang kamu sayangi itu nggak apa-apa. Ini semua berkat Santoso. Jadi—” Dean melirik Santoso yang sedang memijat tengkuknya. “Berhubung keluarga Santoso nggak di sini, kamu harus nemenin dia menjalani pemeriksaan di rumah sakit. Dia berjasa, lho ... kalo nggak karena Santoso, direktur T&T bisa meninggal. T&T bisa tutup. Kamu bisa—”


“Rumah sakit apa? Saya langsung ke sana!” sahut Musdalifah.


To Be Continued