GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
64. Tak Kubiarkan Kau Tak Bahagia


Singgasana Dean di mana lagi kalau bukan di kamarnya. Ia berhasil kembali mendominasi kedudukan, meski Winarsih mengerucutkan mulutnya saat masuk ke rumah. Untungnya malam itu Bu Amalia dan semua anak-anaknya sudah tertidur pulas. Dean hanya tinggal memasang tameng dan menggoda istrinya hingga menjelang tidur.


Bukan Dean namanya jika tak berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan dari Winarsih. Meski harus merajuk atau memelas, Dean tetap mendapatkan apa yang ia mau. Setelah membersihkan wajah dan berganti pakaian, ia berbaring dengan piyama satin dan satu tangan yang ia tumpukan di kepala. Tatapannya menelusuri Winarsih yang masih mengenakan bath robe di depan meja rias.


“Dipake, ya … aku cuma mau liat kamu tidur pake itu.” Dean memandang pantulan wajah istrinya.


“Bener, ya … cuma untuk tidur. Jangan ganggu lagi,” kata Winarsih.


“Enggak. Enggak aku ganggu. Aku belai-belai kamu sebelum tidur. Aku usap-usap punggungnya biar makin nyenyak,” ujar Dean, menyanggupi.


Masih bertumpu dengan tangannya, Dean memandang Winarsih yang melepaskan jubah mandi dan meraih hanger berisi lingerie. Ia melihat perut istrinya sudah kembali menyembul di usia kehamilan hampir empat bulan. Pinggul dan dadanya sudah kembali mengembang mempersiapkan kehadiran bayi keempat mereka.


“Liat sini,” pinta Dean. Ia gemas melihat Winarsih yang sedang memasukkan kakinya di gaun renda tipis berwarna merah. “Muter ke sini, Win. Aku mau liat,” kata Dean.


Winarsih memutar tubuh menghadap Dean. Sambil lalu tangannya masuk ke celah gaun dan menyangkutkan tali tipis di kedua sisi bahunya. Dulu ia sedikit heran dengan harga secarik renda tipis namun memiliki harga lebih mahal dari pakaian normal. Sekarang ia tak peduli lagi. Meski sudah dilarang menambah koleksi, Dean masih terus mengajaknya mengunjungi toko pakaian dalam, yang memiliki interior merah jambu mencolok di mall.


Winarsih mengenakan lingerie tipis berwarna merah sesuai permintaan Dean.


“Kamu seksi banget, lho,” ucap Dean dari ranjang. Matanya berpindah ke puncak dada Winarsih yang menerawang di balik renda tipis. “Sini—sini, baring deket aku,” ajak Dean.


“Cuma tidur aja, ya,” kata Winarsih, kembali mengingatkan.


“Enggak mungkin cuma tidur aja. Pasti ada pegang-pegangnya juga. Sekarang aja udah ada yang menggeliat mau bangun,” ujar Dean, terkekeh. “Sini, sayang …,” ajak Dean, mengulurkan tangannya memanggil Winarsih.


“Mas geser, aku di sebelah sini.” Winarsih menunjuk tepi ranjang yang bersebelahan dengan dua box bayi yang kosong.


“Apa, sih, yang enggak untuk kamu.” Dean menyambut uluran tangan istrinya yang merangkak naik ke ranjang. Ia bangkit merentangkan selimut agar Winarsih masuk ke dalamnya. “Sini peluk aku,” ucap Dean.


Winarsih berbaring di sebelahnya. Wanita itu langsung memejamkan mata. Masih dengan sedikit rasa kesal di hati, karena ulah suami yang begitu rewel. Ia merasakan tangan Dean mengusap punggungnya yang hanya tertutup renda tipis dengan lembut. Dean menyusurkan tangannya ke atas dan ke bawah tubuh Winarsih dengan perlahan.


“Aku cinta banget, lho, sama kamu. Buat aku, kenyamanan kamu dan anak-anak itu nomor satu. Aku gelisah kalo kamu luput dari pengamatanku. Kamu itu masih muda, jarak usia kita itu delapan tahun, Win. Aku nggak mau kamu ketemu laki-laki lain. Aku ngerasa bisa kerja lebih tenang kalo tau kamu ada di rumah sama anak-anak. Biar aku aja yang liat dunia mengerikan di luar sana. Kamu cuma tinggal nikmati hasil kerja kerasku. Jadi ibu anak-anakku, jadi istriku. Udah, itu aja. Aku nggak minta banyak.”


“Itu juga udah banyak,” sahut Winarsih. Ia masih memejamkan matanya.


“Kamu cinta nggak, sama aku?” tanya Dean.


“Ya, cinta. Tapi kesel,” jawab Winarsih.


“Ya, enggak apa-apa kesel. Yang penting cinta,” sahut Dean. Tangannya lalu bergerak dari punggung menuju bagian depan tubuh Winarsih. Menangkup dada Winarsih beberapa saat, lalu turun mengelus pinggul dan paha wanita itu. Renda tipis itu terasa lembut dan menempel ketat di tubuh istrinya.


Lingerie merah yang masih baru—tidak setipis dan tembus pandang seperti lingerie ungu yang disebut Dean berbahan sama dengan kelambu bayi. Dean menyentuh puncak dada istrinya, mengusap puncak dada itu dengan ibu jarinya, mengitari perlahan dan berdiam di sana hingga benda itu mengetat.


Dean menunduk memandang wajah Winarsih yang berbaring menghadapnya dengan mata terpejam. Lalu perlahan ia menurunkan tali tipis yang masih tersangkut di bahu istrinya. Kepalanya lalu menunduk, menenggelamkan mulutnya pada benda yang ia rasa selalu memabukkan. Winarsih memang memejam, tapi ia tahu wanita itu masih terjaga dan sedang menikmati.


Tangan Dean terus turun dan berhenti tepat di tengah celah lembut di antara kedua paha Winarsih. Dari balik renda tipis berwarna merah itu, jemarinya membuai celah lembut. Yang perlahan terasa hangat dan basah di telapak tangannya. Dalam sekejab saja, renda merah itu menjadi lembab.


“Katanya bosen … tapi kalo enak, kamu diem aja.” Dean berbisik, lalu mengigit pelan telinga istrinya.


“Ngantuk ….” Keluhan Winarsih bercampur dengan rintihan.


Dean tak mengindahkan hal itu. Ia menelusupkan jemarinya menuju celah yang sudah lembab sejak tadi. Ia membuka lipatan hangat dan merasakan celah hangat itu membuka untuknya. Winarsih mengerang, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dean. Pinggulnya bergerak dalam sentuhan tangan Dean, mengayunkan tubuhnya dengan cara yang paling memuaskan dirinya sendiri.


Dean mendorong jemarinya lebih dalam, dan terus mendesak. Lalu dengan ibu jarinya ia membelai kuncup yang membengkak di lipatan basah istrinya.


“Mas …,” erang Winarsih.


“Malem ini kamu aja,” bisik Dean, lalu mengecup puncak kepala istrinya.


Winarsih menyentak napasnya pendek-pendek. Ia mengerang dalam satu desaahan napas gemetar yang sempurna. Erangan yang begitu indah sekaligus memuaskan telinga Dean.


Dean lalu kembali menunduk untuk berbisik di telinga istrinya. “Masih ngantuk, atau mau aku kasi yang sebenarnya?”


"Kalau aku jawab nggak mau, tapi pasti tetep dikasi."


"Nah, itu ... gimana aku nggak posesif? Pengertian kamu ini langka, Win." Dean meraih tangan Winarsih lalu ia selipkan ke dalam bawahan piyamanya. "Dia udah minta disayang-sayang dari tadi. Kangen ciuman Bu Win, katanya." Dean berbisik di telinga istrinya.


***


Dugaan awal mengajak bertemu Rey adalah sesuatu yang mudah. Tetapi kenyataannya tidak semudah itu. Rey sulit dihubungi. Wulan mengatakan sudah empat kali menghubungi kekasihnya, namun belum ada kejelasan soal di mana laki-laki itu.


“Jadi gimana, De?” tanya Toni sore itu melalui sambungan telepon.


“Lama-lama, kok, ribet banget si Rey ini.” Dean sedang berada di perjalanan kembali ke kantor seusai dari pengadilan. “Wulan di kantornya?” tanya Dean.


“Iya, di kantor. Lo di mana?” Toni balik bertanya.


“Lo jemput Wulan, deh. Kita langsung ke kantornya si Rey aja. Gue udah dapet salinan nama CV yang dia pake untuk kegiatan-kegiatan kecil ini. Buruan, ya. Gue langsung, nih.” –Dean menoleh pada Ryan yang sedang mengemudi—“Kita ke kantornya si Rey aja, langsung.”


“Siap,” sahut Ryan.


“De! De!” panggil Toni.


“Apa, siiih …,” sahut Dean.


“Lo jangan masuk duluan, ya! Tunggu gue ama Wulan!” seru Toni dari seberang telepon.


“Ya, iyalah. Kan, Wulan yang pacaran sama si Rey. Masa gue yang mutusin. ‘Rey, hubungan kita sampai di sini aja, ya. Service lo nggak enak, anu lo standar.’ Gitu?” Dean tertawa terbahak-bahak.


“Anjing! Lo emang anjing!” maki Toni.


Dean semakin terbahak-bahak lalu menutup teleponnya.


To Be Continued