GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
22. Akhir Misteri (2)


Langit terkekeh-kekeh melihat Dean yang seketika layu setelah dipanggil istrinya.


“Lebih enak diomelin sih,” kata Rio.


“Bener,” sambut Langit.


“Iya. Kalo diem, diapa-apain jadi kurang ekspresif.” Dean berdecak menggelengkan kepalanya.


“Masih mo dibahas?”


“Gue gak bahas gimana-gimana.” Dean kembali melirik Winarsih.


“Buset! Bener-bener deh,” kata Toni. Ia sebenarnya tak yakin Dean serius mengetahui soal wanita yang berada di kamarnya.


“Intinya, di sini gue coret Musdalifah. Gak mungkin dia. Karena … kayaknya doi naksir gue. Sampe gue geli.”


“Masa sih, Pak Dean … geer amat!” Toni tertawa terbahak-bahak.


“Gue nyadar itu. Lanjut—lanjut,” kata Langit.


“Iya sih, gue juga nyadar. Ya udah, oke lanjut.” Rio mengangguk. Sedangkan Toni mengernyit dan melemparkan pandangan pada sekretarisnya yang berdiri di dekat resepsionis.


“Wulan jelas gak mungkin sebagai gadis handuk. Kamarnya di seberang dan Wulan ngeliat Toni sedang menunjukkan sesuatu yang nggak spektakuler. Doi kaget dan malu tentunya. Tapi gue yakin, kalo memori Wulan pasti kembali ke saat-saat terindah bareng Toni. Apalagi kalo lo dulu yahud. Wanita nggak akan lupa soal rasa. Itu makanya gue himbau pada kalian sahabat-sahabatku, betapa pentingnya tampil prima di ranjang. Hajar sampe gak bisa komentar. Jangan kasi napas. Maka kalian akan selalu dikenang.” Dean mencibir dengan bangganya.


“Maka, bayi-bayi juga akan hadir sepanjang tahun ...” gumam Langit.


“Pake obat atau jamu, De?” tanya Rio dengan raut serius.


“Jamu Cap Nyonya Nyengir,” jawab Dean.


Langit terbahak-bahak keras kemudian tersadar dan menutup mulutnya.


“Serius, anjiirrr …” kata Rio. Ia kemudian ikut terkekeh.


“Yah serius. Abis kena efek jamu, nyonya pasti nyengir.” Dean menahan tawa sambil melirik istrinya.


“Jadi menurut lo, kira-kira lo layak untuk dikenang Wulan gak?” tanya Langit pada Toni.


“Jangan tanya Toni, gue bisa jawab. Kejadian gak sengaja kemarin, pasti membekas dalam pikiran Wulan. Ngeliat anu mantan, terus mantan ditonjok. Nilai saham Toni lagi naik di mata Wulan.” Dean menyilangkan tangan di depan dadanya.


“Masa sih …” ucap Toni ragu.


“Plin-plan lo ini yang perlu dibumihanguskan. Mau balikan, ya dikejar dong. Masalah yang lama, diselesaikan dulu. Lo berubah. Jangan balikan cuma untuk ngulang kesalahan yang lama.” Rio memberi nasehat sedikit tajam pada sahabatnya.


“Nah .... Jangan balikan cuma karena kangen bercumbu doang,” tambah Dean. “Gue bisa baca isi kepalanya Toni. Pasti dia ngebayangin, Wulan udah ngapain aja ama pacarnya. Lo kalo mau balikan, lo inget juga kelakuan sendiri.”


“Iya bener. Setuju—gue setuju.” Langit manggut-manggut.


“Jadi, awalnya gue harus gimana?” tanya Toni dengan raut serius.


“Berenti ke dukun!!” seru Dean, Langit dan Rio serentak. Toni terkejut sampai mundur dan memegang dadanya.


“Okay—okay, relax. Stay calm guys,” ucap Toni masih dengan tangan di dadanya. Ia tak menyangka teman-temannya akan sekompak itu menjawab.


“Lanjut, De! Sebelum bini lo ngelempar meja itu ke arah kita,” kata Langit melemparkan pandangan pada Winarsih yang sedang menatap kaki meja kayu di depannya dengan seksama.


Dean terkekeh. Ia tahu Winarsih pasti sedang mengagumi ukiran meja yang terbuat dari jati asli di depannya.


“Oke, gue lanjut. Kalo Tasya kemungkinannya kecil. Karena, kita udah nyampe resto waktu si Mus minta kunci kamar yang gak dipake buat dia. Tapi gue sempet kepikiran kalo itu Tasya, sampe akhirnya keyakinan gue terpatahkan dalam waktu singkat.” Dean berhenti menarik napas.


“Halah, bisa-bisaan lo aja!” sergah Toni.


“Denger dulu Saudara Toni Setyo, sekolah saya mahal di Amerika. Soal ini, masih seupil banget. Lo berantem ama Tasya di depan restoran pasti ada hal yang bikin tu cewe cemburu. Dan waktu kita jalan bareng ke kamar, lo ngomong sesuatu yang berisi pengakuan. Siska belum tau letak kamarnya di mana. Sepanjang lorong, dia sibuk liatin nomor kamar. Dan waktu nyampe di depan kamar, Siska minta kunci ke temennya. Dan lo dengan bodohnya ngomong, ‘Oh, di sini juga.’ Lo ngomong gitu, karena lo tau ada seseorang yang nempatin kamar itu.”


“Oh, my ... Devy?” bisik Langit tak menoleh Toni.


Dean mengangguk. “Cewe yang dipuji-puji Rio,” tegas Dean menoleh pada Rio yang seketika bungkam.


“Jangan ngaco, gue gak kenal ama dia.” Toni menyanggah.


“Devy panitia outing ini dan selalu ada tiap meeting gabungan. Lo udah sebulan terakhir ini liat-liatan ama Devy, dan sore itu kalian gak sengaja papasan di lorong. Devy lebih milih ke kamar lo, karena dia gak mau kepergok Siska.”


“Pengacara kurang kerjaan!” seru Toni tertawa.


“Dan jangan lupa, Devy kenalan dengan Rio dan manggil Rio dengan sebutan ‘Mas’.” Dean berdecak penuh kemenangan.


“Lemah—lemah, gak ada buktinya. Sampe sekarang gue nyapa juga nggak.”


“Etdaaah ... belum ngaku juga. Ada yang inget gak gimana cara Tasya ngeliat Devy di lorong?” tanya Dean. “Tasya natap tajam ke arah Devy, tapi masih nyapa Rio dan Langit.”


“Berarti, Tasya mergoki Devy keluar kamar bareng Toni?” tanya Langit dengan mulut terbuka.


“Silakan dijawab, Saudara Toni ...” ujar Dean kembali mencibir.


“Tanpa barang bukti, gak bisa nuduh sembarangan, De! Lo pengacara, pasti tau itu.”


“Ingin menjaga identitas ya? Karena cuma TTM? Ya gak apa-apa. Tapi kalo lo nanti udah mutusin bakal ngejar Wulan lagi, lo harus konsisten.” Dean menarik napas panjang menatap Toni.


“Permisi, Pak. Bapak yang di kamar 230?” tanya petugas hotel pada Toni.


“Ya. Kenapa?” jawab Toni.


“Ada yang tertinggal di dalam gulungan selimut. Mungkin punya Bapak.” Petugas tadi meletakkan sebuah syal rajut halus berwarna cokelat di atas meja. “Permisi, Pak.” Petugas tadi langsung pergi tanpa Toni sempat menjawab.


“Punya lo, Ton?” tanya Rio.


“Gak tau ini punya siapa. Yuk, ah pulang. Itu si Mus udah selesai. Dia ngomel-ngomel karena kurang tidur.” Toni bangkit dari sofa diikuti dengan yang lain.


Langit dan Rio bangkit bersamaan menyampirkan ransel ke bahu. Sofa itu seketika kosong. Yang tertinggal hanya sebuah syal cokelat teronggok di atas meja begitu saja. Dean melangkah mendekati Winarsih dan merangkul wanita itu.


Suasana sedang hening saat dua pasang langkah terburu-buru, datang dari lift menuju lobi.


“Eh—eh tunggu! Sis! Ya ampun ... syal kesayangan gue akhirnya ketemu. Heran! Kok bisa ada di sini ya. Gue udah capek nyarinya.” Devy memungut syal cokelat dari atas meja.


Saat Devy mengatakan hal itu, semua mata tertuju padanya. Empat orang pria saling berpandangan. Dan Dean mendahului langkah tiga orang temannya untuk menuju mobil lebih dulu.


“Permisi—permisi ... gue anter nyonya dulu ke mobil. Gue mo ngasi kata-kata penutup.” Dean terkekeh-kekeh melewati teman-temannya menuju mobil yang mesinnya sudah dinyalakan oleh Ryan.


Rio terdiam. Matanya masih melihat Devy yang berkali-kali dipujinya sangat cantik sekali. Devy yang cantik ternyata menghabiskan sore penuh peluh bersama sahabatnya. Bukan salah mereka, keduanya tak terikat pernikahan oleh siapapun. Keduanya juga manusia dewasa yang sedang menikmati hidup. Rio hanya tak menyangka.


“De! Buruan!” kata Toni. “Mau ngomong apa lagi sih, dia?” omel Toni berdiri di undakan teras lobi.


“Eh, itu kayak kenal ...” kata Rio menunjuk seorang pria turun dari sedan mewah. Dengan kaos berkerah dan jeans yang kuncup di bagian pergelangannya laki-laki itu melangkah percaya diri.


“Hei! Langit!” kata pria itu.


“Tuh, kan ... bener! Sanusi!” pekik Rio.


“Ha?” Langit terperangah.


“Udah nyampe, ya?” Siska menghampiri Sanusi. Pria itu langsung mengambil tas dari tangan Siska.


“Baru aja kok,” jawab Sanusi.


“Lang, kenalin. Sanusi, suamiku.” Siska menggamit lengan suaminya menuju ke arah Langit.


“Aku masih inget! Ini Langit yang jago basket.” Sanusi menyalami Langit sambil cengengesan.


“Hei, apa kabar?” sapa Langit berbasa-basi. Ia merasa takjub dan luar biasa. Bagaimana bisa, pikirnya. Entah kenapa, sejak dulu ia memang tidak suka cara Sanusi cengengesan tiap selesai berbicara satu kalimat.


Kenapa Siska tidak memberikan perbandingan yang membuat Langit merasa keren dalam bersaing. Kenapa harus Sanusi? Kenapa?


Bahu Langit turun dan jawaban-jawabannya pada Siska dan Sanusi benar-benar terbatas. Untungnya Dean setengah berlari kembali menghampiri teras lobi.


“Udah? Udah beres semua?” tanya Dean mengedarkan pandangan pada teman-temannya.


Devy pulang ke Jakarta dengan menumpang di mobil Siska dan suaminya. Saat berpamitan di depan mereka, wanita itu memperlambat langkahnya untuk menoleh ke belakang. Ia lalu mengangguk samar pada Toni.


“Bener-bener temen tapi mendesah ...” gumam Dean.


“So?” tanya Toni. “Life must go on, kan?” Toni terbahak-bahak.


“Jelas, hidup pasti jalan terus. Yuk pulang, gue kangen si kembar dan ibunya.” Langit merangkul bahu Rio.


“Gue juga kangen banget ama Jenni. Entar kalo pulang, gue mau puji bini gue paling cantik tiap satu jam.” Rio tersenyum kecut.


“Gue mau deketin Wulan lagi, apapun taruhannya. Dia mau atau nggak, itu urusan belakangan. Yang penting gue udah usaha.” Toni ikut merangkul Rio dan Langit dari belakang.


“Nah, gitu dong ... keliatan lo punya anu kalo ngomong gitu,” kata Dean. “Kalo pengecut, mending dijadiin asesoris aja.”


“Taii!” maki Toni.


“Eh, kalian semua sadar gak sih?” tanya Dean.


“Apa?” tanya ketiga pria yang berbalik menatap Dean.


“Kalian tau gak master dari semua kekacauan ini siapa?” tanya Dean menatap seseorang.


“Siapa?” tanya mereka lagi.


“Si Mus! Dia kan, yang ngatur kamar? Dia yang ikut Toni meeting sebulan terakhir? Dia yang tau Wulan ikut ke acara ini? Dia juga yang ngasi Tasya kamar?”


“Otak pelakunya si Mus?” kata Rio.


“Sengaja atau nggak sengaja, si Mus pelakunya. Gue balik dulu.” Dean kemudian melambai dan berjalan menuju mobilnya.


To Be Continued


Gimana? Udah puas, kan?


Otak pelakunya ternyata si Mus.


Wkwkwkk