
“Berkas Toni ada di tangan Santoso, ya? Telfon dia dulu, deh.” Dean berbicara dengan dirinya sendiri dan tak memerlukan jawaban dari siapa pun. Karena, ia langsung menghubungi Santoso.
“Langsung ke kantornya, ya. Gue ama Ryan udah di jalan. Jangan sampe gue nunggu,” pesan Dean pada Santoso. Lalu, ia meletakkan ponselnya. Dahinya masih mengernyit memikirkan sesuatu. “Gue masih agak ragu sama Wulan. Dia mau mutusin Rey, tapi apa mau terima uang Toni? Menurut lo, Yan?” tanya Dean.
“Mbak Wulan pasti gengsi. Apalagi yang menuntut cerai dulu dia. Mbak Wulan juga yang ninggalin semua yang dikasi Mas Toni. Kata Mas Toni yang dibawa cuma mobil, kan?” Ryan menoleh sekilas pada Dean.
“Iya, Wulan yang nolak semua pemberian Toni. Triggernya itu, ya, omongan Mami Toni dulu. Beliau merasa anaknya dicampakkan. Makanya Mami Toni bilang jangan ambil apapun yang dikasi anaknya. Lo tau sendiri, Toni itu baik banget ke cewe. Ke pacarnya dia royal, apalagi ke Wulan. Tapi, sejak Wulan denger apa kata Mami Toni, sampe sekarang Wulan nggak mau terima apa pun. Padahal Toni nggak mungkin ngomong-ngomong ke maminya kalo keluar uang untuk cewe.”
“Iya, dulu temen saya juga ada yang beli mobil 600 juta diem-diem untuk pacarnya. Apartemen satu unit, terus—”
“Pasti hand and lip service cewenya bagus. Makanya temen kamu murah hati,” sambung Dean.
“Menurut saya sih nggak gitu. Cuma buta. Itu yang bener,” jawab Ryan.
“Udah lampu ijo, jalan. Bacot aja,” sergah Dean. Ryan tergelak melihat wajah kesal atasannya.
“Pak, maminya Mas Toni itu, seserem apa, sih? Lebih serem mana dengan—”
“Nyokap gue?” tanya Dean. “Lo mau ngomong itu, kan?” Dean menoleh sekretarisnya yang langsung mengatupkan mulut.
“Menyalahkan Toni, Wulan atau Maminya itu sulit. Gue bisa mendampingi mereka satu persatu dalam beracara buat pembelaan, maka hakim akan sulit memutuskan siapa yang salah. Keadaan Mami Toni juga nggak baik,” terang Dean.
“Gimana, sih? Kadang saya suka nggak ngerti, deh. Masih cinta tapi diem-diem aja. Kayaknya udah punya hidup masing-masing, tapi masih cemburu satu sama lain. Mbak Wulan itu, waktu di Polsek Sukabumi, nahan-nahan si Rey terus. Keliatan banget khawatir sama Mas Toni.”
“Artinya Toni memang baik, kan? Dan Wulan tau itu. Toni itu dari jaman sekolah paling jarang pacaran. Hampir nggak pernah. Seringnya main. Pacarnya paling lama, ya, Wulan. Dia itu setia kawan. Jam berapa pun kita perlu bantuannya, dia pasti langsung dateng. Meski dia lagi ama cewe.”
“Beda banget berarti,” gumam Ryan.
“Beda sama siapa maksud lo?” Dean mendelik.
“Beda banget baiknya Mas Toni. Gitu maksudnya. Ayo, diterusin lagi,” ralat Ryan.
“Merawat orang tua di kursi roda itu nggak mudah. Toni harus menjaga perasaan Maminya. Sementara Wulan meminta perhatian yang memang menjadi haknya. Di lain sisi, Toni juga butuh dukungan. Maminya Toni itu depresi. Sehat, kaya dan aktif tiba-tiba harus di kursi roda. Diperparah kehilangan suaminya. Toni cerita kadang-kadang Maminya masih manggil nama Papinya di rumah. Jadi menurut gue, Toni juga capek. Dan Wulan tiba-tiba minta cerai. Bum! Toni nggak bahas panjang lebar. Dia juga merasa ditinggal saat butuh dukungan. Mereka berdua saling menyalahkan.”
“Sekarang, kok, kepikiran balikan?”
“Karena bayangin Wulan yang tadinya sendiri dan menjaga cerita soal mereka, ternyata mau menjadi milik orang lain. Dan juga ... Mami Toni sekarang semakin parah. Demensia. Bisa jadi beliau nggak inget Wulan.” Dean nyengir.
Mobil yang dikendarai Ryan memasuki halaman bangunan tunggal di jalan utama daerah Jakarta Selatan. Tak banyak mobil di halaman parkir saat itu.
“Mobil jangan keliatan dari depan pintu masuk, Yan. Kalo si Rey sadar kita yang dateng, dia bakal siap-siap. Gue bakal banyak mengeluarkan kosa kata kalo dia banyak membantah. Hari ini kita udah lumayan capek.”
“Parkir di sudut sana aja,” kata Ryan. Melajukan mobil menuju sudut halaman yang dinaungi pohon mangga. Mobil mereka parkir menghadap gerbang masuk.
“Oke, kita tunggu Wulan sebentar. Santoso juga belum nyampe,” kata Dean, melirik jam di pergelangan tangannya.
“Eh, itu mobil Santoso,” kata Ryan, menunjuk sedan merah menyala memasuki halaman. Ryan membuka kaca dan melambaikan tangan keluar agar Santoso parkir di dekat mereka. Ternyata pria itu tak melihatnya. Santoso parkir lumayan jauh.
Dean meraih ponselnya dan menghubungi Santoso. “Liat sini!” pinta Dean, melambaikan tangannya keluar jendela. “Bawa berkas Toni!” pinta Dean, lalu menutup kaca mobil. Santoso mengangguk di kejauhan. Dan Dean seketika mengira kalau pria itu akan kembali masuk ke mobil dan memindahkan mobilnya ke dekat mereka. Tapi, ternyata dugaannya salah. Dengan polosnya Santoso menenteng map dan berjalan tergopoh-gopoh di kejauhan.
“Liat, tuh!” kata Dean, pada sekretarisnya. “Brilian sekali. Ckckck, benar-benar brillian,” decak Dean. Ryan terkikik-kikik dari balik setir. Lalu ia membuka kaca jendela dan berteriak. “Lari!”
Santoso yang dipinta berlari, menurut. Ia mempercepat langkahnya menuju mobil atasannya.
“Dan Santoso menyebut itu lari. Kebanyakan makan mi!” gerutu Dean. Santoso tiba dan langsung masuk ke jok tengah. Ia menghempaskan tubuhnya seraya mengatur napas.
“Masih muda, stamina cuma segitu aja. Mana berkas Toni?” Dean menoleh ke belakang memandang Santoso.
“Diadu sama apa?” tanya Dean geli. Santoso meringis. “Ganteng aja nggak cukup, So. Stamina juga harus oke. Kamu harus punya salah satu dari itu untuk membuktikan jati diri sebagai laki-laki.” Dean mengatakan hal itu sambil membuka-buka map yang berada di tangannya.
“Kalau Bapak?” tanya Santoso, dengan polosnya.
“Gue udah paket komplit. Lo nggak usah nanya lagi,” jawab Dean santai. Ryan kembali terkikik-kikik geli.
Ryan geli melihat Santoso yang memuja Dean, namun selalu mudah digiring ke dalam percakapan yang bisa membuat atasan mereka menyombongkan diri.
“Itu mobil Mas Toni,” kata Santoso. “Apakah Mbak Musdalifah juga akan ikut hadir?” gumam Santoso, memajukan letak tubuhnya di antara jok depan. Matanya tak lepas memandang mobil Toni yang perlahan menepi dan berhenti.
“Apakah Mbak Mus—”
“Diem, lo. Mas-Mus-Mas-Mus, gue mau ngasi liat ini!” Dean mengibaskan map ke sisi kanannya. Tempat di mana wajah Santoso berada. “Yang kita bahas tadi, Yan … ayo liat sama-sama bahasa tubuh Toni dan Wulan. Dari kacamata Dean Danawira Hartono, LLM. Lo dengerin juga, So. Ini ilmu gratis yang nggak lo dapet tiap hari.”
Ryan memperbaiki duduknya dan Santoso menghentikan ocehannya soal Musdalifah.
“Mobil udah berenti. Secepat kilat Toni bakal turun dan muterin mobil. Dia nggak bakal biarin wanitanya turun sendirian. Karena … dia bakal ngerasa kayak supir taksi online. Hahaha—” Dean tertawa sejenak. Ryan dan Santoso berdecak bersamaan memandang atasan mereka. Ryan merasa suasana hati atasannya sedang sangat baik.
“Oke—oke, sorry. Tapi itu bener. Mari kita lanjutkan. Itu Toni udah bukain pintu. Lalu dia bakal megang pinggang Wulan. Itu menyatakan kepemilikan. Toni ingin semua orang ngeliat bahwa Wulan itu adalah miliknya,” kata Dean.
“Kalo megang tangan, Pak?” tanya Santoso.
“Itu kalo mau nyeberang jalan, So. Lo pegang tangannya,” jawab Dean. Lagi-lagi Ryan berdecak memandang atasannya. “Nah, itu Toni megang map. Dia bakal tutupin ke kepala Wulan. Buat nahan cahaya matahari. Dia nggak mau wanitanya kepanasan. Dan Wulan bakal mengatupkan mulutnya. Wulan khawatir kelepasan senyum. Karena dia seneng dengan perlakuan Toni. Liat aja kalo nggak percaya.”
Dan ternyata apa yang dikatakan Dean benar adanya. Toni berjalan mendekati mobil mereka dengan satu tangan berada di pinggang Wulan dan satunya lagi memegang map yang menaungi wajah Wulan dari cahaya matahari. Sedangkan Wulan mengatupkan mulutnya.
Spontan Santoso menepuk tangannya. “Bravo! Bravo! Luar biasa. Analisa brilian! Selalu tepat!” seru Santoso. Ryan meringis memandang Santoso. Andai saja Santoso mendengar sesaat yang lalu Dean mengatakannya kebanyakan makan mi karena susah berlari, mungkin pria itu tidak akan memuji Dean habis-habisan.
Sebegitu Toni dan Wulan mendekat, Mereka semua langsung turun dari mobil.
“De, gue mau ngomong sebentar,” kata Toni, melirik Wulan sejenak. Mengerti dengan hal yang dimaksud oleh sahabatnya, Dean mengangguk.
“Yan, lo jelasin secara singkat ama Mbak Wulan soal Rey. Garis besarnya aja,” ucap Dean. Ia lalu merangkul Toni berjalan sedikit menjauhi Wulan yang langsung menunduk di atas map yang baru dibuka oleh Ryan.
“De, gue mau ngasi ini.” Toni mengangsurkan sebuah amplop cokelat berukuran sedang. “Ini untuk ngembaliin uang Rey.”
Dean mengambil amplop dari tangan Toni dan langsung membukanya. Sedetik kemudian, “Rekening giro? Atas nama—”
“Arista Wulandari. Itu punya Wulan. Itu hak Wulan yang nggak diambilnya selama ini. Itu ada bilyetnya juga. Lo bisa bayar uang Rey pake itu. Wulan nggak berhutang sama siapa pun termasuk gue. Itu memang uang dia,” jelas Toni.
Dean meneliti buku rekening dan catatan transaksi yang baru saja diberi oleh Toni. “Empat milyar, Ton?” tanya Dean. Toni mengangguk. “Kalo gitu, success fee gue bisa sekalian dicairkan?” tanya Dean, tersenyum manja pada Toni.
To Be Continued
Yang menghibahkan vote voucher seninnya untuk GENK DUDA AKUT, juskelapa mengucapkan terima kasih, ya ....
Terima kasih atas keikhlasan votenya. Buat warga GC yang vote juskelapa makasih banyak2 juga yaaa .... Sehat-sehat selalu. Untuk yang jatah votenya dipersembahkan bagi penulis lain, nggak apa-apa. Jangan khawatir bakal dikick dari GC. Amaaaaaann ....
Karena novel ini hanya perkara dunia untuk bersenang-senang. Lakukan dengan hati yang senang juga. Jangan sampai tertekan hanya karena sebuah novel yang sifatnya hiburan. Siapa pun penulisnya, pastikan memberi apresiasi yang tepat sasaran.
Maafkan terlambat updatenya. Seharian oleng karena kolesterol naik. Buat yang daerahnya sedang musim hujan, stay safe dan sehat-sehat selalu.
Cium bertubi-tubi dari Pak Dean :*
Mmuaaahhh