GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
77. Cieeee


Acara potong tumpeng ulang tahun Mami Toni berjalan lancar. Tak seperti dugaan mereka sebelumnya soal Bu Anderson yang akan bertanya soal Asih. Nyatanya, wanita itu sama sekali tak ada menyebutkan nama Asih sepanjang sisa acara.


Anak-anak yang sudah lelah bermain mulai mengusik masing-masing orang tua mereka. Anak bungsu Rio, sudah bergelayut di kaki papinya. Dean sudah memangku Widi dan Dita bergantian. Langit digelayuti oleh sepasang anak kembarnya. Sedangkan Santoso yang sejak tadi bermain bersama anak-anak, di akhir acara malah tak laku. Anak-anak bosan dengan sulap Santoso yang tak ada kemajuan dan itu-itu saja. Apalagi pria itu jarang tertawa, meski sedang berkelakar. Anak-anak sering bingung karena wajahnya terkesan multitafsir.


Hari itu, Ryan jarang duduk bergabung bersama empat orang laki-laki yang membahas soal Asih, Mami Toni, pernikahan Toni, lokasi arisan, serta kabar terbaru soal Rey yang menghilang. Ryan lebih banyak duduk memakan semua hidangan satu persatu bersama Novi yang sedang hamil besar. Sepasang suami istri itu terlihat jarang berbicara. Tak heran Dean pernah menanyakan kepada sekretarisnya itu kenapa istrinya bisa hamil dengan minimnya komunikasi mereka.


Tentu saja jawaban Ryan sangat cerdas seperti atasannya. “Memangnya ada yang sedang berproses menghamili, tapi berisik?” Jawaban singkat Ryan itu sudah cukup untuk membungkam atasannya.


Toni dan Santoso yang duduk tanpa memangku anak seorang pun, kebagian tugas mendapat operan seorang balita dari salah seorang bapak-bapak yang kewalahan. Para laki-laki sedang berada di ruang keluarga, kecuali Ryan. Ryan bersama para wanita berada di ruang makan. Bu Anderson sudah kembali ke kamarnya beberapa saat yang lalu.


“Entar malem gue mau ke tempat Wulan,” kata Toni. “Besok, hari minggu, gue mau ke rumah keluarganya bareng dia.”


“Enggak harus nunggu apa kata Mami lo?” tanya Rio.


“Mami diajak ngomongin Wulan belum ngejawab apa-apa. Cuma diem. Tapi itu ada kemajuan, sih, dibanding yang lalu-lalu. Kayaknya gue setahun terakhir ini jarang nyebut Wulan. Sebelumnya tiap gue ajak ngobrol Wulan, pasti yang diinget soal Wulan pergi ninggalin rumah. Gue ngalah, nggak gue sebut-sebut lagi. Nah, baru kemarin gue makan malam bareng Wulan, gue ngomong ke Mami. Mami diem aja,” kata Toni.


“Capek, ya, Ton?” tanya Langit. Hal itu lebih menyerupai dengan ungkapan simpati ketimbang pertanyaan. Toni hanya mengangkat bahu untuk menjawab pertanyaan sahabatnya.


“Menurut gue kalo lo mau mencatatkan pernikahan, ya, nggak masalah. Asal urusan ke orang tua Wulan juga udah beres. Selebihnya bisa pelan-pelan. Dan yang paling penting, Wulan mau.”


“Untuk itu kayaknya nggak ada masalah,” kata Toni.


“Dan satu lagi menurut gue,” sambung Dean. “Pernikahan itu bukan suatu cara untuk melegalisasi hubungan enak-enak doang. Tapi lebih ke perjalanan pernikahan itu sendiri. Bukan sekedar nikah dan bisa bobok bareng tiap hari.”


“Setuju—setuju. Apalagi Toni udah yang kedua dengan orang yang sama. Bisa jadi kalo nggak hati-hati malah mengulang kesalahan yang sama.” Langit kali ini setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dean.


“Gue juga setuju, sih, Ton. Menikah itu bukan cuma soal bisa ketemu dia tiap hari dengan jalur sah. Lebih dari itu. Tapi gue yakin kali ini lo dan Wulan udah bener-bener siap.” Rio yang duduk di sebelah Toni menonjok pelan lengan sahabatnya.


“Ooo, begitu …,” gumam Santoso tiba-tiba. Semua mata langsung tertuju padanya. Mereka semua bahkan tidak menyadari kehadiran Santoso karena lelaki itu lebih banyak diam di dekat mereka.


“Apa yang begitu?” tanya Dean.


“Soal menikah itu. Saya teringat kisah masa lalu di kampung halaman. Dua kali datang bertandang ke rumah salah seorang gadis, langsung diperkenalkan ke semua keluarganya. Datang yang ketiga kalinya, saya langsung diminta melamar. Padahal saya belum melihat cahaya spesial apa pun tentang gadis itu.”


“Ooohhh … cahaya,” ucap empat orang pria di dekat Santoso.


“Musdalifah pake bohlam merek apa, Ton?” tanya dean terkekeh.


"Entar gue tanya," sahut Toni tertawa.


“Sebentar lagi Toni ama Dean kayaknya besanan, Yo.” Langit mencolek-colek pinggang Santoso yang ternyata tidak merasa geli sama sekali. Laki-laki itu bergeming meski Langit sudah menusuk-nusuk pinggangnya.


“Kita juga bisa besanan,” sahut Rio, mengedipkan mata pada Langit.


“Lo mau yang mana?” tanya Langit mengangkat anak kembarnya ke pangkuan dan memutar duduknya ke arah Rio.


“Nanti gue tanya pelan-pelan,” kata Rio, terkikik-kikik. “Siapa tau anak gue juga ngelirik anak-anak Dean. Dean banyak stok,” ucap Rio tertawa.


“Lo nggak serem besanan ama Dean?” Langit semakin tertawa.


“Dih, gue nggak sudi anak gue dijodoh-jodohin. Biarkan mereka memilih sendiri,” kata Dean.


“Yakin, lo?” Langit balik bertanya.


“Mereka memilih, gue yang memutuskan.” Dean lalu tergelak.


“Wah … gue kasian sama anak-anak perempuan lo. Lewat pagar rumah aja pasti sulit,” tambah Langit.


“Yup, bener. Sulit kalo dikunci. Kalo pagarnya dibuka pasti bisa keluar,” jawab dean mengarahkan tinjunya pada Langit yang langsung seketika menghindar.


“Lo kenapa lagi?” tanya Rio.


“Kayaknya Wulan belum siap kalo untuk tinggal di sini bareng Mami.” Toni menggigit bibirnya.


“Jangan dipaksa, sih, menurut gue.” Dean menjawab sambil memindahkan posisi Widi di pangkuannya.


“Menurut gue juga. Nanti pasti ada saatnya. Apalagi lo bilang nyokap lo udah mulai surut berangnya ke Wulan. Lo jalanin rencana kayak semula,” kata Langit.


“Tapi … lo harus minta izin. Biar lo juga tau apa tanggapan nyokap lo. At least, lo udah nyoba, dude!” Rio memijat-mijat pelan bahu Toni. “Jangan cemas. Lo juga bakal nyusulin kita-kita.”


Toni tersenyum memandang sahabatnya satu persatu. “Thanks, guys.” Ia lalu mengangkat Kalla dari pangkuan Langit dan menimang-nimang balita itu di pangkuannya.


Dean menoleh ke arah ruang makan. Dari tempatnya duduk, ruangan itu hanya terlihat bagian sudutnya saja. Tapi ia bisa meloihat Winarsih duduk santai sambil sesekali bicara entah sama siapa. Dean tak bisa melihatnya. Ia lalu menunduk dan berbisik pada putri gagal bungsunya.


“Sana, duduk sama ibu. Ibu lagi ketawa-ketawa, tapi kamu di sini ngambek sama Bapak. Ganggu Ibu aja,” pinta Dean pada Widi.


“Enggak mau,” kata Widi.


“Mau mainan apa? Nanti Bapak beliin. Duduk sama Ibu dulu sana,” bujuk Dean lagi. Widi kembali menggeleng. Dean akhirnya menghela napas panjang dan dalam. Widi memang benar-benar sedang memanfaatkan momen-momen terakhirnya sebagai anak bungsu dengan sebaik mungkin. Ia membuat bapaknya tak berkutik sejak tadi.


Setengah jam kemudian, semua orang sudah berada di teras. Toni kembali lagi menegaskan bahwa ia akan pergi ke rumah Wulan malam nanti. Semua orang hanya mendengus karena mulai bosan dengan pemberitahuan itu.


Musdalifah yang sudah merasa terlalu lama berada di rumah atasannya di waktu libur, cepat-cepat pamit dengan membawa bungkusan dan tasnya. Ia bermaksud lenyap secepatnya dari tempat itu. Namun, langkah kakinya tertahan dengan perkataan Dean.


“Wah … pulang nggak permisi. Mana bawaannya banyak. Ckckck,” tukas Dean dari anak tangga teras paling atas.


Musdalifah berbalik. “Saya udah permisi ke Pak Toni,” ucap Musdalifah.


“Permisi sama Santoso udah belum? Katanya tadi dia ngajak kamu pulang bareng. Santoso udah buru-buru lari ke dalam buat ngambil kunci mobilnya. Kamu malah kabur. Ya, ampun, Mus ….” Dean menggeleng-gelengkan kepalanya.


Musdalifah mengatupkan mulutnya. Ia tahu betul kalau Santoso berlari ke dalam tadi mau ke toilet. Bukan mengambil kunci mobil. Dan Santoso belum mengatakan sepatah pun soal mengajaknya pulang bersama. Dean seperti sedang menyiram bensin ke bara api. Karena perkataannya barusan, semua mata tertuju pada Musdalifah yang berdiri di depan teras dengan tentengan berisi lauk-pauk yang dibawanya atas permintaan Toni.


“Oh, Santoso ke dalem ngambil kunci mobil?” tanya Rio dengan raut serius. “Ditunggu sebentar, Mbak Ifa … kasian, kan.”


“Iya, nih, Mbak Ifa. Kasian Mas Santoso seharian dicuekin. Ini hari sabtu, lho ….” Langit mengangguk dengan wajah sangat serius.


Musdalifah melirik Dean yang tertawa-tawa karena merasa puas memblokirnya di depan pintu. “Saya udah pesen taksi,” jawab Musdalifah lagi. “Kasian supir taksinya udah mau nyampe,” sambung Musdalifah. Ia menoleh ke pintu kanan saat sebuah taksi masuk dari sana. Gerbang rumah Toni memiliki dua pintu di kedua sisinya untuk jalur keluar masuk mobil yang berbeda.


Taksi itu mendekat dan berhenti di depan teras rumah.


“Nah, ini Santoso. Kamu ini gimana, sih? Ngambil kunci mobil lama banget sampe taksi Mbak Mus dateng.” Dean mengomeli Santoso dengan wajah serius.


“Maaf, Pak. Kunci mobilnya tadi nyelip,” sahut Santoso, langsung menyambar perkataan atasannya dengan begitu licin dan profesional. Padahal ia baru saja dari toilet. Kunci mobilnya berada di dalam saku sejak tadi. Ia memang selalu siap dengan skenario dadakan atasannya itu.


“Sekarang kamu bayar itu taksinya. Gimana?” tanya Dean. Semua yang berada di sana menatap Santoso dengan serius.


“Jangankan bayar ongkos taksi. Bayar semua kebutuhan Mbak Mus, saya sudah siap.” Santoso dengan sigap mengeluarkan dompetnya dan mendekati pintu pengemudi.


Musdalifah menyipitkan matanya memandang Dean. Di antara semua orang yang berada di sana, selain Musdalifah, hanya Ryanlah yang tahu kalau hal yang barusan terjadi adalah sandiwara dadakan Dean belaka.


“Mari, Mbak Mus. Saya antar,” ajak Santoso. “Mumpung masih sore, Mbak Mus mau ke mana aja bisa saya antar.” Santoso mengambil bungkusan dari tangan Musdalifah. “Tunggu di sini, saya ambil mobil dulu. Jalan ke parkiran terlalu jauh dan banyak debu.” Santoso segera berlari ke tempat di mana mobilnya diparkir.


Termasuk Toni, semuanya langsung berkata, “Cieeee ….”


To Be Continued