
Mobil memasuki pelataran sebuah cafe yang dari kejauhan saja warnanya membuat tempat itu mudah dikenali.
“Mas geser sana, sempit.” Suara keluhan Widi terdengar dari belakang.
“Daru duduk di depan, kamu duduk dipangku. Ngomongnya sempit terus,” jawab Dirja.
“Liat itu,” kata Dita, menunjuk ke bangunan cafe yang dicat warna mencolok berwarna-warni seperti playground.
“Mbak Widi sabar, ya .... Kita udah nyampe.” Dean menoleh ke belakang untuk melihat Widi yang mengeluh soal tempat duduknya. Padahal gadis kecil itu dipangku oleh babysitter-nya. Bakat tak mau menderita sedikit pun dari bapaknya, dituruni Widi seratus persen.
“Lain kali, Bapak bawa mobil satu lagi. Nyetir sendiri,” ucap Winarsih.
“Kalo aku nyetir sendiri, anakku mencar-mencar. Padahal mbaknya ditinggal dua orang. Tapi ngomongnya sempit terus. Apa aku perlu beli bus pariwisata?” tanya Dean pada Winarsih.
“Nanti aja beli bus pariwisata-nya, sekarang kita turun dulu.” Winarsih menurunkan Handaru dari pangkuannya. Pak Noto sudah menghentikan mobil dan membukakan pintu mobil untuk mereka.
“Hei, baru nyampe juga,” seru Jingga yang juga baru turun dari mobil. “Zurra, Kalla, ayo! Dirja, Dita juga udah nyampe.” Jingga membantu Zurra yang terakhir kali melompat keluar dari mobil.
“Wah, kayaknya udah pada dateng semua, Mbak.” Winarsih menggandeng Widi menjajari langkah Jingga yang bergandengan dengan Zurra. Pandangan Winarsih sedang tertuju pada barisan mobil di pelataran cafe.
“Mbak Jennifer yang paling duluan nyampe. Katanya mau cek menu makan yang dipesan,” sahut Jingga.
“Woi, buruan!” Toni melambaikan tangan dari pintu masuk cafe. Toni menggandeng Wisnu sambil menunjuk ke arah Handaru yang tangannya digandeng Dean.
“Rame, ya, De?” sapa Langit, menoleh Aruna di gendongan tangan kiri Dean dan Handaru di tangan kanannya.
“Motivasi gue untuk menyelesaikan banyak kasus dan nerima job di luar,” jawab Dean kalem.
“Bu Win, Bu Jingga, itu udah ditungguin di dalem. Ke sebelah sana aja,” pinta Toni menunjuk sisi kanan restoran ketika Winarsih dan Jingga tiba di depan pintu masuk.
“Rame, ya, De?” ujar Toni di depan pintu saat Dean dan Langit tiba.
“Karena sapaan lo sama dengan Langit, tadi udah gue jawab. Tanya ke Langit aja,” sahut Dean, mengarahkan tinju ke arah Toni yang tertawa dan segera menghindar. “Lo berikutnya,” sambung Dean.
“Lo ngapain di depan sini terus? Baru tau gue arisan ini ada pagar bagus-nya,” tukas Langit, melewati Toni di depan pintu.
Semua orang sudah hadir dengan keluarga lengkapnya masing-masing. Rio dan Jennifer terlihat seperti sepasang guru PAUD yang sangat kompak. Mereka mengatur posisi duduk anak-anak berdasar usia dan kemandiriannya. Anak-anak yang sudah lebih besar dan bisa makan sendiri di tempatkan di meja berbeda dengan balita.
“Ayo—ayo, sebelah sini untuk yang usianya di atas lima tahun. Siapa aja yang udah ulang tahun ke lima?” tanya Rio, memandang lima belas orang anak yang duduk bercampur dengan para babysitter-nya.
Wulan yang sedang hamil menghampiri dua putranya. “Ayo, Mas Tirta, Mas Wisnu, usianya berapa? Duduknya di mana?” Tirta dan Wisnu berdiri menuju meja-meja kecil yang terletak di lantai berlapis karpet.
Dirja pergi ke meja khusus lima tahun ke atas. Dita menggandeng Widi mengikuti kakak laki-laki mereka. Begitu pula Kalla dan Zurra, langsung berjalan menuju tempat di mana Jennifer melambai-lambai. Semua anak Rio sudah berada di meja itu.
“Kamu mau ke mana? Papa Santoso mana?” tanya Dean pada seorang balita perempuan dua tahun.
“Mas Santoso di sana, Pak.” Musdalifah mendekati putrinya seraya menunjuk Santoso yang sedang menggandeng Handaru. Bocah laki-laki berusia hampir tiga tahun itu terlihat berbicara serius dengan Santoso.
“Wah, Mus ... kayaknya Papa Santoso membutuhkan kehadiran seorang anak laki-laki di antara tiga orang wanita yang memilikinya.” Dean tersenyum-senyum memandang bayi perempuan enam bulan yang berada di gendongan Musdalifah.
“Anak laki-laki atau perempuan sama aja, kok, Pak.” Musdalifah yang kini telah menjadi ibu dari dua anak perempuan menjawab pertanyaan Dean dengan lugas.
“Uuuu ... Bu Direktur sekarang nyeremin amat. Tapi Papa Santoso perlu temen ngopi cowo. Jangan sampe Papa Santoso nyari temen ngopi lain,” canda Dean.
“Bisa aja,” sahut Musdalifah. Mereka masih berdiri di dekat meja di mana anak-anak berusia lima tahun ke bawah berada bersama babysitter-nya. “Sama aja, kan, Bu?” Musdalifah memandang Winarsih yang sedang menunduk membenarkan letak jepit rambut Aruna.
“Iya, Mbak Mus. Sama aja. Perempuan atau laki-laki, yang penting sehat. Anak-anak perempuan juga bisa nyari bapaknya kalau kelamaan pulang ke rumah,” cetus Winarsih tertawa kecil.
Mendengar hal itu, Dean tertawa memandang istrinya. Ia membayangkan bagaimana Dita, Widi dan Aruna mendatanginya ke tempat nongkrong dan menyuruhnya pulang ke rumah. Pasti lebih menakutkan ketimbang ibu mereka. Bisa jadi Dita akan menasehatinya, Widi akan mengomelinya, dan Aruna akan mendiamkannya selama seminggu.
Santoso berjalan ke dekat mereka. Tak jauh dari mereka ada patung Indian yang tingginya nyaris seukuran orang dewasa.
“Om takut—om takut,” kata Santoso saat menggendong Handaru ke dekat patung itu. “Serem banget, om takut,” ulang Santoso lagi.
“Itu cuma mainan,” kata Handaru, menatap wajah Santoso dengan wajah ceria.
Santoso langsung berhenti berakting. “Iya, ini cuma mainan. Om yang salah,” jawab Santoso kembali membawa Handaru ke meja anak-anak.
“Ryan mana, sih?” Dean mengedarkan pandangan. Lalu dia melihat sekretarisnya itu duduk di sebuah kursi menggulir tabletnya.
“Ya, udah. Ibu-ibu ke sana dulu. Bapak-bapak mau ngumpul di sudut sana, ya.” Dean mengusap punggung Winarsih saat mengatakan hal itu. Winarsih mengangguk dan segera bergabung dengan para ibu-ibu yang mejanya tak jauh dari meja balita.
Arisan ibu-ibu itu dengan cepat berubah menjadi ajang saling mengabarkan apa yang mereka lakukan selama tidak bertemu. Apa saja kegiatan anak-anak. Kerepotan apa saja yang mereka lalui di rumah. Serta kerepotan mereka menghadapi para suami.
Dari kejauhan Dean memandang Winarsih yang berbicara sembari kadang-kadang tertawa. Aruna yang sedang aktif berjalan ke sana kemari, diawasi babysitter-nya. Sesekali gadis kecil itu menghampiri ibunya dan Winarsih akan berhenti berbicara demi mendengar apa kemauan putrinya.
Begitu pula saat Widi datang menghampiri ibunya dan duduk menggelayuti ibunya sebentar, kemudian kembali ke dekat dua kakaknya. Istrinya sudah punya teman-teman perempuan sekarang.
“Bu!” panggil Handaru pada ibunya. Dean masih mengamati dari jauh. “Mbak Widi marah,” kata Handaru. Winarsih memanggil Handaru dan membisikkan sesuatu di telinga bocah itu. Usai berbisik, Handaru tersenyum menatap ibunya.
Dari kejauhan Dean ikut tersenyum meski tak tahu entah apa yang dikatakan Winarsih untuk menenangkan anaknya.
“Kok Bapak-Ibu, De?” tanya Rio tiba-tiba.
“Ha?” tanya Dean yang baru tersadar dari lamunannya.
“Kenapa harus Bapak-Ibu? Gue kira dulu bakal Papi-Mami,” kata Rio, memandang hal yang sama. Handaru yang sedang memeluk Winarsih.
“Panggilan Bapak-Ibu itu hangat di telinga gue. Kayak Winarsih yang dulu manggil gue dengan sebutan, ‘Pak’ dengan maksud yang beda. Gue nggak perlu ribet minta dia ngikut gue. Gue yang ngikut dia manggil, ‘Bu’. Enggak repot, kan?” Dean mengangkat gelasnya seraya tersenyum. “Semoga sehat-sehat dan bahagia selalu sobat-sobatku,” ucap Dean.
Toni tertawa dan ikut mengangkat gelasnya. Begitu pula dengan Rio, Langit, dan Santoso.
“Yan .... Gelas,” pinta Dean pada sekretarisnya.
Ryan yang sedang sibuk bekerja melalui tabletnya ikut mengangkat gelas. “Doa yang sama,” ucap Ryan menyentuhkan gelasnya ke kumpulan gelas lima orang pria.
“Atasannya ceria selalu, bawahannya serius-serius banget, ya.” Langit menonjok pelan lengan Ryan.
“Apa jadinya kantor kalo semuanya mirip atasan?” Ryan balik bertanya seraya melirik Dean.
Langit dan Ryan tertawa terbahak-bahak.
“Anak ketiga cewe, Ton?” tanya Rio.
Toni mengangguk. “Hasil USG terakhir fixed cewe. Udah komplit. Wulan close order,” kata Toni, menyilangkan tangan di depan dadanya.
“Santoso belom ada cowo,” kata Dean lagi mengingatkan Santoso. “Order lagi sama Mus, So! Jangan mau kalah, So! Gue dukung,” sambung Dean.
“Lo saban hari kampanye banyak anak terus, ya,” sindir Langit pada Dean.
Dean masih terkekeh-kekeh, menusuk lengan Santoso sambil berkata, "Ayo, So .... tambah lagi, So. Jangan mau kalah sama si Mus."
“Bapak-bapak!” panggil Jennifer. “Ayo foto dulu! Pegang anak masing-masing,” seru Jennifer tertawa.
“Ayo,” ajak Rio, berdiri dari duduknya. Semua orang berjalan menuju tempat yang ditunjukkan Jennifer.
Dean dan Ryan berjalan tertinggal di belakang.
“Lo sibuk banget dari tadi. Kerjaan dari gue kebanyakan, ya? Apa lo butuh tenaga bantuan? Gue bisa cari staf buat jadi asisten lo,” kata Dean pada Ryan.
Ryan tertawa lalu menggeleng. “Saya udah terbiasa. Sekarang malah jauh lebih kondusif dan menenangkan dibanding dulu,” jawab Ryan nyengir.
“Artinya masih betah mengarungi bahtera bersama gue?” tanya Dean.
“Selama kompasnya bener, saya ikut.” Ryan tersenyum memandang atasannya.
“Kalau kompasnya rusak, saya bisa jadi penunjuk arah.” Santoso tiba-tiba muncul di sebelah Ryan. “Walaupun saya juga sering nggak hafal jalan. Asal sama Pak De, saya percaya.” Santoso juga menatap Dean.
“Ya, udah. Kalo gitu kita pake tour guide aja,” sahut Dean tertawa.
“Asal tour guide-nya laki-laki, sepertinya bakal aman,” gumam Ryan.
Mereka bertiga tertawa terkekeh-kekeh.
...GENK DUDA AKUT...
...TAMAT...
...Dengan ini juskelapa menjamin bahwa tiap adegan serta plot adalah murni hasil pemikiran sendiri. Jika ada kesamaan dengan karya tulis lain dan ingin memberi informasi bisa hubungi juskelapa lewat private chat atau akun instagram @juskelapa_...
...Mauliate Godang...
...Jakarta Timur, Senin, 08 November 2021...
...© copyright juskelapa...