GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
79. Dua Kantong Bingkisan


Toni memarkirkan mobilnya jarak beberapa meter dari pintu masuk ke lobi apartemen Wulan. Ia baru saja menekan hand brake saat ponselnya bergetar dan nama Wulan tertera di layar.


“Ya, Sayang? Aku baru aja parkir. Mau ke mana?—oke, aku tunggu di lobi. Oke—oke, iya, aku di mobil aja.” Perubahan rencana. Tadinya Wulan mengatakan sedang tak ingin ke mana-mana, namun wanita itu berubah pikiran. Ingin makan nasi goreng di pedagang kaki lima langganan mereka dulu.


Toni menyalakan lampu di dalam mobil dan mengecek penampilannya lewat cermin sun visor mobil. Setelah memastikan Wulan akan terkesima dengannya malam itu, Toni meraba jok bagian belakang untuk mengambil dua bingkisan yang disisihkannya dari acara siang tadi.


Tok! Tok!


Ketukan di kaca jendela mobil menyadarkan Toni bahwa ia belum membuka kenop pintu mobil.


“Maaf,” kata Toni saat pintu mengayun membuka dan menampilkan Wulan yang berpakaian santai, namun sangat cantik. Malam itu Wulan hanya mengenakan setelan training beresleting warna hitam dengan garis tiga di sepanjang bahu dan kaki celananya.


Wulan mengibaskan rambut yang setengah basah saat masuk ke mobil. Lalu, ia meraup rambutnya itu dan memindahkan ke sisi kiri bahu.


“Baru mandi?” tanya Toni, menyugar rambut Wulan lalu menarik bahu wanita itu untuk mendekat. “Wangi banget,” kata Toni, menghirup puncak kepala wanita itu.


“Seharian ada kerjaan. Keasikan, sampe nggak inget mandi.” Wulan tertawa.


“Makan juga pasti nggak inget kalo aku nggak ingetin,” sungut Toni. Tangannya masih menyisir rambut Wulan dengan jemarinya.


“Yang penting udah makan,” kata Wulan. “Meski telat,” tambah Wulan meringis.


Toni menyodorkan bingkisan yang tadi dipegangnya ke pangkuan Wulan. Mata wanita itu seketika membelalak karena melihat bungkusan lucu warna warni dikemas sangat menggemaskan. Ada boneka beruang kecil yang terikat di atasnya.


“Lucu banget, dari mana?” tanya Wulan menoleh pada Toni. Ia langsung membuka bingkisan itu dan mengeluarkan berbagai jajanan dari dalamnya.


“Itu jatahnya anak-anak Dean, Langit dan Rio. Aku sisihkan untuk kamu. Karena kita belum—jadi untuk kamu aja.” Toni kembali menarik Wulan dan mengecup kepala wanita itu.


Wulan mendongak menatap Toni dengan sorot sendu. Toni sudah 33 tahun dan di antara sahabat-sahabatnya, pria itu sendiri yang belum memiliki anak. Rasa sedih dan penyesalan terselip di hati Wulan.


“Nanti kita—”


“Pasti,” potong Toni. “Aku optimis kita bisa,” sambung Toni.


Wulan meletakkan bingkisan di tangannya dan memutar tubuh menghadap Toni. Ia lalu menangkupkan kedua tangan mungilnya di pipi pria itu. “Mungkin, kalo aku nggak seegois itu ninggalin Mas Toni, kita udah punya keluarga kecil sekarang. Aku memang kurang kuat dan kurang sabar,” ucap Wulan, mengusap lembut pipi Toni dan merasakan kehangatan menyebar di telapak tangannya.


“Kita sama-sama coba, ya …. Aku mau Minggu depan kita udah mencatatkan pernikahan. Gimana? Besok aku minta izin ke orang tua kamu lebih dulu.” Toni meraih telapak tangan Wulan dan mengecupnya.


“Aku udah ngomong ke ayah-ibu kalo besok Mas mau ke rumah.” Wulan menatap tangannya yang sekarang berada di atas pangkuan pria itu.


“Ayah ngomong apa?” tanya Toni.


“Ayah bilang, ayah udah nunggu sejak lama.” Wulan mengatupkan mulutnya.


Toni pasti sudah tahu akan hal itu. Ayah mertua yang menyayanginya seperti anak sendiri. Yang tak pernah bertanya soal alasan mereka berpisah. Tak mendesak mereka soal mempertahankan hubungan pernikahan saat itu. Ayah Wulan lebih terkesan pasrah. Pria itu selama ini hanya sesekali bertanya soal kabar mantan menantunya melalui sang anak.


“Ayah nungguin aku selama ini. Dan dia juga menganggap aku terlalu lama,” gumam Toni.


“Enggak apa-apa,” bisik Wulan.


Toni melepas tangan Wulan dan menangkup wajahnya. Ia melekatkan bibir mereka. Menyesap bibir bawah Wulan lebih dulu. Bibir yang dirasanya dingin dan manis. Dari celah matanya, Toni bisa melihat kalau Wulan seketika memejamkan matanya. Mulut wanita itu setengah terbuka seakan menanti kecupan-kecupan kecil yang biasa dilakukannya dalam jeda menarik napas.


Toni merasakan tangan Wulan yang berada di pahanya bergerak pelan. Menggaruk lembut paha terbalut jeans yang membungkus ketat. Kuku Wulan menimbulkan gesekan lembut yang membuat pikiran Toni sedikit berpindah ke bagian bawah tubuhnya.


Wulan mengerang lembut saat menarik napas pendek. Ciuman mereka terlepas sesaat, namun kemudian kembali bertaut. Kedua tangannya memegang kedua belah paha Toni. Menggaruk dan mengusap perlahan, naik-turun namun sesekali berhenti seakan ragu meneruskan ke mana arah sentuhannya. Ia merasakan telapak tangan Toni berpindah perlahan namun begitu pasti. Bergerak dari bahu ke lengan dan memijat lembut bagian itu.


Wulan merasa debar jantungnya semakin cepat dan tak sabar. Menanti tangan Toni yang terdiam menetap lama memijat lengannya. Ia ingin disentuh. Ia tahu Toni ingin bersikap sopan padanya. Tapi, ayolah … itu hanya sekedar sentuhan, pikirnya. Ia rindu sentuhan pria yang sedang menciumnya dengan lagak seorang gentleman penuh sopan santun. Ia suka Toni yang terburu-buru tak sabaran.


Wulan membuka mulutnya, menanti Toni menelusuri tiap sudut bibirnya. Desaahan kasar sudah meluncur dari bibir Toni. Terdengar berat dan parau penuh hasrat. Lalu, Wulan menaikkan cengkeramannya. Sedikit saja, pikirnya. Tak apa … ia memang rindu. Minggu depan mereka akan mencatatkan pernikahan di hadapan keluarga kecil mereka. Ia menekan paha Toni sedikit lebih keras. Seakan memberi isyarat pada laki-laki itu bahwa tangannya juga sudah berada di sana. Maka Toni juga tak seharusnya berdiam diri.


Dengan satu gerakan lembut, tangan mungil Wulan sudah berpindah. Memijat lembut paha bagian teratas. Tempat ia tak harusnya ke mana-mana lagi. Punggung jemarinya bisa merasakan kalau Toni sudah sepenuhnya bangkit di bawah sana. Ia menggesekkan punggung jemarinya dengan lembut di atas sana. Erangan parau seketika meluncur dari kerongkongan Toni.


Toni melepaskan bibirnya dari Wulan. Ia kembali menangkup wajah Wulan dan menempelkan dahi mereka berdua. Ia bisa merasakan napas mereka bertukar satu sama lain. Ia menggigit bibir bawahnya. Menatap mata Wulan dengan jarak begitu dekat sambil berdebar menanti akan gerakan tangan Wulan di bawah sana. Ia tak berani meminta. Tak berani mengharap atau memohon wanita itu untuk melepas kancing jeans-nya. Yang bisa ia lakukan adalah mulai menciumi sepanjang garis rahang Wulan hingga bibirnya tiba di telinga wanita itu. Mengecupnya dengan kasar seraya sesekali menyapukan lidahnya di sana.


“Lan …,” bisik Toni lembut. Entah apa yang akan dipikirkan wanita itu tentangnya. Etikanya hancur lebur. Ketergesaannya tiba-tiba muncul tak tahu diri. Tangan kirinya menahan leher Wulan dan tangan kanannya turun mencari resleting yang menggantung di leher wanita itu.


Sedikit saja, pikir Toni. Hanya sentuhan untuk menebus rindu nyaris seharian yang ia rasakan. Rindu yang selalu berkumpul untuk wanita yang sama bertahun-tahun. Jarinya hanya perlu mengeluarkan sedikit tenaga saat menyeret resleting itu turun. Sedetik kemudian tangannya telah menyusup ke dalam. Mengusap kulit lembut yang selalu dilihatnya tertutup. Satu usapan saja untuk membuat Wulan meneruskan kegiatannya di bawah sana. Toni menarik turun penutup dada yang dirasanya berupa renda tipis. Dalam gelap mobil telapak tangannya dengan cepat mengenali.


Puncak dada Wulan telah mengeras seakan meminta disentuh sejak tadi. Usapan lembut ibu jarinya di puncak dada itu, membuat Wulan sedikit gaduh. Wanita itu mengerang dan mengusapkan tangannya di bawah sana. Toni menanti. Ia menurunkan kecupannya ke leher Wulan. Dan seperti mendengar permintaan yang tak terucap oleh Toni, Wulan meraba perutnya.


Terlalu sulit, pikir Toni. Sekarang konsentrasinya berpindah pada kesulitan tangan Wulan membuka pengait di celana jeans yang tertekuk karena tubuhnya membungkuk. Tak sabar melalui waktu yang terasa menjadi lebih panjang, Toni meraba pengait celana dan melepaskannya hanya dalam satu gerakan. Dan tak ingin memberi jeda pada Wulan untuk berpikir, ia kembali menunduk dan mengecupi leher wanita itu.


Tangan mungil itu sudah tiba di atas selapis pakaian dalam yang membungkus kejantanan Toni yang menunggu disentuh sejak tadi. Hanya sentuhan, pikiran pria itu kembali mengingatkan. Detak jantung Toni sudah riuh tak sabar. Darahnya berdesir semakin cepat dan membuat napasnya terengah-engah karena rasa penasaran.


“Mas,” bisik Wulan dari atas pundak Toni. Matanya memejam dan bibirnya sesekali menyapukan kecupan di leher pria itu.


“Hmmm?” sahut Toni. Haruskah ia meminta Wulan menyentuhnya sesaat saja. Di mana harga dirinya? Minggu depan mereka sudah bisa menghabiskan waktu di ranjang seharian penuh. Wulan tak menyahutinya lagi. “Sentuh, Lan. Aku kangen,” bisik Toni akhirnya.


Kalau ada sebutan laki-laki murahan, dialah orangnya. Toni sudah memaki dirinya berkali-kali sejak tadi. Tak bisa menahan diri. Setiap ciumannya dengan Wulan selalu berakhir dengan keinginan bercumbu dan menuntaskan hasratnya. Ia berjanji malam ini hanya sentuhan.


Beberapa detik Toni merasakan tangan Wulan berdiam mengusap bagian luar pakaian dalamnya. Lalu tangan itu bergerak naik dan menyusup ke tepian tepat di bawah pusarnya. Ciuman Toni semakin dalam dan keras di leher Wulan. Tangannya sudah memijat dada wanita itu. Telapak tangannya sudah penuh terisi. Ibu jarinya mengusap dengan kasar berkali-kali. Lalu, ia kembali kelepasan sebuah erangan saat Wulan menyentuhnya di sana.


“Ahhh, Lan ….” Toni lalu menggigit bibirnya. Ia seperti dicampakkan ke masa lalu. Masa saat pertama kali Wulan melingkarkan tangannya di bawah sana. Melingkupinya dengan kehangatan tangan mungil yang sedang mengusapnya perlahan. Toni mengangkat wajahnya dari leher Wulan, lalu kembali membenamkan ciuman lebih dalam di bibir wanita itu. Ia benar-benar merindukan sentuhan Wulan yang perlahan menariknya, mengusapnya, dan membuatnya seakan bisa meledak setiap saat.


Wulan mendesaah panjang, lalu melepaskan ciuman mereka. Mata sayu mereka bertemu. Sorot mata mendamba yang ditautkan Toni padanya penuh sarat permohonan.


“Mas,” bisiknya.


“Hmmm?” sahut Toni terengah-engah.


“Mas ma—”


“Iya, aku kangen.” Lalu Toni melihat satu tangan Wulan mendorong dadanya. Ia terhempas bersandar pada kaca jendela mobil yang dipunggunginya.


Mulut Toni setengah terbuka karena penantian mendebarkan itu. Lalu, Wulan menunduk di pangkuannya.


To Be Continued


Langsung next bab, jangan ketinggalan Like-nya agar statistik karya ini stabil. Terima kasih atas tolong menolong-nya sayang-sayang njusss :*