
DRRRT! DRRRT!
Pagi buta, Toni menyipitkan matanya memandang ponsel di bawah temaram lampu tidur. Ia merasa baru memejamkan mata. Tapi ternyata jam di atas meja nakas menunjukkan hampir pukul lima pagi. Ia menyipitkan mata. Wulan meneleponnya. Toni menyunggingkan senyum tipis. Tak perlu ditanya lagi kenapa Wulan masih menghapal nomor ponselnya. Nomor itu adalah nomor pilihan seorang customer servive provider yang sekarang menjadi mantan istrinya.
“Sayang …,” sahut Toni dengan suara parau.
Wulan diam sesaat. Sepertinya wanita itu terperanjat mendengar sahutan Toni dari seberang telepon. “Aku nggak ngantor hari ini. Mobilnya nggak usah di anter ke sini. Kalo bisa jangan diparkir di kantor kamu juga,” ucap Wulan.
Toni masih menyusun kepingan jiwanya yang berserakan. Ia mengucek mata dan menyugar rambutnya. Wulan memintanya jangan mengantar mobil ke kantor atau ke apartemennya. Maksudnya apa? Ia kembali menggaruk kepalanya. Lalu ….
“Oh, oke. Kamu mau istirahat ya? Ya, udah. Enggak usah ngantor dulu. Mobilnya aku parkir di rumah aja.”
“Jangan di rumah kamu. Aku khawatir Mami kamu bakal nanya—”
“Mami jarang banget keluar, Lan …. Cuma di dalem rumah dengan kursi rodanya.”
“Maaf. Kalo gitu, terserah kamu di mana. Aku cuma mau istirahat. Enggak mau diganggu. Kalo mobilku keliatan di sini. Aku khawatir—”
“Kamu istirahat aja. Nanti selebihnya aku yang beresin. Kalo ada apa-apa hubungi aku,” ujar Toni.
Setelah menyetujui perkataan Toni, Wulan mengakhir pembicaraan. Dan pagi itu, ia berangkat dengan mobilnya ke kantor dan tetap meninggalkan mobil Wulan di rumahnya.
“Pagi Pak,” sapa Musdalifah dari balik mejanya.
“Pagi—eh, Mus!” Toni langsung mendekati meja sekretarisnya. “Kemarin gimana? Enggak ada masalah, kan?”
“Enggak, kok. Nanti selanjutnya kalau nggak penting-penting banget, Bapak nggak perlu ke Kantor Polisi. Biar si itu aja yang dateng.”
“Si itu siapa?” tanya Toni, sedikit bingung.
“Pak Santoso, maksudnya.”
“Gitu, dong. Ada hal yang perlu dilakukan hari ini?” tanya Toni.
“Pukul sembilan pagi, kita ke kantor hukum Danawira untuk ngobrol sedikit lagi. Kemarin, kan, cuma saya dan Pak Mustafa. Karena—”
“Oke-oke. Jam sembilan, ya …. Sebentar lagi kita berangkat. Saya ke dalam dulu. Bawa surat pengangkutan kemarin, Mus. Saya cek itu dulu sebelum pergi.” Toni mengetukkan jarinya di meja Musdalifah kemudian berlalu.
Setelah menyelesaikan sedikit pekerjaan paling penting hari itu. Toni bergegas keluar kantor bersama Musdalifah. Langsung menuju kantor Dean.
Pukul 09.15 mereka telah melenggang di salah satu lantai gedung perkantoran yang ditempati Danawira’s Law Firm selama kurang lebih delapan tahun.
Toni langsung menuju kantor Dean yang terletak di pada paling ujung lantai itu. Ruangan paling luas yang di sisi kanannya terdapat sebuah ruangan kaca tempat Ryan biasa berada. Pagi itu, ruangan Ryan kosong, namun komputernya menyala. Itu pertanda pria itu sudah datang.
Dari luar Toni bisa mendengar suara Dean yang sedang berbicara dengan nada memerintah seperti biasa. Tanpa mengetuk, Toni langsung membuka pintu ruangan.
“Berisik! Masih pagi! Lo dari kemarin selalu berisik merusak suasana orang. Berisik banget nyuruh gue pulang.” Toni mengira Dean bakal terkejut akan kehadirannya. Ternyata sahabatnya itu malah memberondongnya dengan omelan. Ditambah dengan nyanyian gilanya di pagi hari.
“Yah, elo single. Punya rumah, punya orang tua. Tapi nggak punya bini. Bagaimana pun, lo harus pulang. Beda ama gue. Gue kalo nggak pulang, bini gue bisa langsung nyanyi gini ....”
“Aku tak biasa
Bila tidur pakai celana
Aku tak biasa
bila kutidur tanpa belalaimu
Aku tak biasa.”
Toni sebenarnya geli sekali. Dean biasanya hanya bertingkah gila saat bersama mereka semua dan Ryan. Di depan istrinya pun, Dean selalu menjaga wibawanya untuk hal-hal tertentu. Namun pagi itu, Dean belum menyadari keberadaan Musdalifah yang berada di belakang tubuh Toni.
Saat menatap Musdalifah, Dean seketika terdiam.
Musdalifah yang keluar paling belakangan, menutup pintu dengan patuh.
“Bagus,” tukas Dean, menyilangkan tangannya di dada masih menyandari mejanya. “Harusnya sebelum masuk, lo tinggalin sekretaris di luar.”
“Siapa yang sangka lo langsung konser nyanyi lagu sinting lo itu. Syukur gue minta si Mus keluar. Kalo nggak? Bisa-bisa lo abis lagu itu langsung nyanyi, ‘Oh, burung … masukkanlah. Katakan padanya, aku mau’. Mulut lo kadang-kadang mencemaskan,” ujar Toni. Ia berjalan menuju sofa dan menghempaskan tubuhnya di sana.
Dean tertawa terbahak-bahak seraya ikut berjalan menuju sofa. “Jadi keinget masa-masa keemasan kita dengan mic di tangan, ya, Sayang ….” Dean kembali tertawa.
“Manusia sinting! Girang banget lo,” sergah Toni.
“Pagi yang ceria tandanya semua tercukupi."
“Bisa-bisanya ngirim pesan tengah malem cuma buat nyuruh gue pulang. Merusak suasana hati gue aja,” kata Toni.
“Anak gue yang gagal bungsu rewel. Bini gue minta anaknya digendong. Kasian katanya. Ya, udah … selaku bapak yang baik, gue momong anak sejam. Bini gue nanya terus, lo udah pulang apa belom. Kasian banget dia kayaknya ama lo. Dan gue paham, lo nggak mungkin nggak masuk ke kamar Wulan.” Dean duduk menyilangkan kakinya di seberang Toni.
“Sok tau …,” cibir Toni.
“Suara detak jantung lo kedengeran sampe rumah gue. Jangan bohong.” Dean terkekeh.
"Harusnya lo bisa ngomong sesuatu untuk menenangkan bini lo. Ciptakan kesan gue ini pria baik yang bertanggung jawab."
"Kalo ama bini, gue punya metode menenangkan tersendiri. Gak perlu banyak bacot. Yang jelas, dia tidur pulas sampe pagi," terang Dean.
"Otak lo ...."
TOK! TOK! TOK!
“Masuk,” sahut Dean menoleh ke arah pintu.
Musdalifah masuk dengan nampan dua cangkir teh hangat. Wanita itu mengangsurkan satu cangkir teh pada Toni. “Pak … ini tehnya. Di sini nggak ada teh yang macem-macem. Jadi saya buatin apa yang ada aja. Black tea. Kalau biasanya pakai gula satu, di sini saya tambahin setengah. Karena tehnya agak sedikit pahit pastinya. Nanti lain kali, kalau ke sini saya bawa teh dari kantor kita.”
Toni langsung mengangkat cangkir tehnya dan menyesap teh itu sedikit. “Enak, kok, Mus.” Lalu ia kembali meminum tehnya tanpa memandang Dean.
“Terima kasih, Pak.” Musdalifah lalu kembali menunduk untuk mengangsurkan cangkir lainnya pada Dean. “Silakan, Pak. Ini tadi Pak Ryan yang minta sekalian anterin. Yang bikin bukan saya,” ucap Musdalifah.
“Ckckck … luar biasa,” decak Dean, memandang Toni dan sekretarisnya.
“Kalau gitu saya permisi dulu. Nanti kalau ada keperluan bisa panggil saya lagi,” kata Musdalifah, mundur memegang nampannya. Namun ia baru dua langkah menuju pintu, saat Santoso tiba di ruangan dan mengetuk daun pintu yang terbuka.
TOK! TOK! TOK!
“Nah … ini dia orangnya,” kata Dean.
“Wah … pantes di luar mendung,” kata Santoso, tiba-tiba.
“Emang mendung?” tanya Toni, melongok ke arah dinding kaca yang terbuka.
“Di luar mendung, karena cahayanya lagi ada di sini …,” ucap Santoso, memandang Musdalifah.
“Mampus …,” gumam Toni, menatap Santoso.
“Dasar …,” gumam Musdalifah.
Sementara Dean tertawa-tawa bertepuk tangan. “Jangan gitu, lho, Mus …. Sekarang yang good looking kalah ama yang lucu dan bikin nyaman. Cie … Santoso,” goda Dean.
Musdalifah melemparkan tatapan sebal pada Santoso dan Dean.
To Be Continued