GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
29. Dimanfaatkan Sekali Lagi


Kawasan kantor Wulan tak jauh dari kantor Toni. Sama-sama di daerah Timur. Karena kawasan Timur Jakarta, masih menjadi pilihan banyak pengembang, untuk membangun kantor dan pergudangan.


Pukul enam sore, Dean telah memarkirkan mobilnya di salah satu sudut jajaran pertokoan. Sudah sepi.


Wulan benar-benar meniru bisnis yang dipelajarinya dari Toni. Bisnis itu terlihat masih sangat sederhana. Hanya ada dua orang pegawai wanita yang duduk di belakang meja. Kantor Wulan pun, berupa bangunan dua buah ruko yang disatukan.


“Kantor Wulan, Ton.” Dean memandang Toni. “Sedan itu pasti mobil Wulan. Platnya masih yang lama, meski mobilnya udah ganti. Jadi, dia pasti sendiri di dalem.”


“Iya, kantor Wulan. Ternyata dia bener-bener mau mandiri.” Toni tersenyum kecut menatap bangunan di depan mereka. “Plat mobil itu … ternyata masih dipake. Itu tanggal lahirnya, kado ulang tahun dari gue. Udah lama banget, dari masa pacaran. Ternyata masih dipanjangin ama dia.” Toni tersenyum.


“Tapi, bisa jadi pacarnya yang manjangin plat itu, karena tau ultah Wulan.” Dean meringis.


“Lo sebenernya di pihak siapa, sih?” kesal Toni, menatap Dean.


“Jelas elo, dong … Sayang …,” kekeh Dean, menonjok lengan sahabatnya. “Atau lo gue tinggal aja? Pake alesan gue telantarkan di sini. Trus pulang nebeng dia. Selesaikan segera.”


“Jangan! Entar gue pake alasan mampir karena lo minta temenin ketemu klien. Gitu aja,” tutur Toni kemudian turun dari mobil.


“Sejak kapan gue minta ditemenin ke mana-mana,” dengus Dean.


“Ya, kali-kali aja Wulan bakal keluar kantor ngeliat gue dateng ama siapa. Bisa jadi dia ngintip lewat jendela. Ya, udah, sekali-sekali nggak berisik gitu, De ….” Toni membanting pintu mobil, Dean langsung tersentak.


“Mirip banget kelakuannya ama si Mus. Pantes cocok,” sungut Dean. Ia langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari nama ‘Istriku’. Beberapa saat menunggu, suara Winarsih terdengar di seberang.


“Lagi ngapain, Sayang? Nanti tidur jangan pake daster, ya … aku lagi pengen liat kamu pake yang bahannya kayak kelambu bayi.”


“Cepet pulang. Aku kepingin sate madura yang di simpang. Mas yang beli!” seru Winarsih.


“Kamu itu kalo ngomel makin gemesin. Aku masih ama Toni. Sabar, ya … Nanti langsung aku beli. Jangan ngambek. Aku udah jatuh cinta habis-habisan sama kamu. Sampe nggak ada sisa lagi. Semua bibit unggulku, udah aku titipkan ke kamu. Tunggu, ya, Sayang …,” bujuk Dean. Ia mencibir menatap kantor di mana Toni menghilang. Demi sahabatnya, hari itu ia harus kembali mengambil resiko tidur di luar.


Ternyata, menemui Wulan tak sesulit dugaan Toni sebelumnya. Dua pegawai wanita yang sedang duduk di luar, langsung memberitahu di mana letak kantor atasannya.


Bahaya sekali, pikir Toni. Siapa saja bisa masuk dengan mudah. Ia mengedarkan pandangan mencari cctv. Di lantai satu, hanya ada satu cctv.


“Ya, ampun, Lan …,” gumam Toni. Melihat tampilan kantor sangat sederhana itu, membuat jantungnya serasa diremas. Berapa yang Wulan pinjam dari Rey, demi bisa mendirikan kantor itu? Wulan meminjam uang, atau itu usaha patungan? Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya.


Setelah menaiki sebuah tangga manual, Toni tiba di lantai dua dan berbelok ke kanan. Ia mencari sebuah ruangan paling sudut, seperti yang diberitahu pegawai wanita di bawah.


TOK. TOK.


Toni mengetuk dua kali.


“Ya … masuk Yu,” pinta Wulan. Ternyata pegawai di bawah tidak memberitahu atasannya soal tamu pria yang baru saja masuk. Sangat beresiko, pikir Toni. Siapa saja bisa masuk ke sini dan langsung menemui Wulan. Ke mana satpam kantornya?


Toni menekan pegangan pintu dan mendorongnya.


“Mau pulang, ya, Yu?” tanya Wulan mendongak dari setumpuk berkas yang sedang dicoret-coretnya. Ia sedang mencari nama-nama perusahaan kapal, beserta harga tarif kirim barang yang ditawarkan.


Melihat kedatangan Toni, Wulan membulatkan matanya. “Kamu … kok ke sini?” tanya Wulan bangkit dari kursinya. Rautnya khawatir. Ia membuka tirai dan melongok keluar jendela.


“Kalo Rey sampai tau … bakal ribut lagi.” Wulan berjalan mendekati Toni.


“Kamu khawatir banget ama dia. Jaga perasaan dia banget, ya?” tanya Toni sedikit tersinggung.


“Bukan—bukan. Kalian udah tanda tangan perjanjian. Aku nggak mau kamu dipenjara cuma karena hal-hal sepele. Udah sore, kamu langsung balik aja. Aku baik-baik aja, kalo kamu mau tau soal kabarku.” Wulan maju, sedikit menyeruak tubuh Toni untuk meraih handle pintu.


Toni menahan lengan Wulan. “Nanti … sebentar lagi. Aku kangen, Lan …,” lirih Toni.


Wulan menoleh, dahinya mengernyit. Ia bingung harus menjawab apa. “Aku udah bilang, sebentar lagi aku tunangan, Ton …,” tegas Wulan.


“Dulu kamu manggil aku nggak kayak gitu. Aku nggak suka, Lan …,” rengek Toni.


“Dulu beda. Sekarang beda lagi,” kesal Wulan. Ia kembali menoleh ke arah tirai jendela. Ia khawatir Rey tiba-tiba muncul.


“Aku mau kita kayak dulu lagi. Nikah denganku lagi, Lan ….”


“Aku bakal ngulangi kesalahan yang sama dua kali,” jawab Wulan.


“Nikah denganku, sebuah kesalahan?” tanya Toni memastikan hal yang baru saja didengarnya.


“Bukan—bukan gitu maksudnya.” Wulan diam sejenak. Lengannya masih berada di cengkeraman Toni.


“Aku nggak yakin, Ton … ck!” Wulan berdecak kesal karena Toni begitu keras kepala.


“Berapa Rey minjemin kamu modal? Ini perusahaan kamu, atau milik dia juga?” Toni semakin penasaran.


“Milikku—milikku. Makanya aku harus kerja keras, supaya bisa ngembaliin uang Rey. Meski nantinya menikah dengan Rey, aku nggak mau hutang budi. Aku harus punya sesuatu yang jadi milikku sendiri,” terang Wulan.


“Lan …,” panggil Toni memegang lengan mantan istrinya itu. Toni masih membelakangi pintu, dan Wulan masih sibuk mencoba meraih pegangan pintu, untuk mengusir mantan suaminya.


“Kamu tau sendiri gimana aku terpuruk setelah kita cerai … kamu tau sendiri, Mami kamu buat aku nandatangani perjanjian untuk nggak terima apapun, karena menggugat cerai anaknya. Kamu tau sendiri, Mami kamu bilang aku perempuan banyak sialnya, karena belum bisa ngasi anak. Kita baru nikah enam bulan, Ton … baru enam bulan.” Wulan kini menunduk. Setelah empat tahun, ia masih menangis tiap mengingat hal itu.


Toni menarik mantan istrinya dalam pelukan. Berkali-kali ia menciumi kepala wanita itu. Dari bibirnya terucap lirih, “Maafin aku—maafin aku … maafin aku. Mami depresi, Lan …. Maafin aku. Hidup dengan kursi roda setelah kehilangan Papi, bikin kondisi Mami makin buruk. Maafin aku,” lirihnya lagi.


“Aku yang sial … Mami kamu bilang aku pembawa sial buat kalian. Orang tua kamu kecelakaan, setelah kamu nikah dengan aku. Mami kamu selalu bilang kayak gitu. Aku sial, Ton … aku perempuan sial,” raung Wulan. Ia menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan mantan suami, yang nyatanya selalu ia cintai.


Sementara itu di luar, mobil Rey baru tiba di halaman kantor Wulan. Dean yang sedang menggombali Winarsih melalui telepon, menatap mobil itu dengan seksama. Dan hal yang dikhawatirkannya pun terjadi.


Rey keluar dari mobil, dan terlihat sedang merapikan penampilannya di kaca jendela.


“Waduh, Win … aku tutup dulu telfonnya. Seharian ini, aku dimanfaatin terus kayaknya. Aku nggak bohong, Sayang. Nanti satenya Mas-mu beli. Sabar, ya ….” Dean mengakhiri pembicaraan dan segera mencari nomor telepon Toni.


To Be Continued


Ini Bab 29. Bab 28-nya jangan kelewatan ngelikenya ya ... Bebeb2 enjuusss. Mmuaaahh ....