GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
67. Sebuah Akhir


Dean menandatangani beberapa lembar surat perjanjian setelah Rey dan Wulan selesai menandatangani. “Selesai Rey,” kata Dean, meletakkan pena dan meraup kertas, lalu mengetukkannya ke meja.


“Semua urusan menyangkut perkara pidana disepakati masing-masing pihak, akan mencabut laporannya paling lama satu minggu setelah surat perjanjian ini ditandatangani. Untuk urusan jual beli telah selesai. Giro mundur itu akan cair sesuai tanggal yang tertera. Sudah jelas semuanya?” Dean mengedarkan pandangannya.


Rey hanya duduk bersandar memandang hamparan kertas yang berada di atas meja. Ia bergeming. Bahkan saat Dean bangkit dari duduknya, Rey tak menoleh.


“Lan, kerjaan gue udah kelar. Kita semua keluar dulu. Kayaknya kamu perlu ngomong sesuatu,” ujar Dean, mengingatkan Wulan soal tujuan akhir mereka ke sana hari itu.


Wulan mengangguk. Pandangannya mengikuti tiga orang yang keluar ruangan dan kembali menutup rapat pintu.


“Jadi gini aja?” tanya Rey. “Jalan keluar lo?” tanya Rey lagi.


“Oke, lo-gue.” Wulan mengangguk-angguk. “Ke mana aja?” tanya Wulan.


“Sorry. Aku beresin masalah. Lagi ada masalah,” ulang Rey.


“Masalah apa? Maaf, nggak bermaksud lancang. Tapi, telepon dan pesan-pesanku terlalu lama diabaikan.”


“Masalah yang nggak mungkin aku ceritakan,” kata Rey.


Wulan mengangguk. “Oke, nggak apa-apa. Memang itu urusan kamu,” ucap Wulan.


“Aku nggak nyangka kamu bisa langsung balikan sama si Toni. Padahal masalah kita selama ini nggak pernah gede,” kata Rey.


“Enggak pernah gede?” Wulan balik bertanya. “Masalah nggak pernah gede menurut kamu. Tapi buat aku ngerasa nggak dihargai selama ini.”


“Masih cinta ke dia, Lan? Perasaan ke aku selama ini apa? Kasian karena aku sering terjerat masalah?” tanya Rey. “Kamu yang bocorin soal pupuk itu? Iya, kan?” Rey mengernyitkan dahinya menatap Wulan.


“Bukan kasian. Aku peduli. Aku peduli sama kamu. Berulang kali aku ingetin untuk berhenti jalanin bisnis itu. Kamu nggak pernah mau denger. Aku nggak pernah ngomong ke siapa-siapa soal bisnis kamu. Dean tau entah dari mana. Kalo penasaran kamu bisa tanya ke dia. Aku bertahan dengan harapan kamu bakal berubah.” Wulan menyorotkan tatapan iba pada Rey.


“Masih cinta ke mantan suami kamu dan segitu mudahnya kembali ke dia? Setelah dia nyakitin kamu?”


“Kami saling menyakiti lebih tepatnya. Dan lagi … soal lamaran kamu, aku belum jawab dengan yang sebenar-benarnya. Hidup yang baik, Rey … kasian orang tua kamu. Mereka udah banyak bersabar menyokong semua modal kamu selama mencoba macam-macam usaha. Setidaknya, jangan biarkan mereka berurusan dengan kepolisian,” kata Wulan.


“Bukan urusan kamu,” desis Rey.


“Rey … dalam hidup seseorang, masa naik turun itu pasti ada. Kamu nggak harus membabi buta membuktikan ke orang-orang bahwa setelah Papa kamu nggak jadi pejabat, kamu bisa tetap sukses. Enggak apa-apa. Pelan-pelan aja. Di dalam amplop itu, giro mundur. Sebelum jatuh tempo, aku akan telfon Mama kamu buat ngasi tau itu,” kata Wulan.


“Buat apa? Ngapain kamu telfon orang tuaku?” Rey memandang Wulan dengan sengit.


“Biar Mama kamu tau, bahwa aku nggak make uang anaknya. Itu penting. Mengingat selama ini Mama kamu selalu ngomongin soal kejelekan Mahda ke aku. Aku nggak mau. Bukankah memang udah seharusnya kita bisa mengambil pelajaran dalam hidup? Seseorang yang dengan mudah mengumbar kekurangan orang lain kepada kita, bisa berpotensi melakukan hal yang sama? Mengumbar kekuranganku dengan pacar kamu yang selanjutnya? Enggak ada yang cerita soal alasan Mahda membatalkan pertunangan kalian.”


Rey menunduk. Menautkan kedua tangannya menempeli dahi. Pikirannya sekarang bukan soal perpisahan dengan Wulan yang pasti akan terjadi sesaat lagi. Wulan sudah bukan pacarnya lagi sejak wanita itu datang ke kantornya dengan membawa tiga orang pengacara. Ia sedang mengkhawatirkan hal lain.


“Kamu nggak pernah ada rasa ke aku, ya? Cuma soal kasian?” Rey mengangkat wajahnya, menatap Wulan.


“Belum sempat utuh tapi udah lebur. Sedikit demi sedikit lebur seiring bentakan-bentakan dan bantingan benda-benda tiap kita berdebat. Rey … kamu harus berubah. Aku nggak ada ngomong ke siapa-siapa soal bisnis pupuk itu, karena aku masih berharap kamu bisa lebih baik lagi.”


“Aku benci kamu, Lan.” Rey menatap Wulan. Alisnya terangkat dan sudut bibirnya menarik senyum sinis.


“Udah—jangan mulai. Mereka semua ada di luar nungguin aku. Kamu harus bisa ngendaliin emosi kamu. Untuk kamu juga,” pesan Wulan. “Aku permisi dulu.” Wulan bangkit dari duduknya.


“Kapan kamu resmi jadi istri Toni lagi?” Rey masih duduk. Ia bertanya hal itu tanpa menoleh pada Wulan.


“Enggak tau. Sebenarnya aku juga nggak tau.” Mulai melangkahkan kakinya meninggalkan sofa.


“Kenapa harus balikan ke dia?” Kali ini Rey ikut bangkit.


Wulan kembali berbalik menatap Rey. “Suka nggak suka, aku harus akui. Perlakuan Toni nggak pernah berubah. Dari dulu sampe sekarang. Aku memutuskan untuk menyadari hal itu. Memaklumi bahwa semua yang dilakukannya adalah wujud dari baktinya pada orang tua. Menurutku, Toni bisa memperlakukan wanita dengan lembut, karena rasa sayang pada Maminya. Dia lebih … menghargai wanita. Aku nggak maksud—”


“It’s okay, Lan. Take care,” kata Rey. Rey kembali menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia memutuskan tak melihat Wulan keluar dan menutup pintu. Kekhawatiran yang selalu menghantuinya selama ini. Kehilangan Wulan karena penyebab yang sama saat ia kehilangan Mahda.


Di luar bangunan, Toni berjalan hilir mudik di bawah pohon mangga. Sesekali ia menoleh pintu masuk bangunan, lalu kemudian mengangkat tangan kirinya untuk melirik jam.


“Lama banget, ya, De,” kata Toni, tak sabar. “Ngobrolin apa aja kira-kira?” tanya Toni menoleh pada Dean yang sudah berada di dalam mobil dengan kaca jendela terbuka seluruhnya.


“Teori bumi datar, isu-isu Timur Tengah, kenapa jarum jam geraknya ke kanan—”


“Gue mo mastiin Wulan keluar dari sana tanpa ada masalah lagi,” sahut Dean, menunduk di atas ponselnya dan mengetikkan pesan seraya tersenyum simpul.


“Kan, bisa gue kabari via telfon.”


“Trus kalo timbul masalah lain, gue harus balik lagi? Ogah! Repot! Besok-besok gue bakal sibuk meladeni klien yang bayar. Kalo gratisan jangan banyak komplain,” jawab Dean.


“Atau ikut ke rumah Rio? Yuk,” ajak Toni.


“Enggak bisa, jangan sekarang. Gue mo beli titipan Bu Winar. Udah janji bakal pulang cepet. Gue baru baikan nggak mau macem-macem dulu. Gue khawatir bini gue akan melakukan pemberontakan.”


“Negara yang lo dirikan otoriter. Wajar kalo ada pemberontakan,” ujar Toni, menyilangkan tangannya di dada menghadap ke arah Dean.


“Negara gue bentuknya kerajaan. Gue rajanya, bini gue ratunya. Tapi sebagaimana lo tau, raja itu tetap perlu selir-selir.” Dean mulai tertawa-tawa, masih menatap ponselnya.


“Selir ...,” gumam Ryan.


“Bercanda, Ryan ... bercanda. Ini badan lo nggak ada bawa alat penyadap, kan? Gue agak trauma sekarang,” ucap Dean, mengangkat lengan Ryan dari dasbor.


“Agak trauma,” ulang Ryan.


“Itu Bu Wulan!” seru Santoso tiba-tiba.


Toni langsung berjalan mendekati Wulan dan memegang bahu wanita itu menuju mobil Dean.


“Ada masalah, Lan? Ada hal lain yang disampaikan Rey selain pembicaraan soal perasaan?” tanya Dean.


Wulan menggeleng. “Enggak ada, kok.”


“Okee ... gue balik dulu. Santoso, ayo turun dari mobil. Waktunya sudah selesai,” kata Dean, menoleh pada Santoso.


“Baik, Pak.” Santoso segera keluar dari mobil Dean. “Saya langsung pulang ya. Hari ini kurang bersemangat karena cahaya—”


“Cahaya matahari memang udah tenggelam di Barat. Sebentar lagi malem. Udah, pergi sana!” pinta Dean. Ryan terkekeh dari belakang kemudi.


“Besok aja ke rumah Rio, De. Jam makan siang, yuk.” ajak Toni. “Ngomongin yang kemaren. Enggak asik kalo lewat telfon.”


“Besok jam makan siang, Yan?” Dean menoleh pada sekretarisnya.


“Besok siang bisa, tapi jam tiga ada janji konsultasi di kantor.” Ryan mengingatkan.


“Denger? Ibu gue bilang besok bisa. Ya, udah. Besok, deh. Gue balik dulu.” Dean melambai pada Toni dan Wulan, lalu menutup kaca jendela. “Ayo, Bu. Antar aku pulang,” kata Dean, menepuk-nepuk pundak Ryan.


Ryan bersungut-sungut mengulangi tiap perkataan atasannya yang sangat riang hari itu.


Di bawah pohon mangga, Toni tiba-tiba merasa canggung. Di dalam pikirannya terlintas gagasan ingin menanyakan sesuatu. Tapi, sebelum pertanyaan itu terlontar, ia malah salah tingkah.


“Jadi?” Toni menatap Wulan.


“Jadi apa?” Wulan balik bertanya.


“Jadi udah selesai?” tanya Toni.


“Udah.”


“Sekarang?”


“Sekarang apa?”


“Apa yang kamu rasain?”


“Aku laper,” jawab Wulan.


To Be Continued