
Dean baru saja selesai memindahkan barang-barang Rio ke kamar di mana Langit berada. Tiga orang sahabatnya sedang berada di kamar itu merebahkan diri. Pukul 4 pagi dan mereka masih membahas pacar Wulan.
“Gak kelar-kelar, yang dibahas itu terus. Kayak ibu-ibu aja,” kata Dean saat meletakkan ransel Rio ke atas meja.
“Bacot! Lo ngomong gitu karena bini lo dateng. Kalo nggak, lo pasti selonjoran paling depan ikut menghina orang.” Toni mengambil sebuah bantal dan melemparkannya pada Dean. Dean menangkap bantal itu dan langsung melemparkannya kembali.
“Gue mau tidur! Besok kita sambung lagi. Dean juga masih ada utang. Menguak misteri gadis peminta handuk.” Langit tertawa melihat ekspresi kesal Toni yang kembali mencari bantal untuk dilemparkan.
“Sana—sana!” Rio mengibaskan selimut tempat di mana Toni duduk.
“Gue balik juga,” kata Toni bangkit.
“Udah ada yang nunggu di kamar ya?” sindir Dean pada Toni.
“Gak ada njiing … balik lo sana! Entar bini lo ngambek, kasian Ryan.” Toni melangkah menuju pintu.
“Iya, bener. Sana! Bini lo ngambek, lo uring-uringan. Liat orang bernapas aja salah. Ryan yang cengap-cengap,” sela Langit yang sudah berbaring dan menaikkan selimutnya.
“Pada belagu yang gak dicemberutin bini.” Dean keluar kamar dan menutup pintu. Dean menuju ke kamar sebelah dan langsung mendorong pintu kamar yang tadi diganjalnya dengan pengait pintu.
“Win … selama di sini aku nggak mac—” Perkataan Dean terhenti. Winarsih sudah tertidur nyenyak mengenakan selimut hingga ke batas dada dan membelakangi pintu. Wanita itu bahkan tak berganti pakaian.
“Ya ampun, istriku udah tidur rupanya. Capek ngurusin aku ya, Win?” Dean menarik sebuah bantal ke sebelah istrinya.
Kamar itu berisi dua ranjang twin. Dan Dean berdiri di tepi ranjang yang ditempati istrinya. Tadinya Dean berniat berganti dengan piyama, tapi mengingat langit yang sebentar lagi terang rasanya nanggung. Nanti saja sekalian mandi dan check out, pikirnya.
“Win …” panggil Dean lagi. Ia naik ke ranjang dan masuk ke dalam selimut Winarsih. “Geser Win, nanti suami kamu jatuh masuk ke kolong tempat tidur.” Dean memeluk istrinya dari belakang. Posisinya benar-benar di tepi ranjang dan Winarsih belum bergeser sedikit pun.
“Kan bisa di ranjang sebelah,” jawab Winarsih dengan suara parau mengantuk.
“Sama aja kayak tidur sendiri,” kata Dean. “Ngadep sini. Aku gak mau dipunggungi.” Dean meraih bahu Winarsih agar menghadap ke arahnya.
“Dingin, Win …” ucap Dean mengusap punggung Winarsih yang dipeluknya. “Tidur yang nyenyak, besok kita pulang. Aku kangen anak-anak,” sambung Dean lagi.
Meski mengatakan hal itu, tangannya tak henti-henti mengusap punggung Winarsih yang sedang tidur. Mata Dean terpejam, tapi tangannya bergerilya di dalam selimut. Mengangkat dress Winarsih sampai ke pinggang dan meremas bokong istrinya dengan lembut.
“Peluk sini,” ucap Dean melingkarkan tangan Winarsih agar memeluk pinggangnya.
Mata Winarsih terpejam. Tadi ia mendengar Dean menyuruhnya tidur nyenyak karena pagi nanti mereka akan check out. Tapi bagaimana bisa tidur kalau sejak tadi tangan suaminya sudah berpindah-pindah di belakang tubuhnya. Winarsih bisa merasakan telapak tangan Dean yang dingin meremas bokongnya.
“Katanya disuruh tidur nyenyak. Aku ngantuk,” sungut Winarsih.
“Tadinya aku juga ngantuk. Tapi dingin, Win … aku udah siap-siap ini.” Dean menyibak rambut yang menutupi leher istrinya. Ia kembali mengulang adegan yang dirusak suara klakson saat di mobil tadi.
Winarsih yang tadi memejamkan mata, kini melebarkan matanya menatap penyerang gelisah di sebelahnya.
“Jangan lama …” kata Winarsih dengan suara parau.
“Sekali aja. Gak bakal lama. Aku kangen banget,” ucap Dean bangkit melepaskan bawahan. “Buka ini,” pinta Dean meremas pelan dada istrinya.
Winarsih melepaskan cardigan longgar yang tadi dikenakannya. “Aku juga kedinginan,” kata Winarsih.
“Makanya … kita saling menghangatkan. Ini dibuka, kayaknya aku udah lama banget gak liat.” Dean ikut membantu istrinya melepaskan kancing dress.
“Gimana mau tidur kalo ada yang bangun. Udah, cepet. Aku kangen ini.” Suara Dean yang berisik itu kemudian menghilang. Ia sibuk melepas rindunya dengan mencium tiap sudut dada istrinya.
Dan kata-kata ‘sekali saja itu' pun tampaknya hanya sekedar janji. Winarsih baru beberapa menit memejamkan matanya saat Dean kembali menggerayanginya di bawah selimut. Ia memang belum berpakaian sejak sesi pertama suaminya selesai. Alasannya sama, tidur sebentar saja karena langit sebentar lagi akan terang.
Tapi ternyata hal itu malah membuat Dean melancarkan rutinitasnya.
“Mas! Aku mau tidur sebentar. Padahal aku harusnya ngambek, ngomel. Aku udah banyak ngalah ini …” kata Winarsih.
“Jangan ngambek. Ngomel aja gak apa-apa. Tapi aku mau lagi Win. Untuk kamu, sekali memang tak pernah cukup.”
“Alesan,” sungut Winarsih.
“Apa karena ranjang kecil ini yang bikin aku makin tertantang?” tanya Dean kembali mengangkat selimut.
“Alesan lagi …” ucap Winarsih.
“Kamu pasti kangen. Gak mungkin nggak,” ujar Dean. Kini ia telah kembali menatap mata Winarsih. Tangannya sudah bertumpu di kedua sisi tubuh wanita itu.
Dari atas, Dean bisa melihat bagaimana Winarsih yang cemberut, sesekali meringis dengan mulut setengah terbuka dengan mata tertuju padanya. Sangat menggemaskan, pikir Dean.
***
Beberapa bus pariwisata yang disewa perusahaan masing-masing sudah dipenuhi oleh karyawan. Acara pagi itu hanya sarapan di restoran seperti biasa. Beberapa karyawan yang menjalin keakraban di sana saling bertukar kartu nama.
Dean baru saja membawa Winarsih duduk di sebuah sofa lobi. Bawaan mereka telah diangkut Ryan ke mobil sesaat yang lalu.
Beberapa panitia dan atasan perusahaan masih terlihat duduk bersantai di lobi. Terdengar pertukaran cerita dan sepotong dua potong kejadian selama mereka berada di sana.
Sedangkan dua orang pria lainnya, duduk di sisi sofa yang berjarak beberapa meter dari Winarsih.
“De! Sini!” panggil Langit.
Dean yang sedang duduk membuka-buka ponsel di sebelah istrinya sambil menyilangkan kaki, menoleh pada Langit. Ia sudah tahu apa yang diminta sahabatnya itu. Setelah sedikit melirik pada Winarsih yang terlihat anteng pagi itu, Dean mencium pipi istrinya dan pamit menuju dua laki-laki penasaran.
Toni baru saja kembali dari resepsionis, sedangkan Musdalifah masih terlihat sibuk mengurus pengembalian seluruh kunci kamar dan menghitung bill room service mereka semua selama di sana.
“Jadi, De? Buruan dong … penasaran,” kata Langit.
“Bini lo gak ngambek?” tanya Rio yang sepertinya mengkhawatirkan kondusifitas rumah tangga sahabatnya.
“Gak dong. Gue adalah Dean Danawira Hartono, LL.M pemilik Danawira’s Law Firm. Yang pernah membatalkan tuntutan ke Hartono Coil. Klien gue perusahaan-perusahaan bonafid—”
“Mas!” panggil Winarsih. “Jangan lama-lama ya … Dirja udah nelfon barusan.” Winarsih mengangkat ponselnya di kejauhan.
“Iya, Sayang … sebentar lagi kita pulang.” Dean melemparkan senyum termanisnya pada Winarsih. Ia lalu duduk menenggelamkan diri di sebelah Rio.
To Be Continued
Jangan lupa likenya ya, isi partnya dibagi dua.
Lanjutannya sesaat lagi.