GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
33. Bingkisan Panitia Outing


“Win,” panggil Dean saat tiba di meja makan.


“Itu, tinggal makan.” Bu Amalia menunjuk piring Dean yang sudah terisi, beserta gelasnya. “Semua udah disiapin di depan mata. Mau apa lagi mesti manggil? Widi lagi rewel karena baru imunisasi kemarin. Bapaknya tau apa,” ketus Bu Amalia, dengan suara berbisik.


“Tau, kok. Kan kemarin Dean ke kamar anak-anak. Tapi kemarin malem, Dean pegang dahinya udah nggak panas lagi.”


“Ya, udah, makan. Ngapain wan-win-wan-win lagi?”


“Dean perlu liat yang seger-seger buat sarapan pagi. Mama juga pasti seger kalo Papa yang liat. ” jawab Dean tertawa.


Bu Amalia baru akan menjawab perkataan Dean, namun terdengar deham Pak Hartono mendekat dari arah dalam. Ibu dan anak itu langsung bungkam.


“Win ...,” panggil Dean lagi.


Winarsih muncul lebih dulu dari teras samping, mendahului Pak Hartono. Pagi itu ia mengenakan dress biru langit bermotif bunga kecil-kecil dengan tali terikat di belakang pinggangnya. Dengan rambut tersisir rapi menutup bahu. Itu adalah penampilan standar yang diterapkan oleh Dean padanya.


Melihat kedatangan Winarsih, Dean tersenyum dan menggeser kursi untuk istrinya.


“Kamu sarapan dulu,” ucap Dean. “Badan Widi masih anget?” tanyanya.


“Udah biasa aja. Tinggal rewelnya. Itu lagi disuapi makan. Mas, makan ...,” kata Winarsih, meluruskan piring suaminya.


“Win, nanti aku—”


“Mau ke mana lagi?” potong Bu Amalia.


“Nanti aku pulang lebih awal ...,” kata Dean. “Enggak boleh berprasangka buruk sama anak sendiri,” tukas Dean pada ibunya.


“Sama kamu itu lebih baik berprasangka buruk lebih dulu. Buat persiapan batin,” jawab Bu Amalia.


“Ehem! Masih pagi ...,” ucap Pak Hartono, menarik kursi. “Calon adiknya Widi, jenis kelaminnya apa, De?” tanya Pak Hartono.


“Laki-laki, Pa ...,” jawab Dean.


“Oh, ada temen Dirja.” Pak Hartono mulai mengoleskan selai kacang pada roti panggang.


“Bapaknya juga bisa kok, jadi temennya Dirja,” sahut Bu Amalia.


“Kapan mau ke kampus? Aku temenin ...,” ucap Dean di telinga Winarsih. Ia lalu mencium kepala istrinya, sengaja mengalihkan perkataan Bu Amalia.


“Sabtu aja, kayak biasa. Tapi nanti kalau Mas nunggu, bisa kelamaan.”


“Enggak apa-apa. Aku suka nunggu kamu di kampus itu,” jawab Dean. “Memangnya berapa jam? Mas-mu ini tahan.” Ia kembali mencium kepala istrinya.


Sedangkan Bu Amalia, melontarkan tatapan sebal pada anaknya. Suka menunggu di kampus? Apa lagi yang dilakukan Dean selain menebar pesona ke sana kemari. Ia lalu melirik Winarsih yang melanjutkan makannya dengan santai. Bu Amalia heran. Kenapa Winarsih tidak menyadari kalau dirinya sedang didominasi oleh Dean.


Saat Bu Amalia sedang memikirkan hal itu, Dean menatapnya. Seketika ia merapatkan giginya membalas tatapan Dean. Namun, putra bungsunya itu malah mengedipkan mata.


***


“Mus, udah dibeli, kan?” tanya Toni. Ia baru tiba di kantornya lewat jam makan siang.


“Udah, Pak ...,” sahut Musdalifah. “Perlu saya keluarin sekarang?” tanya Musdalifah lagi.


“Jangan, entar aja. Aku nunggu Langit dan Rio. Entar lagi mereka dateng. Nanti langsung minta satpam aja buat anter ke kantor Wulan. Aku masuk dulu, bawa yang mau aku cek hari ini.” Toni bergegas menuju ruangannya.


Musdalifah meraih dokumen yang harus diperiksa atasannya hari itu. Ia juga sebenarnya baru sampai di kantor. Mulai pagi ke siang, ia sibuk mencari bingkisan yang cocok untuk Wulan. Setelah beberapa jam mengitari mal yang baru buka, akhirnya ia memutuskan membeli bingkisan berharga lumayan mahal. Dari sebuah outlet kosmetik dan perawatan tubuh bermerek terkemuka yang pasti disukai para wanita.


Sebelum membeli hal itu, ia hanya dibekali pesan, ‘Elegan, eksklusif, tidak pasaran dan susah dilupakan.’ Musdalifah sempat kesal pada Toni karena petunjuk yang sedikit itu. Meski harga tak menjadi masalah, menemukan benda yang dimaksud itu sedikit membuatnya bingung.


Pada saat Musdalifah perlu saran karena bingung, ia sempat menghubungi Toni. Jawaban atasannya malah membuatnya semakin kesal. “Apa ya, Mus? Aku juga nggak ada bayangan. Itu saran Pak Dean. Coba kamu hubungi sekretarisnya buat nanya ke dia.”


Ternyata sumber malapetaka Musdalifah hari itu adalah sahabat atasannya. Pengacara narsis yang sombong dan mengesalkan. Yang wajahnya paling licin seperti porselen tapi susahnya minta ampun tiap dipandang sebentar saja. Ditambah lagi mulutnya yang seperti petasan dan suka memanas-manasi atasannya, membuat Musdalifah harus ekstra hati-hati jika berurusan dengan pria itu.


Menjelang pukul tiga sore, Rio dan Langit tiba di kantor pusat T&T Express. Kedua pria itu langsung menuju kantor atasannya.


“Taaii banget lo. Orang tua—” Toni mencibir. “Mau minum apa?” Toni memandang dua sahabatnya.


“Apa aja, asal jangan minuman boba. Belenger gue,” sahut Rio. Ia adalah pengusaha minuman kekinian yang tengah mengembangkan sayap dengan membuka franchise untuk brand-nya. Beberapa outlet yang dimiliki Rio terdiri dari minuman boba, teh buah-buahan, dan berbagai jenis kopi yang berbeda merek.


“Air mineral aja kalo gitu,” ucap Toni, membuka kulkasnya mengeluarkan tiga botol air mineral.


“Jadi gimana? Setelah kejadian itu, ada perkembangan lain?” tanya Rio menghempaskan tubuhnya di sofa. “Kita kayak ngurusin anak SMA, ya, Lang?” Rio terkekeh menatap Langit yang menatap Toni, sambil memijat dahinya.


“Gue chat malemnya, tengah malem. Dan Wulan ... nggak bales.” Toni menyodorkan botol pada dua pria di depannya.


“Tapi, Dean bilang, lo udah enak-enak di dalem kantornya. Masa di-chat nggak bales?” Langit mengambil botol air mineral.


“Apa lagi ama pacarnya?” Toni melemparkan pertanyaan yang tak disukainya. “Tapi itu udah tengah malem gue chat.”


“Tinggal bareng pacarnya? Kayaknya nggak mungkin, deh. Atau bermalam ama pacarnya juga nggak mungkin. Kalo Wulan kayak gitu, dia nggak bakal mau lo cium. Emang elo,” sergah Rio.


“Dean mana, sih?” tanya Langit. “Masa udah dibilang semuanya ke sini, dia nggak bisa.”


“Lagi banyak klien katanya. Entar kalo lo minta dia dateng, lo bakal disuruh ganti biaya penggantian beberapa jam. Soalnya ini masih jam kerja,” sahut Toni.


“Kurang ajar!” seru Langit.


“Permisiii ...,” seru Musdalifah dari depan pintu. Ia membawa sebuah bingkisan cantik dan meletakkannya di atas meja.


Musdalifah membeli hampers berisi perawatan tubuh, kosmetik, handuk, dan sepasang pakaian dalam seksi.


“Taraa ... ini bingkisan yang akan dikirim sore ini. Tinggal nulis kata-katanya, dan langsung bisa meluncur ke kantor Bu Wulan.” Musdalifah menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap hampers itu dengan wajah puas.


“Emang harus ini hampers-nya?” tanya Langit.


“Yang minta ini, elo, Ton?” tanya Rio.


Toni menggeleng. “Bukan, ini si Mus yang beli. Sesuai dari petunjuk Dean. Emang harus ini, ya, Mus?” Toni balik bertanya pada sekretarisnya.


“Coba foto dulu, kirim ke Dean.” Langit mengeluarkan ponselnya dan menjepret bingkisan itu.


DEG.


“Jangan!” cegah Musdalifah. “Nanti aja kirim fotonya. Kalau kartu ucapannya udah selesai ditulis. Nanti aja—nanti aja.” Musdalifah meminta Langit menurunkan ponselnya.


Musdalifah menelan ludahnya. Kenapa harus pakai acara difoto dan ditunjukkan pada pengacara itu, pikirnya. Bisa-bisa, moodnya langsung berantakan


“Ya, udah. Tulis dulu Mus, kata-katanya. Biar langsung dikirim.” Toni menyandarkan tubuhnya di sofa.


Musdalifah mengambil sebuah kartu kosong yang terselip pada hampers.


“Saya tulis di kertas lain dulu, ya ... kalo udah pasti, baru saya pindahkan.” Musdalifah menarik kursi yang berada di depan meja kerja Toni dan mulai menunduk di atas kertas.


“Petunjuknya jangan lupa. Kata Pak Dean, Bu Wulan harus tau, tapi pacarnya jangan sampe tau.” Toni berdiri dan berjalan ke belakang kursi Musdalifah untuk mengawasi.


“Berat juga ya ... jangan sampe salah. Ini untuk sinyal ke Wulan. Buat yang smooth, Mus.” Rio ikut bangkit dan menuju meja tempat Musdalifah menulis dan mencoret-coret.


“Kayaknya harus ada menyangkut outing. Kan, katanya dari panitia outing. Clue-nya jangan sampe ketinggalan. Atau perlu tanya Dean aja? Dia, kan, paling jago urusan bermanis manja mulut kayak gini?” Langit kembali mengeluarkan ponselnya.


DEG.


“Diam semuanya! Tenang! Tenang!” teriak Mus, meletakkan pulpennya di meja. “Saya merasa bekerja di bawah tekanan. Mas Langit juga jangan sedikit-sedikit mau nelfon Pak Pengacara itu, saya tertekan. Biarkan saya kerja dengan tenang,” sergah Musdalifah, terengah-engah.


Toni, Rio dan Langit berdiri terperangah menatap Musdalifah yang terlihat frustasi. Pelan-pelan, Langit kembali mengantongi ponselnya.


Padahal Dean tak berada di sana. Tapi Musdalifah merasa tertekan tiap nama Dean disebut.


To Be Continued