
Winarsih berdiri memeluk kepala suaminya. Mengusap-usap punggung dan menepuk-nepuk pelan bahu Dean.
“Iya … aku tau Mas yang temenin anak-anak tidur. Letak lampu tidur Dita di atas nakas nempel ke dinding. Itu artinya Mas tadi geser lampu itu dan baring di sebelah Dita. Mas khawatir lampunya bakal kesenggol. Aku tau yang dilakuin suamiku. Aku juga tau Mas pasti lagi melow ngerasa bersalah. Memangnya udah buat apa?” tanya Winarsih. Ia masih tersenyum menatap puncak kepala suaminya.
Namun, saat ia menanyakan hal itu, Dean langsung mengangkat wajahnya. “Enggak ada, Win. Aku nggak buat apa-apa. Aku cuma kangen aja. Kamu kelamaan pulang. Biasa jam segini aku udah tengkurep, kamu garuk-garuk punggung aku.” Dean setengah cemberut menatap wajah istrinya. Ia memandang wajah Winarsih yang kian berisi, namun tak menyembunyikan lesung pipinya. Sorot mata lembut yang selalu membuat Dean jatuh cinta.
“Ya, udah kalau nggak ada ngapa-ngapain. Aku bersih-bersih dulu, ganti baju, biar bisa garuk-garuk punggung bapaknya Dirja.” Winarsih melepaskan pelukannya.
“Ya, udah. Sana bersih-bersih dulu. Tapi ....” Dean menengadah mencubit pelan pipi Winarsih, lalu menyelipkan rambut di belakang telinga istrinya.
“Tapi apa?” tanya Winarsih.
“Tapi pake lingerie yang baru, ya …. Yang dibeli minggu lalu,” pinta Dean.
“Hmmm … aku kira ada yang berubah permintaannya. Udah aku duga ini,” ucap Winarsih.
Winarsih menuju pintu di antara lemari yang menuju ke sebuah ruangan kecil tempatnya meletakkan tas dan sepatu. Dean kembali bersandar di kepala ranjang dan mengecek ponselnya. Setelah Winarsih keluar dari kamar mandi, ia mengikuti istrinya dengan pandangan.
“Tadi pulang jam berapa memangnya?” Winarsih membuka lemari paling kiri tempat di mana mereka menyimpan pakaian tidur.
“Jam enam nyampe rumah,” kata Dean. Matanya melihat tangan Winarsih yang meraba permukaan hanger di dalam lemari. “Ke kanan, win. Yang warna item,” ucap Dean. Setelah mengatakan itu, ia cepat-cepat menunduk dan kembali pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Winarsih yang masih mengenakan jubah mandi menoleh ke belakang. Suaminya yang gengsinya kadang terlalu besar untuk mengatakan butuh dengan seseorang. Mungkin selama Dean hidup, hanya keluarganyalah yang tahu bagaimana kelakuan asli pria itu. Winarsih sudah paham betul kalau di depan teman-temannya ego Dean harus tetap terjaga.
“Iya. Yang item ini, kan?” tanya Winarsih, mengangkat salah satu hanger berisi lingerie tile berwarna hitam. Lingerie itu berupa dress sepanjang paha berpotongan A. Dengan satu set yang terdiri hanya dress dan dalaman bagian bawah.
“Kamu udah makan?” tanya Dean saat Winarsih menarik pengikat bath robe-nya. “Ngadep ke sini, Win.” Dean membenarkan letak bantalnya untuk menontoni Winarsih yang sedang mengenakan lingerie-nya. Ia melipat kedua tangannya di belakang kepala. Persis seperti sedang menonton tayangan televisi.
Seperti biasa, Winarsih selalu menuruti permintaan Dean sebisa mungkin. Ia memutar tubuh, lalu melepaskan bath robe dan membiarkan benda itu jatuh ke lantai.
“Sudah. Tadi Mama ngajak makan di restoran favoritnya. Yang deketan sama tempat ngumpul Mas,” jawab Winarsih, mengalungkan dress tile tipis itu melewati kepalanya.
Beberapa kali setelah menikah, Dean pernah mendatangi club dan lokasi SPA plus-plus demi urusan pekerjaan. Bahkan sekali dua kali Dean juga menceritakan pada istrinya soal tempat yang sudah ia datangi. Winarsih selalu menanggapinya dengan tenang. Kadang Dean sengaja menceritakan hal itu karena ingin dicemburui. Tapi, tetap saja memprovokasi Winarsih adalah hal yang cukup sulit bagi pria itu. Hanya satu hal yang bisa menggoyahkan ketenangan hati Winarsih. Yaitu, mantan kekasih Dean.
Para wanita selalu menganggap hal yang dilakukan Dean adalah mencari gara-gara. Tapi bagi Dean, kecemburuan istrinya penting. Setiap Winarsih mencemburuinya, rasa percaya dirinya semakin meningkat. Merasa tampan, perkasa, dan dibutuhkan. Winarsih pernah menekuk wajahnya saat ia terlalu lama berbicara dengan sekretaris kliennya di kantor. Meski hatinya kebat-kebit karena dicemberuti, tapi ia senang. Sesampainya di rumah, jangan ditanya lagi. Kegiatan ranjang mereka semakin panas.
Bagi Dean, kecemburuan istrinya dalam tahap yang pantas adalah hal yang sangat penting. Tapi … soal kecemburuannya sendiri? Kalau bisa, jangan sampai ia merasa cemburu. Ia tak sanggup membagi perhatian istrinya dengan orang lain selain keluarga. Sahabat-sahabatnya sering mengatakan kalau ia egois. Ia tak marah. Kenapa harus marah saat orang mengatakan sesuatu yang benar? Dean adalah pengacara. Semua teori hidupnya berpusat pada pembuktian fakta dan argumentasi.
Soal wanita-wanita yang ditemui Dean di jam-jam kerja, Winarsih memang bisa bersikap tenang. Karena, suaminya tak mengenal wanita-wanita itu secara khusus. Ia juga paham benar kalau Dean adalah tipe laki-laki yang ‘sulit disentuh’ oleh orang asing.
Pada saat resepsi pernikahan mereka di Jambi, perias pengantin sampai sedikit terlihat tak nyaman karena Dean berkali-kali menolak dibantu berpakaian. Terutama saat merias wajah. Asisten perias saat itu adalah seorang wanita di awal tiga puluhan. Meminta Dean untuk mendongak dan menyentuh wajah suaminya. Dean seketika menggeleng. Dean tak mau wajahnya diapa-apakan. Laki-laki itu memilih mengenakan lip balm-nya sendiri. Dan hasilnya, Dean memang tetap tampan seperti biasa.
Untuk wanita-wanita di sekitar Dean, Winarsih bisa mentolerirnya. Gesture alami dan pembawaan Dean, yang memang sudah sejak lama seperti itu tak mungkin berubah hanya dalam semalam. Dean anak bungsu dengan jarak usia sepuluh tahun dari kakaknya. Masa kecilnya banyak dihabiskan bersama Mbah di rumah. Berbuat nakal hanya untuk mencari perhatian mama dan papanya yang jarang sekali menghabiskan waktu bersamanya.
Meski sering kesal karena diuber-uber saat sedang di luar rumah, Winarsih tak pernah mengomeli suaminya terlalu serius. Kalau harus sengaja berlama-lama meninggalkan suaminya pun, ia tak yakin bakal bisa. Ia tak tega. Hari sabtu dan minggu saat mereka berada di rumah saja, ia tak pernah lepas dari jangkauan pandang suaminya.
Winarsih berjalan-jalan di taman saat Dean sedang menonton televisi di ruang keluarga. Ia tahu suaminya itu sesekali menjengukkan kepala ke luar untuk mengawasi. Dean posesif. Semua orang tahu itu. Tapi, sebagai istri ia tidak terganggu. Kesal? Sering. Tapi, terbiasa dengan sikap Dean seperti itu, Winarsih malah merasa ada sesuatu yang kurang kalau pria itu diam dua jam tanpa mengusiknya.
“Tiduran sini, aku mau ngasi tau sesuatu.” Dean memencet-mencet tombol di meja nakas, lalu cahaya lampu kamar berubah ke warna kuning temaram. Winarsih merangkak naik ke ranjang dan berbaring di sebelah Dean.
“Ngasi tau apa?” tanya Winarsih, berbaring merapatkan tubuhnya pada Dean, lalu melingkarkan tangannya di pinggan pria itu.
“Ngasi tau kalo aku nggak perlu telur tiga butir untuk bisa bolak-balik. Aku cuma perlu kamu pake baju beginian aja,” sahut Dean.
“Kirain apa …,” ucap Winarsih.
“Aku beneran kangen,” kata Dean, menunduk dan menautkan bibir mereka dalam sesapan yang rakus. Sedetik kemudian, Winarsih sudah memejamkan mata menikmati ciuman suaminya. Dean memeluknya, menekan punggungnya agar tubuh mereka benar-benar menempel satu sama lain. Kaki suaminya itu bahkan ikut melingkari tubuhnya bak sebuah guling.
To Be Continued
Jangan lupa klik like, lalu scroll part selanjutnya di bawah.