
Dean baru saja menuntaskan percintaannya malam itu. Ia masih menunduk memandang wajah Winarsih. Napas mereka masih sama terengahnya.
“Mau lagi?” tanya Dean dengan senyum jahil. Winarsih sudah mengejangkan tubuhnya dua kali dalam rentang waktu singkat.
“Enggak, capek.” Winarsih mencibir.
DRRRRT.
DRRRRT.
Ponsel Dean di atas nakas kembali bergetar. Ia dan Winarsih sama-sama menoleh ke arah nakas.
“Dijawab dulu. Siapa tau penting,” pinta Winarsih.
Dean memajukan tubuhnya untuk meraih ponsel. Ia lalu menjatuhkan dirinya di sebelah Winarsih dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
“Apa lo?” sahut Dean.
“De! Gue diusir,” kata Toni di seberang telepon.
“Hah? Kok bisa?” Dean tertawa terbahak-bahak.
“Si anjing malah ketawa. Dia sebel sama gue, jadi disuruh pulang. Gimana gue mau pulang? Perasaan gue nggak enak,” jawab Toni.
“Lah, ini udah malem. Lo di mana sekarang?” tanya Dean.
“Di parkiran mobil. Masih di mobil gue. Ujan di sini.”
“Di sini kayaknya juga baru ujan. Lo balik aja. Besok disambung lagi ngerayunya—peluk aku, Win. Sini, deket sini.” Dean menarik lengan Winarsih agar mendekat. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di atas telinga. Matanya memejam dengan tangannya menelusuri punggung istrinya yang belum memakai apapun.
“De! Sialan! Lo lagi ngapain? Denger gue dulu,” kata Toni.
“Gue lagi closing sesi pertama. Lo ganggu aja. Harusnya gue udah mulai sesi kedua.” Dean mengusap-usap punggung Winarsih, lalu turun untuk meremaas bokong wanita itu. Winarsih diam tak berkutik. Ia khawatir akan menimbulkan suara yang memalukan jika didengar oleh Toni.
“De, temenin gue. Perasaan gue nggak enak. Sabtu mau nikahan, tapi Senin malam gue diusir. Mana di luar ujan. Gue pasti nggak bisa tidur meski pulang ke rumah.”
“Telfon, dong! Nggak diangkat?” tanya Dean.
“Tadi dijawab, tetep disuruh pulang. Gue nggak mungkin berdiri di depan pintu apartemennya terus. Tetangga depannya bakal ngintip dari lubang pintu. Wulan bakal malu,” tukas Toni.
“Lo berdiri aja di bawah ujan. Terus telfon dia. Kayak di film-film. Elo, kan, romantis!” Dean lagi-lagi tertawa. Winarsih yang merasa tawa suaminya terlalu keras langsung menutup mulut pria di sebelahnya.
“Nah, iya! Ide bagus! Tapi dia nggak mau jawab telfon gue. Lo ke sini! Lo bantu gue. Buruan!” pinta Toni.
Dean mengecup tangan Winarsih dan menggenggam tangan itu. “Ogah! Gue lagi enak-enak. Udah malem, mana di luar lagi ujan. Jadi nyesel gue ngomong gitu,” sungut Dean. “Lagian kalo cuma nelfon Wulan, dari sini juga bisa.”
“De, please. Enggak asiklah. Gue nggak bisa tau dia ngomong apa aja. Lo ke sini,” pinta Toni lagi.
“Kasian bini gue di rumah,” balas Dean.
“Ajak aja Bu Win. Kasi telfonnya ke dia, biar gue yang minta izin. Pasti Bu Win nggak bakal tega liat gue di sini sendirian. Mana di luar udah sepi banget. Dingin,” keluh Toni.
“Mas,” panggil Winarsih tiba-tiba. Sejak tadi ia menyimak percakapan suaminya dari balik dekapan pria itu.
“Ya?” Dean menjauhkan wajahnya untuk menatap Winarsih. Toni yang sedang berbicara pun ikut terdiam karena mendengar suara istri sahabatnya.
“Kasian Mas Toni. Temenin aja, sampai selesai masalahnya. Aku jadi ikut khawatir. Sabtu mau nikah,” ujar Winarsih.
“Aku boleh keluar?” tanya Dean.
Winarsih mengangguk. “Tapi aku ikut,” tambahnya kemudian sambil nyengir.
“Udah malem, di luar ujan. Toni nggak apa-apa, kok. Kita tidur aja,” ucap Dean. Telepon belum berakhir di seberang Toni memaki mendengar jawaban sahabatnya.
“Kasian. Ya, udah. Aku ke kamar mandi sekarang.” Winarsih bangkit dari ranjang dan memungut lingerie yang baru dikenakannya beberapa menit. Ia berjalan santai ke kamar mandi tanpa mengenakan apa pun.
“Bu Win! Baik banget! Makasih, Bu Win! Aku doain semoga anak keempat mirip Bu Win!” teriak Toni di seberang telepon. Ia mendengar jelas perkataan Winarsih yang mengabulkan permintaannya tadi.
“Udah, diem, lo! Di mana alamat apartemen Wulan? Kirim lewat pesan.” Dean menjauhkan pesawat telepon dari telinganya karena pekikan-pekikan Toni begitu keras.
“Oke. Gue kirim,” sahut Toni.
Dean menatap bagian belakang tubuh istrinya sampai lenyap dari pandangan.
“Seksi banget,” gumam Dean di telepon. “Harusnya gue masih bisa ngelanjut standar operasional gue. Udah, gue tutup.”
Toni masih tertawa saat Dean menutup telepon mengakhiri pembicaraan mereka. Sejenak ia duduk termangu menatap ponselnya. Malam yang dingin dan jalanan yang basah. Harusnya ia bisa pulang dan bergulung di bawah selimutnya. Tapi, hatinya terlalu sepi saat itu.
Memiliki rumah besar, namun nyaris sepi tanpa penghuni. Ibunya hanya bergerak jika didorong perawatnya. Wanita tua itu tak bisa lagi dijadikan teman bicara. Seringnya isi pembicaraan mereka kembali ke masa-masa lampau. Rumah tak lagi terasa hangat dan akrab.
Perasaan hangat itu hanya muncul dari teman-temannya. Dean, Langit, dan Rio. Bahkan, ketika berpacaran dengan Tasya, perasaan hangat dan akrab itu tak muncul. Ia masih menganggap Tasya ‘orang luar’. Dan sekarang, Wulan mau kembali padanya. Tubuh dan hatinya langsung mengenali wanita itu. Perasaan hangat dengan mudah menyusup dan membuat perasaan keterikatan dengan Wulan. Wanita itu tetaplah keluarga baginya.
Toni tak bertengkar besar dengan Wulan. Ia lebih mirip seorang sales yang sedang presentasi trik marketing baru di depan atasannya. Wulan bertindak sebagai atasan yang menanyainya pertanyaan-pertanyaan menjebak. Ending-nya, Wulan menyimpulkan Toni terlalu memanjakan Tasya sampai wanita itu tidak bisa membedakan perlakuan Toni. Wulan merasa terlalu lelah dan meminta Toni untuk pulang. Cuma itu saja.
Menunggu Dean tiba di tempat itu, Toni kembali mencoba menelepon Wulan. Namun, sama seperti tadi. Tak ada sahutan.
Toni tak bertengkar besar dengan Wulan. Toni menjelaskan, dan Wulan mengatakan kalau ia mengerti.
Namun, wanita itu ingin sendiri malam itu. Perkataan ‘ingin sendiri dulu’ meski sederhana jika dilontarkan, tapi efeknya bisa luar biasa.
Seperti Toni Setyo Anderson yang sekarang menggaruk-garuk setir dan menopang dagu. Kadang ia condong ke depan untuk mendongak ke arah jendela kamar Wulan yang balkonnya gelap.
Tiiin .... Tiiin ....
Suara klakson mobil di depan yang sedang menyorotkan cahaya ke wajah Toni, membuat lamunan pria itu buyar.
Dean sudah datang dan ia segera mematikan mesin mobil, lalu melompat keluar. Sejurus kemudian, ia sudah berada di jok tengah mobil Dean.
“Lo parkir di sebelah mobil putih itu,” pinta Toni, menunjuk sebuah SUV putih yang terparkir di sebelah mobilnya. “Bu Win, jadi ikut rupanya. Maaf, ya, ganggu malem-malem.” Toni bergeser duduk di belakang jok pengemudi.
“Enggak apa-apa, Mas Toni. Saya lagi kepingin jalan-jalan malem.” Winarsih tersenyum, menoleh sekilas ke belakang. Toni sedang memeluk sandaran jok Dean dan menumpukan dagunya di sana dengan wajah memelas.
“Lo emang bener-bener ngerepotin, ya.” Dean mengomel sambil memarkirkan mobilnya ke tempat yang dikatakan Toni.
“Telfon Wulan, De.” Toni tak sabar lagi. Ia juga sudah mengantuk dan lelah. Tapi, semuanya harus beres malam ini.
“Di atas itu. Yang lampu balkonnya padam, tapi keliatan cahaya kuning dari balik jendela.” Toni menunjuk bagian atas sisi kanan mereka.
“Sekarang lo keluar sana,” pinta Dean.
“Ngapain?” tanya Toni.
“Kan, mau kayak adegan film. Ujan-ujanan biar Wulan kasian ke lo. Romantis. Gimana, sih?” sungut Dean, berbalik memandang wajah Toni dalam kegelapan mobil yang minim cahaya.
“Serius?” tanya Toni lagi.
“Mana nomernya Wulan?” Dean mengulurkan ponselnya pada Toni. Dengan sigap Toni mengambil ponsel itu dan mengetikkan nomor Wulan. Ia khawatir Dean berubah pikiran sewaktu-waktu.
“Ya, udah. Lo keluar sana!” usir Dean. Toni menuruti perkataan sahabatnya untuk keluar mobil. Ia berdiri di bawah rintik hujan yang masih turun cukup deras.
Dean langsung menekan tombol call menelepon Wulan. Sudah lewat tengah malam dan ia membawa istrinya yang sedang hamil keluar rumah hanya demi urusan remeh-temeh sahabatnya.
Beberapa kali nada sambung berbunyi, terdengar sahutan dari seberang.
“Lan? Dean, nih! Udah tidur? Coba liat ke bawah balkon—liat aja dulu,” pinta Dean. Lalu, ia diam sesaat. Mendengar suara krasak-krusuk dan kunci pintu yang diputar dua kali.
Tak lama kemudian ....
“Ya, ampun! Mas Toni belum pulang. Ngapain coba ujan-ujanan kayak gitu!” pekik Wulan melalui telepon.
“Katanya kamu ngambek. Dia gelisah nggak bisa tidur. Katanya dia bakal di sana terus kalo kamu nggak izinin masuk,” ujar Dean.
“Udahlah, Mas! Udah malem. Suruh pulang aja,” kata Wulan.
“Ih, kamu gimana, sih. Kasian, lho. Akur-akur, deh. Sabtu mau nikah. Apa nggak jadi nikah?—Win, kayaknya kita nggak jadi pake baju couple-an. Toni ama Wulan nggak jelas,” kata Dean di telepon.
“Kok, malah ngomong gitu?” sergah Winarsih. “Itu Mas Toni udah ujan-ujanan,” sambung Winarsih lagi.
“Eh, Mas Dean, ini lagi di mana?” tanya Wulan, mulai menyadari situasi.
“Di parkiran, deket kekasih kamu ini berdiri.” Dean melongok Toni yang berdiri menyilangkan tangan di depan dadanya dan menatap Wulan di balkon.
“Istri Mas Dean ikut?” tanya Wulan meyakinkan dirinya lagi.
“Iya, ini ikut. Demi Toni. Padahal dia lagi hamil. Tapi nggak bisa ditinggal karena khawatir kalo suaminya pergi sendiri keluar rumah,” sahut Dean. Sekalian saja pikirnya. Kalau Wulan tak kasihan pada Toni, biar wanita itu sungkan pada Winarsih. Cara apa pun dihalalkan demi bisa pulang cepat malam itu. Ia selalu kebagian apes kalau Rio dan Langit berada di luar kota. Toni selalu akan merusuhinya.
Winarsih hanya mencibir mendengar perkataan suaminya.
“Aku jadi nggak enak sama istri Mas Dean. Mas Toni ngerepotin orang aja. Awas aja dia nanti. Aku turun sekarang,” kata Wulan mengakhiri pembicaraan.
Dean lalu membuka kaca mobilnya sedikit. “Ton! Toni!” Yang dipanggil ternyata masih menghayati perannya. “Hei, sinting!” pekik Dean.
PLAKK!
“Manggil temennya yang bener. Enggak boleh gitu. Dia, kan, memang nggak denger. Ngelamun,” kata Winarsih.
“Sinting itu udah cukup halus, Dik Win. Mereka kadang manggil aku—”
“Apa?” potong Winarsih.
“Enggak apa-apa. Sini cium dulu,” ucap Dean, meredakan mulut Winarsih yang mengerucut karena mengomelinya.
“Panggil temennya,” pinta Winarsih.
Setelah dua kali panggilan, akhirnya Toni datang mendekat ke jendela mobil.
“Wulan udah masuk. Dia mau jemput gue keluar, ya? Tips lo emang manjur, ya.” Toni terkekeh-kekeh.
“Iya, tadi Wulan ngomong ‘Kasian banget Mas Toni. Aku nggak mau dia sakit ujan-ujanan karena aku.’ Puas lo?” Dean menyentil kaca mobilnya yang dekat dengan hidung Toni.
“Jangan pulang sebelum Wulan turun,” pesan Toni, berjalan menuju tempatnya tadi berdiri.
“Cieee ... yang mau dimanja-manja karena keujanan,” goda Dean.
Wulan muncul beberapa saat kemudian dengan payung besar. Ia mengenakan piyama celana panjang dengan sweater yang didekapnya rapat-rapat di depan tubuh.
“Udah malem, bukannya langsung pulang.” Wulan mengomel dalam bisikan.
“Sini payungnya biar aku yang bawa,” ucap Toni, mengambil payung dari tangan Wulan dan mengangkatnya lebih tinggi.
Dean langsung memundurkan mobilnya dan menekan dua klakson panjang sebelum berlalu dari sana.
“Pasti nggak tega liat aku ujan-ujanan,” cetus Toni.
“Tega! Siapa bilang nggak tega? Aku nggak enak sama istri Mas Dean dibawa-bawa cuma karena masalah sepele kayak gini. Istrinya, kan, lagi hamil.” Wulan mempercepat langkah kakinya menuju lobi apartemen.
“Bukan karena aku?” tanya Toni.
“Bukan!” ketus Wulan. “Bisa-bisanya ngerepotin orang.”
“Dasar si anjing,” bisik Toni. Meski memaki, Toni cepat-cepat mengekori langkah Wulan menuju lift. Apa pun yang diucapkan Dean, yang penting dia sudah dijemput Wulan untuk masuk ke kamar.
To Be Continued
Sekedar informasi saja. Juskelapa update bersamaan itu maksudnya agar pembaca tidak terputus di bab yang nggak enak kalau dipotong.
Kapasitas jumlah kata, kan, ada batasannya.
Juskelapa cuma minta like aja. Gratis, kan, ngelike?
Tujuannya agar statistik karya juskelapa bagus dan bisa kebagian nongkrong di beranda iklan.
Minta update sering-sering, oke. Minta cerita ini-itu, oke. Selama juskelapa sanggup dan ada waktu, mudah-mudahan dipenuhi. Juskelapa cuma minta di-like aja. Biar karya-karya kecil yang kalah bersaing dengan CEO, Daddy, dan Duda-duda lainnya juga disinggahi pembaca karena diiklankan oleh NOVELTOON tersayang.
Di bawah part 83 kemarin sudah njuss wanti-wanti, Like-nya jangan kelewatan. Tapi ternyata masih jomplang sampai selisih 200. Statistiknya pasti anjlok lagi. Hiksss cewdiihh....