GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
73. Kekacauan Lainnya


Toni berjalan mendekati maminya. Ia sebenarnya tak begitu khawatir akan Dean. Dean adalah sahabatnya sejak lama dan pasti akan mengerti hal itu. Kepada Winarsih pun, Toni tak begitu khawatir. Namun, sebagai tuan rumah ia harus menunjukkan keprihatinannya. Ia akan membantu Dean mengklarifikasi kekeliruan barusan.


“Mami … ini bukan Ara. Kita udah 33 tahun, Mami. Bukan anak SMA lagi. Mami, kok, nyebutnya Ara?” Toni mengambil alih pegangan kursi roda dan berdiri di sebelah Dean.


“Ah, masa, sih. Seinget Mami pacarnya Dean yang sering ke sini, ya, Ara dari dulu. Mami kira nikahnya sama Ara.”


Dean menyipitkan matanya memandang Toni. Pesta pernikahannya di Jambi, jelas-jelas ia memberikan sebuah undangan sebesar nampan pada Toni, untuk disampaikan kepada maminya. Nama Winarsih tertulis sebesar-besarnya di sana. Mami Toni pasti bisa membacanya. Lagipula, apa Toni selama ini tak pernah menceritakan soal teman-temannya?


Dean meraih lengan Winarsih untuk lebih mendekat. Ia harus memotong cerita Mami Toni. Kata-kata ‘Ara yang sering ke sini’ saja sudah cukup sulit menampiknya nanti. Ditambah dengan ‘Mami kira nikahnya sama Ara’, Dean merasa dua poin itu saja sudah bisa membuat sesi tanya jawab bersama istrinya bakal panjang lebar.


Lalu, seperti membaca isi kepala Dean, Toni kembali berbicara. “Ini Winarsih. Aslinya dari Jambi. Aku, kan, pernah ngomong ke Mami. Waktu Dean resepsi di Jambi. Lupa, ya?” tanya Toni.


“Saya Winarsih, Bu … istrinya Mas Dean. Kami datang dengan tiga anak kami. Yang keempat masih di perut baru empat bulan. Dirja … sini, Nak! Bawa adik-adiknya,” pinta Winarsih dari depan Mami Toni.


Toni dan Dean berpandangan. Wajah Toni sudah tenang karena melihat ketenangan di wajah Winarsih. Tapi, Dean masih gelisah. Ia sudah sangat berpengalaman dengan ketenangan dan pengendalian diri istrinya itu. Istrinya tak akan merajuk dan mengomel di depan siapa pun. Mengingat kasus di Beer Garden bersama Ara, Dean kagum sekaligus merinding melihat keluwesan istrinya menguasai situasi.


“Iya, Bu?” Dirja mendekat ke kaki ibunya. Di tangan kirinya tergandeng tangan Widi. Sedangkan Dita mengikuti kakak laki-lakinya dari belakang dengan ditemani babysitter-nya. Dean terpukau melihat anak-anaknya langsung menuruti perkataan Winarsih.


“Mas, sini. Salim Oma. Oma ini ibunya Om Toni. Mas Dirja ngerti?” tanya Winarsih. Dirja mengangguk dan maju meraih tangan Mami Toni. Saat meletakkan tangan Mami Toni di dahinya, Dirja menoleh pada ibunya. “Mas ngomong apa?” tanya bocah laki-laki itu. Serentak semua orang yang melihat hal itu tertawa. Ketegangan sedikit mencair karena ulah kanak-kanak.


“Mas ngomong, selamat ulang tahun, Oma. Gitu,” pinta Winarsih.


“Selamat ulang tahun, Oma. Rambut Oma beda dengan Om Toni. Tapi Oma cantik,” kata Dirja. Winarsih tersenyum dan semua orang di ruangan itu kembali tertawa.


Toni menonjok lengan Dean. Sedangkan Dean tersenyum jumawa. “Produk unggul pertama gue,” bisik Dean pada Toni.


"Lo menurunkan ilmu sejak dini," sahut Toni.


Lalu bergiliran Dita dan Widi menyalim tangan Mami Toni yang tertawa-tawa sambil memegangi kepala bocah-bocah itu.


“Ayo, sini yang lain nggak kasi selamat ke Oma? Oma ulang tahun, lho.” Dean memanggil Kalla dan Zurra, anak kembar Langit yang sedang duduk di permadani menghadapi mainannya.


Dua bocah itu mendekat didampingi kedua orangtuanya. Semua menyalami Mami Toni yang terlihat senang dengan kehadiran banyak orang di rumahnya. Jingga terlihat menemani Kalla yang sedang menjawab pertanyaan Mami Toni.


Jenni mendekat menggandeng putra bungsunya, Giovani yang berusia empat tahun. Sedangkan dua kakak perempuannya, Tiffany dan Laurensia yang berusia tujuh dan lima tahun, mendekat sambil bergelayut di lengan papinya.


Semua memberikan selamat termasuk Ryan dan Novi. Terakhir kali yang mendekat adalah Santoso dan Musdalifah. Mami Toni mengangkat wajahnya memandangi dua orang itu bergantian.


“Ini yang resepsi di mana, Ton? Apa Mami lupa lagi? Belum isi, ya?" tanya Mami Toni, memandang perut Musdalifah. "Sabar-sabar, ya. Pasti sedih. Apalagi yang lain sudah bawa anak dan ada yang sedang hamil.” Mami Toni mengusap tangan Musdalifah berkali-kali.


Dean yang mendengar hal itu tak bisa menahan tawanya. Ia terbahak-bahak di belakang punggung istrinya. Winarsih yang tadi dipeluk dari belakang oleh suaminya, kini ikut berguncang karena Dean benar-benar menumpahkan rasa gelinya.


Toni kembali mengklarifikasi. Kali ini wajahnya tak seserius tadi. “Mi, ini Musdalifah, lho. Belum nikah. Kalo yang ini stafnya Dean,” tukas Toni, menunjuk pada Santoso yang berdiri tersenyum-senyum menikmati kebohongan indah yang baru didengarnya.


“Ini Mus, Bu.” Musdalifah menjabat tangan Mami Toni. “Selamat ulang tahun, ya … sehat-sehat selalu,” kata Musdalifah, lalu segera menyingkir dari tempat itu. Ia menoleh pada Dean yang masih tertawa-tawa di belakang kepala istrinya. Mulut laki-laki itu mengatakan, ‘cieee’ tanpa suara padanya. Musdalifah kembali sebal setengah mati.


Seorang pegawai berkemeja putih dan rompi hitam mendekati Toni. “Pak, semuanya udah selesai,” katanya.


Toni langsung menoleh pada Dean. “De, udah kelar ketawa lo? Kita ke ruang makan. Orang catering udah ready. Ada menu anak-anak juga,” kata Toni. “Yuk, Yo, Lang!” panggil Toni pada Rio dan Langit yang berdiri bersisian di bawah gawang ruang keluarga sambil tengah berbicara dengan suara rendah.


“Ngomongin apa, sih?” tanya Dean pada kedua temannya di kejauhan. Rio menjawab dengan gelengan tak kentara. Dean memahami ada sesuatu yang sedang dirundingkan oleh kedua sahabatnya itu. Dean menunda bertanya lebih lanjut karena teringat akan situasinya bersama Winarsih yang belum kondusif.


Semua orang bergegas menuju ruang makan. Termasuk para babysitter yang memegang masing-masing seorang balita. Dean menggunakan kesempatan itu untuk menarik lengan Winarsih dan memperlambat langkahnya.


“Hei, Bu Winar,” sapa Dean meremas pinggang istrinya.


“Hmmm?” sahut Winarsih menoleh.


“Kamu nggak marah, kan, soal Mami Toni tadi?” tanya Dean. “Sewaktu kita nikah maminya tau, kok.” Dean membela diri.


“Iya, aku nggak apa-apa. Mas, kan, juga bilang kalau maminya Mas Toni itu sakit. Demensia karena trauma kecelakaan dan usia. Aku nggak apa-apa,” jawab Winarsih santai.


“Aku kira kamu ngambek,” gumam Dean.


“Enggak … aku cuma penasaran aja. Anak SMA di kota itu ngapain aja kalau bawa pacarnya sering-sering main ke rumah temen. Kata Mbah juga sering main ke rumah dulunya.” Winarsih berjalan santai dengan langkah kakinya yang tertahan karena Dean melambatkan langkah.


“Ha? Ya … nggak ngapa-ngapain. Main aja. Belajar bareng,” jawab Dean meringis.


“Mmm … belajar bareng,” sahut Winarsih.


“Iya, Mas …. Aku nggak ada bilang apa-apa lagi, lho.” Winarsih menghentikan langkah kakinya dan menoleh pada Dean. Sejak tadi pria itu terus menggelayutinya seperti Widi yang merayu untuk kembali diberi ASI.


“Kamu jangan bikin aku cemas,” kata Dean, wajahnya menekuk manja memandang istrinya.


Winarsih melirik semua orang yang sudah tiba di ruang makan, lalu memandang suaminya. “Aku nggak apa-apa. Mas panik kayak gitu,” ucap Winarsih, membalas pelukan suaminya. Ia melingkarkan tangan di pinggang Dean.


“Karena aku lebih suka diomelin ketimbang kamu diem dengan sejuta misteri. Aku kapok, Win.” Dean menarik istrinya dan mencium kepala wanita itu.


“Iya … aku nggak marah. Itu, kan, cerita lama. Semua pasti punya cerita lama, meski nggak enak didengar,” kata Winarsih. “Maminya Mas Toni nggak sengaja,” sambungnya lagi.


“Semua punya cerita lama, tapi aku tetep nggak mau denger soal cerita lama kamu. Kalo gitu kita nggak marahan ya … sini, cium aku.” Satu tangannya merangkul pundak Winarsih. Dan satunya lagi menangkup pipi istrinya dan mencium bibir wanita itu cukup lama. Sampai suara seseorang terdengar memanggil Dean.


“Psstt! De! Dean!” panggil Langit. “Si anjing malah ciuman di rumah orang,” umpat Langit.


Dean melepaskan ciumannya dan Winarsih langsung membelakangi arah suara dengan menghadap dada suaminya. Ia merapikan lipstiknya, lalu mengusap bibir Dean sekilas. Wajahnya merona menahan malu karena tingkah suaminya barusan. Ketika sedang menunduk, Winarsih melihat sesuatu di bawah meja panjang yang atasnya berisi pigura foto-foto keluarga.


“Mas,” panggil winarsih. “Kok ada bunga-bunga di atas daun itu? Di bawah meja,” tanya Winarsih, menggamit lengan Dean agar menoleh pada objek yang dilihatnya.


“Bunga? Tuh, kamu liat sendiri, kan? Itu mirip bunga yang kamu temui di mobil.”


“Untuk apa itu, Mas?”


“Cemilan maminya mungkin, Win. Ya, aku nggak tau, Sayang. Tapi … itu bunga baru. Siapa yang bawa? Dari mana lagi? Apa ini—”


“Dean!” seru Rio lagi.


Dean menoleh pada dua orang laki-laki yang sepertinya ingin mengatakan hal serupa dengan yang dilihat Winarsih barusan. “Kita ke sana dulu,” ajak Dean, merangkul pundak Winarsih menuju ruang makan.


Setibanya di ruangan itu, Winarsih langsung menghampiri anak-anaknya. Sedangkan Rio dan Langit langsung menyeret lengan Dean sedikit menjauhi gerombolan orang.


“De, lo liat siapa yang dateng barusan?” tanya Rio.


“Siapa emangnya?” Dean balik bertanya. “Eh, lo bedua udah liat itu?” tanya Dean menunjuk bagian bawah meja tempat di mana bunga segar terletak dalam mangkok yang terbuat dari daun pisang.


“Ha? Nah, kan,” pekik Langit. “Pantes. Lo liat itu,” ucap Langit, menyeret lengan Dean ke sisi tengah ruang keluarga dengan pintu yang terbuka lebar mengarah ke teras samping.


“Hah? Asih? Kok bisa—” Dean berbalik menatap Rio dan Langit bergantian. “Oh—oh iya! Tadi Mami Toni ngomong kalo bakal ada yang dateng buat nemenin dia. Apa itu Asih?”


“Pasti itu yang dimaksud maminya Toni,” sahut Rio.


“Ih, kok kacau banget, sih. Percuma rapat-rapat tapi jadi berantakan semua.” Dean menggerutu melihat Asih berjalan di taman dengan pakaian yang sangat berbeda dari yang mereka temui di tengah hutan. “Motifnya Asih apaan, sih?


“Lo liat dalemannya. Biar tau motifnya,” sambar Langit terkikik-kikik.


“Anjing!” balas Dean dengan wajah kesal.


“Lo jangan adu mulut lagi sama dia,” kata Rio. “Ini acaranya Mami Toni.” Rio mengingatkan Dean.


“Kayaknya memang nggak bisa, sih. Ada bini gue. Maminya Toni itu sakit. Ngomong ama gue aja kayak ngambang gitu. Mungkin pengaruh obat penenang. Nah, yang menyela Mami Toni di saat nggak stabil ini yang kita perlu tau. Siapa?”


“Bukannya Toni udah pernah cerita kalo ibunya Asih itu dulu kerja di sini sebelum meninggal. Mami Toni diajak bikin ini-itu untuk media bisa berkomunikasi dengan Om Thomas.” Rio mengerutkan keningnya.


“Ada-ada aja,” omel Dean. Rasa kesalnya pada Asih kembali muncul. “Toni udah tau belum? Kasian banget gue lama-lama ama dia. Kita semua tau gimana nurutnya Toni jadi anak. Kok gue yang kesel, ya ….”


“Usir, De. Lo yang ngomong,” saran Langit.


“Ada bini gue. Bisa-bisa ketauan kita nemenin Toni ke dukun.” Dean mengernyitkan dahinya.


“Gue punya orang yang tepat untuk ini. Gue seratus persen yakin dia bisa melakukannya. Dan dia pasti mau,” cetus Dean.


“Siapa?” tanya Rio dan Langit bersamaan.


“Si Mus,” jawab Dean.


To Be Continued