
“Mas, sepatunya Widi jatuh. Kalo gendong anak itu diliat dulu sepatunya lengkap atau enggak,” omel Winarsih, memegang sebelah sepatu Widi yang jatuh di ruang tamu. Ia mengikuti langkah kaki Dean menuju mobil yang pintunya sudah dibukakan Pak Noto.
“Aku lebih fokus ke kakinya lengkap apa enggak. Itu udah lebih dari cukup,” sahut Dean, berdiri di depan pintu mobil dengan satu tangannya terulur pada Winarsih. “Ayo, naik. Rumah Toni deket, tapi kita harus nyampe duluan. Selama ini kamu, kan, belum pernah ketemu dengan maminya Toni. Nanti aku kenalin,” kata Dean.
“Sudah semuanya, Pak?” tanya Pak Noto memastikan semua orang yang akan berangkat sudah masuk ke mobil.
Dean sudah duduk memangku Widi Danurdara. Kepalanya menoleh ke belakang melihat anak-anaknya. Dierja Daniswara dan Dita Diajeng duduk ditemani babysitter-nya masing-masing. Sedangkan babysitter Widi masih terbebas dari tugasnya. Ia duduk di kursi belakang sambil mengulurkan tangannya pada Widi. Bayi itu bersikukuh bergelayut di leher Dean tak mau lepas. Sejak pagi, bayi berusia 20 bulan itu sedang ingin bermanja bersama bapaknya. Dean yang memang jarang menghabiskan waktu bersama anaknya, harus melewati hari Sabtu dan Minggu sebagai suami dan bapak yang baik tanpa mengeluh.
“Anakku, satu, dua, tiga, yang keempat masih di perut.” Dean menatap perut Winarsih, lalu memandang wajahnya. “Istriku satu. Udah, Pak. Komplit. Berangkat sekarang,” pinta Dean.
Pak Noto dengan sigap menggeser pintu mobil, lalu bergegas memutar untuk masuk ke belakang kemudi.
Rumah Toni hanya berjarak tiga kilometer dari rumah Dean. Masih berada di kawasan yang sama. Persiapan pergi hari itu lebih lama dari perjalanan yang mereka tempuh. Hanya 15 menit karena harus memutar lewat jalan protokol.
“Widi sama Mbak dulu, ya?” bujuk Dean.
“Enggak.” Batita itu menggeleng. “Sama Bapak aja,” sambung Widi.
“Atau sama Ibu, yuk?” ajak Winarsih, merentangkan tangannya. Lagi-lagi Widi menggeleng. Winarsih meringis memandang suaminya. Ia sedikit kasian melihat Dean yang benar-benar tak berkutik. Bahkan untuk memegang ponselnya pun, ia tak bisa.
Winarsih memajukan letak duduknya ke arah Dean. Ia memegang sebelah sepatu Widi dan memakaikannya. “Kita main ke rumah temennya Bapak. Nanti di sana ada temen. Ada Mbak juga. Di sana jangan lari-larian, jangan manjat-manjat, jangan teriak-teriak, jangan berantem. Denger Ibu?” tanya Winarsih, memegang dagu putrinya sampai terdengar sahutan.
“Iya,” sahut Widi. Dean tersenyum mencium kepala anaknya. Tangan kirinya mengusap-usap lengan Winarsih yang bertumpu di lututnya.
“Dirja sama Dita juga, ya … denger Ibu, kan?” tanya Winarsih menoleh.
“Denger,” sahut Dirja, menoleh pada ibunya. “Dit,” panggil Dirja pada Dita di sebelahnya.
“Aku denger,” jawab Dita, mencibir pada kakak laki-lakinya.
Ternyata, kedatangan Dean bersamaan dengan Ryan. Mobil sekretarisnya itu terlihat berada di depan dan lebih dulu masuk melewati pagar.
“Liat, tuh, Win. Pegawai Danawira kalo soal on time jangan diragukan.” Dean menunjuk Santoso yang sudah berdiri di tangga.
“Kok, ada Santoso?” tanya Winarsih sedikit heran.
“Toni yang undang. Katanya biar rame dan seru. Santoso udah kayak badut ulang tahun aja, ya?” Dean terkikik. Winarsih tersenyum bukan karena Santoso, tapi karena melihat raut jahil Dean.
Mobil berhenti di teras rumah dan pasukan yang dibawa Dean turun satu persatu.
“Tuan rumahnya mana?” tanya Dean pada Santoso yang berdiri di atas teras. Tak lama setelah menanyakan hal itu, Musdalifah muncul dari dalam.
“Pak Toni sebentar lagi keluar,” kata Muadalifah, berdiri di sebelah Santoso.
Dean menaiki empat anak tangga teras masih dengan Widi di gendongannya. Ia langsung menuju Santoso.
“Selamat, ya … semoga langgeng ke anak cucu,” ucap Dean, terkekeh-kekeh.
Santoso menyambut uluran tangan atasannya. “Terima kasih, Pak. Silakan dinikmati hidangannya,” sambut Santoso, mempersilakan Dean masuk dengan menyapukan tangannya ke samping.
Musdalifah menoleh, lalu menyadari posisi berdirinya dan Santoso yang berdampingan memang mirip pengantin menunggu tamu.
“Dasar,” omel Musdalifah, segera menjauh dari Santoso dan atasannya. Ryan ikut tertawa, namun menggelengkan kepalanya. Ia lalu melihat Winarsih yang masih berdiri di bawah tangga menggandeng Dita.
“Sampe lupa sama istrinya,” gumam Ryan, menggeleng-geleng seraya berdecak.
“Mas,” panggil Winarsih untuk menyadarkan suaminya.
“Oh, ya, ampun. Istriku ketinggalan.” Dean kembali menuruni tangga dan merangkul istrinya. “Maaf, ya, Win … aku nggak mau kehilangan golden moment tadi.” Ia kembali terkikik.
“Iseng banget,” sungut Winarsih. Dean kembali tertawa, lalu mencubit pipi Winarsih.
“Itu Pak Toni,” tukas Santoso.
Toni keluar menjemput tamunya dengan pakaian rapi, namun santai. Senyumnya mengembang karena lamarannya yang diterima oleh Wulan beberapa hari yang lalu.
“Eh, ada Bu Win. Banyak keponakan Om juga,” sapa Toni, menggenggam tangan Widi yang berada di gendongan Dean.
“Om Toni!” panggil Dirja.
“Ada jagoan,” kata Toni, mengarahkan tinju ke arah Dirja yang langsung disambut oleh bocah laki-laki itu. “Coba ketawa,” pinta Toni pada Dirja. Bocah itu langsung melakukannya. “Matanya ilang,” kata Toni, tertawa terkekeh-kekeh. Dirja kembali mengarahkan tinjunya pada tangan Toni yang masih terkepal.
“Ayo, masuk aja, Bu.” Musdalifah mengajak Winarsih masuk ke dalam dengan menjajari langkah tamu atasannya.
“Ada, masih di kamar. Datengin aja,” kata Toni. “Mbak, anak-anak dibawa main ke ruang keluarga aja, di sana luas. Deket ke teras samping juga,” tambah Toni, menunjuk ruang keluarga yang terletak di sisi kanan pada tiga orang babysitter yang dibawa Dean.
“Ya, udah. Ke sana, Mbak.” Winarsih ikut berjalan mengantarkan Widi yang masih memegangi ujung bajunya.
“Pak Noto mana? Udah ke belakang?” tanya Toni pada Dean.
“Aman. Langsung ke belakang,” jawab Dean. “Gue ke kamar nyokap lo, ya.” Setelah melihat anggukan Toni sebagai tanda persetujuan, Dean berjalan menuju tangga manual.
Siang itu Dean mengenakan jeans dengan kemeja lengan pendek berwarna kuning cerah bermotif dedaunan. Warna itu terlihat sangat cocok bersanding dengan warna kulitnya.
Tok. Tok. Tok.
“Mami …,” panggil Dean.
“Siapa?” sahut Nyonya Anderson.
“Dean,” jawab Dean.
“Masuk.”
Mendengar jawaban itu, Dean menekan handle pintu dan mendorongnya.
“Ini Dean, lho. Masih inget, kan?” tanya Dean, mendekati kursi roda Mami Toni di depan televisi.
“Masih. Dean yang genit,” jawab Mami Toni tersenyum.
“Sama kayak anak Mami genitnya. Artinya kami ini laki-laki tulen tanpa diragukan. Mami apa kabar?”
“Yah, begini aja. Enggak sakit, enggak sehat. Sebentar lagi juga masuk ke tanah,” jawab Mami Toni.
“Ih, ngomongnya. Kok, gitu?” Dean menarik sebuah bangku dari bawah meja rias untuk duduknya. “Mami harus sehat. Toni belum ada anaknya. Mami, kan, harus ketemu cucu dulu.”
“Toni nggak mau nikah lagi,” jawab Mami Toni.
“Siapa bilang? Toni? Ah, nggak percaya. Baru kemarin dia pergi kencan sama Wulan,” jawab Dean.
Mami Toni diam mendengar perkataan Dean. “Mami kurang suka,” jawabnya kemudian.
“Kenapa? Bukankah Toni aja yang suka itu udah cukup?” tanya Dean.
“Kamu ini masih sama bandelnya dari dulu. Kalo Mami ngomong rasanya nggak afdol kalo nggak jawab, ya?” Nyonya Anderson sedikit menunduk, menatap Dean dari balik kacamatanya. Wanita tua itu tak terlihat sakit dari nada bicaranya. Tapi dari penampilannya, Dean bisa menyimpulkan bahwa Mami Toni memang benar-benar sakit.
“Mi, nggak enak, kan, di kamar sendirian terus? Dulu Mama juga gitu waktu sakit. Mami itu perlu temen.”
“Udah ada, tuh. Sebentar lagi dateng,” jawab Mami Toni. Tangannya bergeser meraih remote televisi yang berada di pangkuannya. Dean mengambil remote dan meletakkannya ke dalam genggaman wanita tua itu.
“Siapa? Mami perlu temen yang juga bisa jadi temen buat Toni. Jangan sembarangan,” ucap Dean. “Harus orang yang tepat, Mi. Karena, kalo Toni diberi orang yang tepat, teman-teman untuk Mami bakal bermunculan. Kayak Mama. Sekarang temennya udah banyak. Kamar Mama selalu ramai.” Dean tertawa pelan. Ia mengingat bagaimana Bu Amalia yang sekarang sudah pasrah dengan isi kamarnya. Wanita itu sekarang hanya berbaring sambil memperhatikan tiga orang balita menyeret mainannya masing-masing masuk ke kamarnya dan bermain di sana.
“Siapa yang tepat? Wulan? Dulu juga nggak ada, tuh.”
“Eits, Mami nggak boleh gitu. Dean bukan mau ngajarin. Tapi, setiap orang kayaknya berhak mendapat kesempatan kedua. Mau kenalan sama istri Dean? Wanita yang dulu ditolak Mama mentah-mentah untuk jadi menantunya. Sekarang Mama nggak nyaman kalo pergi, tapi istri Dean nggak ikut. Untuk urusan perempuan, Mama lebih nyaman ngomong ke istri Dean. Malah sekarang frekuensi Mama nyari Dean jauh berkurang. Mama lebih percaya ke menantu perempuannya.”
“Karena kamu bandel. Makanya Mama kamu percayanya sama istri kamu.”
“Bukan … karena istri Dean memang layak untuk dipercaya. Juga, Mama mau membuka hatinya buat kenal sama istri Dean.” Dean mengusap lengan Mami Toni di atas pegangan kursi roda. “Mau ketemu dengan istri dan anak-anak Dean?”
Mami Toni mengangguk.
“Kita keluar, ya ….” Dean meraih remote dan mematikan televisi. Lalu, ia mendorong kursi roda Mami Toni keluar kamar dan berbelok menuju lift kecil di sudut kanan lantai dua. Dari atas ia bisa mendengar suara Rio dan Langit yang sedang berbicara. Pekikan-pekikan suara anak-anak juga mengisi penuh rumah yang terbiasa lengang setiap harinya.
“Hei … ini Oma ….” Dean mendorong kursi roda ke ruang keluarga. Semua tamu sedang berada di sana duduk bersantai dan bercanda.
“Mana istri Dean?” tanya Mami Toni. Winarsih berdiri dari sofa dan datang menghampiri.
“Ini, Mi …,” sahut Dean.
“Wah, Ara makin cantik, ya. Dulu kurus banget. Berisi begini lebih cantik, lho.” Mami Toni menoleh melihat wajah Dean. Winarsih berdiri mematung di depan wanita yang sedang mengingat mantan pacar suaminya.
Semua orang saling pandang. Toni segera bangkit dari sofa menghampiri Maminya. Dean menghela napas pendek menyadari kalau tugasnya hari itu bertambah berat. Sedangkan Musdalifah, susah payah mengatupkan mulutnya untuk menahan tawa. Kejengkelannya tadi langsung terbalaskan.
To Be Continued