
“Lo, kok, masih kerja? Bukannya mau cuti?” tanya Langit pada Ryan.
“Ada yang nahan-nahan terus. Khawatir nggak ada yang gantiin. Padahal udah ada staf kantor yang bantu.” Ryan melirik Dean yang baru saja kembali dari bar.
“Ngeri, ya, atasan lo!” seru Langit.
“Kayak baru kenal sehari dua hari aja, sih. Udah bawaan orok,” tambah Rio.
“Pasti ngomongin gue,” kata Dean, meletakkan clutchnya di atas meja.
“Santoso mana?” tanya Rio. “Acara penari gembel gagal, setidaknya harus ada Santoso yang meski diem aja, tapi selalu bisa menghibur.” Rio celingukan melihat pintu masuk.
“Entar lagi pasti nyampe,” jawab Dean, duduk di sebelah Langit. Sedangkan Rio dan Ryan duduk bersisian di depan mereka.
“Yang mau melepas masa duda mana?” tanya Langit, menyadari Toni yang belum hadir di antara mereka.
“Di luar telfonan. Nah, itu Santoso!” seru Rio. Santoso yang dinanti kemudian muncul. Masih dengan kaca mata hitamnya yang belum dilepas.
“So! Buka, So! Cahaya kamu nggak ada di sini, nggak ada yang menyilaukan selain ketampananku.” Dean menepuk-nepuk lengan Santoso yang berdiri di sebelahnya.
Santoso membuka kacamatanya, lalu mengerjap dan memandang berkeliling. “Selamat sore bapak-bapak. Saya duduk di mana? Oke, sepertinya harus di sudut sana. Pak Dean tidak suka duduk di tengah.” Santoso memutari meja dan tiba di ujung meja satunya. Ia duduk di sebelah Ryan. Pembawaannya tenang sekali dengan dua tangannya yang menaut di atas meja.
“Hai, semuanya. Sudah komplit?” tanya Toni, berkacak pinggang di dekat meja. “Nyari club keliling Jakarta, tapi tetap berakhir di sini. Atau kita masuk tempat karaoke yang biasa aja?” tanya Toni.
“Mau ngapain? Lo yang nari telanjang?” tanya Dean tergelak.
“Eh, iya Ton .... Lo aja yang nari. Setuju gue. Lo melepas masa duda.” Langit menyenggol bahu Dean, kemudian ikut terkikik-kikik.
“Pasti lo ngebayangin, kan? Toni pake celana dalem trus nge-dance muterin KTV room. Endingnya dia ngegesek-gesek tiang di tengah.” Dean tertawa semakin keras.
“Iya—iya, bener.” Langit menepuk bahu Dean, lalu ikut terbahak-bahak.
“Yo! Kenapa lo biarin mereka duduk deketan kayak gini? Bakalan rusuh sepanjang malam kalo gini ceritanya,” sungut Toni.
“Berisik! Duduk aja lo!” sergah Dean.
“Geser sana!” pinta Toni meminta Dean bergeser ke tengah. Bangku panjang itu biasa menampung maksimal tiga orang dewasa.
Dean menggeleng. “Gue nggak mau di tengah. Lo aja muter ke sebelah Langit,” balas Dean. Toni menonjok pelan bahu Dean kemudian berjalan memutari meja menuju ruang kosong di sebelah Langit.
Sudah kamis malam. Dua hari lagi Toni akan melakukan pernikahan sederhananya di sebuah restoran kecil yang sudah disewanya selama seharian penuh mulai dari pagi. Restoran itu berada di daerah Bogor. Katanya, Wulan yang memilih tempat itu karena terkesan hangat dan romantis. Toni tak perlu pikir panjang untuk menyanggupi permintaan calon istrinya. Yang ada di kepalanya hanya cepat menikah.
Empat orang laki-laki sudah izin pada istrinya masing-masing untuk pulang terlambat malam itu. Seorang laki-laki izin pada calon istrinya, sedangkan yang seorang lagi masih tak memerlukan izin pada siapa-siapa meski tidak pulang berhari-hari. Santoso. Pria itu belum dicari oleh wanita mana pun selain ibunya.
“Mbak Mus nggak ikut, Pak?” tanya Santoso pada Toni.
“Ya, ampun, So ... menurut lo?” Dean balik bertanya. “Padahal udah gue ingetin dari tadi. Judulnya perpisahan dengan status duda Toni. Tetep yang ditanya si Mus,” kesal Dean.
“Perpisahan dengan status dudanya Mas Toni?” Ryan meringis mendengar atasannya mengatakan hal itu.
“Iya. Perpisahan yang sebenar-benarnya. Jangan sampai status itu datang lagi menghampiri siapa pun yang ada di sini,” ujar Dean.
“Nah, iya! Agak bener ngomong lo malem ini.” Langit mengulurkan kepalan tangannya pada Dean, mengajak ber’tos’ ria.
“Ngomong gue emang selalu bener, Nyong!” Meski memaki, Dean tetap menyambut uluran tangan Langit.
“Wulan tinggal di mana nantinya?” tanya Rio pada Toni. Sepertinya memang Cuma Rio saja yang memikirkan soal tempat tinggal Wulan. Laki-laki lainnya hanya memikirkan soal Toni bakal menikah.
“Pindah ke apartemen gue yang deket sini. Sementara aja. Sampe Mami mau ngomong soal Wulan. Sekarang belum ngejawab. Tapi masih mendinglah ketimbang dulu.” Toni membuka-buka buku menu di hadapannya yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan. Karena, mereka semua sudah hafal apa saja menu di tempat itu.
“Hamili, Ton! Hamili segera! Lo bolak balik kayak martabak setiap malem. Jangan lengah dari berbagai sudut. Lo, kan, belom tau senjata lo ampuhnya dari sisi mana. Kalo gue sambil tidur juga bisa menghamili.” Dean terkikik-kikik geli sendirian.
“Ih, najis!” umpat Langit. Mendengar hal itu, Ryan menggeleng-geleng. Sedangkan Santoso berdeham, lalu mengambil salah satu dari air mineral yang terletak di tengah meja. Tenggorokannya seketika kering mendengar perkataan Dean.
“Minumannya mana? Kok lama?” Ryan berbalik dan menoleh ke arah bar. Ternyata yang ditanyakannya langsung terjawab. Seorang pelayan pria datang dengan nampan besar penuh minuman pesanan mereka.
“Nah ... ini dia,” ucap Santoso, mengangkat Strawberry Mojito yang biasa dipesannya kalau sedang berada di sana.
“Demen lo pasti punya atasan kayak gue. Hafal semua maunya karyawan,” ujar Dean, mengangkat jus jeruknya dari atas nampan.
“Jadi acara club-nya gagal?” tanya Ryan.
“Hancur lebur,” sahut Rio. “Gue ditinggal kabur dan dibiarkan berdua dengan Tasya. Ancur banget! Sialan!” kata Rio, menjentikkan jarinya ke arah Toni.
“Ya, dia mau ngomong apa lagi? Ke gue? Enggak mungkinlah! Langsung pulang karena gue bilang juga mau balik. Lo nggak jelas banget. Dean sama Langit juga nggak jelas!” Rio masih kesal mengingat nasibnya Senin sore bersama Tasya. Langit dan Dean tertawa-tawa saling senggol dan menunjuk-nunjuk raut sebal Rio.
“Lo mengatasi yang sore, tapi malemnya bisa tidur nyenyak nggak diganggu. Bersyukur lo karena keluar kota besoknya. Jadi ada alasan si Bule sinting gangguin lo bedua. Lah, gue? Enaknya lagi di ubun-ubun, dia nelfon-nelfon. Untungnya gue udah ahli dengan interupsi.” Dean mengaduk minumannya dengan sedotan.
“Jadi Bapak jawab telfon di tengah-tengah acara—”
“Tentu tidak, Santoso. Gue biarin si Bule sinting sampai gue kelar. Memangnya dia siapa?” Dean menyahuti pertanyaan Santoso dengan kembali tertawa.
“Sabar-sabar, ya, San ...,” kata Rio menepuk pundak Santoso.
“Saya selalu sabar. Sabar saya sudah bersertifikat,” jawab Santoso. “Hanya satu yang buat saya kurang sabar,” tambah Santoso.
“Apa? Cahaya?” Giliran Langit terkikik-kikik karena ucapannya.
“Pada girang-girang banget, ya ....” Ryan mengangkat gelas minumannya ke tengah meja. “Ayo, buat yang gagal pergi ke club, dan yang akan melepas masa kesendiriannya dua hari lagi. Cheeers ....”
Tanpa diajak dua kali, semua pria di meja itu mengangkat gelas jusnya masing-masing. Menyentuhkan tepian gelas mereka hingga berdenting kemudian minum melalui sedotan.
“Mami lo ikut ke Bogor?” tanya Rio.
“Izinnya aja belum ditandatangani. Gimana mau ikut ke Bogor? Yang penting ngomong. Lo udah ngomong?” tanya Dean, memandang Toni.
“Besok pagi gue mau ngomong sekalian ngajak. Ingatan Mami—yah, lo semua tau. Kalo gue bilangnya jauh-jauh hari, entar gue dikira nikah tiga kali.” Wajah Toni muram, tapi ia masih tertawa atas candaan yang diucapkannya.
“Kalo masalah lo udah kelar, tolong bantuin anak gue, Ton. Kasiani anak gue yang ini. Kayaknya udah kepincut ama sekretaris Pak Toni, tapi ditanggapi dingin-dingin aja. Kasiani Santoso, Ton ....” Dean mengangkat mengerucutkan mulutnya, mengiba pada Toni dengan cara yang dibuat-buat.
“Semangat, San! Mbak Mus nggak ada pacarnya, kok.”
“Mbak Mus selalu membisu kalo di dekat saya. Saya jadi nggak enak buat ngelanjut omongan. Khawatir Mbak Mus nggak nyaman,” tukas Santoso.
“Lo jangan ngomong kayak gitu. Sejak kapan pegawai asuhan gue jadi cemen? Sombong dahulu, bukti belakangan.” Dean mendengus ke arah Santoso yang tak menciptakan ekspresi apa-apa.
“Tapi, beberapa hal memang tidak bisa di paksakan. Kita punya keinginan, semesta punya kenyataan.” Santoso menggeleng lemah.
“Yah, udah lemes aja dia,” gumam Langit.
“Sabar itu subur, San.” Rio menepuk bahu Santoso sekali lagi.
“Gimana mau disuburin, kalo nggak bisa dipupuk. Gimana, sih?” sungut Dean.
“Jangan cemen dong, Santoso. Lo harus pedekate sampe berdarah-darah,” pungkas Ryan yang sejak tadi diam.
“Cieee ... yang sekarang udah bisa nasehatin Santoso. Dulu gangguin gue tiap hari buat nanya cara jitu nembak Novi,” sindir Dean, melirik pada Ryan yang ekspresi wajahnya berubah seketika.
Obrolan ngalor-ngidul itu berlangsung sampai makan malam tiba di depan mereka. Saling ledek dan saling melontarkan perkataan-perkataan aneh, namun selalu diakhiri dengan tawa terbahak-bahak.
Mereka semua berada di sana sampai cafe itu sepi dan tutup. Lampu-lampu teras cafe sudah dimatikan saat Toni mengeluarkan kartu membayar semua tagihan mereka.
“Kita baik budi, ya. Acara melepas kedudaan Toni cuma makan di sini. Toni bahagia karena hemat,” celetuk Dean saat mereka mendorong pintu kaca keluar cafe.
“Jadi, Sabtu lo dari rumah jam berapa?” tanya Rio saat mereka semua sudah berada di parkiran cafe yang gelap. Mereka berdiri di depan mobil masing-masing tapi belum juga beranjak masuk.
“Gue dari rumah jam tujuh pagi,” jawab Langit.
“Kalo elo, Ton?” tanya Dean.
“Gue udah di Bogor. Besok sore berangkat bareng Wulan dan keluarganya. Jangan telat ya,” pesan Toni.
Mereka saling melambaikan tangan, namun perhatian mereka tiba-tiba teralih pada tiga mobil mini bus yang masuk ke parkiran secara bersamaan. Mereka semua saling pandang. Beer Garden sudah tutup. Lampunya semua sudah dipadamkan, meski para pegawai masih beres-beres di belakang.
Beberapa pria keluar bersamaan dari dalam mobil.
“Ini orangnya, yang ini!” pekik seorang laki-laki menunjuk Toni yang berdiri di sebelah pintu mobilnya.
“Ton!” pekik Dean. Ia menyadari bahaya sedang mendekati temannya. Matanya membelalak saat melihat seorang pria bergegas menuju ke arah Toni dengan kayu panjang di tangannya.
To Be Continued
Enjuss cuma mau bilang. Pasti semuanya udah tau. Yak! Benar sekali. Jangan lupa dilike. Ingat kata Mas Bara, perbuatan kecil kita bisa jadi sumber kebahagiaan buat orang lain.