GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
106. Menuju Sidang


Ponsel Dean sejak tadi bergetar di atas nakas. Winarsih sedang membaca bukunya dan mulai terganggu karena sang suami mengabaikan panggilan telepon.


Dean berbaring menelungkup, menyembunyikan wajah dengan satu tangan melingkari paha istrinya yang terjulur.


“Dijawab, Mas. Nanti bayinya bangun. Aku baru bisa santai. Nanti Mas yang gendong kalau Handaru bangun,” ujar Winarsih, mengambil ponsel dari nakas dan meletakkannya ke atas punggung Dean.


“Pasti dari Santoso,” tebak Dean. “Aku males. Lagi ngambek sama dia,” sahut Dean bergeming.


“Memangnya kenapa? Masa sama pegawai sendiri ngambek. Udah kayak Widi aja,” tukas Winarsih.


Sedikit banyak Winarsih memang mengaitkan sifat anak nomor tiganya dengan sang suami. Suka bersungut-sungut dan merajuk demi mencari perhatian. Semakin besar, sifat Widi seperti meniru Dean. Tak heran, gadis kecil itu paling sering merengek dengan bapaknya.


“Bener, kan? Dari Santoso?” tanya Dean lagi.


Winarsih melirik ponsel di atas punggung Dean. “Iya, dari Santoso. Dijawab aja. Siapa tau penting soal kerjaan,” ujar Winarsih.


“Dia bisa nelfon Ryan. Dan Ryan bisa nelfon aku kalo bener-bener penting,” ujar Dean malas-malasan.


“Memangnya kenapa, sih? Ngambek dari Santoso? Kayak anak kecil aja,” sungut Winarsih.


“Biarin. Ini bukan soal kayak anak kecil. Aku merasa dikhianati,” sambung Dean.


“Memangnya? Santoso kenapa?” tanya Winarsih tak mengerti.


“Santoso udah nikah kayaknya. Tapi, aku tanya belum ngaku. Itu masih asumsiku aja. Sok artis banget. Pake acara sembunyi-sembunyi. Memangnya kalo aku tau, mereka mau diapain? Harusnya seneng punya atasan perhatian. Pokoknya aku merasa dikhianati. Selama ini aku dukung Santoso dan Musdalifah itu 100%. Aku yang bantu Santoso biar bisa deketin si Mus. Giliran udah jadi, aku nggak dikasi tau. Aku mau menenangkan diri beberapa hari.” Dean mengusap-usap paha istrinya dan tertidur. Ia benar-benar tak mengacuhkan panggilan telepon Santoso.


Dua hari berikutnya, Santoso seperti sedang menjajaki hubungan baru bersama Dean. Atasannya yang rewel, tiba-tiba berubah menjadi sosok pria dingin. Jika ditanyai, jawaban pria itu hanya ber’ham-hem’ saja. Santoso gelisah. Ia merasa serba salah. Di satu sisi, ia memang berjanji pada Musdalifah untuk merahasiakan hal itu sampai waktunya mereka rasa tepat. Namun, di sisi lain, ia tak enak bekerja seatap dengan pria bermata sipit yang melontarkan tatapan bermusuhan padanya.


“Ton, kayaknya kita perlu membuat sidang untuk Santoso dan Musdalifah. Memangnya kenapa, sih, hal baik harus disembunyikan?” tanya Dean pada Toni suatu sore di Beer Garden.


“Sidang gimana? Biar ngaku, gitu?” tanya Toni.


Dean mengangguk. “Memangnya, kehamilan Wulan udah masuk berapa bulan, sih? Apa bener-bener nunggu anak lo lahir? Ih, gue penasaran. Nyebelin,” sungut Dean.


“Masuk bulan ke delapan,” sahut Toni.


“Lo kayak induk ayam kehilangan telur, De! Berisik!” kata Langit.


“Lo nggak akan bisa merasakan perasaan gue. Enggak akan bisa,” gumam Dean, menyeruput minumannya dengan raut setengah melamun.


“Ya, udah, buat sidang aja buat Santoso dan Mus. Di kantor lo, De. Gimana, Ton?” tanya Rio. “Emangnya lo mau apa kalo udah tau soal hubungan Santoso dan Musdalifah?” tanya Rio menatap Dean.


“Gue udah siapin sesuatu pokoknya. Rencana lama. Bonus dari gue. Tapi, Santoso sekarang nyebelin. Males gue,” kata Dean kembali cemberut. Sebatang sedotan masih melekat di mulutnya. Ia duduk menopang dagu dan kembali menyedot minumannya.


“Ryan mana, De?” tanya Toni.


“Enggak tau. Gue bukan nyokapnya,” sahut Dean.


“Sinis amat sekarang,” ucap Rio.


“Dia sedang kecewa dengan para bawahannya,” bisik Langit pada Rio seraya terkekeh.


“Gue juga ada mau ngasih sesuatu ke Musdalifah. Sebagai ucapan terima kasih gue, karena dia selama ini udah setia banget. Lo nggak nanya, gue mau ngasih apa?” Tony mencolek lengan Dean yang berada di depannya. Biasanya, Dean akan selalu bersemangat untuk mengetahui sesuatu. Tapi kali itu, Dean hanya menggeleng.


“Tumben banget Pak Dean enggak mau kepo,” sindir Langit.


“Ayo—ayo, kita panggil Santoso dan Musdalifah untuk menghadap kita semuanya. Kali ini kita anggap bukan soal hubungan antara atasan dan bawahan. Tapi soal hubungan persahabatan kita semuanya. Selama ini kita udah bareng-bareng. Mungkin dibalik sikap Dean yang uring-uringan, dia tak sepenuhnya salah,” ujar Rio.


“Oke—oke, besok kita ketemuan di kantor Dean jam—” Rio menoleh jam di pergelangan tangannya. “Jam tiga sore, besok di kantor Dean, ya. Gue yang akan menghubungi Santoso dan Musdalifah.” Rio menepuk-nepuk pundak Dean. Ia berencana akan menelepon Santoso pada malam hari.


Dan pada malam harinya ....


“Mus, Mas Rio nelepon aku barusan. Dia minta aku dateng ke kantor Danawira’s Law Firm, besok jam tiga sore. Langsung ke ruangan atasannya. Kayaknya itu masih kantorku, ya. Kok rasanya aku kayak disuruh dateng ke kantor yang beda. Ruangan atasannya? Kenapa yang nelepon bukan Mas Ryan? Perasaanku nggak enak.” Santoso duduk di sofa dan menatap ponselnya.


“Pimpinannya Danawira, gimana? Masih menjalankan aksi mogok bicara? Atau udah ada kemajuan?” tanya Musdalifah, duduk di sebelah Santoso.


“Beliau sekarang berubah menjadi seorang pria dingin. Enggak cerewet. Walau tetap ganteng dan kukagumi, tapi beliau semacam kehilangan pesonanya yang lain. Ya, bawelnya itu.” Santoso menerawang menatap ponselnya.


Sudah bukan rahasia lagi, kalau Santoso memang sangat mengagumi Dean sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Danawira’s Law Firm. Bagi Santoso yang menjadikan Dean sebagai role model, disikapi dingin oleh panutannya itu, terasa sangat menggelisahkan.


“Aku mau tau sampe berapa lama atasan Danawira itu bisa jadi pria dingin kayak di novel-novel,” cetus Musdalifah.


“Tapi, sekarang Pak Dean memang benar-benar dingin. Jarang ngomong,” sahut Santoso.


“Jarang ngomong sama Mas Santoso. Kalo sama yang lain pasti masih sama. Mengubah orang yang biasa ceriwis jadi pendiam itu nggak mungkin. Aku nggak percaya. Di belakang Mas Santoso, Pak Dean pasti masih berisik.”


“Aku jadi berat kalo disuruh bertahan lebih lama,” kata Santoso.


“Padahal belum lama. Apa cukup sampai di sini aja?” tanya Musdalifah, menatap tajam pada Santoso di sebelahnya.


Santoso mencebikkan mulutnya. “Mus ... Gimana kalo kita—”


Drrrrt Drrrrt Drrrrt


Suara ponsel Musdalifah yang berada di atas meja, mengejutkan keduanya.


Musdalifah mengangkat ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar. “Mas Rio juga. Mau apa kira-kira?” bisik Musdalifah, walau telepon itu belum dijawabnya. Ia berbisik seakan Rio bisa mendengar percakapan mereka.


“Ya, Mas Rio?” Musdalifah bertanya hati-hati. Beberapa saat lamanya Musdalifah diam mendengar ucapan Rio. Lalu, semenit kemudian Musdalifah mengangguk dengan wajah pasrah. “Baik, Mas ... jam tiga, kan? Baik—baik,” ujar Musdalifah.


“Ada apa, sih? Ini pasti ulah pimpinan Danawira’s. Siapa lagi yang paling jago memanfaatkan situasi dan kesempatan selain pemilik kantor itu? Perasaanku langsung nggak enak,” kata Musdalifah.


“Aku udah bilang. Menyembunyikan sesuatu dari Pak Dean itu sulit. Aku udah bilang, mending kita—”


“Besok kita datengin kantornya. Aku penasaran kenapa pimpinan kantor itu berisik banget mau tau,” ujar Musdalifah.


“Kamu nggak boleh gitu. Pak De nggak berisik. Dia itu baik. Aku itu mengidolakan dia. Kamu itu kenapa, kok, anti banget sama dia.” Santoso menatap Musdalifah.


“Aku itu nggak anti. Aku cuma ngerasa, semua perkataannya terkesan mengintimidasi. Kalo ngeliat, berasa kayak menguliti. Aku merinding. Padahal atasan Mas itu, cuma duduk aja. Tapi, entah kenapa ... entahlah. Aku was-was,” tutur Musdalifah.


Setelah melewatkan perdebatan panjang hingga nyaris lewat tengah malam, akhirnya Santoso dan Musdalifah memutuskan berangkat bersama ke Danawira’s. Santoso layaknya seorang siswa yang sedang dalam masa skorsing. Wajahnya tegang saat berjalan di lorong menuju ruangan paling pojok yang berisi seorang pria tinggi bermata sipit yang hobi mengangkat alis saat berbicara dengan pria, namun hobi membasahi bibirnya saat berbicara dengan wanita.


Tok Tok Tok


Santoso mengetuk pintu tiga kali, menanti jawaban yang akan terdengar dari dalam.


“Masuk,” sahut Dean dari dalam.


Seketika, Musdalifah langsung melirik lengannya yang merinding. “Tuh, liat. Aku langsung merinding. Padahal baru denger suaranya aja,” bisik Musdalifah.


“Kalo nggak yakin dengan jawaban kamu, jangan tatap matanya.” Santoso menggenggam tangan Musdalifah dan mengangguk dengan mantap.


To Be Continued