GENK DUDA AKUT

GENK DUDA AKUT
113. Menjenguk Bayi


Musim penghujan, pagi hari halaman rumah selalu basah oleh air sisa hujan kemarin malam. Sore harinya, awan gelap menggantung di langit sebagai pertanda bahwa hujan kapan saja bisa tumpah ke bumi dengan derasnya. Orang-orang sengaja menghindari keluar rumah mulai dari sore hari ke malam.


Dean sengaja keluar kantor lebih awal untuk kembali ke rumah dan menjemput Winarsih. Langit sudah mulai gelap. Sebelum merencanakan agenda sore itu, ia dan Winarsih sudah sepakat untuk membawa Daru ke rumah sakit sekalian menepati jadwal imunisasi bayi laki-laki itu.


Sebegitu mobilnya keluar dari pelataran gedung perkantoran, Dean langsung mengklik tombol di layar LCD mobil, mencari nama Winarsih pada panggilan keluar.


“Win, lagi ngapain?” tanya Dean saat mendengar suara Winarsih dari seberang telepon.


“Lagi siap-siap. Mas, udah keluar dari kantor? Berapa menit lagi nyampe ke rumah? Aku mau susuin Daru dulu,” kata Winarsih.


“Setengah jam lagi nyampe. Kamu susuin dulu. Jangan lupa dipakein baju yang agak tebal, Win. Di luar mendung banget. Apalagi nanti AC rumah sakit juga pasti kenceng.” Dean mewanti-wanti istrinya seperti biasa.


“Mas ganti pakaian dulu, atau langsung berangkat?” tanya Winarsih lagi.


“Langsung berangkat aja. Khawatir ujan deres. Kalo ujan deres malem-malem, enaknya kita udah di rumah. Saling berpelukan,” sahut Dean tertawa.


“Iya. Ya, udah. Aku susuin Handaru dulu,” ucap Winarsih di seberang telepon. Pembicaraan berakhir dan Dean melajukan mobilnya menembus jalanan padat sore hari.


Winarsih sudah berdiri di teras rumah dengan buntalan kecil yang terlilit jarik batik dan tersimpul di atas bahunya. Ia masih menggendong bayinya dengan cara tradisional seperti itu. Ia merasa lebih nyaman menggunakan kain panjang ketimbang gendongan modern. Untuk hal ini, Dean sudah tidak lagi mendebat istrinya.


Dean langsung keluar mobil dan setengah berlari menaiki tangga teras. “Kok, nggak nunggu di dalem aja? Anginnya dingin,” ujar Dean, mengambil tas dari tangan Winarsih. Ia lalu memegangi bahu istrinya menuruni tangga teras. “Udah ngomong ke Dirja, kalo kita pergi ke rumah sakit?” tanya Dean. Belakangan, Dirja yang sudah berusia lima tahun sering bertanya jika kedua orang tuanya tak ada di rumah.


“Udah. Dita juga tadi nanya. Widi baru tidur. Dari siang diajak tidur nggak mau. Udah sore malah ketiduran di sofa depan tv. Nanti bangun tidur pasti nangis. Nyari bapaknya.” Winarsih masuk ke mobil dengan pintu yang dibukakan oleh Dean.


“Tasnya ditaruh di mana?” Dean mengangkat tas tangan wanita berwarna kuning ke depan istrinya.


“Terserah, Mas.” Winarsih sudah tidak peduli lagi di mana suaminya akan meletakkan tas itu. Ia sibuk mengatur duduknya senyaman mungkin. Daru yang tadi sudah tertidur sedikit menggeliat karena suara hempasan pintu mobil.


“Aku pangku aja tasnya,” kata Dean saat naik ke mobil dan duduk di belakang kemudi.


“Kebangun dia karena suara pintu mobil,” tukas Winarsih, mengintip ke dalam gendongan.


“Coba disusuin lagi. Sekalian bapaknya mau liat. Sesudah seharian bekerja, laki-laki itu perlu pemandangan yang seger-seger.” Dean mencolek pipi istrinya.


“Jadi, kalau Mas pulang kerja mampir ke Beer Garden, itu artinya mau ngeliat yang seger-seger?” tanya Winarsih, mengendurkan simpulan kain panjang di atas bahunya.


“Enggak, Win …. Salah ngomong aku kayaknya,” ujar Dean, mengerucutkan mulut menoleh sekilas pada istrinya. “Disusuin dulu anaknya. Aku nggak mau kamu di luar bolak-balik melucuti kancing baju. Cukup aku aja yang melucutinya kalo kita lagi berdua,” tambah Dean dengan raut dibuat seserius mungkin. Kepalanya ikut-ikutan melongok memandang Daru.


Topik pembicaraan soal mencari yang segar-segar itu harus segera dialihkan. Keluwesan Dean berbicara memang kadang membawa kesulitan baginya. Dan kesulitan itu seringnya datang dari Ibu atau istrinya.


“Kita jengukin Mbak Wulan dulu, kan? Nanti waktu jam besuknya malah selesai kalau kita kelamaan ngantri imunisasi.” Winarsih melangkahkan kakinya hati-hati saat memasuki lift.


“Iya—kita langsung ke kamar rawat Wulan. Rio dan Langit juga udah nyampe,” tukas Dean, merangkul bahu Winarsih dengan tangan kirinya menenteng tas wanita itu.


Lift berhenti dan berdenting setelah melewati tiga lantai. Pandangan Dean tertuju pada dinding di mana tertera angka petunjuk kamar rawat berada.


Dean menggandeng lengan istrinya untuk berbelok ke kanan dan menyusuri lorong pendek. Dari kejauhan tatapan mereka tertuju ke arah yang sama. Sepasang manusia sedang berbisik-bisik di depan pintu ruang rawat.


Santoso dan Musdalifah.


Saking asyiknya sepasang suami istri itu berbisik-bisik menghadap pintu. Keduanya tak mendengar langkah kaki Dean dan Winarsih yang mendekat di belakang mereka.


“Semuanya bapak-bapak. Kita bisa jenguk di rumah Pak Toni aja. Kan, nggak mesti di rumah sakit. Aku nggak enak, Mas.” Musdalifah berjinjit mengintip dari celah kaca di depan pintu.


“Kamu ngobrol sama Bu Wulan,” sahut Santoso.


“Bu Wulan baru lahiran pasti capek kalau diajak ngobrol terlalu lama. Wanita di dalem cuma aku. Pak Toni bilang, besok udah pulang ke rumah.” Musdalifah memandang Santoso.


“Dari kaca ini nggak bisa diliat siapa yang dateng. Bisa aja Mas Rio dan Mas Langit bawa istrinya. Ayo, masuk dulu. Kita udah nyampe sini.” Kini Santoso yang berjingkat.


“Ehem!” Dean akhirnya berdeham.


Musdalifah dan Santoso sontak berpegangan tangan, karena terkejut dengan kedatangan seseorang di belakang mereka.


“Mau sampe jam berapa di depan pintu? Saya mau masuk,” ujar Dean.


“Sesulit itu buat masuk dan jenguk orang lahiran,” gumam Dean. “Siapa yang perlu temen ngobrol?” tanya Dean memandang wajah Santoso.


“Istri saya, Pak. Sungkan karena di dalem isinya bapak-bapak semua. Pengennya jenguk di rumah aja,” ujar Santoso.


“Di dalem memang nggak ada ibu-ibu, kecuali Wulan. Ibu-ibu lain jenguknya di rumah Pak Toni sekaligus arisan. Ini istri saya ikut, karena Handaru mau imunisasi. Kalo emang perlu temen ngobrol, bisa minta bantuan ke istriku.” Dean mengubah bicaranya menjadi sangat resmi.


“Nah, iya. Ayo, Mus. Ngobrol dengan Bu Win aja di dalem,” ajak Santoso, menggamit lengan istrinya dan mengetuk pintu kamar rawat.


Langkah kaki mendekat dan sedetik kemudian daun pintu mengayun terbuka. Wajah Toni muncul dengan tangan kirinya mendekap bayi.


“Mas.” Winarsih menarik tangan Dean agar suaminya itu membungkuk mendengar ucapannya.


Dean mendekatkan telinganya hingga menempel halus di bibir Winarsih. “Apa, Bu?” bisik Dean.


“Aku mau liat anak Mas Toni. Minta Mas Toni naruh anaknya di box. Aku dan Mbak Musdalifah mau liat. Mas Toni tinggi banget. Aku sama Mbak Mus harus naik ke kursi kalau mau liat bayi dalam gendongannya.” Winarsih terkikik pelan di telinga suaminya.


“Ternyata mau manfaatin aku,” tukas Dean kembali menegakkan tubuhnya, memandang Winarsih. “Ton! Tirta, kan, namanya? Lo taruh di box, dong. Gue mau liat dengan jelas,” pinta Dean.


“Napa, De? Tumben.” Rio berbicara dari sofa di depan televisi. “Eh, tapi gue juga mau liat lagi dengan jelas. Toni dari tadi megangin anaknya terus kayak induk kucing,” tambah Rio. Ia berdiri dari sofa dan melangkah mendekati box bayi.


Wulan duduk dengan posisi ranjang setengah berbaring. Rautnya terlihat sangat segar. Ia makin cantik sejak hamil. Wajahnya yang dulu tirus, malah lebih sempurna, karena kenaikan berat badan membuat pipinya berisi.


“Mus, ayo sini!” seru Santoso pada Musdalifah yang berlama-lama melangkah mendekati box bayi.


"Cakep banget,” celetuk Langit. “Muka gantengnya enggak apa-apa ditiru, genitnya jangan.” Langit terkekeh memandang Toni.


Semua pria yang berada di sana mengabaikan candaan itu. Langit tahu semua sedang menjalankan protokol hemat bercanda soal segala sesuatu yang bisa meresahkan ibu-ibu.


Seperti melihat kelahiran Dirja, anak sulung Dean lima tahun yang lalu, empat pria ditambah Santoso sedang melongok ke dalam box. Winarsih yang awalnya memesan tempat untuk pemandangan itu, harus puas terjepit di bawah ketiak suaminya. Sedangkan Musdalifah, berdiri di belakang Santoso dan berhasil mengintip dari atas bahu suaminya.


“Ganteng, Win … stok anak perempuan kita paling muda cuma Widi. Mau dijodohin aku kurang sreg kalo anakku nikah sama yang lebih muda,” ujar Dean.


“Lo apaan, sih? Bayi belom liat matahari pagi udah mau dijodohin aja,” sela Langit.


Wulan tertawa ketika mendengar hal itu.


“Sayangnya anak bungsu lo cowok, De. Kemungkinan udah tertutup,” sambung Rio memandang wajah Dean dan Toni bergantian.


“Iya. Kemungkinan udah tertutup,” sahut Dean, menunduk kembali memandangi wajah bayi laki-laki dengan rambut coklat lurus dan pipi yang kemerahan.


“Siapa bilang kemungkinannya tertutup? Masih ada kemungkinan. Katanya bakal lima, kok. Aman. Sejauh ini kata-katanya selalu cocok,” timpal Musdalifah tiba-tiba.


“So, minggir. Gue mau face to face sama istri lo,” pinta Dean, mengibaskan tangan pada Santoso yang berada di depannya.


Santoso mundur selangkah, keluar dari lingkaran rapat yang mengitari box bayi.


“Kata-kata apa? Apa yang cocok?” tanya Dean.


“Kata Asih anak Pak Toni laki-laki dan ganteng. Tuh, bener,” tukas Musdalifah.


“Trus? Hubungannya dengan kemungkinan tadi apa?” tanya Dean menaikkan alisnya.


Toni, Rio dan Langit ikut memandang Musdalifah. Ruangan hening menanti jawaban Musdalifah.


“Hubungannya itu … kata Asih, anak Pak Dean bakal lima.” Musdalifah mengangkat bahunya.


Dean terdiam. Ia menunduk memandang wajah Winarsih yang berada di bawah lengannya. Lima? Yang keempat saja imunisasinya belum lengkap.


“Buset De! Handaru juga gagal bungsu!” Langit menepuk pundak Dean terkekeh-kekeh.


"Enggak boleh! Gue harus membuktikan penerawangan Asih salah. Enak aja," omel Dean. "Aku akan menjaga kamu, Bu. Cukup empat aja. Kamu nggak usah takut." Dean mencium kepala Winarsih yang mengangguk-angguk tak yakin saat mendengar perkataan suaminya.


To Be Continued