Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 9


"Graciela ingin aku jadi modelnya. Bolehkan Peter ?"


"Apa ?"


" Ya besok pagi aku akan ke apartemen nya. "


"Apa yang dia mau ?"


Sesungguhnya Peter tidak merasa senang. Untunglah Natasha tidak mengetahui nya. Ia terlihat sangat senang sekali. Peter curiga bahwa Graciela hanya ingin sekedar berbuat baik saja pada Natasha. Mungkinkah Natasha pernah berkata pada Graciela tentang menjadi model.


Lima belas hari kemudian , dengan sangat bangga Graciela memperlihatkan sebuah lukisan seorang wanita.


Lukisan itu bagus , dibuat dengan sangat hati hati. Lukisan itu memperlihatkan sisi Natasha yang lain. Dan dia merasa amat senang karena itu.


"Ini sangat indah sekali Peter."


"Apakah itu lukisan Graciela?"


"Ini memang sangat berbeda dari karya Graciela yang lain. Tapi kurasa ini sangat bagus."


Peter diam. Ia memilih tidak bicara karena takut merusak kebahagiaan Natasha. Tapi keesokan harinya ketika dia bertemu dengan Graciela hal itu di bicarakan nya.


"Kenapa kau membuat lukisan Natasha ?"


Dengan nada lambat . Graciela berkata


"Menurut ku itu bagus. Natasha juga sangat senang. "


"Tentu saja dia merasa senang . Dia itu tidak bisa membedakan mana karya seni yang bagus dengan karya seni anak anak.


"Itu sama sekali bukan lukisan yang buruk Peter."


"Biasanya kau tidak suka melakukan hal hal seperti itu..."


Tiba tiba dia melihat sesuatu yang membuat kata katanya terhenti


"Ini ?"


"Ini lukisan ku yang terbaru. Aku menamai nya Wanita Pemuja "


Graciela menatap Peter. Mata Peter tiba tiba melotot. Dia memang marah pada Graciela.


"Jadi karena itu kau meminta Natasha menjadi modelmu?"


"Aku rasa kau tidak akan mengetahuinya. "


"Tentu saja aku tahu. Semua nya ada di sini. "


Graciela menganggukkan kepalanya


"Ya benar , semua yang kuinginkan ada di sana. Mata yang memandang penuh harap. Kepasrahan."


"Tidak kuijinkan kau mengganggu Natasha."


"Tenang Peter. Natasha tidak akan tahu. Aku sangat yakin dia bahkan tidak tahu bahwa lukisan ini adalah cerminan dirinya. Ini bisa siapa saja."


"Tapi aku tahu itu dia."


"Ya tentu saja kau tahu. Kau berbeda... kau tahu segalanya. "


"Buang lukisan itu Graciela. Aku tidak mengijinkan mu memilkinya."


"Seperti itukah anggapan mu"


"Tidak bisakah kau merasakan nya. Mana kepekaan mu yang biasanya?"


Dengan nada lambat. Graciela berkata


"Kau tidak mengerti Peter.. Kau tidak tahu apa arti ya memilki sesuatu. Melihat mata yang penuh harap. Kepala yang menunduk seperti memohon. Aku sudah terus menerus melihatnya dalan diri Natasha. Dan aku menginginkan nya. Dan akhirnya aku mendapatkan nya. "


"Kau tidak berperikemanusiaan "


"Mungkin begitu. Tapi bagiku kalau kau ingin sesuatu maka ambillah. "


"Maksud mu kau tida peduli dengan perasaan Natasha."


"Kau justru tidak berperasaan."


"Coba kau pikirkan baik baik. Apa mungkin Natasha akan mengenali dirinya sendiri di lukisan ini."


Peter menatap lagi ke arah lukisan itu dengan malas. Setelah di perhatikannya benar benar barulah dia berminat. Lukisan itu seperti seorang pemuja. Dengan mata berbinar penuh harap. Dia memuja sang dewa yang tidak terlihat.


"Ini sangat mengerikan Graciela. "


Graciela merinding


"Ya menurut ku juga begitu."


Dengan nada kasar Peter berkata


"Siapa dia? Siapa dewa yang di puja nya ?"


Dengan ragu Graciela menjawab


"Sepertinya dia memandang padamu Peter."


*********


Di ruang makan Rudy si anak laki laki memgatakan sesuatu lagi.


"Fosil dan telur Dinosaurus biasanya di temukan di tempat yang sangat dalam di tanah."


Ia menatap pada ibunya dengan penuh harapan. Tapi dia tidak terlalu berharap. Sebab baginya orang tua selalu mengecewakan anak anak mereka.


"Apa mama tahu?"


"Tidak sayang."


"Mama kan bisa membacanya dari buku buku."


Pernyataan itu memang sangat sederhana dan ada benar nya. Akan tetapi tersembunyi nada kesal Rudy.


Tetapi Natasha tidak memperhatikan nada kesal anaknya tersebut. Dia terperangkap dalam dunia nya sendiri. Sejak dia bangun pagi dia merasa risau dan bingung bahwa hari dia akan menghabiskan akhir pekan di rumah keluarga Cavendish yang di takutinya itu.


Memginap di The Blossom selalu menjadi mimpi buruk baginya. Ia selalu merasa sedih dan murung. Nyonya Cavendish yang selalu melompat lompat kalau berbicara. Pikiranya tidak sanggup mengikutinya. Dia selalu berusaha berbaik hati padanya, ucapan ucapan yang tidak begitu jelas. Adalah orang yang paling membuat dia takut.


Tapi yang lain nya juga tidak berbeda. Mereka semua membuat dia takut. Bagi Natasha ini adalah hal yang harus dia tanggung demi Peter.


Sebab pagi itu ketika bangun pagi Peter sudah berkata dengan nada senang seperti anak kecil.


"Aku sangat senang karena hari ini kita akan pergi keluar kota ini akan menjadi hiburan nya baik untukmu. "


Natasha hanya bisa tersenyum kecut dan berkata dengan nada yang di paksakan


"Pasti akan menyenangkan sekali. "


Dengan penuh kesedihan dia memang kamarnya. Kertas pelapis dinding berwarna pink dengan garis garis merah , lemari pakaian berwarna putih dengan hiasan emas, meja rias dengan kayu jati yang kaca sedikit berembun , karpet bewarna coklat seperti tanah. Semua barang yang bisa menenangkan dirinya akan di lihat nya lagi dua hari kemudian.


Dan besok paginya , seorang pelayan akan masuk ke kamarnya yang asing , membawa nampan berisi teh dan meletakannya di atas meja. Menarik tirai jendela agar cahaya matahari bisa masuk. Melipat dan membereskan pakaian tidur Natasha. Hal hal itu membuat Natasha merasa tidak enak. Dia akan berbaring saja di ranjangnya dan membiarkan hal itu terjadi.


Dan untuk memghibur dirinya sendiri dia akan berkata dalam hati


"Tinggal satu hari lagi. "


Natasha memang tidak pernah merasa memilki masa remaja yang menyenangkan di sekolah. Ia selalu merasa tidak percaya diri , murung dan selalu berusaha menghindari teman temanya.


Di rumah baginya jauh lebih menyenangkan. Tapi kadang juga terasa menyedihkan karen adanya saudara saudara nya Natasha. Komentar komentar buruk pun sering di lontarkan oleh para saudaranya. Karena saudaranya jauh lebih cekatan dan lebih pintar dari nya.


Mereka akan berkata " Ayo cepat kerjakan Natasha." Atau " Kenapa kau begitu lambat seperti kedelai saja."


"Sudahlah lupakan saja Natasha dia memang tidak bisa di harapkan."


Mereka tidak menyadari kata kata seperti itulah yang makin membuat dia menjadi lambat , makin bodoh dan kaku. Serta makin bertambah bingung.


Hingga suatu hari tiba tiba dia mendapatkan sesuatu. Dia mendapatkan sebuah jalan keluar. Ia menjadi makin bodoh dan lambat. Dan jika mereka berkata


"Aduh kenapa kau masih begitu bodoh dan tidak mengerti. "