
Mrs White lebih baik dari mereka semua. Dia ingat sabtu lalu merupakan hari sial baginya. Pengobatan Mrs White yang semula lancar tiba tiba memburuk. Tekanan darah nya naik , napas nya sesak. Mrs White terbaring dengan lemah sambil tersenyum mengejek padanya.
"Anda menganggap saya kelinci percobaan kah. Anda membuat saya mencoba obat obatan itu."
"Maaf Mrs White, kami hanya berusaha menyembuhkan penyakit anda."
"Maksud anda mencoba kemampuan anda?"
Tiba tiba wanita tua itu tersenyum.
"Boleh saja. Silahkan lanjutkan dokter. Saya yakin bahwa harus ada seseorang juga yang mencobanya untuk pertama kalinya. Waktu saya masih muda , saya meminta untuk di buatkan tato. Tidak begitu susah , yah rasanya aneh. Tapi anda bisa melakukan percobaan lagi ke pada saya. Saya kuat."
"Anda merasa sesak napas ?"
Ia memegang lengan kurus wanita tua itu. Dan memberiksn suntikan penenang pada wanita yang mulai tersengah sengal itu.
"Ya benar. Aku merasa kesulitan bernapas. Hasilnya tidak seperti yang di harapkan bukan. "
Peter berkata dengan suara tercekat
"Anda hebat sekali."
"Saya ingin sembuh dokter. Kakek saya meninggal umur 98 tahun. Ayah saya meninggal umur 90 tahun. Kami sekeluarga berumur panjang. "
Akhirnya Peter meninggalkan kamar rawat waita tua itu. Padahal dia sudah yakin bahwa obat itu pasti berhasil. Di mana kesalahannya ? Kenapa malah memperparah kondisinya ?
Mungkin ia terlalu percaya diri. Yakin kepada kembali nya bahwa dia pasti berhasil. Tapi hasilnya malah sebaliknya.
Lalu saat sedang duduk termenung di kantin rumah sakit St Carolina. Dia merasa sangat bosan sekali. Juga kesal dan jengkel dengan pekerjaannya di rumah sakit. Lalu tiba tiba ia teringat pada Graciela.
Bukan sifat nya yg di ingat nya. Tapi kecantikan nya , bibir merah dan seksi. Kulit putih mulus dan bening . Semangat hidup nya yang meletus letus seperti kobaran api. Juga wangi tubuh nya.
Dan dia langsung menuju rumah Graciela. Dia menelpon singkat ke rumah nya. Mengabari istri nya bahwa dia harus meeting di luar. Ia langsung melajukan mobilnya menuju apartemen Graciela sekaligun studionya. Dia langsung membuka pintu tanpa menekan bel. Ia memeluknya dengan erat , satu hal tidak pernah mereka lakukan selama berhubungan.
Graciela terkejut dia segera melepaskan pelukan Peter lalu membuat kan nya secangkir kopi. Sambil berjalan jalan di apartemen nya Graciela bertanya pada Peter. Di tanyakanya apakah Peter dari rumah sakit ke sini ?
Sesungguhnya Peter tidak ingin membicarakan tentang rumah sakit. Dia sudah muak. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Graciela dan melupakan segala sesuatu tentang rumah sakit.
Akhirnya di jawab pertanyaan pertanyaan Graciela di ceritakannya tentang pengobatan yang gagal. Semangat hidup Mrs White yang sangat luar biasa. Kemudian sambil bersemangat di kemukakan teori teori nya dan penjelasan teknis lainnya.
"Begini kita harus mendapatkan hasilnya."
Graciela dengan cepat memotong nya.
"Ya aku tahu hasilnya harus positif. Teruskan."
"Bagaimana kau tahu hasilnya harus positif?" Tanya Peter
"Aku pernah membaca nya di buku ...."
"Buku apa ?"
Graciela mengeluarkan buku tersebut dari lemarinya. Peter keliatan sebal.
Graciela berkata dengan cepat
"Aku hanya membaca untuk melihat istilah istilah yang sering kamu gunakan. Jadi aku tak akan menyuruh mu menjelaskan segalanya pada ku. Teruskan lah."
"Baiklah. Asal kau ingat saja kalau karangan Armstrong kurang bagus. Dia tidak begitu paham."
Is akhirnya menghabiskan waktu selama satu jam menceritakan kemungkinan kemungkinan teori obat. Hasil analisa menurut dia. Bahkan dia pun hampir saja melupakan bahwa Graciela ada di sana.
Kini kepercayaan diri Peter sudah pulih. Teori nya sudah benar. Tinggal eksekusi nya saja. Dia hanya perlu mengetes beberapa untuk mencegah gejala nya.
Setelah menghabiskan waktu selama satu jam tiba tiba ia merasa dirinya lelah letih. Ia akan melanjutkan nya besok , ia akan menelpon Bob. Meminta dia untuk menyiapkan obat obat tersebut. Menganalisa nya di lab dan mencampurkan nya.
Di hempaskan tubuhnya di tempat tidur. Ia tidur seperti orang mati.
Waktu ia terbangun jam sudah menunjukan waktu pukul tujuh pagi. Matahari pagi masuk melalui jendela apartemen Graciela. Dia tersenyum melihat Graciela sedang menyiapkan teh untuknya.
"Sama sekali tidak sesuai seperti rencana semula."
"Maksudnya?"
"Kalau berminat pada hal itu. Aku bisa meminjamkan material yang bagus "
"Maaf tapi tidak terima kasih. Aku tidak tertarik pada hal itu."
"Kau jangan lah membaca karya Armstrong lagi. Dia itu penipu."
Graciela tertawa terbahak bahak. Peter tidak mengerti kenapa Graciela merasa geli.
Tapi justru hal hal seperti itu lah yang membuat dia senang. Seperti sekarang ini Graciela tertawa hanya karen Peter mencela buku karangan Armstrong.
Dia tidak terbiasa dengan itu. Natasha selalu menghadapi nya dengan sikap sangat serius. Karen hanya mementingkan dirinya sendiri. Sedang Graciela dia senang mengejek Peter. Memperhatikan nya , menjaga jarak darinya.
Sedangkan Peter tidak ingin Graciela menjaga jarak darinya. Dia hanya ingin Graciela memikirkan nya. Hanya dia.
"Bukan kah itu yang ku benci dari Natasha " pikirnya dalam hati.
Ia merasa bingung. Sepertinya sekarang ia sedang tidak bisa memikirkan apa yang sebenarnya dia inginkan.
Aku ingin pulang. Kalimat itu terus berputar putar di kepalanya.
Kira kira dua jam lagi dia akan berangkat menuju The Blossom. Meninggalkan keramaian kota London. Meninggalkan wanita wanita penyakitan. Rumah sakit. Obat obatan. Dia akan melihat daun daun berwarna jingga dan merah berguguran di halaman. Bau daun di bakar.
Sialnya kemarin tangan ya terkilir jadi dia tidak bisa menyetir mobil. Terpaksa meminta Graciela yang menyetir mobilnya . Dia menghela napas dengan kasar. Selama ini Natasha tidak pernah bisa mengemudikan mobilnya dengan baik. Setiap kali harus berbelok ke kanan Natasha pasti aelalu melewati nya. Sehingga harus memutar jauh sekali. Atau ketika dia sedang menyetir mobil fokus nya akan teralihkan jika Peter berbicara.
Jadi dia harus berusaha agar tidak mengatakan apa pun kepada Natasha agar dia bisa tetap menyetir dengan baik. Karena berdasarkan pengalamannya mibggu lalu , krtika dia berbicara Natasha langsung gugup dan hampir saja menerobos lampu merah.
Aneh sekali tidak seorang pun yang sanggup mengajarkan cara menyetir yang baik dan benar pada Natasha bahkan Graciela pun tidak .
Pernah suatu ketika dia meminta Graciela mengajari Natasha dengan harapan dia akan bisa. Karena menurutnya Graciela akan lebih sabar menghadapi Natasha ketimbang dirinya yang selalu merasa jengkel.
Peter kadang juga merasa malu karena mudah sekali marah. Kasihan Natasha. Tapi Peter tidak pernah berusaha memperbaikinya. Pernah pada suatu ketika Natasha bertanya pada nya