Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 38


Jalan setapak itu mendaki bukit curam, menuju ke


arah hutan. Sebentar kemudian, mereka tiba di suatu jalan yang lebih lebar di sisi kiri, kemu­dian menyeberangi sisi bukit di atas pohon-pohon maple. Tiba disebuah bangku yang terbuat dari batu, Graciela duduk, Eloise di sampingnya.


Hutan berada di atas dan di belakang mereka, dan di bawah mereka terdapat pohon-pohon maple yang ditanam berdekat­an. Tepat di depan bangku itu ada sebuah jalan setapak yang melingkar, menuju ke bawah.


Eloise memandangi Graciela tanpa berbicara. Wajah­­nya sudah tenang, tak lagi tegang. Wajah itu tampak lebih muda. Poirot jadi bisa membayangkan bagaimana wajah Graciela waktu dia masih remaja.


Akhirnya ia bertanya, ”Apa yang sedang Anda pikirkan, Miss West?”


”Logdewood.”


”Apa itu Logdewood?”


”Logdewood? Itu nama tempat.”


Seperti sambil melamun, Graciela melukiskan Logdewood pada Eloise. Rumah putih yang bagus, dengan cerobong asap yang selalu mengepulkan asap. Pohon mag­nolia yang besar, rerumputan hijau , padang bunga lavender , sungai kecil yang mengalir. Danau yang cukup besar dan kita bisa berenang di sana saat musim panas.


”Itu rumah anda?”


”Sebenarnya bukan. Saya tinggal di Amerika. Ke Logdewood hanya untuk kami semua berlibur di sana. Ryan , Amy, dan saya sendiri. Rumah itu sebenarnya rumah Julia. Milik ayahnya. Setelah ayah Julia meninggal dunia , rumah itu diwarisi oleh Ryan.”


”Tidak oleh Tuan William Cavendish? Bukankah dia yang memiliki gelar bangsawan?”


”Oh, gelar itu gelar kehormatan sebagai pe­jabat,”


Graciela menjelaskan. ”William hanya se­orang sepupu jauh.”


”Dan setelah Ryan Cavendish, siapa yang akan mewarisi rumah itu?”


”Seharusnya anaknya Ryan. Aneh, ya. Saya tak pernah memikirkannya. Bila Ryan tidak menikah...”


Ia diam seben­tar. Wajahnya tampak agak muram. Eloise Hope ingin sekali tahu, apa sebenarnya yang se­dang mengganggu pikirannya.


”Saya rasa,” kata Graciela lambat-lambat, ”akan diwarisi oleh Shawn. Itulah sebabnya...”


”Sebabnya apa?”


”Mengapa Julia mengundangnya kemari. Shawn dan Logdewood?” Ia menggeleng. ”Bagaimanapun juga, keduanya tak cocok.”


Poirot menunjuk ke jalan setapak di hadapan mereka.


”Apakah melalui jalan setapak itu Anda turun ke rumah peristirahatan kemarin, Miss West?”


Graciela merinding.


”Tidak, melalui jalan setapak yang lebih dekat


dengan rumah. Ryan yang turun lewat jalan ini.”


Tiba-tiba Graciela berpaling pada Eloise Hope.


”Harus­kah kita berbicara tentang itu lagi? Saya benci rumah peristirahatan itu. Saya bahkan tak suka The Blossom sekarang. Tempat ini , The Blossom maksud saya. Tempat ini sendiri! Saya sudah melihatnya sebelumnya. Ya , pada hari Sabtu, waktu saya dan Ryan berjalan jalan di punggung bukit. Suatu gambaran dari Logdewood. Itulah kami, kami dari keluarga Cavendish. Kami tak nyata , tidak senyata Peter!”


Ia menoleh pada Eloise Hope ”Alangkah baiknya bila anda mengenalnya, Miss Hope. Kami semua


hanya bayangan bila di­bandingkan dengan Peter. Peter-lah yang benar-benar hidup!”


”Saya tahu itu, bahkan saat melihatnya dalam keadaan sekarat, Miss West.”


”Saya tahu. Orang memang bisa merasakannya. Sekarang Peter sudah meninggal, sedangkan kami yang hanya merupakan bayangan masih hidup. Rasa­nya seperti... sebuah lelucon yang buruk sekali.”


Kemudaan di wajahnya sudah tak tampak lagi.


Bibirnya tampak tegang dan getir karena rasa pedih yang mendadak. Waktu Eloise berbicara, menanyakan sesuatu, sesaat lamanya Graciela tak mendengar apa yang ditanyakan itu.


”Maafkan saya. Apa kata anda, Miss Hope?”


”Saya bertanya apakah bibi Anda, Julia Cavendish,


menyukai Dr Hamilton?”


”Julia? Dia sepupu saya, bukan bibi. Ya, dia suka


sekali pada Peter.”


”Dan Tuan Ryan Cavendish, sepupu anda ju­gakah


dia? Sukakah dia pada Dr Hamilton?”


menurut Eloise. ”Tidak begitu suka, tapi boleh dikatakan dia tak kenal pada Peter.”


”Lalu Shawn Cavendish , juga sepupu anda? Bagaimana dia?”


Graciela tersenyum.


”Saya rasa Shawn membenci kami semua. Dia menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di perpustakaan, membaca buku buku pengetahuan.”


”Oh, seseorang yang bertemperamen serius.”


”Kasihan Shawn. Dia telah mengalami kehidupan


keluarga yang sangat sulit. Ibunya agak terganggu jiwa­nya kare­na ayahnya berselingkuh dan kabur dari rumah , itu yang saya dengar. Kini satu satunya caranya un­tuk melindungi diri adalah dengan mencoba me­rasa dirinya lebih pandai daripada semua orang. Bila hal itu berhasil, keadaannya akan baik baik saja. Tapi kadang kadang sikap itu runtuh, maka akan muncullah Shawn yang mudah tersinggung dan pemarah.”


”Apakah dia juga merasa dirinya lebih superior


daripada Dr Hamilton?”


”Entahlah mungkin dia mencoba... tapi saya rasa dia tak berhasil. Saya rasa Shawn ingin menjadi orang seperti Peter Hamilton, dan akibatnya dia tak suka pada Peter.”


Eloise Hope mengangguk sambil merenung.


”Ya , keyakinan diri, harga diri, kejantanan ­semua itu adalah sifat laki-laki sejati. Menarik... menarik sekali.”


Henrietta tidak menjawab. Dari celah celah pohon-pohon, Eloise Hope memandang ke bawah, ke rumah peristirahatan. Di sana dilihatnya seorang pria sedang membungkuk, mencari sesuatu,


atau begitulah kelihatannya.


”Ada apa, ya?” gumamnya.


”Apa?”


”Itu salah seorang anak buah Inspektur Larkspur,” kata Eloise. ”Kelihatannya dia sedang mencari


se­suatu.”


”Mencari petunjuk, barangkali. Bukan­kah polisi harus mencari petunjuk? Entah itu abu rokok, bekas jejak kaki, atau batang korek api yang su­dah


terbakar?”


Suaranya mengandung semacam ejekan getir. Eloise menjawab dengan serius, ”Ya, mereka


me­mang mencari barang barang semacam itu, dan kadang kadang mereka menemukannya. Tapi


pe­tunjuk yang sebenarnya dalam perkara seperti ini, Miss West, biasanya terletak pada hubungan pribadi dari orang orang yang saling berhubungan.”


”Saya tak mengerti.”


”Hal-hal kecil,” kata Eloise Hope sambil mendongak­kan kepala.


”Bukan abu rokok atau bekas telapak sepatu karet, tapi suatu gerakan tubuh yang kecil, suatu


pan­dangan, perbuatan yang tak diduga...”


Graciela memalingkan kepala dengan men­dadak


untuk melihat padanya. Eloise merasakan pandangan itu tapi ia tidak menoleh.


"Apakah ada sesuatu yang... khusus... yang ada dalam pikiran anda saat ini?” tanya Graciela.


”Saya teringat bagaimana anda melangkah maju dan mengambil pistol tersebut dari tangan Nyonya Hamilton lalu menjatuhkan tanpa sengaja seperti kata anda ke dalam kolam ikan.”


Eloise merasakan keterkejutan Graciela. Tapi suara


Graciela tetap normal dan tenang waktu ia berkata,


”Natasha adalah orang yang canggung dan seseorangyang mudah gugup, Miss Hope. Dalam keadaan terkejut, dan jika seandainya di dalam pistol itu masih ada pelurunya, bisa saja dia menembakkannya, dan... dan melukai seseorang.”


”Tapi anda yang canggung dan gugup, dan menjatuhkannya ke dalam kolam ikan itu, bukan?”


”Ya, saya juga sedang terkejut pada waktu itu.” Ia berhenti sebentar. ”Apa maksud anda sebenarnya, Miss Hope?”


Eloise Hope menegakkan duduknya, memalingkan ke­pala,lalu berbicara dengan tegas dan jelas.


”Seandainya ada sidik jari pada pistol itu, maksud


saya sidik jari yang terdapat di situ se­belum Nyonya Hamilton memegangnya, menarik se­kali untuk mengetahui sidik jari siapa pun itu. Sayangnya itu takkan bisa kita ketahui lagi sekarang.”