Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 55


Eloise tersentak sedikit.


”Ikan kata anda?”


”Seekor ikan. Kalaupun itu bisa disebut ikan! Kalau


orang ingin membuat patung ikan, mengapa dia tidak melihat ikan dulu!”


”Seekor ikan,” ulang Eloise.


Larkspur menoleh.


”Apa yang membuat anda begitu tertarik, Miss Hope? Saya tak mengerti.”


”Asosiasi, sesuatu yang berhubungan dengan psikologi.”


”Asosiasi antara kata kata maksud anda? Seperti kuda dengan gerobak? Kuda goyang mainan anak anak? Tidak, saya tak mengerti. Pokoknya,


satu dua hari ke­mudian, Miss West ber­kemas dan akan datang ke­mari. Tahukah anda?”


”Ya, saya sudah bercakap cakap dengannya, dan saya sudah me­lihatnya berjalan jalan di hutan.”


”Ya, dia tampak gelisah sekali. Yah, soalnya dia


me­mang punya hubungan gelap dengan dokter itu, dan ucapan ‘Henrietta’ waktu Hamilton akan


me­ninggal itu boleh dikatakan suatu dakwaan. Tapi itu pun belum bisa dipasti­kan, Miss Hope.”


”Tidak,” kata Eloise merenung, ”memang belum


pasti.” Dengan berat Larkspur berkata, ”Ada sesuatu dalam suasana di sini. Kami jadi bingung! Kelihatannya seolah olah mereka semua tahu sesuatu. Nyonya Cavendish umpamanya, dia tak pernah bisa memberikan alasan yang cukup baik mengapa dia membawa sebuah revolver keluar


hari itu. Gila gilaan berbuat begitu. Kadang kadang saya pikir dia memang gila.”


Eloise Hope menggelengkan kepalanya perlahan lahan.


”Tidak,” katanya, ”dia tidak gila.”


”Lalu ada pula Ryan Cavendish. Saya pikir saya


bisa melibatkan dia. Nyonya Cavendish berkata... tidak, dia hanya mengisyaratkan, bahwa Ryan Cavendish sudah ber­tahuntahun mencintai Miss West. Nah, itu meru­pakan motif yang sangat memberatkannya. Tapi sekarang saya dengar,


dengan gadis yang seorang lagi yaitu Miss Owen dia akan bertu­nangan. Jadi hancur lagi soal yang mem­­beratkan dia.”


Eloise bergumam menunjukkan pengertiannya.


”Kemudian anak muda yang seorang lagi itu,” kata


Inspektur Larkspur lagi. ”Nyonya Cavendish telah men­ceritakan sesuatu tentang dia. Agaknya ibunya me­ninggal di sebuah rumah sakit jiwa, gara gara kelainan jiwa. Dia merasa dikejar kejar oleh seseorang. Pikirnya semua orang berkomplot akan mem­bunuh­nya. Nah, anda mengerti apa artinya itu. Bila anak muda itu me­warisi jiwa tak waras itu, mungkin dia jadi punya gagasan gagasan mengenai Dr Hamilton. Mungkin saja dibayangkannya dokter itu berencana untuk menyatakan dirinya adalah orang gila. Meskipun Hamilton bukan dokter di bidang itu. Bidangnya adalah serangan saraf pada saluran makanan dan penyakit tentang super... super apa­lah yang langka. Tapi bila anak itu agak terganggu sarafnya, mungkin dibayangkannya Hamilton berada di sini untuk meng­adakan obser­vasi atas dirinya. Anak muda itu bersikap­ aneh. Dia gugup se­perti kucing.”


Beberapa lama Larkspur duduk dengan tak se­nang.


”Mengertikah anda maksud saya? Semua


meru­pakan tuduhan samar yang tidak memberikan kepastian apa apa.”


Eloise bergerak lagi. Ia bergumam dengan suara halus.


”Semua menjauh, bukan mendekat. Dari, bukan ke. Tidak berada di suatu tempat, bukan di suatu tempat. Ya, tentu, pasti itu.”


Larkspur memandanginya lekat lekat. Katanya, ”Mereka semua aneh, seluruh keluarga Cavendish itu maksud saya. Kadang kadang saya berani bersumpah bahwa mereka semua tahu tentang hal itu!”


”Pasti mereka tahu,” kata Eloise dengan tenang.


”Maksud anda mereka tahu, semua tahu si­apa yang melakukannya?” tanya Inspektur Larkspur dengan rasa tak percaya.


”Ya, mereka tahu. Sudah beberapa lama saya beranggapan begitu. Sekarang saya yakin betul.”


”Oh, begitu.” Wajah Inspektur Larkspur tampak kecut. ”Dan mereka menyembunyikan hal itu? Yah, saya masih bisa mengalahkan mereka. Saya akan me­nemukan pistol itu itu.”


Seingat Poirot, sudah berulang kali kata kata itu diucapkan oleh Inspektur.


Dengan rasa geram Grange berkata lagi, ”Saya mau


mengorbankan apa saja untuk membalas den­dam saya pada mereka.”


”Dengan...”


”Pada mereka semua! Berani beraninya mereka


menga­caukan saya! Memberikan saran saran! Menyindir­ nyindir! Membantu anak buah saya membantu kata mereka! Semua hanya merupakan suatu jaringan rumit yang tak ada apa apanya. Padahal yang saya inginkan adalah suatu


kenyataan yang baik dan kuat!”


Sudah beberapa lama Eloise Hope berdiri di jendela dan memandang ke luar. Matanya ter­tarik oleh sesuatu yang mengganggu keserasian kebunnya.


Lalu ia berkata, ”Anda ingin kenyataan yang kuat?


, kalau saya tidak keliru benar, ada kenyataan kuat di pagar hidup di dekat pintu pagar itu.”


Mereka pergi ke jalan setapak di kebun. Larkspur berlutut, memisah misahkan ranting ranting kering yang berserakan, hingga ia dapat melihat dengan baik barang yang tersem­bunyi di celah celahnya. Ia mendesah dalam dalam ketika sesuatu yang


hitam dan terbuat dari baja tersembul.


”Memang sebuah pistol,” katanya.


Sesaat lamanya ia menatap Eloise Hope dengan ragu.


”Tidak, tidak, Inspektur. ” kata Eloise. ”Bukan saya yang menembak Dr. Hamilton, dan saya tidak


me­nyembunyikan pistol itu dalam pagar hidup


pe­karangan saya sendiri.”


”Tentu tidak, Miss Hope! Maaf! Yah, kita sudah menemukannya. Kelihatannya seperti yang hilang di ruang kemerja Tuan William Cavendish. Hal itu bisa kita pas­tikan segera setelah kita mendapatkan nomornya. Lalu akan kita lihat apakah pistol ini juga yang telah dipakai untuk me­nembak Hamilton. Sekarang semuanya menjadi mudah.”


Dengan sangat berhati hati sekali dan dengan meng­gunakan sehelai saputangan sutra, Inspektur Larkspur menge­luarkan pistol itu dari pagar hidup.


”Untuk mempermudah penyelidikan, kita


me­merlukan sidik jari. Saya punya perasaan bahwa nasib kita membaik.”


”Tolong beri kabar pada saya Inspektur.”


”Tentu, Miss Hope. Akan saya telepon anda jika hasilnya sudah keluar.”


Dua kali Eloise Hope menerima telepon. Yang


per­tama diterimanya malam itu juga. Inspektur Larkspur kede­ngarannya senang sekali.


”Anda-kah itu, Miss Hope? Nah, ini laporannya. Itu


memang pistol yang kita cari. Pistol yang hilang


dari koleksi Tuan William Cavendish dan pistol yang telah digunakan untuk menembak Peter Hamilton! Itu sudah pasti. Banyak sidik jari di situ. Kelihatannya lebih mirip ukuran pria daripada wanita. Besok saya akan pergi ke The Blossom untuk mengungkapkan pikiran saya ten­tang mereka, dan untuk mengambil sidik jari semua orang disitu. Setelah itu, Miss Hope kita akan mendapat kepastian!”


”Mudah mudahan saja,” kata Eloise Hope dengan so­pan.


Telepon kedua diterimanya besok harinya, dan suara yang berbicara tidak lagi gembira. Dengan nada murung yang tidak disembunyikan, Larkspur berkata, ”Inginkah anda mendengar berita ter­akhir? Sidik jari itu bukan milik siapa siapa yang berhubungan dengan perkara itu! Bukan! Bukan sidik jari Ryan Cavendish, bukan pula milik Shawn Cavendish, bukan pula Tuan William Cavendish. Bukan juga sidik jari Natasha Hamilton, bukan pula milik Graciela West, bukan sidik jari Karen Clark kita, bukan pula milik Nyonya Julia Cavendish, bukan juga Amy Owen,  gadis berambut coklat itu! Bahkan juga bu­kan sidik sidik jari para pelayan dapur , apalagi salah se­orang yang lain!”