Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 46


”Tak perlu, sayang. Seperti kaulihat, segala galanya


berjalan dengan baik. Peter telah dising­kirkan tanpa kita harus berbuat apa apa. Aku jadi ingat,” kata Julia Cavendish mengenang, ”akan laki laki di Jerman yang sangat kasar sekali padaku. Dia digilas kereta api , lima hari kemudian.”


Dibukanya pintu, lalu ia keluar ke kebun. William Cavendish duduk saja, sambil memperhatikan sosok Julia yang tinggi dan ramping berjalan ke arah jalan setapak. William Cavendish tampak tua dan letih, dan wajahnya adalah wajah seorang pria yang selalu hidup dalam ketakutan.


Di dapur, Gladys Collins yang sedang berurai air ma­ta tampak menyedihkan sedang mendengarkan teguran keras dari Mr. Morris. Mrs. Richmod dan Miss Lorez ikut ikutan memarahinya.


”Apa apaan kau ini , berani tampil dan mengambil kesim­­pulan sendiri. Padahal kau tak ada pengalam­an apa apa.”


”Benar,” kata Mrs. Richmod.


”Kalau kau melihatku memegang pistol, yang sepantasnya kaulakukan adalah datang padaku dan berkata, ‘Mr. Morris, maukah Anda memberikan penjelasan pada saya?’”


”Atau kau bisa datang padaku,” sela Mrs. Richmod.


”Aku selalu bersedia memberitahu seorang gadis yang belum mengenal dunia apa yang harus dipikirnya.”


”Yang tidak boleh kaulakukan,” kata Morris dengan


galak, ”adalah pergi untuk berceloteh pada seorang polisi, apalagi hanya pada seorang sersan! Jangan pernah berhubungan dengan polisi kalau tidak terpaksa. Mereka datang ke rumah ini saja sudah cukup menyusahkan.”


”Bukan main menyusahkan,” gumam Miss Collins.


”Hal seperti itu tak pernah terjadi atas diriku.”


”Kita semua tahu,” lanjut Morris, ”bagaimana


nyonya kita itu. Apa pun yang dilakukan beliau, tak ada yang mengherankan aku. Tapi polisi tidak mengenal beliau seperti kita mengenalnya. Dan tak terpikirkan olehku kalau beliau sampai dibuat


su­sah dengan per­tanyaan pertanyaan bodoh dan ke­curigaan kecurigaan, hanya karena dia berjalan kian kemari dengan membawa senjata api. Itu hal yang biasa dilakukannya, tapi polisi hanya memikirkan hal hal yang berhubungan dengan pem­bunuhan dan kejahatan. Majikan kita itu


me­mang linglung, tapi dia takkan mau menyakiti seekor lalat pun. Memang tak dapat dibantah


bah­wa dia suka menaruh barang ba­rang secara


sembarangan. Aku takkan pernah lupa,” tambah Morris dengan penuh perasaan, ”waktu dia membawa pulang se­ekor udang galah hidup hidup. Binatang itu diletakkannya saja di nampan kartu di lorong rumah. Aku sampai mengira penglihatanku salah.”


”Itu pasti terjadi sebelum saya mulai bekerja di sini,


ya?” sela Collins.


Mrs. Richmod mengakhiri pernyataan pernyataan itu dengan melihat pada Gladys yang merasa sangat bersalah.


”Lain kali saja bercerita,” katanya. ”Nah, Gladys, kami ber­bicara padamu demi kebaikanmu sendiri. Adalah rendah kalau kita sampai berhubungan


de­ngan polisi, jangan lupa itu! Sekarang kau bisa meneruskan pekerjaan­­mu membersihkan sayuran. Lebih berhati-hatilah mem­bersihkan sayuran itu,


ja­ngan seperti semalam.”


Gladys menghapus air matanya.


”Ya, Mrs. Richmod,” katanya, lalu berjalan dengan langkah gontai menuju tempat cuci sayuran.


Mrs. Richmod berkata, seolah olah dia sudah bisa meramal­kan apa yang akan terjadi, ”Rasanya aku akan mendapat kesulit­an dalam membuat kue kering hari ini. Panggilan kepolisian yang akan di laksanakan besok begitu menjijikkan sekali. Setiap kali teringat itu, aku merasa ngeri. Bagaimana mungkin hal semacam itu terjadi atas diri kita.”


**********


Selot pintu pagar rumah berbunyi. Eloise Hope melihat ke luar dari jendela ruang tamu, tepat pada saat tamunya sedang berjalan di jalan setapak yang menuju pintu depan rumahnya. Ia segera tahu


siapa tamunya. Ingin sekali ia tahu, apa yang


me­nyebabkan seorang Karen Clark datang


me­ngunjunginya.


Waktu wanita itu masuk, ia membawa serta keharuman parfum yang lembut dan nyaman. Poirot me­ngenali aroma harum itu. Kini Veronica mengena­kan setelan pullover rajut berwarna merah cerah dan sepatu kulit lembut berwarna coklat, seperti yang dikenakan oleh Graciela. Tapi, pikirnya dengan pasti, ia berbeda sekali dengan Graciela.


”Miss Hope,” suara wanita itu menyenangkan dan mende­bar­kan, ”saya baru tahu siapa tetangga saya. Padahal sudah lama sekali saya ingin kenal dengan anda.”


menyalaminya.


”Menyenangkan sekali, Miss Clark.”


Karen menyambut penghormatan itu dengan tersenyum, dan menolak tawaran Eloise untuk


mi­num teh, kopi, atau koktail.


"Tidak, saya hanya datang untuk bercakap cakap saja dengan anda, Miss Hope. Untuk bercakap cakap serius. Saya sedang susah.”


”Anda susah? Kasihan sekali.”


Karen duduk, lalu mendesah.


”Mengenai kematian Peter Hamilton. Panggilan kepolisian nya besok. Anda tahu, bukan?”


”Ya, ya, saya tahu.”


”Dan semuanya kacau sekali....”


Ia mendadak berhenti.


”Kebanyakan orang sebenarnya takkan mau


per­caya. Tapi saya rasa anda mau, karena anda punya pengetahuan tentang sifat sifat manusia.”


”Saya tahu sedikit tentang sifat sifat manusia,” Eloise mengakui.


”Inspektur Larkspur pernah datang menemui saya.


Dikiranya saya bertengkar dengan Peter. Hal itu memang ada benarnya, tapi tidak seperti yang dibayangkannya. Saya katakan padanya bahwa


su­dah tujuh belas tahun saya tidak bertemu dengan Peter, tapi dia sama sekali tak mau percaya. Pada­hal itu benar, Miss Hope.”


”Karena itu benar,” kata Eloise, ”itu bisa dibuk­tikan


dengan mudah, jadi untuk apa susah?”


Karen membalas senyumnya dengan ramah sekali.


”Sebenarnya Miss Hope, saya tak berani untuk


men­ceritakan pada Inspektur apa sebenarnya yang ter­jadi pada malam minggu itu. Keadaannya


benar­ benar luar biasa, hingga dia pasti takkan mau percaya pada saya. Tapi saya merasa harus


menceritakannya pada seseorang. Sebab itu saya datang pada anda.”


”Saya merasa tersanjung,” kata Eloise dengan tenang.


Eloise Hope melihat bahwa Karen Clark menganggap hal itu biasa. Ia seorang wanita yang amat yakin akan pengaruh dirinya atas orang lain, pikir Eloise. De­mikian yakinnya, hingga kadang kadang ia bisa keliru.


”Saya dan Peter sudah bertunangan, tujuh belas tahun yang lalu. Dia sangat mencintai saya, hingga kadang kadang hal itu membuat saya takut. Dia ingin saya berhenti main film, dan mengorbankan selu­ruh kehidupan dan pikiran saya sendiri. Dia terlalu po­se­sif dan ingin menguasai, hingga saya tak tahan. Jadi saya me­mutuskan pertunangan itu. Saya rasa dia ter­pukul sekali dengan keputusan itu.”


Eloise berdecak halus untuk memperlihatkan pengertian­nya.


”Saya tak pernah bertemu dengannya lagi, sam­pai


malam Minggu yang lalu. Dia mengantar saya pulang. Saya katakan pada Inspektur bahwa kami bercakap cakap sebentar tentang masa lalu. Itu memang ada benarnya. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak dari­pada itu."


"Ya?”


”John menjadi gila dia benar benar gila. Dia ingin


meninggalkan istri dan anak anaknya, dan


dimin­tanya saya bercerai dari suami saya, dan menikah dengannya. Katanya dia tak pernah melupakan saya. Katanya begitu diaa melihat saya, waktu se­rasa berhenti...”