
”Tak perlu, sayang. Seperti kaulihat, segala galanya
berjalan dengan baik. Peter telah disingkirkan tanpa kita harus berbuat apa apa. Aku jadi ingat,” kata Julia Cavendish mengenang, ”akan laki laki di Jerman yang sangat kasar sekali padaku. Dia digilas kereta api , lima hari kemudian.”
Dibukanya pintu, lalu ia keluar ke kebun. William Cavendish duduk saja, sambil memperhatikan sosok Julia yang tinggi dan ramping berjalan ke arah jalan setapak. William Cavendish tampak tua dan letih, dan wajahnya adalah wajah seorang pria yang selalu hidup dalam ketakutan.
Di dapur, Gladys Collins yang sedang berurai air mata tampak menyedihkan sedang mendengarkan teguran keras dari Mr. Morris. Mrs. Richmod dan Miss Lorez ikut ikutan memarahinya.
”Apa apaan kau ini , berani tampil dan mengambil kesimpulan sendiri. Padahal kau tak ada pengalaman apa apa.”
”Benar,” kata Mrs. Richmod.
”Kalau kau melihatku memegang pistol, yang sepantasnya kaulakukan adalah datang padaku dan berkata, ‘Mr. Morris, maukah Anda memberikan penjelasan pada saya?’”
”Atau kau bisa datang padaku,” sela Mrs. Richmod.
”Aku selalu bersedia memberitahu seorang gadis yang belum mengenal dunia apa yang harus dipikirnya.”
”Yang tidak boleh kaulakukan,” kata Morris dengan
galak, ”adalah pergi untuk berceloteh pada seorang polisi, apalagi hanya pada seorang sersan! Jangan pernah berhubungan dengan polisi kalau tidak terpaksa. Mereka datang ke rumah ini saja sudah cukup menyusahkan.”
”Bukan main menyusahkan,” gumam Miss Collins.
”Hal seperti itu tak pernah terjadi atas diriku.”
”Kita semua tahu,” lanjut Morris, ”bagaimana
nyonya kita itu. Apa pun yang dilakukan beliau, tak ada yang mengherankan aku. Tapi polisi tidak mengenal beliau seperti kita mengenalnya. Dan tak terpikirkan olehku kalau beliau sampai dibuat
susah dengan pertanyaan pertanyaan bodoh dan kecurigaan kecurigaan, hanya karena dia berjalan kian kemari dengan membawa senjata api. Itu hal yang biasa dilakukannya, tapi polisi hanya memikirkan hal hal yang berhubungan dengan pembunuhan dan kejahatan. Majikan kita itu
memang linglung, tapi dia takkan mau menyakiti seekor lalat pun. Memang tak dapat dibantah
bahwa dia suka menaruh barang barang secara
sembarangan. Aku takkan pernah lupa,” tambah Morris dengan penuh perasaan, ”waktu dia membawa pulang seekor udang galah hidup hidup. Binatang itu diletakkannya saja di nampan kartu di lorong rumah. Aku sampai mengira penglihatanku salah.”
”Itu pasti terjadi sebelum saya mulai bekerja di sini,
ya?” sela Collins.
Mrs. Richmod mengakhiri pernyataan pernyataan itu dengan melihat pada Gladys yang merasa sangat bersalah.
”Lain kali saja bercerita,” katanya. ”Nah, Gladys, kami berbicara padamu demi kebaikanmu sendiri. Adalah rendah kalau kita sampai berhubungan
dengan polisi, jangan lupa itu! Sekarang kau bisa meneruskan pekerjaanmu membersihkan sayuran. Lebih berhati-hatilah membersihkan sayuran itu,
jangan seperti semalam.”
Gladys menghapus air matanya.
”Ya, Mrs. Richmod,” katanya, lalu berjalan dengan langkah gontai menuju tempat cuci sayuran.
Mrs. Richmod berkata, seolah olah dia sudah bisa meramalkan apa yang akan terjadi, ”Rasanya aku akan mendapat kesulitan dalam membuat kue kering hari ini. Panggilan kepolisian yang akan di laksanakan besok begitu menjijikkan sekali. Setiap kali teringat itu, aku merasa ngeri. Bagaimana mungkin hal semacam itu terjadi atas diri kita.”
**********
Selot pintu pagar rumah berbunyi. Eloise Hope melihat ke luar dari jendela ruang tamu, tepat pada saat tamunya sedang berjalan di jalan setapak yang menuju pintu depan rumahnya. Ia segera tahu
siapa tamunya. Ingin sekali ia tahu, apa yang
menyebabkan seorang Karen Clark datang
mengunjunginya.
Waktu wanita itu masuk, ia membawa serta keharuman parfum yang lembut dan nyaman. Poirot mengenali aroma harum itu. Kini Veronica mengenakan setelan pullover rajut berwarna merah cerah dan sepatu kulit lembut berwarna coklat, seperti yang dikenakan oleh Graciela. Tapi, pikirnya dengan pasti, ia berbeda sekali dengan Graciela.
”Miss Hope,” suara wanita itu menyenangkan dan mendebarkan, ”saya baru tahu siapa tetangga saya. Padahal sudah lama sekali saya ingin kenal dengan anda.”
menyalaminya.
”Menyenangkan sekali, Miss Clark.”
Karen menyambut penghormatan itu dengan tersenyum, dan menolak tawaran Eloise untuk
minum teh, kopi, atau koktail.
"Tidak, saya hanya datang untuk bercakap cakap saja dengan anda, Miss Hope. Untuk bercakap cakap serius. Saya sedang susah.”
”Anda susah? Kasihan sekali.”
Karen duduk, lalu mendesah.
”Mengenai kematian Peter Hamilton. Panggilan kepolisian nya besok. Anda tahu, bukan?”
”Ya, ya, saya tahu.”
”Dan semuanya kacau sekali....”
Ia mendadak berhenti.
”Kebanyakan orang sebenarnya takkan mau
percaya. Tapi saya rasa anda mau, karena anda punya pengetahuan tentang sifat sifat manusia.”
”Saya tahu sedikit tentang sifat sifat manusia,” Eloise mengakui.
”Inspektur Larkspur pernah datang menemui saya.
Dikiranya saya bertengkar dengan Peter. Hal itu memang ada benarnya, tapi tidak seperti yang dibayangkannya. Saya katakan padanya bahwa
sudah tujuh belas tahun saya tidak bertemu dengan Peter, tapi dia sama sekali tak mau percaya. Padahal itu benar, Miss Hope.”
”Karena itu benar,” kata Eloise, ”itu bisa dibuktikan
dengan mudah, jadi untuk apa susah?”
Karen membalas senyumnya dengan ramah sekali.
”Sebenarnya Miss Hope, saya tak berani untuk
menceritakan pada Inspektur apa sebenarnya yang terjadi pada malam minggu itu. Keadaannya
benar benar luar biasa, hingga dia pasti takkan mau percaya pada saya. Tapi saya merasa harus
menceritakannya pada seseorang. Sebab itu saya datang pada anda.”
”Saya merasa tersanjung,” kata Eloise dengan tenang.
Eloise Hope melihat bahwa Karen Clark menganggap hal itu biasa. Ia seorang wanita yang amat yakin akan pengaruh dirinya atas orang lain, pikir Eloise. Demikian yakinnya, hingga kadang kadang ia bisa keliru.
”Saya dan Peter sudah bertunangan, tujuh belas tahun yang lalu. Dia sangat mencintai saya, hingga kadang kadang hal itu membuat saya takut. Dia ingin saya berhenti main film, dan mengorbankan seluruh kehidupan dan pikiran saya sendiri. Dia terlalu posesif dan ingin menguasai, hingga saya tak tahan. Jadi saya memutuskan pertunangan itu. Saya rasa dia terpukul sekali dengan keputusan itu.”
Eloise berdecak halus untuk memperlihatkan pengertiannya.
”Saya tak pernah bertemu dengannya lagi, sampai
malam Minggu yang lalu. Dia mengantar saya pulang. Saya katakan pada Inspektur bahwa kami bercakap cakap sebentar tentang masa lalu. Itu memang ada benarnya. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak daripada itu."
"Ya?”
”John menjadi gila dia benar benar gila. Dia ingin
meninggalkan istri dan anak anaknya, dan
dimintanya saya bercerai dari suami saya, dan menikah dengannya. Katanya dia tak pernah melupakan saya. Katanya begitu diaa melihat saya, waktu serasa berhenti...”