
Graciela bisa melihat dengan jelas bahwa Natasha membenci pertemuan akhir pekan ini. Dia berkata
"Kalau kau begitu benci pada pertemuan ini kenapa kau ikut kemari ?"
Natasha agak terkejut dengan perkataan Graciela. Dia menjawab
"Sebenarnya aku tidak begitu membenci pertemuan akhir pekan ini. Kenapa kau berpikir seperti itu Graciela?"
Graciela hanya diam. Tapi tatapan nya membuat Natasha makin merasa tak enak. Dia melanjutkan
"Kau tahu kata Peter sesekali pergi berlibur ke daerah pedesaan baik untukku. Dan juga Nyonya Cavendish sangat baik sekali kepada ku."
"Julia ? Kenapa menurut mu dia baik?"
Natasha tampak sedikit terkejut dengan pernyataan Graciela. Dia menjawab
"Oh Nyonya Cavendish selalu baik kepada ku. Dia selalu bersikap ramah sekali."
Graciela berkata
"Memang Julia memiliki sifat dan tutur bahasa yang halus. Tapi itu tidak menjadikan nya seseorang yang baik hati. Malahan menurut ku dia orang yang sama sekali tidak berperasaan. Dia tidak bisa bersikap secara manusiawi. Kurasa bukan tidak bisa. Dia tidak tahu atau tidak mengerti. Kau sendiri tidak menyukai Julia Natasha. Kau tahu itu. Jadi kenapa kau tetap ikut ke sini. Padahal aku tahu kau sangat membenci hal ini.
"Kurasa karena ini baik untuk Peter. Setiap kami pulang dari sini sikap kesal dan jengkel nya berkurang."
"Peter memang suka datang ke sini. Tapi kau bisa memintanya ke sini seorang diri. Kenapa kau mempersulit hidupmu sendiri Natasha?"
Natasha menghela napas. Dia berkata
"Peter tidak akan mau. Dia selalu memikirkan diriku. Dia tidak ingin aku sendirian saja di London sementara dia bersenang senang di sini. Dia juga berpikir bahwa daerah pedesaan seperti ini akan bagus untuk ku."
Graciela merasa kasihan kepada Natasha. Dia berkata
"Memang benar sesekali berpergian ke daerah pedesaan baik untuk kesehatan. Tapi kurasa tak perlu ke rumah keluarga Cavendish. Banyak tempat lain yang bisa di datangi "
"Aku ...aku .."
Natasha tidak bisa berkata apa lagi. Dia bingung.
"Natasha sayang jika kau tidak menyukai kami kenapa harus berpura pura. Aku tahu pasti kau membenci keluarga Cavendish. Menurut ku juga begitu keluarga kami memang pantas di benci. Kami senang berkumpul dan berbincang bincang dengan bahasa yang aneh. Julia malah kadang suka berbicara yang tidak jelas. "
Mereka diam sejenak sambil melihat matahari tenggelam. Graciela bangkit dan berkata
"Ayo kita kembali ke rumah. "
Graciela memperhatikan wajah Natasha. Wajah putih pucat dengan sorot mata yang pasrh. Seperti seorang martir yang menanggung penderitaan hanya demi kebahagiaan manusia.
"Wajah yang bagus. Akan ku lukisan perasaan itu." Pikir Graciela.
Mereka berjalan melewati rumah kaca. Kebun bumbu dapur dan taman bunga. Telinga mereka menangkap suara suara tembakan.
Graciela berkata dengan penuh semangat
"Seperti nya terjadi pembunuhan. "
Ketika mereka berdua tiba di tempat suara itu. Ternyata William Cavendish dan Ryan Cavendish sedang bercakap cakap tentang pistol. Sambil sesekali menembak kan pistol tersebut dengan peluru kosong. Selain profesi nya yang sebagai mantan Komisaris kepolisian. Dia juga menyukai senjata api. Dia memiliki koleksi mulai dari senapan berburu hingga pistol biasa lengkap dengan peluru nya.
Ketika dia melihat Graciela dan Natasha datang dia menyapa mereka.
"Halo kalian berdua. Apakah kalian ingin mencoba nya juga?"
"Baiklah. "
Sambil memberikan sevuah pistol pada Graciela. William mengajari cara menggunakan nya.
"Arahkan pistol nya. Kemudian sesuai kan dan bidik."
Dor. Dor. Dor.
Graciela menembak hingga tiga kali tapi sayang nya semua meleset.
"Sayang sekali . Tidak kena ."kata William
"Bagaimana jika kau juga mencobanya Natasha?"
Natashs merasa ragu dan menolak nya
"Kurasa aku tidak akan bisa."
"Tidak apa apa. Coba saja dulu. Ini tidak sulit."
Natash mencobanya. Tapi sayang nya juga tidak tepat sasaran. Malahan peluru nya lebih jauh dari pada milik Graciela.
Tiba tiba Amy muncul dari belakang. Dia berkata
"Aku juga ingin mencobanya. "
Ryan menyerahkan pistol kepadanya. Dan dia mulai mencoba menembak beberapa kali. Tapi sama saja semua tembakan nya juga meleset dari target.
"Aduh susah sekali ternyata." Kata Amy setelah menembak beberapa kali.
Julia masuk ke tempat mereka sedang menembak. Di belakang nya ada seorang pemuda berperawakan sedang dengan muka serius dan kesal.
"Kenalkan ini Shawn." Julia memperkenalkan pemuda itu.
Ketika mereka menyambut Shawn. Julia Cavendish mengambil pistol yang diletakan Amy di meja . Lalu di tembaknya sebanyak tiga kali. Dan semuanya tepat sasaran.
Sambil berdecak kagus Amy berkata
"Wah aku tahu kau pandai menembak Julia. Semuanya tepat sasaran. "
Julia hanya tersenyum saja.
Suaminya William Cavendish menanggapi.
"Julia memang sangat andai menembak. Dia selalu tepat sasaran. Ingatkah kau sayang saat aku bertugas di Rusia dulu. Pada saat itu terjadi pemberontakan di mana mana. Para demonstran membawa senjata api dan menembak sembarangan. Banyak warga sipil dan petugas kepolisian tertembak. "
"Dan apa yang Julia lakukan William. "
"Julia menembak dua orang demonstran yang mau menembak seorang anak kecil. Dia mengambil pistol milik ku dan menembak tangan demonstran itu. Aku bahkan tidak tahu dia bisa mengambil pistol ku secepat itu. Untung saja Julia tidak menembak anak kecil itu."
Julia Cavendish tersenyum menatap suami nya.
"Itu adalah resiko nya sayang. Jika kau ingin menyelamatkan seseorang kau harus mengambil resiko nya. Dan kau tak boleh terlalu lama berpikir."
"Kau memang hebat sayang ku."
Dengan penuh perasaan di cium nya kening istrinya itu. William Cavendish memang sangat menyayangi istrinya.
********
Mereka masuk untuk minum teh sore hari. Para pelayan sudah menyiapkan segala sesuatu nya. Teh dan berbagai kue kue lezat. Ada kue coklat , tart strawberry , kue kering nanas , macaroon , kue bolu. Semua makan dengan nikmat. Tidak banyak pembicaraan selama minun teh sore itu.
Setelah selesai minum teh Peter berkata pada Graciela.
"Ayo kita berjalan jalan. Kurasa Nyonya Cavendish ingin memperlihatkan tanaman barunya pada Natasha."
Bagi Graciela berjalan jalan dengan Peter sangat berbeda dengan berjalan jalan dengan Ryan. Berjalan jalan dengan Peter berarti dia harus menyamakan langkah dengan Peter agar tidak tertinggal.
Dan ketika mereka sudah sampai di puncak bukit Red Hill. Graciela berkata dengan napas tersengal
"Kenapa kau berjalan seperti berlari? "
Peter menghentikan langkah nya dan membalikan tubuhnya ke belakang. Dia berkata
"Apa kau lelah ?"
"Aku bisa melakukanya. Tapi kita kan sedang berjalan jalan menikmati pemandangan. Untuk apa berjalan cepat seperti mau melarikan diru. "
Kata kata Graciela membuat Perter termenung. Dia berkata
"Kenapa kau berpikir demikian?"
Graciela menatapnya dengan aneh.
"Tidak ada maksud apa apa. Memang nya kenapa ?"