
Ia merasa sangat letih. Akhir akhir ini rasa lelahnya luar biasa dan mengakibatkan rasa jengkel dan kesal nya menjadi jadi. Dia tahu tapi dia tidak mau mengurangi nya.
Kasihan Natasha , pikirnya dalam hati. Seandainya saja Natasha tidak selalu mengalah padanya. Padahal dalam banyak hal Peter lah yang bersalah. Kadang kadang dia ingin Natasha menegur nya atau memarahinya. Haya saja kadang ada saja dari sikap dan tingkah laku Natasha yang selalu membuat hatinya kesal dan jengkel.
Yang paling membuat Peter marah dan muak adalah sifat penyabar Natasha. Kesabaran Natasha untuk selalu mengalah kepadanya. Tidak mementingkan dirinya hanya suaminya saja. Bahkan Natasha tidak pernah menangis atau pun marah ketika Peter membentaknya. Dia bahkan tidak pernah mengatakan apa keinginannya , selalu mengikuti apa mau Peter.
Yah karena itu kau menikahinya bukan , pikir Peter dalam hatinya. Dia memang menyayangi Natasha tapi bukan itu saja sebenarnya sifat sifat menjengkelkan Natasha ingin sekali Peter temukan dalam diri Graciela.
Graciela selalu membuatnya jengkel. Bukan rasa jengkel melainkan amarah yang sangat besar. Mungkin karena Graciela orang nya terlalu jujur. Kejujuran yang sangat menjengkelkan bagi Peter. Pernah sekali Peter berkata pada Graciela.
"Kau merupakan seorang pembohong yang hebat. "
"Mungkin saja. "
"Kau selalu saja mengatakan apa pun yang ingin di dengarkan orang lain. "
"Tidak ada salahnya."
"Bukan kah lebih baik berkata benar."
"Tidak."
"Kalau begitu bisa kah kau melakukan nya padaku sedikit lebih baik?"
"Apakah itu yang kau mau ?"
"Ya."
"Maaf Peter tapi aku tidak bisa."
"Kau tahu apa yang kuinginkan."
Sudahlah toh dia akan bertemu dengan Graciela sore ini. Yang harus dia lakukan sekarang adalah membereskan sisa pekerjaan nya. Tapi tetap saja ia masih duduk di kursi nya. Dia merasa amat lelah, ada sesuatu yang ia inginkan.
Lalu terlintas sebuah pikiran "Aku ingin pulang." Dia tersentak kaget, dari mana dia memikirkannya. Pulang ? Pulang ke mana. Kedua orangtua nya sudah meninggal waktu dia masih kecil. Dia di asuh oleh paman dan bibi nya tapi dia tidak pernah betah di satu tempat , jadi dia selalu berpindah pindah.
Rasanya rumah yang di miliki nya hanya ini. Rumah yang berada di Fear Street. Apakah rumah ini di anggap rumah olehnya. Dia menggelengkan kepalanya., ia tahu ia tidak merasa memilikinya. Tapi apa itu tadi ? Kata kata aku ingin pulang. Apa artinya kata kata itu. Pasti ada sesuatu.
Ia memejamkan matanya. Kemudian ia membayangkan sebuah laut biru ombak berbuih , pasir putih serta pohon pohon palem yang rindang. Matahari yang bersinar terik , suara tawa anak anak berenang di laut. Seseorang berjemur di pantai, bau krim sunblok yang. San Luis.
Sudah berapa tahun dia melupakan San Luis. Semua hanya masa lalu baginya. Ia tidak ingin kembali ke sana. Itu sudah dua puluh tahun yang lalu , dan keputusan yang diambil nya sudah benar. Pada saat itu dia jatuh cinta setengah mati pada Karen.
Karen wanita yang sangat egois, keras kepala , manja dan bisa berkata apa saja yang dia inginkan. Dia tentu saja tidak menyesal mengatakan bahwa Karen adalah wanita yang egois. Karen selalu menginginkan apa yang di inginkan orang lain . Dan dia selalu bisa mendapatkan nya. Hanya satu....
Ya Peter , dia tidak bisa mendapatkan Peter. Dia telah berhasil pergi dari Karen. Yah walaupun bisa di katakan bahwa dia mengkhianati Karen. Tapi dia tidak menyesal. Karena dia ingin hidup dengan cara nya sendiri akan tetapi tentu saja Karen tidak akan membiarkan dirinya melakukan itu.
Karen menginginkan Peter mengikuti cara hidup nya yang serba mewah dan glamor juga penuh skandal. Karen sangat terkejut waktu Peter menolaknya ketika dia mengajak Peter ke Amerika.
Dengan sombong Karen berkata pada Peter.
"Kalau kau ingin mengambil gelar doktor kau bisa mengambilnya di Amerika. Tapi kurasa itu tidak penting dengan penghasilan mu dan diriku sudah lebih dari cukup. "
"Aku menyukai profesiku. Aku akan bekerja dengan Mathew ."
Raut wajah Karen tampak tidak senang.
"Apa bagusnya kau bekerja dengan pria tua busuk itu?"
Peter berseru dengan marah
"Pria tua itu sudah melakukan riset yang sangat luar biasa tentang penyakit "
Dengan kesal Karen memotong ucapan Peter.
"Aku tidak peduli dengan penyakit apa pun. Iklim di San Francisco sangat bagus. Akan tambah menyenangkan apabila kita bisa mengelilingi dunia. Aku menginginkan mu Peter. Aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu. Aku ingin menikmati semuanya denganmu."
Lalu Peter berkata
"Bagaimana kalau kau lupakan saja itu semua? Tinggallah bersamaku di sini dan hidup tenang."
Karen merasa itu hal yang lucu. Dia tetap bertahan pada pendirian nya. Ia akan tetap terbang ke Amerika. Peter harus ikut dengan nya dan menikahinya di sana.
Akhirnya Peter memutuskan bahwa dia tidak bisa bersama dengan Karen lagi. Di kirimkan nya pesan kepada Karen, dia membatalkan pertunangan mereka.
Ia segera kembali ke London dan mulai bekerja bersama Mathew. Setahun kemudian dia bertemu dengan Natasha dan langsung menikahi nya. Terdengar ketukan di pintu nya . Segera dia menjawab
"Masuk."
Munculah sekertaris sekaligus resepsionis nya Nora.
"Maaf dokter ada satu pasien lagi yang ingin di periksa. "
"Baiklah. "
"Saya akan memanggil nya."
Segera Nora berlalu dia keluar melalui pintu di samping. Sudah hampir lima tahun gadis itu bekerja padanya. Tidak pernah terlambat atau pun melakukan kesalahan. Dia tenang sekali dan tidak pernah terburu buru melakukan sesuatu.
Rambut merah, bibir tipis nya , bentuk dagunya semua mencerminkan sikap efisiensi nya. Melalui mata abu abu nya dia selalu mengamati majikan nya dengan cermat.
Peter memang memilih seorang sekertaris yang tidak cantik. Dia menginginkan seorang sekertaris yang cakap dan pandai dalam pekerjaannya. Dan itu sudah di dapatkan nya. Tadi kadang kadang dia merasa kesal karena dalam cerita cerita di novel bahwa seorang sekertaris akan memuja majikannya . Bahkan jatuh cinta dengan majikan nya.
Tapi Peter sadar bahwa dalam diri Nora hal hal seperti cinta atau pemujaan tidak pernah terbersit dalam benaknya. Bisa di katakan itu sama sekali tidak penting baginya. Bahkan Peter ragu apakah Nora pernah tertarik padanya.
Pernah suatu ketika Peter mendengar percakapan Nora dengan teman nya di telepon.
"Tidak. Tentu saja tidak. Aku rasa dia biasa saja." Ucapnya pada temannya.
Tentu saja Peter yakin bahwa yang dimaksud adalah dirinya. Dan dia merasa jengkel hanya karena itu.
Pemujaan Natasha pada dirinya yang tidak terbatas juga membuatnya kesal. Begitu juga dengan kejujuran Graciela juga sama menjengkelkan nya. Sekarang di tambah lagi sikap dingin Nora kepadanya. Rasanya semua menjengkelkan bagi dirinya.