
Wajah Ryan menjadi cerah. Digenggamnya tangan
Amy sebentar.
”Surga di atas piring,” katanya. ”Begitukah
perasaanmu mengenai Logdewood? Aku senang sekali.”
Mereka duduk dengan bahagia. Akhirnya Ryan
membayar harga makanan, dan memberikan tip yang sangat besar kepada pelayan restoran tersebut.
Pengunjung di restoran itu mulai berkurang. Dengan susah payah Amy berkata, ”Kita harus
pergi. Kurasa sebaiknya aku kembali ke toko Tuan Ferguson. Bagaimanapun juga, dia mengharapkan aku. Tak pantas kalau aku pergi begitu saja.”
”Ya, kurasa kau memang harus kembali dan langsung minta berhenti padanya, atau menyampaikan surat pernyataan berhenti, atau apalah. Tapi kau tak boleh kembali ke sana untuk bekerja. Aku tak mau. Dan kurasa sebaiknya kita pergi dulu ke salah satu toko di Baker Street,
tempat orang menjual cincin.”
”Cincin?”
”Begitu kebiasaannya, bukan?”
Amy tertawa.
Dalam cahaya remang remang di sebuah toko perhiasan, Amy dan Ryan membungkuk di atas nampan nampan berisi cincin cincin pertunangan yang berkilauan dan indah, sementara itu seorang pramuniaga yang sopan memperhatikan mereka dengan sabar.
Sambil menjauhkan sebuah nampan yang beralas
beludru merah, Ryan berkata, ”Jangan yang
berbatu giok.”
Graciela yang mengenakan setelan gaun panjang berwarna hijau, Graciela dalam gaun malam yang warnanya seperti batu giok Cina... Jangan, jangan yang bermata giok.
Amy menekan rasa pedih yang agak menusuk di
hatinya.
"Tolong pilihkan untukku,” katanya pada Ryan.
Ryan menunduk lagi di atas nampan nampan di
hadapan mereka. Lalu diambilnya sebentuk cincin bermata ruby tunggal. Permatanya tidak terlalu besar, tapi warna merah delima dan cahayanya bagus sekali.
”Aku sangat suka yang ini.”
Amy mengangguk. Ia senang Ryan
memperlihatkan seleranya yang tinggi dan tanpa cacat. Dipasangnya cincin itu di jarinya. Ryan dan pemilik toko itu memaperhatikan.
Ryan menulis sehelai cek sebesar benerapa ratus pound, lalu kembali menatap Amy sambil
tersenyum.
Katanya, ”Mari kita pergi dan bersikap kasar pada
Tuan Ferguson.”
************
”Wah, sayangku, aku senang sekali!” Julia Cavendish mengulurkan tangannya yang halus pada Ryan, dan dengan tangan yang sebelah lagi ia merangkul erat Amy.
”Tindakanmu tepat, Ryan, untuk mengajaknya
meninggalkan toko yang mengerikan itu, dan
langsung membawanya kemari. Tentu dia harus tinggal di sini, dan akan berangkat dari sini sebagai pengantin. Kau kan tahu Gereja St.Albert yang hanya berjarak enam setengah kilometer dari sini, kalau kita lewat jalan umum. Sebenarnya, kalau melalui hutan hanya dua setengah kilometer. Tapi tak ada orang yang pergi menikah lewat hutan. Dan kurasa harus Pendeta sendiri yang menikahkan, kasihan orang itu, dia selalu menderita demam setiap musim gugur, sedangkan pendeta
Itu memang cara khas Julia menanggapi sesuatu,
pikir Amy. Ia jadi ingin tertawa dan menangis.
”Aku memang ingin sekali menikah dari sini, Julia,”
katanya.
”Kalau begitu, beres, Sayang. Kurasa satin
berwarna putih susu dengan renda renda akan bagus sekali, dan kitab Injil-nya yang berwarna gading. Tak usah dengan buket bunga. Bagaimana dengan pengiring pengantin?”
”Tak usah. Aku tak ingin yang hebat hebat. Pernikahan yang biasa biasa saja.”
”Aku tahu apa maksudmu, Sayang, dan kurasa kau
memang benar. Pada pernikahan musim gugur, bunganya hampir selalu krisan. Aku selalu menganggap bunga itu kurang menarik. Lalu
mengenai pengiring pengantin, memang biasanya makan waktu lama sekali untuk memilihnya, dan kalau kurang hati hati, mereka akan tak serasi. Selalu ada seorang yang jelek sekali, yang merusak seluruh keindahan, tapi dia harus diikutsertakan
karena dia adalah adik mempelai laki laki, umpamanya. Tapi...,” wajah Julia Cavendish
berseri, "Ryan tak punya saudara perempuan.”
”Rupanya itu merupakan salah satu keuntungan
bagiku,” kata Ryan sambil tersenyum.
”Tapi anak anak kecil akan selalu mengganggu pada pernikahan,” kata Julia Cavendish, dengan senang melanjutkan jalan pikirannya sendiri. ”Semua orang berkata, ‘Wah, manis sekali!’ padahal, aduh... mengerikan! Mereka suka
menginjak ekor kerudung pengantin, atau menangis berteriak teriak mencari pengasuh atau ibu mereka, dan sering sekali mereka mabuk. Aku sering berpikir, bagaimana seorang gadis bisa
berjalan menuju altar dengan pikiran tenang, kalau dia tak yakin denga apa yang terjadi di belakangnya.”
”Tak perlu ada apa apa di belakangku,” kata Amy dengan ceria. ”Bahkan kerudung pun tidak. Aku bisa menikah dengan memakai jas dan rok biasa.”
”Oh, jangan, Amy, seperti janda saja! Tidak. Harus
dari bahan satin berwarna putih susu dengan renda renda dan mutiara, tapi tidak dibeli di toko Tuan Ferguson.”
”Tentu tidak dari toko Tuan Ferguson.” kata Ryan.
”Kau akan kubawa ke toko Nirelle Weddibg Boutiqe ,” kata Julia Cavendish.
”Julia tersayang, aku tak mampu membeli di Nirelle.”
”Omong kosong, Amy. Aku dan William yang akan
membelikan pakaian pengantinmu. Dan tentu saja William yang akan mengantarmu ke altar. Aku benar benar berharap celananya belum sempit. Soalnya sudah hampir tiga tahun yang lalu dia terakhir kali menghadiri pernikahan. Dan kalau senpit berarti aku harus maembawanya ke tukang jahit di Rex Tailor. Dan aku akan mengenakan...”
Julia Cavendish diam sebentar dan memejamkan mata.
”Ya, Julia?”
”Baju berwarna hijau zamrud,” kata Julia Cavendish dengan suara orang yang sedang asyik. ”Ryan, kurasa kau akan meminta salah seorang temanmu untuk menjadi saksi, meskipun sebenarnya ada Shawn. Kurasa itu baik sekali bagi Shawn. Itu akan memberinya kesenangan, dan dia akan merasa kita semua menyukainya. Aku yakin itu penting sekali artinya bagi Shawn. Pasti mengesalkan sekali kalau kita merasa diri kita pandai dan cerdas, tapi toh tak ada orang yang menyukai kita! Tapi sebaliknya, ada risikonya jika meminta dia sebagai saksi. Mungkin saja dia akan menghilangkan cincin kawin, atau cincin itu jatuh pada saat terakhir. Dan Ryan akan terganggu. Tapi akan baik sekali bila kita tetap mengumpulkan semua orang yang ada di sini saat terjadinya peristiwa pembunuhan itu.”
Julia Cavendish mengucapkan kata kata terakhir itu dengan nada yang amat biasa.
”Orang akan berkata, ‘Nyonya Cavendish
mengundang beberapa orang tamu untuk suatu pembunuhan, pada musim gugur ini.’” kata Amy.
”Ya,” kata Julia merenung. ”Kurasa begitulah kira kira yang akan terjadi. Suatu pesta untuk bermain tembak tembakan tapi ternyata berakhir dengan pembunuhan. Tahukah kalian, kalau dipikir sebenarnya begitulah keadaannya!”
Amy bergidik dan berkata, ”Yah, bagaimanapun juga, itu sudah berlalu sekarang.”
”Belum benar benar berlalu sayang. Pemeriksaan pendahuluannya harus ditunda lagi. Inspektur Larkspur yang manis itu masih menyebar anak buahnya di mana mana. Seenaknya saja mereka mencari cari di hutan pohon kenari dan mengejutkan burungburung, dan seenaknya saja muncul dengan tiba tiba di suatu tempat.”