
Eloise Hope memegang bahu Graciela dengan
lembut.
Katanya, ”Tapi anda adalah orang yang bisa menerima kepedihan dalam hidup anda. Anda bisa berjalan terus sambil tersenyum...”
Graciela mengangkat mukanya, menatap Eloise dalam dalam.
Ia tersenyum getir, ”Sedih kedengarannya, bukan?”
”Saya orang lain, jadi saya suka menggunakan kata kata yang bagus.”
Tiba tiba Graciela berkata, ”Anda selalu baik pada
saya.”
”Itu karena saya sangat mengagumi anda.”
”Miss Hope, apa yang harus kita lakukan sekarang?
Maksud saya, dengan Natasha?”
Poirot menarik tas kerja Natasha yeng terbuat dari
benang wol. Dikeluarkannya isinya. Ada
guntingan guntingan kecil kulit halus dan kulit kulit berwarna lain. Ada pula tiga potongan kulit tebal yang berwarna hitam berkilat. Eloise
mempertemukan ketiga potongan itu.
”Ini sarung pistol itu. Ini akan saya ambil. Dan
mengenai Nyonya Hamilton yang malang, akan kita
katakan bahwa dia terlalu lelah, bahwa kematian suaminya tidak tertanggungkan olehnya. Akan saya laporkan bahwa dia mengakhiri hidupnya sendiri saat pikirannya sedang kalut.”
”Dan tak seorang pun akan tahu apa yang sebenarnya telah terjadi?” tanya Graciela lambat lambat.
”Saya rasa satu orang akan tahu. Putra Dokter Hamilton. Saya rasa pada suatu hari nanti dia akan datang pada saya dan menanyakan kebenarannya.”
”Tapi jangan ceritakan padanya,” seru Graciela.
”Ya, saya akan menceritakannya.”
Oh, jangan!”
”Anda tak mengerti. Anda tak tahan kalau ada orang yang menderita. Tapi ada juga orang orang yang akan merasa lebih menderita lagi kalau dia tidak tahu. Anda sendiri mendengar apa yang dikatakan wanita malang itu tadi, ‘Rudy selalu ingin tahu.’ Bagi orang yang berotak ilmiah, kebenaranlah yang utama. Kebenaran, bagaimanapun getirnya,
bisa diterima, dan bisa dianyam menjadi sebuah rancangan untuk hidup.”
Graciela bangkit.
”Apakah anda masih memerlukan saya di sini? Atau apakah lebih baik kalau saya pergi?”
”Saya rasa lebih baik anda pergi.”
Graciela mengangguk. Lalu ia berkata, seolah olah
bukan pada Eloise , melainkan pada dirinya sendiri, ”Ke mana aku akan pergi? Apa yang akan kulakukan , tanpa Peter?”
”Anda berbicara seperti Natasha Hamilton, anda akan tahu ke mana akan pergi dan apa yang akan anda lakukan.”
”Begitukah? Tapi saya letih sekali, Miss Hope, letih
sekali.”
”Pergilah,” kata Eloise dengan halus. ”Tempatmu adalah di tengah tengah yang hidup. Aku akan
**********
Saat sedang mengemudikan mobil menuju London, dua pertanyaan itu muncul dan menggema lagi di kepala Graciela.
”Apa yang akan kulakukan? Ke mana aku akan pergi?”
Selama tiga minggu terakhir ini, ia tegang dan
kacau, tak pernah santai sedikit pun. Ia mengemban tugas yang harus diselesaikannya dan tugas yang telah diberikan Peter padanya. Tapi kini tugas itu sudah selesai. Gagalkah ia? Atau berhasil? Orang bisa menganggapnya gagal atau
berhasil. Tapi apa pun anggapan orang, tugas itu telah selesai. Dan kini ia merasa amat sangat letih.
Ia teringat kembali akan kata kata yang telah diucapkannya pada Ryan di teras, malam itu adalah malam kematian Peter. Itu adalah malam ketika ia pergi ke rumah peristirahatan dan masuk ke dalam nya, lalu dengan diterangi sebuah korek api, dengan sengaja ia menggambar sebuah pohon sakura di daun meja besi tersebut. Dengan sengaja dan direncanakan dengan baik.
Ia belum bisa duduk dan berkabung untuk kekasihnya yang telah meninggal.
”Aku ingin bersedih demi Peter,” katanya pada Ryan waktu itu.
Tapi ia belum berani santai waktu itu, belum berani membiarkan dirinya dikuasai kesedihan. Tapi sekarang ia akan bersedih. Kini ia sudah sempat untuk itu.
”Peter... Peter,” bisiknya.
Hatinya dipenuhi oleh kegetiran , nelangsa dan pemberontakan.
”Kalau saja aku yang meminum teh di cangkir itu,”
pikirnya.
Mengemudikan mobil merupakan hiburan tersendiri baginya memberinya kekuatan sesaat. Tapi sebentar lagi ia akan segera tiba di London. Sebentar lagi ia akan memasukkan mobil nya ke garasi, dan masuk ke studionya yang kosong.
Kosong karena Peter takkan pernah duduk di sana lagi, menggertaknya, memarahinya, mencintainya lebih daripada yang diinginkannya, bercerita dengan penuh semangat mengebu gebu padanya tentang penyakit ataupun tentang penelitian nya , juga tentang kemenangan kemenangannya dan rasa putus asanya, tentang Mrs. White di Rumah Sakit St. Carolina.
Tiba tiba tirai gelap itu terangkat dari pikirannya,
dan ia berkata dengan nyaring, ”Ya, tentu. Ke sanalah aku akan pergi. Ke Rumah Sakit St. Carolina.”
Mrs. White, wanita tua dan malang itu , yang terbaring di tempat tidurnya yang sempit di rumah sakit, memandang tamunya dengan mata letih tapi tetap bersinar.
Wanita tua itu tepat seperti yang dilukiskan oleh Peter padanya beberapa hari yang lalu, dan Graciela tiba tiba merasakan sebuah kehangatan.
Semangatnya untuk bangkit kembali. Inilah sebuah sosok nyata dan ini akan abadi! Di tempat ini, paling tidak ia menemukan Peter kembali untuk sesaat.
”Kasihan Pak Dokter. Ngeri, ya?” kata Mrs. White. Rasa sayang dan penyesalan terdengar dalam suaranya, sebab Mrs. White adalah pencinta kehidupan. Kematian kematian mendadak, terutama pembunuhan dan kematian saat
melahirkan, merupakan hiasan hidup baginya.
”Mengapa dia sampai tertembak! Perut saya serasa akan terbalik mendengarnya. Saya membaca semua itu di surat surat kabar. Suster yang memberi saya semua yang bisa dia dapatkan. Baik sekali dia. Beritanya lengkap, dengan foto foto. Ada foto rumah peristirahatan nya, foto istrinya waktu meninggalkan tempat pemeriksaan. Kasihan sekali dia. Juga ada foto Nyonya Cavendish yang memiliki rumah peristirahatan itu! Banyak sekali fotonya. Semua itu merupakan misteri, bukan?”
Graciela tidak merasa jijik sama sekali saat melihat kesenangan wanita tua itu menceritakannya. Ia bahkan menyukainya sebab ia tahu Peter sendiri akan menyukainya.
Kalaupun ia harus meninggal, ia jauh lebih suka kalau Mrs. White menanggapinya dengan senang daripada dengan menangis berurai air mata.
”Saya benar benar berharap agar siapa pun yang
telah melakukan pembunuhan itu segera tertangkap dan digantung,” lanjut Mrs. White dengan geram.
”Tapi sekarang orang tidak lagi digantung di depan umum seperti dulu. Sayang sekali. Sejak dulu saya ingin melihat orang digantung. Dan saya akan pergi cepat cepat untuk melihat orang yang telah membunuh Pak Dokter digantung! Pasti dia adalah orang yang jahat sekali. Jarang ada orang seperti Pak Dokter! Pintar sekali dia itu! Dan baik, lagi! Mau tak mau, kita selalu dibuatnya tertawa. Ada ada saja yang dikatakannya! Saya mau berbuat apa saja untuk Pak Dokter! Sungguh!”
”Ya,” kata Graciela. ”Dia adalah orang yang amat pintar. Dia orang hebat!”
”Semua orang di rumah sakit ini mengenang kebaikannya! Juga semua juru rawat! Dan
pasien pasiennya! Kami selalu merasa akan sembuh bila berada di dekatnya.”