
Morris menoleh padanya.
"Benar tuan. Nyonya bertanya apakah kami memilki cukup persediaan lilin. Setelah itu di minta nya Miss Clark membawa beberapa kotak lilin."
"Dan di tinggalkan di rumah peristirahatan itu?" Kata Eloise.
"Benar tuan. Saya melihatnya."
"Benar benar pelayan yang sempurna," kata Eloise setelah Morris keluar sambil menutup pintu.
Inspektur Larkspur berkata bahwa kepala pelayan itu memiliki daya pengataman yang bagus sekali.
"Tapi " katanya dengan nada cukup ceria . "Ada pelayan dapur . Pelayan dapur senang bergosip jadi pasti mereka memiliki cerita yang menarik."
"Saya sudah menempatkan seorang petugas polisi di kediaman Hamilton, " lanjutnya "dan saya sendiri yang akan ke sana siang ini. Saya yakin kita bisa mendapaykan petunjuk di sana. Saya yakin istri Hamilton itu harus banyak menanggung. Yah dokter terkenak dengan banyak pasien wanitanya. Dan yah Nyonya Cavendish ada menceritakan samar samar tentang seorang perawat yang pernah berhubungan . "
"Ya, memang, " Eloise membenarkan. "Dia selalu samar samar."
Suatu gambaran yang di ceritakan dengan sangat lihat. Peter Hamilton dan hubungan cintanya dengan perawat . Alasan bagi Natasha Hamilton untuk merasa cemburu yang akhirnya membuat perasaan itu meledak dalam bentuk sebuah pembunuhan.
Yah itu adalah suatu gambaran yang sangat pandai sekali. Membuat perhatian orang tertuju pada Peter Hamilton dan hubungan cinta rahasia nya. Mengalihkan dari The Blossom , dari Graciela West yang mengambil pistol dari tangan Natasha Hamilton yang hanya diam saja. Dan juga kata kata terakhir Peter Hamilton yang mengatakan "Natasha..."
Inspektur Larkspur berbicara.
"Ada satu hal yang saya rasa perlu saya katakan pada anda Miss . Ini tentang Miss Clark , model itu. Katanya dia masuk begitu saja ke sini untuk meminjam lilin . Kenapa dia tidak datang kevrumah anda yang bersebelahan dengan nya ? Mengapa dia harus datang ke sini dengan jarak yang bermil mil jauhnya hanya untuk meminjam lilin?"
Eloise Hope mengangkat bahunya.
"Mungkin ada alasan tertentu. Mungkin karena saya bukan siapa siapa juga. Saya hanya datang ke sini tiap akhir minggu. Sedangkan William dan Julia Cavendish , mereka adalah orang orang penting dan juga tinggal di sini. Atau mungkin juga Miss Karen Clark ingin berhubungan baik dengan mereka. Bisa juga begitu."
Inspektur Larkspur bangkit.
"Ya, " katanya lagi. "Itu mungkin sekali tapi kita tidak boleh mengabaikan.apa pun dan saya rasa semuanya akan menjadi jelas. William Cavendish mengenali pistol tersebut merupakan salah satu dari koleksinya. Tampaknya sehari sebelum nya mereka menggunakan nya untuk latihan menembak. Saya rasa dengan mudah Nyonya Hamilton bisa masuk ke ruang kerja William Cavendish dan mengambil pistol dan peluru tersebut dari sana. Itu sangat mudah sekali apakahi tempat penyimpanan nya juga tidak sulit. "
"Ya, " gumam Eloise. "Memang mudah sekali."
Memang seperti itulah cara wanita seperti Natasha Hamilton melakukan suatu tinda kejahatan. Tanpa ada alasan yang di buat buat atau hal hal rumit. Tiba tiba saja dis terdorong untuk melakukan pembunuhan karena di butakan oleh rasa cemburunya, pikir Eloise.
Tapi pasti... pasti ia memiliki kesadaran untuk melindungi dirinya. Atau mungkin saja di melakukannya ketika dia gelap mata , pada saat akal sehatnya benar benar tidak ada.
Eloise Hope teringat akan raut wajah Natasha. Raut wajahnya kosong dan hampa.
Ia tidak tahu dan tidak mengerti.
Tapi ia merasa harusnya ia tahu. Ia merasa ia melewatkan sesuatu. Tapi apa ia tidak tahu , benar benar tidak tahu.
********
Matanya memilukan dan mengandung keraguan.
”Aku tak tahu,” katanya. ”Aku benar-benar tak tahu. Rasanya tak ada satu pun yang berarti.”
”Aku tahu, Sayang, aku mengerti.” Mrs. Ricardo. Mrs Ricardo memang ramah, tapi tegas. Ia tahu pasti bagaimana memperlakukan orang-orang yang baru saja mengalami kematian. ”Alice memang bisa diandalkan pada saat kritis,” kata keluarganya tentang dirinya.
Pada saat ini, ia sedang duduk di kamar tidur kakaknya, Natasha, dan ia benar-benar hebat. Alice bertubuh tinggi dan besar, serta gerak-geriknya penuh energi. Kini ia menatap Natasha dengan perasaan kesal bercampur iba.
Kasihan Natasha. Menyedihkan sekali, kehilangan suami dengan cara yang mengerikan seperti itu, dan sampai saat ini pun kelihatannya ia belum... begitu menyadari pengertian tentang peristiwa itu! Yah, Mrs. Ricardo ingat bahwa kakaknya Natasha memang selalu amat lamban. Dan sekarang ada pula shock yang menambah berat keadaan itu.
Dengan nada tegas ia berkata, ”Kurasa kita perlu membeli baju hitam yang dari bahan marocain.”
Memang selalu harus orang lain yang mengambil keputusan untuk Natasha.
Natasha berdiri tanpa bergerak, alisnya berkerut. Dengan ragu ragu ia berkata, ”Aku benar-benar tak tahu apakah Peter suka kalau kita berkabung untuknya. Kalau tak salah, aku pernah mendengar dia berkata bahwa dia tak suka.”
”Peter” pikirnya. ”Kalau saja Peter ada di sini untuk memberitahukan padaku apa yang harus kulakukan.”
Tapi Peter takkan pernah berada di sini lagi. Tak pernah lagi....takkan pernah lagi. Daging yang menjadi dingin ..... beku di meja.....bunyi pintu kamar periksa yang dibanting keras, Peter yang berlari naik dengan melangkahi dua anak tangga sekaligus, selalu terburu-buru, begitu bersemangat, begitu hidup...
Hidup......
Terbaring telentang di sisi teras .....tetesan darah yang jatuh perlahan lahan ke tepi kolam ikan .....pistol yang tergenggam di tangannya. Semua itu hanya mimpi buruk. Sebentar lagi ia akan terbangun, dan mimpi itu akan lenyap.
Suara kakaknya yang tegas menembus pikirannya yang berkabut.
”Kau harus mengenakan baju hitam untuk menghadiri panggilan kepolisian itu. Aneh sekali kelihatannya bila kau muncul dengan baju berwarna cerah.”
”Ah, panggilan kepolisian yang mengerikan itu!” kata Natasha, lalu setengah memejamkan mata.
”Memang mengerikan sekali bagimu, Sayang,” kata Alice Ricardo cepat. ”Tapi setelah semua selesai, kau akan langsung pergi ke rumah kami, dan kami akan mengurusmu baik-baik.”
Bayangan kabur dalam pikiran Natasha makin gelap. Dengan nada ketakutan, nyaris panik, ia berkata, ”Apa yang akan kulakukan tanpa Peter?”
Alice Ricardo tahu jawaban apa yang harus diberikannya. ”Kau punya anak-anak. Kau harus hidup untuk mereka.” Terbayang olehnya Lilian yang terisak dan meratap,
”Papaku sudah meninggal!” lalu mengempaskan diri ke tempat tidurnya. Rudy yang tampak pucat, ingin bertanya, dan tidak mengeluarkan air mata.
Suatu kecelakaan dengan pistol, begitu dijelaskannya pada mereka. Ayah mereka yang malang telah mengalami kecelakaan.
Nora Robert yang begitu bijak telah menyita semua surat kabar pagi, supaya anak-anak tidak melihatnya. Ia juga telah memberikan peringatan kepada para pelayan.
Nora benar-benar baik dan bijak. Rudy mendatangi ibunya di ruang tamu utama yang remang-remang. Bibirnya terkatup rapat, dan wajahnya hampir kehijauan karena pucatnya.