
Bagaimana, Tuan?” tanya Inspektur Larkspur tajam.
”Sebuah pistol ukuran 38 keluaran tidak ada.
Benda itu terbungkus dalam sebuah sarung kulit berwarna hitam, yang tersimpan di ujung rak di dalam laci ini.”
”Wah!” Inspektur menjaga agar suaranya tetap
tenang, padahal perasaannya amat kacau. ”Lalu, seingat anda, kapan anda terakhir melihatnya di tempat sebenarnya?”
William Cavendish mengingat ingat beberapa menit lamanya.
”Tak mudah mengatakannya, inspektur. Terakhir kali saya membuka laci ini adalah dua minggu yang lalu, dan saya rasa yah, boleh dikatakan saya yakin bila pistol itu tak ada di tempatnya pada saat itu, saya pasti mengetahuinya. Tapi saya tak mau pula bersumpah dengan pasti bahwa saya melihatnya ada di situ.”
Inspektur Larkspur mengangguk tanda ia mengerti.
”Terima kasih, tuan saya mengerti. Yah, saya harus
melanjutkan pekerjaan saya.”
Ia meninggalkan ruangan itu.
Setelah Inspektur Larkspur pergi, Willism Cavendish berdiri sebentar tanpa bergerak. Lalu ia keluar ke teras. Istrinya , Julia Cavendish sedang sibuk dengan keranjang kebun , sekop kecil dan sarung tangannya. Ia sedang menggunting semacam ranting dengan gunting kebun.
Ia melambai pada suaminya dengan ceria.
”Mau apa lagi inspektur itu? Kuharap dia tidak akan
menyusahkan para pelayan lagi. Soalnya, William, mereka tak senang. Mereka tak bisa melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan."
”Apakah kita menganggapnya begitu?”
Nada bicara William menarik perhatian istrinya. Ia
mendongak, lalu tersenyum manis pada suaminya.
”Kau kelihatan lelah sekali, William. Apakah ini semua menyusahkanmu?”
”Pembunuhan adalah sesuatu yang menyusahkan,
Julia.”
Julia Cavendish berpikir sebentar, sambil
menggunting beberapa ranting. Lalu wajahnya menjadi murung.
”Aduh, aduh... gunting ini menyebalkan sekali.
Sekali kita memakainya, kita jadi tak bisa berhenti, dan ingin menggunting terus. Apa katamu tadi? Pembunuhan menyusahkan? Tapi, William, aku tak mengerti mengapa bagimu menyusahkan. Malah menurutku sangat menarik sekali. Tidak setiap hari kita berurusan dengan pembunuhan bukan ? Dulu mungkin saat kau masih bertugas itu sudah menjadi santapan mu setiap hari. Tapi aku tidak William sayang. Maksudku, bila seseorang harus meninggal, entah karena kanker atau apa, di salah satu sanatorium yang cerah tapi mengerikan itu, atau karena suatu serangan atau karena orang itu ditembak atau ditikam, atau mungkin diracun. Intinya semua tetap sama saja. Maksudku, orang itu tetap meninggal! Habislah dia. Dan semua
kesusahan pun berakhir. Sanak saudaranya harus menghadapi kesulitan ataupun pertengkaran
mengenai warisan, kalau ada. Dan keraguan mengenai apakah mereka harus mengenakan pakaian hitam atau tidak, atau pertimbangan mengenai siapa yang akan mendapatkan rumah hal hal seperti itulah!”
Wiliam Cavendish duduk di sebuah potongan kayu.
”Semua ini akan lebih menyusahkan daripada yang kita duga, Julia,” katanya.
”Yah, itulah yang harus kita tanggung, Sayang. Dan bila ini sudah berakhir, sebaiknya kita pergi, jalan jalan keluar negeri. Sebaiknya kita jangan terlalu memikirkan kesulitan yang ada sekarang, tapi
memandang ke masa yang akan datang. Aku senang melakukan ini. Aku sedang berpikir apakah sebaiknya kita pergi ke Logdewood pada hari Natal atau tahun baru, atau pada hari Paskah.
Bagaimana?”
”Masih banyak waktu untuk membuat rencana untuk Natal sayang.”
”Ya, tapi aku senang kalau sudah bisa mulai membayangkan sesuatu dalam pikiranku. Mungkin Paskah saja, ya?” Lucy tersenyum bahagia. ”Mungkin saat itu, dia pasti sudah melupakannya.”
”Siapa?” tanya William dengan nada heran.
”Graciela,” sahut Julia Cavendish dengan tenang.
”Kurasa mereka akan menikah dalam bulan Oktober tahun depan , maka kita bisa pergi ke sana pada hari Natal-nya. Kupikir, William...”
”Sudah, jangan lagi, sayang. Kau sudah terlalu banyak berpikir.”
studio yang baik sekali. Graciella pasti memerlukan
sebuah studio. Dia benar-benar memilki bakat. Aku yakin, Ryan akan bangga sekali padanya. Dua anak laki laki dan dua anak perempuan cukuplah atau satu anak laki laki dan satu anak perempuan...”
"Julia .... Julia ! Kau mengoceh terus.”
”Tapi, sayang,” Julia Cavendish membuka lebar lebar matanya yang indah, ”Ryan takkan pernah mau menikah dengan siapa pun, kecuali Graciela dan dia sangat keras kepala. Dalam hal itu, dia seperti ayahku. Kau mengerti bukan. Kalau dia sudah punya keinginan...! Jadi, tentu Graciela harus menikah dengannya. Dan sekarang dia bisa
menikah dengannya, karena Peter Hamilton tak bisa lagi menghalanginya. Dialah yang merupakan penghalang terbesar bagi Ryan dan Graciela.”
”Kasihan dia.”
”Untuk apa? Oh, maksudmu karena dia sudah meninggal? Yah, suatu saat semua orang memang harus meninggal bukan. Aku tak pernah susah memikirkan orang yang sudah meninggal.”
William Cavendish menatap istrinya dengan
pandangan bertanya.
”Selama ini kupikir kau menyukai Hamilton, Julia.”
”Aku memang menganggap dia menyenangkan. Dan dia mempunyai daya tarik. Tapi menurutku, kita tak boleh melibatkan diri terlalu dekat dengan seseorang.”
Lalu, dengan lembut dan dengan wajah tersenyum,
Julia Cavendish menggunting dengan halus sebatang tanaman merambat.
***********
Eloise Hoe memandang ke luar melalui jendela ruang tamunya. Dilihatnya Graciela West berjalan di jalan setapak , menuju pintu depan rumahnya. Ia memakai setelan berwarna abu. Ia membawa seekor anjing pom pom.
Eloise cepat-cepat berjalan ke pintu depan, dan
membukanya. Graciela tersenyum padanya.
”Bolehkah saya masuk dan melihat rumah anda? Saya suka melihat rumah rumah orang. Saya sedang membawa anjing ini berjalan-jalan.”
”Tentu saja boleh."
”Saya tahu,” kata Graciela ”Saya pikir begitu.
Graciela tersenyum lagi—suatu senyuman cerah
tanpa arti.
Eloise Hope mempersilakannya masuk ke ruang tamu.Graciela melihat ke sekelilingnya, ke ruangan yang teratur rapi dan apik itu, lalu mengangguk.
"Bagus. Anda pasti akan benci melihat studio saya.”
”Mengapa saya harus membencinya?”
”Oh, karena banyak kertas kertas berserakan di lantai, serta potongan potongan kain dan di sana sini.”
”Tapi saya bisa mengerti itu. Miss West. Anda seorang designer.”
”Bukankah Aanda pun seorang seniman, Miss Hope?”
Eloise Hope memiringkan kepalanya.
"Itu masih harus dipertanyakan. Tapi secara umum
rasanya bukan. Memang saya pernah menemukan suatu kejahatan yang artistik sifatnya. Kejahatan memang merupakan latihan yang paling bagus
untuk daya imajinasi, tapi penyelesaiannya... saya rasa tidak. Bukan daya kreasi yang diperlukan dalam hal itu. Yang dituntut adalah hasrat yang besar untuk menemukan kebenaran. Karena iyulah saya bekerja sepati seorang polisi."
”Suatu hasrat besar untuk menemukan kebenaran,”
ulang Graciela merenung. ”Ya, saya bisa mengerti
mengapa Anda jadi begitu berbahaya. Apakah kebenaran itu memberikan kepuasan pada Anda?”
Eloise Hope memandanginya dengan rasa ingin tahu.