Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 35


Bagaimana, Tuan?” tanya Inspektur Larkspur tajam.


”Sebuah pistol ukuran 38 keluaran tidak ada.


Benda itu terbungkus dalam sebuah sarung kulit berwarna hitam, yang tersimpan di ujung rak di dalam laci ini.”


”Wah!” Inspektur menjaga agar suaranya tetap


te­nang, padahal perasaannya amat kacau. ”Lalu, seingat anda, kapan anda terakhir melihatnya di tempat sebe­nar­nya?”


William Cavendish mengingat ingat beberapa menit lama­nya.


”Tak mudah mengatakannya, inspektur. Terakhir kali saya membuka laci ini adalah dua minggu yang lalu, dan saya rasa yah, boleh dikatakan saya yakin bila pistol itu tak ada di tempatnya pada saat itu, saya pasti mengetahuinya. Tapi saya tak mau pula bersumpah dengan pasti bahwa saya melihatnya ada di situ.”


Inspektur Larkspur mengangguk tanda ia mengerti.


”Terima kasih, tuan saya mengerti. Yah, saya harus


me­­lanjutkan pekerjaan saya.”


Ia meninggalkan ruangan itu.


Setelah Inspektur Larkspur pergi, Willism Cavendish berdiri seben­tar tanpa bergerak. Lalu ia keluar ke teras. Istrinya , Julia Cavendish sedang sibuk dengan keranjang kebun , sekop kecil dan sarung tangannya. Ia sedang menggunting semacam ranting dengan gunting kebun.


Ia melambai pada suaminya dengan ceria.


”Mau apa lagi inspektur itu? Kuharap dia tidak akan


menyusahkan para pelayan lagi. Soalnya, William, mereka tak senang. Mereka tak bisa me­lihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan."


”Apakah kita menganggapnya begitu?”


Nada bicara William menarik perhatian istrinya. Ia


mendongak, lalu tersenyum manis pada suaminya.


”Kau kelihatan lelah sekali, William. Apakah ini semua menyusahkanmu?”


”Pembunuhan adalah sesuatu yang menyusahkan,


Julia.”


Julia Cavendish berpikir sebentar, sambil


meng­gunting beberapa ranting. Lalu wajah­nya menjadi mu­rung.


”Aduh, aduh... gunting ini menyebalkan sekali.


Se­kali kita memakainya, kita jadi tak bisa berhenti, dan ingin meng­gunting terus. Apa katamu tadi? Pembu­nuhan menyusahkan? Tapi, William, aku tak mengerti mengapa bagimu menyusahkan. Malah menurutku sangat menarik sekali. Tidak setiap hari kita berurusan dengan pembunuhan bukan ? Dulu mungkin saat kau masih bertugas itu sudah menjadi santapan mu setiap hari. Tapi aku tidak William sayang. Maksudku, bila sese­orang ha­rus meninggal, entah karena kanker atau apa, di salah satu sanatorium yang cerah tapi menge­rikan itu, atau karena suatu serangan atau kare­na orang itu ditembak atau ditikam, atau mungkin diracun. Intinya semua tetap sama saja. Maksudku, orang itu tetap meninggal! Habislah dia. Dan semua


kesusahan pun berakhir. Sanak saudaranya harus menghadapi kesulitan ataupun pertengkaran


me­ngenai warisan, kalau ada. Dan kera­guan mengenai apa­kah mereka ha­rus me­ngenakan pakaian hitam atau tidak, atau pertim­bangan mengenai siapa yang akan mendapat­kan rumah hal hal seperti itulah!”


Wiliam Cavendish duduk di sebuah potongan kayu.


”Semua ini akan lebih menyusahkan daripada yang kita duga, Julia,” katanya.


”Yah, itulah yang harus kita tanggung, Sayang. Dan bila ini sudah berakhir, sebaiknya kita pergi, jalan jalan keluar negeri. Sebaiknya kita jangan terlalu memikirkan kesulitan yang ada sekarang, tapi


me­mandang ke masa yang akan datang. Aku senang melakukan ini. Aku sedang berpikir apakah sebaiknya kita pergi ke Logdewood pada hari Natal atau tahun baru, atau pada hari Paskah.


Ba­gaimana?”


”Masih banyak waktu untuk membuat rencana untuk Natal sayang.”


”Ya, tapi aku senang kalau sudah bisa mulai membayang­kan sesuatu dalam pikiranku. Mungkin Paskah saja, ya?” Lucy tersenyum bahagia. ”Mungkin saat itu, dia pasti sudah melupakannya.”


”Siapa?” tanya William dengan nada heran.


”Graciela,” sahut Julia Cavendish dengan te­nang.


”Kurasa mereka akan menikah dalam bulan Oktober tahun depan , maka kita bisa pergi ke sana pada hari Natal-nya. Kupikir, William...”


”Sudah, jangan lagi, sayang. Kau sudah terlalu banyak berpikir.”


studio yang baik sekali. Graciella pasti me­merlukan


sebuah studio. Dia benar-benar memilki bakat. Aku yakin, Ryan akan bangga sekali padanya. Dua anak laki laki dan dua anak perempuan cukuplah atau satu anak laki laki dan satu anak perempuan...”


"Julia .... Julia ! Kau mengoceh terus.”


”Tapi, sayang,” Julia Cavendish membuka lebar lebar matanya yang indah, ”Ryan takkan pernah mau menikah dengan siapa pun, kecuali Graciela dan dia sangat keras kepala. Dalam hal itu, dia seperti ayah­ku. Kau mengerti bukan. Kalau dia sudah punya keinginan...! Jadi, tentu Graciela harus menikah de­ngannya. Dan sekarang dia bisa


menikah dengannya, karena Peter Hamilton tak bisa lagi menghalanginya. Dialah yang merupakan penghalang terbesar bagi Ryan dan Graciela.”


”Kasihan dia.”


”Untuk apa? Oh, maksudmu karena dia sudah meninggal? Yah, suatu saat semua orang memang harus meninggal bukan. Aku tak pernah susah memikirkan orang yang sudah meninggal.”


William Cavendish menatap istrinya dengan


pan­dangan bertanya.


”Selama ini kupikir kau menyukai Hamilton, Julia.”


”Aku memang menganggap dia menyenangkan. Dan dia mempunyai daya tarik. Tapi menurutku, kita tak boleh melibatkan diri terlalu dekat dengan seseorang.”


Lalu, dengan lembut dan dengan wajah ter­senyum,


Julia Cavendish menggunting dengan ha­lus sebatang tanaman merambat.


***********


Eloise Hoe memandang ke luar melalui jen­dela ruang tamunya. Dilihatnya Graciela West berjalan di jalan setapak , menuju pintu depan rumahnya. Ia memakai setelan berwarna abu. Ia mem­bawa seekor anjing pom pom.


Eloise cepat-cepat berjalan ke pintu depan, dan


mem­­bukanya. Graciela tersenyum padanya.


”Bolehkah saya masuk dan melihat rumah anda? Saya suka melihat rumah rumah orang. Saya sedang mem­bawa anjing ini berjalan-jalan.”


”Tentu saja boleh."


”Saya tahu,” kata Graciela ”Saya pikir begitu.


Graciela tersenyum lagi—suatu senyuman cerah


tanpa arti.


Eloise Hope mempersilakannya masuk ke ruang tamu.Graciela melihat ke sekelilingnya, ke ruangan yang teratur rapi dan apik itu, lalu mengangguk.


"Bagus. Anda pasti akan benci melihat studio saya.”


”Mengapa saya harus membencinya?”


”Oh, karena banyak kertas kertas berserakan di lantai, serta potongan potongan kain dan di sana sini.”


”Tapi saya bisa mengerti itu. Miss West. Anda seorang designer.”


”Bukankah Aanda pun seorang seniman, Miss Hope?”


Eloise Hope memiringkan kepalanya.


"Itu masih harus dipertanyakan. Tapi secara umum


rasanya bukan. Memang saya pernah mene­mukan suatu kejahatan yang artistik sifat­nya. Kejahatan memang merupakan latihan yang paling bagus


untuk daya imajinasi, tapi penyelesaiannya... saya rasa tidak. Bukan daya kreasi yang di­perlukan dalam hal itu. Yang dituntut adalah has­rat yang besar untuk menemukan kebenaran. Karena iyulah saya bekerja sepati seorang polisi."


”Suatu hasrat besar untuk menemukan kebenar­an,”


ulang Graciela merenung. ”Ya, saya bisa mengerti


mengapa Anda jadi begitu berbahaya. Apakah kebenaran itu memberikan kepuasan pada Anda?”


Eloise Hope memandanginya dengan rasa ingin tahu.