Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 49


Setelah ditinggalkan seorang diri di studio, Amy berjalan berkeliling melihat lihat hasil karya Graciela.


Ia merasa agak ngeri ditinggalkan se­orang diri di studio, bersama lukisan lukisan dari kayu dan perunggu ini.


Ada sebuah lukisan wajah kepala dari perunggu, yang tulang pipinya tinggi dan memakai topi dari kuningan.


Mungkin itu seorang prajurit . Ada pula


suatu lukisan yang aneh yg berbengkok bengkok seperti pita, dan sangat membingung­kannya.


Ada sebuah gambar seekor kodok besar dari batu granit berwarna agak merah. Dan di ujung studio, ia tiba pada suatu lukisan yang hampir sebesar manusia hidup.


Ia sedang memandangi benda itu waktu didengarnya Graciela memutar kunci di pintunya, lalu masuk dengan agak terengah.


Amy berpaling.


”Ini apa, Graciela? Agak mengerikan.”


”Itu? Itu Sang Pemuja. Itu akan kukirim ke London Art International Group.”


Sambil terus memandanginya, Amy berkata lagi,


”Mengerikan.”


Sambil berlutut menyalakan api gas, Graciela


berkata, ”Menarik mendengarmu berkata begitu.


Mengapa kau merasa itu mengerikan?”


”Kurasa... karena tatapan matanya.”


”Benar sekali, Amy.”


”Tapi bagus sekali, Graciela.”


”Itu kubuat dari berbagai warna dan mencampurkan nya untuk mendapatkan warna yang bagus,” kata Graciela.


Ia bangkit berdiri. Dilemparkannya tasnya yang


besar dan mantel bulunya ke dipan, dan dilemparkannya pula beberapa kotak korek api ke atas meja. Amy terkesan melihat air muka Graciela dan di situ terbayang rasa gembira yang tak dapat dijelas­kan.


”Sekarang kita minum teh,” kata Graciela, da­lam


nada suaranya juga terdengar kegembiraan yang hangat, seperti yang terlihat pada air muka­nya.


Hal itu terasa janggal akan tetapi Amy lupa akan hal itu, begitu ia melihat dua kotak korek api yang membang­kitkan suatu ingatan di kepalanya.


”Ingatkah kau lilin yang dibawa oleh Karen Clark?”


”Waktu Julia memaksa supaya dia mem­bawa dua kotak sekaligus? Ya, aku ingat.”


”Adakah orang yang menemukan apakah dia sebenarnya punya lilin di rumahnya?”


”Kurasa polisi tahu. Mereka sangat teliti.”


Suatu senyum yang membayangkan rasa kemenangan menghiasi bibir Graciela. Amy merasa heran, sekaligus tak senang.


Pikirnya, ”Mungkinkah Graciela sungguh­ sungguh


mencintai Peter? Mungkinkah? Pasti tidak.”


Suatu rasa dingin dan murung menyerangnya waktu ia berpikir lagi, ”Ryan tak perlu me­nunggu lebih lama lagi.”


Sungguh keterlaluan dia, karena pikiran itu tidak


membawa kehangatan pada dirinya. Bukankah ia ingin Ryan bahagia? Tak mungkin ia bisa me­miliki Ryan.


Bagi Ryan, ia hanya si Amy kecil. Tak pernah lebih


dari itu. Tak pernah me­rupakan seorang wanita untuk dicintai.


Yang lebih tidak menguntungkan lagi, Ryan adalah tipe orang yang setia. Yah, orang yang sangat setia biasanya memper­oleh apa yang diinginkannya.


Ryan dan Graciela di Logdewood , itulah akhir


cerita yang masuk akal. Ryan dan Graciela hidup


berbahagia sepanjang masa.


Ia bisa membayangkannya dengan jelas.


”Bergembiralah, Amy,” kata Graciela. ”Jangan biarkan pembunuhan membuatmu murung.


Tapi Amy dengan cepat cepat berkata bahwa ia harus cepat kembali ke kamar pondokannya. Banyak yang harus dikerjakannya, antara lain menulis su­rat. Sebenarnya ia lebih suka pergi secepatnya, begitu selesai minum teh.


”Baiklah, nanti kuantar,” kata Graciela.


”Aku bisa naik taksi.”


”Omong kosong. Kita pakai saja mobil itu, se­lagi


ada di sini.”


Mereka keluar. Udara malam terasa lembap. Saat


mereka melewati ujung St White Chapel, Graciela menunjuk ke sebuah mobil yang terparkir di tepinya.


”Mobil kijang yang tadi. Yang membayang bayangi


kita. Lihat saja. Dia akan mengikuti kita.”


”Konyol sekali semuanya!”


”Kaupikir begitu? Menurutku, biar saja.”


Graciela menurunkan Amy di pondokannya, lalu


kembali ke Fear Street, dan memasukkan mobilnya ke garasi.


Lalu sekali lagi ia memasuki studionya.


Beberapa menit lamanya ia berdiri dengan ling­lung,


sambil mengetuk ngetukkan jemarinya ke atas pelin­dung perapian.


Lalu ia mendesah dan bergumam sen­diri,


”Nah, sekarang bekerja. Se­baiknya tidak menyia nyiakan waktu.”


Ditanggalkannya jas miliknya, lalu dikenakannya celemek kerjanya. Dia sengaja mencoba belajar membuat patung dari tiga bulan yang lalu. Dia membeli barang barang dan alat yang di butuhkan dari online dan belajar melalui youtube.


Satu setengah jam kemudian, ia melangkah mundur dan memperhatikan apa yang telah dikerjakan­nya. Di pipinya ada corengan tanah liat, dan rambut­nya acak acakan. Tapi ia mengangguk puas melihat hasil karyanya diatas penyangga.


Karya itu merupakan sosok kasar seekor ikan.


Tanah liatnya ditempel tempelkannya dalam bongkah bongkah besar dan kasar yang tak beraturan. Kuda itu pasti mengejutkan bagi seorang pecinta ikan, begitu besar bedanya dari ikan sesungguhnya. Tapi bagaimanapun juga, itu ada­lah seekor ikan , seekor ikan yang diciptakan olehnya secara ab­strak.


Graciela ingin tahu, apa anggapan Inspektur Larkspur bila melihatnya. Ia menyeringai senang saat membayangkan pria itu.


*********


Ryan Cavendish berdiri dengan bimbang di te­ngah


arus lalu lintas pejalan kaki di Peanut Ave­nue. Ia


telah memberanikan diri memasuki per­tokoan tempat terpasang nama perusahan Lily Fashion dengan huruf huruf emas mengkilat.


Suatu naluri tersembunyi mencegahnya untuk hanya membunyikan bel dan langsung mengajak Amy keluar untuk makan siang. Bagian dari


per­cakapan telepon di The Blossom dulu telah mengganggu perasaannya dan bahkan mengejutkannya. Da­lam suara Amy terdengar ada nada mengalah dan merendahkan diri yang memukul se­luruh perasaan­nya.


Amy yang bebas, ceria, dan suka berbicara, harus


ber­sikap begitu. Harus mengalah, jelas jelas mengalah pada perlakuan kasar dan kurang sopan dari bosnya di telepon itu. Semuanya salah sangat salah! Lalu, waktu ia menunjukkan rasa prihatinnya, de­ngan tegas Amy mengata­kan kenyataan yang tak enak bahwa orang harus mempertahankan peker­jaannya, karena pekerjaan tak mudah didapat, dan bahwa dalam mempertahankan pekerjaan itu, lebih banyak rasa tak senangnya daripada


sekadar men­jalankan tugas yang telah ditentukan.


Sampai saat itu, Ryan boleh dikatakan me­nerima


saja kenyataan bahwa banyak sekali wanita muda yang bekerja di masa ini. Tapi, kalaupun ia memikirkan hal itu, dikiranya mereka bekerja


ka­rena mereka menyukai pekerjaan tersebut, bahwa dengan bekerja, mereka me­rasa mandiri dan merasa telah berperan dalam hidup ini.


Sama sekali tak pernah terpikirkan oleh diri seorang Ryan Cavendish bahwa seorang gadis yang harus bekerja dari jam sembilan pagi


sampai jam enam sore, dengan satu jam istirahat untuk makan siang, tak mungkin dapat menikmati kesenangan kesenangan dan hiburan hiburan seperti yang dilakukan oleh golongan penggangur.


Ia baru tahu bahwa Midge takkan bisa pergi ke sebuah pameran lukisan umpamanya, kecuali kalau ia mau mengorbankan jam makan


siangnya, bahwa Amy tak bisa nonton konser petang hari, tak bisa pergi ke luar kota pada suatu hari indah di musim panas, tak bisa makan siang dengan santai di sebuah restoran yang jauh, dan terpaksa harus menunda perjalanan santainya ke pedesaan sampai petang hari sabtu dan minggu, dan harus makan siang dengan terburu buru di Parkview yang penuh sesak, atau di sebuah


kafe makanan kecil. Ia sayang sekali pada Amy.