Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 50


Ia sayang sekali pada Amy. Amy kecil ,begitulah ia selalu membayangkan­nya. Amy kecil yang tiba di Logdewood untuk berlibur, malu malu, bermata lebar, dan mula mula tak mau berbicara. Tapi


kemudian ia jadi terbuka, antusias, dan penuh kasih sayang.


Kecenderungan Ryan untuk menghabiskan


se­bagian besar hidupnya di masa lalu, dan menerima masa kini dengan ragu ragu sebagai sesuatu yang belum teruji kebenarannya, membuatnya terlambat untuk melihat Amy


sebagai seorang wanita dewasa yang men­cari nafkah.


Malam itu di The Blossom, waktu ia masuk dalam keadaan dingin dan menggigil setelah


per­tengkarannya yang aneh dan sangat merisaukan dengan Graciela dan waktu ia melihat Amy ber­lutut untuk menyalakan api, barulah ia sadar bah­wa Amy bukan lagi seorang anak kecil


yang penuh kasih sayang melainkan seorang wanita dewasa. Pemandangan itu membuatnya risau. Sesaat ia merasa kehilangan sesuatu ya sesuatu yang me­rupakan bagian yang sangat berharga dari Logdewood.


Lalu, tanpa disa­darinya benar, ia berbicara berdasarkan perasaan yang tiba tiba muncul itu. Katanya, ”Alangkah baiknya kalau aku bisa


ber­temu lebih sering denganmu, Amy tersayang.”


Waktu ia berdiri di bawah sinar bulan, dan bercakap cakap dengan Graciela yang bukan lagi Graciela


yang dikenalnya, yang telah dicintainya begitu lama, ia pun menjadi panik. Kini ia meng­hadapi lagi suatu gangguan lain dalam pola hidup­nya yang sudah begitu teratur. Amy kecil juga merupakan bagian dari Logdewood, tapi ini bukan lagi Amy kecil, melainkan se­orang wanita de­wasa yang pemberani dan bermata sedih adalah suatu pribadi yang tidak dikenalnya.


Sejak saat itu, ia senantiasa risau, dan ia me­negur


diri­­nya sendiri karena tak pernah memikir­kan dan tak per­nah peduli akan kebahagiaan dan kenyamanan hidup Amy. Mengingat pekerjaan Amy yang sangat tak me­nyenang­kan di toko baju bosnya, makin lama ia makin susah. Akhirnya ia bertekad untuk melihat sen­diri keadaan di toko busana itu.


Dengan rasa curiga, Ryan mengintip di kaca pajangan tempat ada baju ungu bermotif bunga bunga kecil berikat pinggang kecil keemasan, beberapa setelan celana panjang yang amat kecil dan kelihatannya bagus, serta sehelai gaun malam dari satin yang warnanya agak men­colok. Ryan tak tahu apa apa tenntang pakaian wanita. Ia menilainya hanya berdasar­kan naluri. Tapi ia beranggapan bahwa semua yang dipamerkan disana itu memperlihatkan keindahan yang penuh dengan kepalsuan. Tidak, pikirnya, tempat ini tidak sesuai dengan Amy.


Seseorang ya mungkin Julia Cavendish tentu harus mengambil tindakan mengenai hal itu. Ryan berusaha mengatasi rasa malunya. Di­tegakannya bahunya yang agak bungkuk, lalu ia masuk.


Ia langsung merasa lumpuh karena malu. Dua orang gadis mungil yang genit, dengan rambut


pi­rang keperakan, sedang melihat lihat baju baju di sebuah lemari pajangan, sambil berbicara dengan suara melengking, dibantu oleh seorang pramuniaga berkulit hitam. Di bagian


belakang toko, seorang wa­nita bertubuh kecil yang hidung­nya besar, ram­butnya merah, dan suaranya tak enak didengar, sedang berban­tahan dengan seorang pembeli bertubuh besar yang kebingungan mengenai suatu perubahan pada sehelai gaun malam.


Dari sebuah kamar kecil di sebelahnya, ter­dengar suara seorang wanita yang memberungut, meninggi.


”Jelek sekali sungguh benar benar jelek sekali , tak bi­sakah kau membawakan sesuatu yang lebih pantas untuk dicoba?”


Terdengar gumam suara Amy yang halus, ­suara


yang sopan dan bernada membujuk.


”Yang model anggur ini cantik sekali. Dan saya rasa cocok untuk Anda. Bagaimana kalau Anda coba...” .


”Aku tak mau menyia nyiakan waktu untuk mencoba pakaian yang jelek seperti itu. Cobalah ber­usaha sedikit. Sudah kukatakan, aku tak mau war­na ungu. Dengar dengar baik baik apa yang dikatakan orang padamu...”


Leher Ryan terasa panas. Ia berharap Amy


melem­­parkan baju itu ke muka perempuan yang me­muakkan itu. Tapi Amy malah bergumam, ”Coba saya cari lagi. Kalau tak salah, anda juga tak mau yang berwarna kuning, Madam? Bagaimana kalau yang berwarna pink ini?”


”Buruk sangat buruk sekali! Tidak, aku tak mau


me­lihat apa apa lagi. Hanya membuang buang waktu saja...”


Saat itu Tuan Ferguson meninggalkan pem­belinya


yang tua dan gemuk dan menghampiri Ryan. Ia menatap pada Ryan dengan pandangan bertanya. Ryan mem­beranikan diri.


Alis Tuan Ferguson naik, tapi kemudian ter­lihat


olehnya pakaian Edward yang berpotongan mahal


dan ia pun tersenyum. Tapi senyum­nya lebih tak enak dipandang daripada sifat pe­marahnya.


Dari dalam kamar kecil, suara wanita tadi naik


dengan tajam.


”Berhati hatilah! Canggung sekali kau. Kau


me­robek jala rambutku.”


Dan Amy menjawab dengan suara tak mantap,


”Maafkan saya, Madam.”


”Canggung sekali.” Suara itu hilang, tersekat. ”Biar


ku­kerjakan sendiri. Tolong ambilkan ikat pinggang­ku yang berwarna coklat.”


”Sebentar lagi Miss Owen bebas,” kata Tuan Ferguson. Kini senyumnya tampak licik.


Seorang wanita yang tampak pemarah, dengan rambut berwarna pasir, keluar dari kamar kecil itu, sambil membawa beberapa bungkusan, dan


lang­sung keluar ke jalan raya. Amy, yang mengenakan pakaian hijau dengan potongan amat sederhana, membukakan pintu untuknya. Ia tampak pucat dan sedih.


”Aku datang untuk mengajakmu keluar makan siang,” kata Ryan tanpa basa-basi.


Amy melihat ke jam dengan pandangan bi­ngung.


”Jam satu seperempat aku baru bebas,” katanya.


Waktu itu jam satu lewat sepuluh menit.


Dengan luwes Tuan Ferguson berkata, ”Kalau mau,


kau boleh pergi sekarang, Miss Owen, karena teman­­mu sudah datang menjemput.”


”Oh, terima kasih, Tuan Ferguson ” gumam Amy,


dan pada Ryan ia berkata, ”Sebentar lagi aku siap.”


Lalu ia menghilang ke bagian belakang toko. Ryan, yang bergidik gara gara Tuan Ferguson memberikan tekanan pada kata teman, ber­diri menung­gu dengan gugup.


Tuan Ferguson baru saja akan bercakap cakap sekadar basa basi dengannya, tapi begitu pintu terbuka, dan seorang wanita yang kelihatan mewah, masuk dengan seekor anjing Peking. Naluri dagang Tuan Ferguson mendorongnya untuk menghampiri pendatang baru itu.


Amy muncul kembali, sudah mengenakan mantelnya yang berwarna biru tua. Ryan segera menggandeng sikunya dan langsung menuntunnya keluar dari toko.


”Ya, Tuhan,” katanya, ”apakah kau harus


me­nyesuaikan diri dengan hal hal begitu? Aku


men­dengar perempuan sialan itu berbicara denganmu di balik tirai. Bagaimana kau bisa menahankan itu, Amy? Mengapa tidak


kaulemparkan saja baju­ baju sialan itu ke kepalanya?”