Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 53


"Apa sih yang mereka cari?” tanya Ryan. ”Pistol


yang dipakai untuk menembak Hamilton-kah?”


”Kurasa begitulah. Mereka bahkan masuk ke rumah dengan membawa surat perintah penggeledahan. Inspektur memang meminta maaf sebesar besarnya sehu­bungan dengan itu. Dia malu sekali. Kataku, yah, dengan segala senang hati. Itu me­narik juga. Mereka mencari di mana mana. Aku mengikuti mereka berkeliling, dan aku bahkan me­nunjukkan satu atau dua tempat yang tak terpikirkan oleh mereka. Tapi mereka tidak menemukan apa­ apa. Mengecewakan sekali. Kasihan Inspektur Larkspur. Dia keli­hatan agak kurus, dan dia me­narik narik kumis terus. Seharusnya istrinya memberinya makanan yang lebih bergizi, meng­ingat segala kesulitan yang harus diha­dapinya. Tapi aku bisa membayangkan, istrinya pasti seorang wanita yang lebih suka mengurus perabot rumah tangga dan anak anak daripada memasak makanan lezat untuk suaminya. Oh, ya, aku jadi ingat, aku harus menemui Mrs. Richmod. Lucu kalau dipikir mengapa para pem­bantu rumah tangga tak suka pada polisi. Puding cokelat nya semalam benar benar sangat tidak enak. Puding dan kue selalu bisa menunjukkan bila si pembuat sedang tak seimbang jiwanya. Seandainya saja tak ada Morris yang mempertahankan mereka, aku yakin separuh dari mereka sudah berhenti sekarang. Sebaiknya ka­lian berdua pergi berjalan jalan, dan membantu para polisi mencari pistol itu.”


************


Eloise Hope sedang duduk di sebuah bangku, dari mana ia bisa melihat kelompok pohon willow di atas kolam ikan. Ia tidak merasa melanggar wilayah orang, karena Julia Cavendish telah


mem­persilakannya dengan manis sekali untuk berjalan ­jalan di mana saja dan kapan saja di wilayahnya.


Sikap manis seorang  Julia Cavendish itulah yang saat ini sedang dipikirkan oleh Eloise Hope saat ini.


Sekali terdengar olehnya derak ranting ranting di


atas pohon, atau terlihat suatu sosok yang bergerak di celah celah antara pohon pohon kenari di bawahnya.


Tak lama kemudian, Graciela West datang lewat


ja­lan setapak, dari arah jalan umum. Ia berhenti sebentar waktu melihat Eloise. Lalu ia datang, dan duduk di dekatnya.


”Selamat pagi, Miss Hope. Saya baru saja pergi ke


rumah anda. Tapi anda sedang keluar kata pelayan anda. Anda kelihatan seperti seorang olahragawan. Apakah Anda sedang mengetuai pencarian? Inspektur  Larkspur ke­lihatannya aktif sekali. Apa yang mereka cari? Pistolkah?”


”Ya, Miss West.”


”Apakah menurut anda mereka akan


menemu­kannya?”


”Saya rasa begitu. Mungkin tak lama lagi mereka akan bisa menemukan benda tersebut.”


Graciela melihat padanya dengan pandangan bertanya.


”Kalau begitu, apakah anda punya bayangan di


mana benda itu berada?”


”Tidak. Tapi saya rasa benda itu akan segera ditemukan. Sudah waktunya benda itu ditemukan.”


”Kata kata anda sangat aneh sekali, Miss Hope!”


”Hal hal aneh selalu terjadi di sini. Cepat sekali anda kembali dari London, Miss West."


Wajah Graciela menjadi kaku. Ia tertawa getir


sebentar.


”Pembunuh selalu kembali ke tempat kejahatan


terjadi. Begitu menurut kepercayaan lama, bukan? Jadi anda tetap berpikir bahwa sayalah yang


me­lakukannya! Anda tak percaya pada saya waktu saya katakan bahwa saya tidak akan... bahwa saya tak bisa membunuh siapa pun?”


Eloise tidak segera menjawab. Akhirnya ia ber­kata


sambil merenung, ”Sejak awal, saya sudah menganggap bahwa pembunuhan ini terlalu


seder­hana , sangat sederhana . Demikian


sederhana nya, hingga sulit untuk mem­ercayainya karena ke­se­derha­naan, Miss West, anehnya justru bisa sangat mengecewakan. Kalau tidak, pembunuhan itu luar biasa rumitnya. Mak­sud saya, kita bertarung melawan suatu otak yang mampu berkilah, dan mampu menemukan hal hal penuh dengan tipu muslihat, hingga setiap kali kita seperti akan menemukan kebenarannya, tapi ternyata kita dibawa kembali ke jalan yang menyimpang dari kebenaran, diarahkan ke suatuu titik yang... berakhir di keham­paan. Kesia siaan yang jelas itu, kegersangan yang tak berkesudahan itu, tak


benar dan itu buatan, itu direncana­kan. Ada otak yang sangat cerdik dan pandai, berkomplot melawan kami selama ini, dan dia berhasil.”


”Jadi?” kata Graciela. ”Apa hubungan semua itu dengan saya?”


orang yang kreatif, Miss West.”


”Saya mengerti. Jadi sayalah otak itu?”


Graciela tidak berkata apa apa lagi, bibirnya


ter­katup rapat rapat dengan getir. Dari saku jaketnya dikeluarkannya sebatang pensil, lalu dengan iseng ­iseng digambar­nya sebuah pohon khayalan pada bangku kayu bercat putih itu. Hal itu diker­jakannya sambil mengerutkan dahi. Eloise memperhatikannya. Sesuatu menyentuh


ingatan­nya waktu ia berdiri di ruang tamu utama Julia Cavendish pada petang hari, waktu peristiwa itu terjadi. Ia sedang menunduk, melihat ke


setum­puk catatan permainan kartu. Lalu waktu ia sedang berdiri di dekat meja besi yang dicat, di dalam rumah peristirahatan esok paginya, dan pertanyaan yang diajukannya pada Morris. 


Lalu katanya, ”Itulah yang anda gambar pada pencatat permainan kartu anda , sebatang pohon.” 


”Ya.” Graciela tiba tiba sadar akan apa yang sedang


dilakukannya. ”Ini sebuah pohon sakura, Miss Hope.”


Lalu ia ter­tawa.


”Mengapa itu anda sebut pohon sakura?”


Graciela kemudian menjelaskan asal mula nama pohon sakura.


”Jadi kalau anda mencoret coret, selalu pohon sakura itu  yang anda gambarkan?”


”Ya. Mencoret-coret itu suatu kebiasaan yang aneh,


ya?”


”Di bangku ini, pada catatan permainan kartu pada


malam Minggu yang lalu, dan di rumah peristirahatan pada hari Minggu paginya...”


Tangan Graciela yang memegang pensil tiba tiba


mengejang, lalu berhenti menggambar. ”Di rumah


peristirahatan?” tanyanya dengan nada he­ran.


”Ya, di meja besi yang bundar di sana.”


”Oh, itu pasti pada... pada petang hari Sabtu.”


”Bukan pada petang hari Sabtu. Waktu Morris sedang mengantar gelas gelas ke pondok itu, kira kira jam sebelas tengah hari Minggu, tak ada gambar di meja itu. Saya bertanya pada Morris, dan dia yakin sekali mengenai hal itu.”


”Kalau begitu, itu tentu,”  , ia bimbang seben­tar , 


”ya, tentu pada petang hari Minggu.”


Tapi, sambil tetap tersenyum menyenangkan, Eloise Hope menggeleng.


”Saya rasa tidak. Anak buah Larkspur selalu berada di kolam ikan sepanjang petang hari Minggu, membuat foto jenazah, mengeluarkan pistol dari air. Se­telah senja, baru mereka pergi. Mereka pasti me­lihat setiap orang yang masuk ke rumah itu.”


Graciela berkata lambat lambat, ”Sekarang saya ingat. Saya pergi ke sana agak malam ya setelah makan malam...”


Eloise Hope memotong bicaranya dengan tajam.


”Orang tidak mencoret coret dalam gelap, Miss West. Apakah anda ingin mengatakan pada saya


bahwa anda masuk ke rumah peristirahatan itu pada malam hari, lalu berdiri di dekat meja dan menggambar sebatang pohon, tanpa bisa melihat apa yang sedang anda gambar?”


Dengan tenang Graciela berkata, ”Saya


menga­takan yang sebenarnya pada anda. Wajar saja kalau anda tak percaya pada saya. Anda punya gagasan gagasan anda sen­diri. Omong omong, apa sih gagasan anda?