Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 43


"Tak ada satu pun yang memuaskan dalam per­kara


ini,” kata Eloise dengan agak getir.


Suatu adegan pembunuhan yang diatur,


dipen­taskan untuk mmenipu mata Eloise Hope dan yang memang telah menipunya! Tidak, itu jelas tidak memuaskan.


Inspektur Larkspur melihat ke arah luar jendela.


”Nah,” katanya, ”ini Ferguson datang, sersan saya.


Kelihatannya dia membawa sesuatu. Dia tadi menanyai para pelayan tentu saja dengan cara yang sangat bersahabat. Dia tampan, dan pandai memikat hati wanita.”


Sersan Ferguson masuk dengan agak terengah­


engah. Jelas bahwa ia merasa puas dengan dirinya sendiri, tapi hal itu disembunyikannya di balik sikap resmi yang penuh hormat.


”Saya pikir sebaiknya saya datang melapor, Pak,


karena saya tahu ke mana anda akan pergi.”


Ia ragu ragu sebentar, sambil melemparkan


pan­dangan ke arah Eloise Hope. Penampilan Eloise yang lain daripada yang lain itu membuatnya curiga, hingga ia menutup mulut, sesuai dengan tuntutan kedinasan­nya.


”Katakan saja,” kata Inspektur Larkspur. ”Tak usah enggan meng­ucapkannya di hadapan Miss Hope. Dia akan cepat melupa­kan permainan ini.”


”Ya, Pak. Begini, Pak, saya berhasil mendapatkan sesuatu dari pelayan dapur...”


Larkspur menyela. Ia menoleh pada Eloise. de­ngan


pandangan kemenangan.


”Apa kata saya? Selama ada pelayan dapur, selalu ada harapan. Mudah mudahan jangan sam­pai terjadi pengurangan pembantu rumah tangga, hingga tak ada lagi orang yang mempekerjakan pelayan dapur. Soalnya pelayan pelayan dapur itu sangat suka berbicara dan berceloteh. Mereka sangat di­tekan oleh juru masak dan pelayan pelayan senior dan mereka harus tahu diri, hingga


sangatlah ma­nusiawi kalau mereka suka berbicara tentang apa saja yang mereka ketahui pada seseorang yang mau mendengarnya. Teruskan, Ferguson. ”


”Inilah yang dikatakan gadis itu, Pak. Katanya pada


hari Minggu petang, dia melihat Morris, pelayan


kepala, berjalan menyeberangi lorong ru­mah sambil memegang sebuah pistol.”


”Morris?”


”Ya, Pak.” Ferguson memperlihatkan sebuah buku


catatan. ”Inilah yang diucapkannya sendiri. ‘Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Tapi saya rasa, saya harus mengatakan apa yang saya lihat pada hari itu. Saya melihat Tuan Morris. Dia sedang berdiri di lorong rumah, memegang sebuah pistol. Mr. Morris kelihatan aneh sekali.’


”Saya rasa,” kata Ferguson setelah berhenti


se­bentar, "pernyataan tentang Morris yang


kelihat­an aneh itu tak ada artinya. Mungkin itu ditambah­kannya, dari khayalan­nya sendiri. Tapi saya pikir anda harus segera tahu tentang hal itu, Pak.”


Inspektur Larkspur bangkit dengan sikap


sese­orang yang merasa senang, karena melihat ada suatu tugas di hadapan­nya, yang pantas untuk di­laksanakannya.


”Morris?” katanya. ”Saya akan langsung ber­bicara dengan Morris. "


********


Inspektur Larkspur sekali lagi duduk di ruang kerja William Cavendish. Ia memandangi wajah tanpa ekspresi pria di hadap­annya. Sejauh ini, Morris bersikap amat sopan.


”Maafkan saya sebesar besarnya, Tuan,” ulangnya. ”Saya rasa seharusnya saya melaporkan kejadian itu. Tapi saya khilaf.”


Ia melihat pada Inspektur dan William secara bergantian, dengan pandangan meminta maaf.


”Kalau ingatan saya tepat, Tuan, waktu itu kira­ kira


jam setengah enam. Saya sedang menyebe­rangi lorong rumah untuk melihat kalau kalau ada surat yang harus dimasuk­kan ke pos. Waktu itu saya lihat sebuah pistol tergeletak di meja di lorong rumah. Saya menyimpulkan bahwa itu pasti berasal dari koleksi majikan saya. Jadi saya ambil, dan saya bawa kemari. Pada rak rak di dekat


pelindung perapian memang ada tempat kosong, tempat pistol itu biasanya berada. Jadi, saya


kem­balikan pistol itu ke tempatnya semula.”


Morris bangkit, dan pergi ke rak tersebut, dengan


diikuti oleh Inspektur Larkspur.


”Yang ini, Tuan.” Morris menunjuk sebuah pis­tol


Mauser kecil di ujung deretan.


Pistol itu berkaliber 25 amat kecil. Pasti bukan pistol itu yang telah digunakan untuk membunuh Peter Hamilton.


Sambil memandangi wajah Morris, Larkspur berkata, ”Itu sebuah pistol otomatis, bukan .”


Morris berdeham.


”Begitukah, Tuan? Sayang, saya sama sekali tak mengerti senjata api. Jadi mungkin saya salah telah menggunakan istilah revolver.”


”Tapi anda yakin sekali bahwa itulah senjata yang


Anda temukan di lorong rumah dan anda bawa masuk kemari?”


”Oh, ya, Tuan, tak mungkin ada keraguan menge­nai


hal itu.”


Larkspur mencegahnya waktu ia akan


mengulur­kan tangan.


”Jangan sentuh. Saya harus memeriksa sidik


ja­rinya, dan melihat apakah ada pelurunya.”


”Saya rasa tak ada pelurunya, Tuan. Tak ada koleksi Tuan William Cavendish yang disimpan dalam keadaan berisi peluru. Dan mengenai sidik jari, saya telah mengelap pistol itu dengan saputangan saya sebe­lum saya menaruhnya kembali, Tuan. Jadi hanya sidik jari saya yang akan ada di situ.”


”Mengapa anda lakukan itu?” tanya Larkspur


de­ngan suara tajam.


Tapi senyum Morris yang mengandung


per­mintaan maaf tak juga hilang.


"Saya pikir benda itu berdebu, Tuan.”


Pintu terbuka, dan Julia Cavendish masuk. Ia tersenyum pada Inspektur.


”Senang bertemu dengan anda, Inspektur Larkspur.


Ada apa ini, mengenai pistol dan Morris? Anak di


dapur itu sedang berurai air mata. Dia


dimarah marahi oleh Mrs Rivers , juru ma­sak kami. Tapi anak itu benar, mengatakan apa yang dilihatnya, kalau dia menganggap itulah yang harus dilakukannya. Saya sendiri selalu bingung mengenai mana yang benar dan mana yang salah. Lebih mudah bila yang benar itu tidak


menye­­nangkan, dan yang salah itu menyenangkan. De­ngan demikian, kita tahu di mana kita berada. Tapi kalau kebalikannya, membingungkan. Dan saya pikir semua orang harus melakukan apa yang menurut mereka sendiri benar. Bukan begitu,


In­spektur? Apa yang kau ceritakan tentang pistol itu, Morris?”


Dengan tekanan yang sopan, Morris menja­wab,


”Pis­tol itu ada di lorong rumah, Nyonya, di meja tengah. Saya tak tahu dari mana datangnya. Saya bawa masuk kemari, dan saya simpan di tempatnya yang benar. Itulah yang baru saja saya ceritakan pada Inspektur, dan beliau mengerti.”


Julia Cavendish menggeleng. Dengan halus ia berkata, ”Seharusnya kau tidak menceritakan


be­gitu, Morris. Aku akan berbicara sendiri dengan Inspektur.”


Morris bergerak, dan dengan manis Julia Cavendish berkata, ”Kuhargai motifmu, Morris. Aku tahu kau selalu mencoba menghindarkan kami dari kesulitan dan gangguan.” Lalu ditambah­kannya dengan halus, ”Sudah cukup sekarang."


Morris bimbang. Ia melihat sebentar ke arah William Cavendish dan Inspektur, lalu membungkuk dan berjalan ke arah pintu. Larkspur menggerakkan tangan, seolah akan me­nahannya. Tapi entah mengapa, ia sendiri tak yakin akan


dirinya, dan lengannya dijatuhkan kembali.


Morris keluar dan menutup pintu. Julia Cavendish duduk di sebuah kursi, lalu tersenyum pada kedua pria itu. Katanya dengan ringan, "Saya rasa Morris sangat baik sekali. Sangat feodal. Artinya dia mau mengorbankan diri demi majikannya. Ya, feodal adalah kata yang tepat untuk itu."