
"Tak ada satu pun yang memuaskan dalam perkara
ini,” kata Eloise dengan agak getir.
Suatu adegan pembunuhan yang diatur,
dipentaskan untuk mmenipu mata Eloise Hope dan yang memang telah menipunya! Tidak, itu jelas tidak memuaskan.
Inspektur Larkspur melihat ke arah luar jendela.
”Nah,” katanya, ”ini Ferguson datang, sersan saya.
Kelihatannya dia membawa sesuatu. Dia tadi menanyai para pelayan tentu saja dengan cara yang sangat bersahabat. Dia tampan, dan pandai memikat hati wanita.”
Sersan Ferguson masuk dengan agak terengah
engah. Jelas bahwa ia merasa puas dengan dirinya sendiri, tapi hal itu disembunyikannya di balik sikap resmi yang penuh hormat.
”Saya pikir sebaiknya saya datang melapor, Pak,
karena saya tahu ke mana anda akan pergi.”
Ia ragu ragu sebentar, sambil melemparkan
pandangan ke arah Eloise Hope. Penampilan Eloise yang lain daripada yang lain itu membuatnya curiga, hingga ia menutup mulut, sesuai dengan tuntutan kedinasannya.
”Katakan saja,” kata Inspektur Larkspur. ”Tak usah enggan mengucapkannya di hadapan Miss Hope. Dia akan cepat melupakan permainan ini.”
”Ya, Pak. Begini, Pak, saya berhasil mendapatkan sesuatu dari pelayan dapur...”
Larkspur menyela. Ia menoleh pada Eloise. dengan
pandangan kemenangan.
”Apa kata saya? Selama ada pelayan dapur, selalu ada harapan. Mudah mudahan jangan sampai terjadi pengurangan pembantu rumah tangga, hingga tak ada lagi orang yang mempekerjakan pelayan dapur. Soalnya pelayan pelayan dapur itu sangat suka berbicara dan berceloteh. Mereka sangat ditekan oleh juru masak dan pelayan pelayan senior dan mereka harus tahu diri, hingga
sangatlah manusiawi kalau mereka suka berbicara tentang apa saja yang mereka ketahui pada seseorang yang mau mendengarnya. Teruskan, Ferguson. ”
”Inilah yang dikatakan gadis itu, Pak. Katanya pada
hari Minggu petang, dia melihat Morris, pelayan
kepala, berjalan menyeberangi lorong rumah sambil memegang sebuah pistol.”
”Morris?”
”Ya, Pak.” Ferguson memperlihatkan sebuah buku
catatan. ”Inilah yang diucapkannya sendiri. ‘Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Tapi saya rasa, saya harus mengatakan apa yang saya lihat pada hari itu. Saya melihat Tuan Morris. Dia sedang berdiri di lorong rumah, memegang sebuah pistol. Mr. Morris kelihatan aneh sekali.’
”Saya rasa,” kata Ferguson setelah berhenti
sebentar, "pernyataan tentang Morris yang
kelihatan aneh itu tak ada artinya. Mungkin itu ditambahkannya, dari khayalannya sendiri. Tapi saya pikir anda harus segera tahu tentang hal itu, Pak.”
Inspektur Larkspur bangkit dengan sikap
seseorang yang merasa senang, karena melihat ada suatu tugas di hadapannya, yang pantas untuk dilaksanakannya.
”Morris?” katanya. ”Saya akan langsung berbicara dengan Morris. "
********
Inspektur Larkspur sekali lagi duduk di ruang kerja William Cavendish. Ia memandangi wajah tanpa ekspresi pria di hadapannya. Sejauh ini, Morris bersikap amat sopan.
”Maafkan saya sebesar besarnya, Tuan,” ulangnya. ”Saya rasa seharusnya saya melaporkan kejadian itu. Tapi saya khilaf.”
Ia melihat pada Inspektur dan William secara bergantian, dengan pandangan meminta maaf.
”Kalau ingatan saya tepat, Tuan, waktu itu kira kira
jam setengah enam. Saya sedang menyeberangi lorong rumah untuk melihat kalau kalau ada surat yang harus dimasukkan ke pos. Waktu itu saya lihat sebuah pistol tergeletak di meja di lorong rumah. Saya menyimpulkan bahwa itu pasti berasal dari koleksi majikan saya. Jadi saya ambil, dan saya bawa kemari. Pada rak rak di dekat
pelindung perapian memang ada tempat kosong, tempat pistol itu biasanya berada. Jadi, saya
kembalikan pistol itu ke tempatnya semula.”
Morris bangkit, dan pergi ke rak tersebut, dengan
diikuti oleh Inspektur Larkspur.
”Yang ini, Tuan.” Morris menunjuk sebuah pistol
Mauser kecil di ujung deretan.
Pistol itu berkaliber 25 amat kecil. Pasti bukan pistol itu yang telah digunakan untuk membunuh Peter Hamilton.
Sambil memandangi wajah Morris, Larkspur berkata, ”Itu sebuah pistol otomatis, bukan .”
Morris berdeham.
”Begitukah, Tuan? Sayang, saya sama sekali tak mengerti senjata api. Jadi mungkin saya salah telah menggunakan istilah revolver.”
”Tapi anda yakin sekali bahwa itulah senjata yang
Anda temukan di lorong rumah dan anda bawa masuk kemari?”
”Oh, ya, Tuan, tak mungkin ada keraguan mengenai
hal itu.”
Larkspur mencegahnya waktu ia akan
mengulurkan tangan.
”Jangan sentuh. Saya harus memeriksa sidik
jarinya, dan melihat apakah ada pelurunya.”
”Saya rasa tak ada pelurunya, Tuan. Tak ada koleksi Tuan William Cavendish yang disimpan dalam keadaan berisi peluru. Dan mengenai sidik jari, saya telah mengelap pistol itu dengan saputangan saya sebelum saya menaruhnya kembali, Tuan. Jadi hanya sidik jari saya yang akan ada di situ.”
”Mengapa anda lakukan itu?” tanya Larkspur
dengan suara tajam.
Tapi senyum Morris yang mengandung
permintaan maaf tak juga hilang.
"Saya pikir benda itu berdebu, Tuan.”
Pintu terbuka, dan Julia Cavendish masuk. Ia tersenyum pada Inspektur.
”Senang bertemu dengan anda, Inspektur Larkspur.
Ada apa ini, mengenai pistol dan Morris? Anak di
dapur itu sedang berurai air mata. Dia
dimarah marahi oleh Mrs Rivers , juru masak kami. Tapi anak itu benar, mengatakan apa yang dilihatnya, kalau dia menganggap itulah yang harus dilakukannya. Saya sendiri selalu bingung mengenai mana yang benar dan mana yang salah. Lebih mudah bila yang benar itu tidak
menyenangkan, dan yang salah itu menyenangkan. Dengan demikian, kita tahu di mana kita berada. Tapi kalau kebalikannya, membingungkan. Dan saya pikir semua orang harus melakukan apa yang menurut mereka sendiri benar. Bukan begitu,
Inspektur? Apa yang kau ceritakan tentang pistol itu, Morris?”
Dengan tekanan yang sopan, Morris menjawab,
”Pistol itu ada di lorong rumah, Nyonya, di meja tengah. Saya tak tahu dari mana datangnya. Saya bawa masuk kemari, dan saya simpan di tempatnya yang benar. Itulah yang baru saja saya ceritakan pada Inspektur, dan beliau mengerti.”
Julia Cavendish menggeleng. Dengan halus ia berkata, ”Seharusnya kau tidak menceritakan
begitu, Morris. Aku akan berbicara sendiri dengan Inspektur.”
Morris bergerak, dan dengan manis Julia Cavendish berkata, ”Kuhargai motifmu, Morris. Aku tahu kau selalu mencoba menghindarkan kami dari kesulitan dan gangguan.” Lalu ditambahkannya dengan halus, ”Sudah cukup sekarang."
Morris bimbang. Ia melihat sebentar ke arah William Cavendish dan Inspektur, lalu membungkuk dan berjalan ke arah pintu. Larkspur menggerakkan tangan, seolah akan menahannya. Tapi entah mengapa, ia sendiri tak yakin akan
dirinya, dan lengannya dijatuhkan kembali.
Morris keluar dan menutup pintu. Julia Cavendish duduk di sebuah kursi, lalu tersenyum pada kedua pria itu. Katanya dengan ringan, "Saya rasa Morris sangat baik sekali. Sangat feodal. Artinya dia mau mengorbankan diri demi majikannya. Ya, feodal adalah kata yang tepat untuk itu."