Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 59


”Ryan, Ryan, Ryan, Ryan tolonglah....”


Akhirnya Ryan bergerak. Ia mengerang, mem­buka


mata perlahan lahan, dan memandang ke atas, ke wajah Amy.


Dengan suara samar ia berkata, ”Oven gas...,” lalu


mata­nya mencari cari oven itu.


”Aku tahu, Sayang, tapi... mengapa?”


Kini Ryan menggigil, tangannya terasa dingin dan tak bertenaga.


”Amy?” katanya. Suaranya mengandung rasa tak


me­­ngerti, heran, dan senang.


”Aku mendengar kau melewati kamarku,” kata Amy. ”Aku tak tahu, lalu aku turun.”


Ryan mendesah , suatu ******* panjang, seolah olah dari jauh.


”Jalan keluar yang terbaik,” katanya. Kemudian, entah bagaimana, Amy teringat akan percakapan dengan Julia pada malam hari kejadian itu,


se­hubungan dengan berita berita dalam surat kabar The News.


”Tapi, Ryan... mengapa? Mengapa?”


Ryan memandanginya, tatapannya yang ham­pa,


dingin, dan gelap membuat Amy merasa ngeri.


”Karena aku tahu bahwa aku orang tak berguna. Aku selalu gagal. Selalu tak berhasil. Laki laki seperti Hamilton lah yang selalu sukses. Mereka berhasil, dan kaum wanita mengagumi mereka. Aku bukan apa apa. Aku bahkan seperti tidak


hi­dup. Aku telah mewarisi Logdewood, dan aku me­miliki harta yang cukup untuk hidup. Kalau tidak, aku pasti sudah melarat. Aku tak punya kemampuan untuk membangun karier, tak pernah pula berhasil se­bagai penulis. Graciela tidak menginginkan aku. Tak seorang pun menginginkan aku. Hari itu—di Berkeley—kukira... tapi sama saja ceritanya. Kau juga tak bisa mencintaiku, Amy. Bahkan demi Logdewood pun kau tak mau mendampingiku. Jadi, kupikir sebaiknya aku mati saja.”


Dengan cepat kata kata meluncur dari mulut Amy.


”Sayang... Sayang... kau tak mengerti. Itu semua gara­ gara Graciela , karena kupikir kau masih sangat mencintai Graciela.”


”Graciela?” Ryan menggumamkan nama itu dengan perlahan, seolah olah ia berbicara tentang seseorang yang tak terkira jauhnya. ”Ya, dulu aku sangat men­cintainya.”


Dan dengan suara yang seolah datang dari tem­pat


yang lebih jauh lagi, Amy mendengarnya bergumam, "Dingin...”


”Ryan... sayangku.”


Amy memeluknya dengan erat erat. Ryan tersenyum pada­nya, lalu bergumam, ”Kau hangat sekali, Amy.., kau hangat sekali.”


Ya, pikir Amy, begitulah rasa putus asa. Se­suatu


yang dingin dan amat dingin dan sepi. Selama ini ia tak pernah mengerti bahwa rasa putus asa itu sesuatu yang dingin. Ia mengira itu adalah sesuatu yang panas, berapi api, sesuatu yang keras, dan meluap luap panas.


Tapi rupa­nya tidak demikian halnya. Inilah rasa putus asa yang sebenarnya, kegelapan yang tak terkira dingin dan sepinya.


Dan dosa dari rasa putus asa, seperti yang dikhotbahkan oleh para imam, adalah dosa yang dingin, dosa karena me­misah­kan diri dari semua hubungan manusiawi yang hangat dan hidup.


Ryan berkata lagi, ”Kau hangat sekali, Amy.”


Dan tiba tiba, dengan rasa percaya diri yang penuh kebanggaan, Amy berpikir, ”Ya, itu­lah yang diinginkannya dan itu pula yang bisa ku­berikan padanya!”


Mereka semua dingin, semua keluarga Cavendish itu, bahkan Graciela pun pu­nya sifat dingin dan menjaga jarak bagaikan se­orang peri, seperti yang terdapat dalam darah ke­luarga Cavendish. Biarlah Ryan mencintai Graciela sebagai suatu impian yang tak nyata dan tak dapat dimiliki. Yang sangat dibutuhkannya adalah ke­hangatan, kepastian, dan kemantapan, yaitu ke­ber­sama­an sehari hari, cinta, dan tawa di Logdewood.


Ryan memandanginya lagi. Dilihatnya wajah Amy yang menunduk di atas wajahnya, warna kulit Amy 


yang segar, mulut yang membayangkan kebaikan hati,  mata yang mantap, dan rambut hi­tam yang disisir ke belakang dan dibelah di te­ngah, hingga membentuk sepasang sayap di atas dahi.


Ia selalu melihat Graciela sebagai gambaran masa 


lalu. Pada wanita yang kini sudah dewasa itu ia mencari dan ingin menemukan gadis berumur tujuh belas tahun yang merupakan cinta


pertama­nya. Tapi kini, melihat wajah Amy di atasnya, ia merasa melihat seorang Amy yang terus bertum­buh dari seorang anak sekolah 


dengan rambut dikucir dua menjadi wanita dengan rambut hitam bergelombang yang mengelilingi  wajahnya.


Dapat dibayangkan dengan jelas, bagaimana rambut yang merupakan sayap itu kelak berubah warna menjadi kelabu, tidak lagi hitam.


”Amy,” pikirnya, ”adalah sosok nyata. Satu­ satunya hal nyata yang pernah kuketahui.” Ia dapat merasakan kehangatan dan kekuatan Amy. Amy yang berambut hitam, baik, dan nyata! ”Amy-lah batu karang tempat aku bisa membangun hidup­ku,” pikirnya.


”Amy kekasihku,” katanya, ”aku cinta sekali pada mu. Jangan tinggalkan aku lagi, kumohon.”


Amy membungkuk ke arahnya, dan Ryan


merasa­­kan kehangatan bibir Amy di bibirnya yang dingin. Dirasakannya cinta Amy yang menyelubunginya, melindunginya. 


Dan kebahagiaan itu pun merekah di gurun dingin, tempat ia begitu lama hidup se­orang diri.


Tiba tiba Amy berkata dengan tawa gemetar, ”Lihat, Ryan, seekor kumbang hitam telah ke­luar untuk melihat kita. Bagus, ya, kumbang hitam itu. Tak pernah kusangka aku akan bisa begitu menyukai seekor kumbang hitam!”


Katanya lagi, seolah olah dalam mimpi, ”Alang­kah anehnya hidup. Kita duduk di lantai, di dalam dapur yang masih berbau gas, dikelilingi oleh kumbang hitam. Tapi kita merasa seolah olah tem­pat ini adalah surga kita.”


Seperti dalam mimpi pula Ryan bergumam, ”Aku 


mau tetap di sini selama lamanya.” 


”Sebaiknya kita pergi tidur. Sekarang jam tiga lewat seperempat. Bagaimana kita harus menjelaskan tentang kaca jendela yang pecah itu pada Julia?” 


Untunglah Julia adalah orang yang paling mudah menerima penjelasan, pikir Amy.


Lalu Amy melakukan sesuatu yang pernah


di­lakukan Julia terhadapnya pada hari pertama ia menginap. Ia masuk ke kamar Julia pada jam enam pagi. Dijelaskannya keadaan yang sebenarnya padanya.


”Ryan turun, lalu memasukkan kepalanya ke oven gas tengah malam,” katanya. ”Untunglah aku


men­dengarnya, lalu aku menyusulnya. Kaca jendela dapur kupecahkan, karena aku tak bisa mem­bukanya dengan cepat.”


Amy harus mengakui bahwa reaksi Julia sangat baik sekali. Ia tersenyum manis sekali tanpa memperlihatkan tanda tanda keheranan di wajahnya.


”Amy tersayang,” katanya, ”kau memang se­lalu berpikiran praktis. Aku yakin kau akan me­rupakan hiburan besar bagi Edward.”


Setelah Amy pergi, Julia Cavendish berbaring saja di tempat tidurnya sambil berpikir. Kemudian ia bangun, lalu masuk ke kamar suaminya yang kali ini tidak terkunci.


”William.”


”Julia, Sayang! Ayam belum lagi berkokok.” 


”Memang belum, tapi dengarkan aku, William, ini sangat penting sekali. Kita harus memasang listrik untuk memasak, dan kita harus ganti oven gas itu dengan oven listrik.”


”Kenapa? Itu kan cukup baik?”


”Oh, ya betul. Tapi benda itu memberikan


pikiran pikiran yang tak baik pada orang orang, dan tidak semua orang bisa bertindak praktis seperti Amy."