
Sama sekali belum ada pengobatannya. Tapi Peter
sedang berusaha untuk menemukan pengobatan itu. Saya tak dapat menjelaskannya secara teknis. Semua rumit sekali sesuatu yang berhubungan dengan pengeluaran hormon. Dia sedang mengadakan percobaan, dan Mrs. White itulah
pasien percobaannya, sebab nenek itu punya
keberanian. Dia ingin hidup, dan dia suka sekali pada Peter. Dia dan Peter sedang berjuang bersama untuk mengatasi penyakit tersebut. Penyakit itu dan Mrs. White merupakan dua hal yang paling banyak memenuhi pikiran Peter selama berbulan bulan ini, siang dan malam. Boleh dikatakan tak ada hal lain yang dianggapnya lebih penting. Itulah John. Dia tidak seperti dokter dokter laim di luar sana yang hanya mengurusi wanita wanita kaya yang tua dan gendut. Itu hanya pekerjaan sambilan baginya. Baginya yang
terpenting adalah rasa ingin tahu ilmiah yang mendalam dan hasilnya. Saya... ah, kalau saja saya bisa membuat anda mengerti.”
Kedua belah tangan Graciela terangkat dalam gerakan aneh yang menyatakan rasa putus asa.
”Kelihatannya andalah yang betul betul memahaminya,” katanya.
”Oh, ya. Saya memahaminya. Peter sering datang dan berbicara. Mengertikah anda? Sebenarnya bukan pada saya dia berbicara , saya rasa boleh
dikatakan pada dirinya sendiri. Dengan cara begitu,
hal hal menjadi jelas baginya. Kadang-kadang dia hampir putus asa. Dia tak mengerti bagaimana cara mengatasi keracunan yang meninggi, lalu dia mendapatkan ide untuk menggabungkan
pengobatan. Saya tak bisa menjelaskannya pada anda bagaimana sebenarnya. Pokoknya itu merupakan suatu perjuangan. Anda pasti tak bisa membayangkan rasa penasaran
dan konsentrasi dan pikirannya, dan juga siksaan
batin yang dialaminya. Dan kadang-kadang keletihannya yang luar biasa...”
Ia diam beberapa lama, matanya tampak gelap penuh kenangan. Dengan rasa ingin tahu, Eloise bertanya, ”Apakah anda sendiri memiliki pengetahuan teknis?”
Graciela menggeleng.
”Tidak. Sekadar cukup untuk mengerti apa
yang dibicarakan Peter. Saya punya buku buku, dan
saya membaca tentang hal itu.”
Ia diam lagi, wajahnya melembut, bibirnya agak terbuka. Pasti ia sedang mengenang, pikir Eloise.
Dengan mendesah dikembalikannya pikirannya ke
masa kini. Ia memandangi Eloise Hope dengan
murung.
”Alangkah baiknya bila saya bisa membuat anda
mengerti...”
”Anda sudah membuat saya mengerti, Miss West.”
”Sungguh?”
”Ya. Kita bisa mengenali kebenaran, kalau kita mendengarnya.
"Terima kasih. Tapi saya rasa tidak begitu mudah
menjelaskannya pada Inspektur Larkspur.”
”Mungkin tidak. Dia akan memusatkan pikiran pada
segi pribadi korban."
”Padahal itulah yang paling tak penting sama sekali tidak penting,” kata Graciela dengan geram.
Alis Eloise Hope naik lambat-lambat. Graciela memberikan jawaban atas protes yang tak diucapkan itu.
”Sungguh! Soalnya... setelah beberapa lama, kedudukan saya jadi berada di antara Peter dan apa yang dipikirkannya. Dia terpengaruh oleh keberadaan saya sebagai seorang wanita. Dia tak bisa memusatkan konsentrasi nya sebagaimana yang diinginkannya , gara gara saya. Dia takut kalau kalau dia mulai mencintai saya, padahal dia
tak mau mencintai siapa-siapa. Dia... dia bermain cinta dengan saya karena dia tak mau terlalu banyak berpikir tentang saya. Dia ingin hubungan kami ringan ringan saja, mudah, hanya suatu hubungan gelap biasa, seperti hubungan hubungan lain yang pernah dijalaninya.”
tajam. ”Apakah Anda puas dengan hubungan... seperti itu?”
Graciela bangkit. Waktu ia berbicara, suaranya .
Katanya, ”Tidak, saya tidak... bagaimanapun juga, saya seorang manusia biasa...”
Eloise menunggu beberapa saat, lalu berkata lagi,
”Jadi, mengapa, Miss West...?”
”Mengapa?” Graciela berbalik, menghadapinya sepenuhnya. ”Saya ingin Peter merasa puas, saya ingin Petr menndapatkan apa yang diinginkannya. Saya ingin dia bisa melanjutkan apa yang didambakannya yaitu pekerjaannya. Bila dia tak ingin disakiti, tak ingin jadi mudah tersinggung lagi, nah, itu sudah cukup bagi saya!”
Eloise menggosok-gosok hidungnya.
”Tadi Anda menyebut Karen Clark Miss West . Apakah dia juga kekasih gelap Peter Hamilton?”
”Sudah kurang lebih enam atau tujuh belas tahun dia tak bertemu dengan wanita itu. Baru malam Minggu yang lalu itulah mereka bertemu lagi.”
”Jadi, Peter Hamilton mengenalnya tujuh belas tahun yang lalu?”
”Ya. Yang kutahu mereka sudah bertunangan dan akan menikah.”
Graciela kembali, lalu duduk.
”Kelihatannya saya harus menjelaskan segala galanya. Peter sangat mencintai Karen. Karen adalah perempuan yang sangat egois, dari dulu sampai sekarang. Dia luar biasa egois. Syarat yang
diajukannya adalah Peter harus menguburkan segala yang didambakannya, dan menjadi suami Miss Karen Clark yang penurut dan tak punya arti apa-apa. Peter memutuskan hubungan itu. Saya rasa itu suatu tindakan yang tepat. Tapi dia menderita sekali. Muncullah ide untuk menikah dengan seseorang yang berlawanan sifatnya
dengan Karen. Dia menikah dengan Natasha, yang secara kasar bisa kita sebut orang paling bodoh di dunia. Itu memang baik dan aman, tapi sebagaimana kata orang, tibalah saatnya dia merasa jengkel karena telah menikah dengan
orang yang begitu bodoh. Dia pun mulai menjalin hubungan gelap dengan beberapa wanita lain, tapi tak satu pun di antaranya berarti. Saya yakin Natasha tentu tak pernah tahu tentang hubungan gelap itu. Tapi saya sendiri merasa bahwa selama tujuh belas tahun itu ada sesuatu yang tak beres dengan Peter. Dan itu saya rasa itu sesuatu
sehubungan dengan Karen. Dia tak pernah
benar benar mampu melupakannya. Lalu hari Sabtu yang lalu dia bertemu lagi dengan Karen.”
Setelah lama berdiam diri, Eloise berkata sambil merenung, ”Dia keluar bersamanya malam itu,
untuk mengantarnya pulang, dan kembali ke The Blossom sekitar jam empat pagi.”
”Bagaimana anda tahu?”
”Salah seorang pelayan menderita sakit kepala.”
Kata Graciela agak menyimpang, ”Julia terlalu memilki banyak punya pelayan.”
”Tapi anda sendiri juga tahu, bukan, Miss West?”
”Ya.”
”Bagaimana anda tahu?”
Sesaat lamanya tak ada jawaban. Lalu Graciela berkata lambat-lambat, ”Saya melihat ke luar dari jendela kamar, dan saya melihatnya kembali ke rumah.”
”Sakit kepalakah anda, Miss West?”
Graciela tersenyum padanya.
”Sakit yang lain sekali macamnya, Miss Hope.”
Graciela bangkit, lalu berjalan ke arah pintu. Eloise
berkata, ”Saya akan mengantar Anda kembali, Miss West.”
Mereka menyeberangi jalan umum, lalu masuk melalui pintu pagar, ke dalam kebun bunga.
”Kita tak perlu melewati rumah peristirahatan. Kita bisa naik ke kiri, dan masuk ke jalan setapak di puncak, yang menuju rumah kaca.”