Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 37


Sama sekali belum ada pengobatannya. Tapi Peter


sedang ber­usaha untuk menemukan pengobatan itu. Saya tak dapat menjelaskannya secara teknis. Semua rumit sekali sesuatu yang berhubungan dengan pengeluaran hormon. Dia sedang mengadakan percobaan, dan Mrs. White itulah


pa­sien percoba­annya, sebab nenek itu punya


ke­beranian. Dia ingin hi­dup, dan dia suka sekali pada Peter. Dia dan Peter sedang berjuang bersama untuk mengatasi penyakit tersebut. Penyakit itu dan Mrs. White merupakan dua hal yang paling banyak memenuhi pikiran Peter selama berbulan bulan ini, siang dan malam. Boleh dikatakan tak ada hal lain yang diang­gapnya lebih penting. Itulah John. Dia tidak seperti dok­ter dokter laim di luar sana yang hanya meng­urusi wanita wanita kaya yang tua dan gendut. Itu hanya pekerjaan sambilan baginya. Baginya yang


terpenting ada­lah rasa ingin tahu ilmiah yang mendalam dan hasil­nya. Saya... ah, kalau saja saya bisa membuat anda me­ngerti.”


Kedua belah tangan Graciela terangkat dalam gerakan aneh yang menyatakan rasa putus asa.


”Kelihatannya andalah yang betul betul memahaminya,” katanya.


”Oh, ya. Saya memahaminya. Peter sering datang dan berbicara. Mengertikah anda? Sebenarnya bukan pada saya dia berbicara , saya rasa boleh


dikatakan pada dirinya sendiri. Dengan cara begitu,


hal hal menjadi jelas baginya. Kadang-kadang dia hampir putus asa. Dia tak mengerti bagaimana cara mengatasi keracunan yang meninggi, lalu dia men­dapatkan ide untuk menggabungkan


pengo­batan. Saya tak bisa menjelaskannya pada anda bagai­mana sebenarnya. Pokoknya itu merupakan suatu per­jua­ngan. Anda pasti tak bisa membayangkan rasa pe­nasaran


dan konsentrasi dan pikirannya, dan juga siksaan


batin yang dialaminya. Dan kadang­-kadang keletihannya yang luar biasa...”


Ia diam beberapa lama, matanya tampak gelap penuh kenangan. Dengan rasa ingin tahu, Eloise bertanya, ”Apa­kah anda sendiri memiliki pengetahuan teknis?”


Graciela menggeleng.


”Tidak. Sekadar cukup untuk mengerti apa


yang dibicarakan Peter. Saya punya buku buku, dan


saya mem­baca tentang hal itu.”


Ia diam lagi, wajahnya melembut, bibirnya agak terbuka. Pasti ia sedang mengenang, pikir Eloise.


Dengan mendesah dikembalikannya pikirannya ke


masa kini. Ia memandangi Eloise Hope dengan


mu­rung.


”Alangkah baiknya bila saya bisa membuat anda


mengerti...”


”Anda sudah membuat saya mengerti, Miss West.”


”Sungguh?”


”Ya. Kita bisa mengenali kebenaran, kalau kita mendengar­nya.


"Terima kasih. Tapi saya rasa tidak begitu mu­dah


men­jelaskannya pada Inspektur Larkspur.”


”Mungkin tidak. Dia akan memusatkan pikiran pada


segi pribadi korban."


”Padahal itulah yang paling tak penting sama sekali tidak penting,” kata Graciela dengan geram.


Alis Eloise Hope naik lambat-lambat. Graciela memberikan jawaban atas protes yang tak diucapkan itu.


”Sungguh! Soalnya... setelah beberapa lama, ke­dudukan saya jadi berada di antara Peter dan apa yang dipikirkannya. Dia terpengaruh oleh keber­adaan saya sebagai seorang wanita. Dia tak bisa memusatkan konsentrasi nya seba­gaimana yang diingin­kannya , gara gara saya. Dia takut kalau kalau dia mulai mencintai saya, pad­ahal dia


tak mau men­cintai siapa-siapa. Dia... dia bermain cinta dengan saya karena dia tak mau terlalu banyak berpikir tentang saya. Dia ingin hubungan kami ringan ri­ngan saja, mudah, hanya suatu hubungan gelap biasa, seperti hubungan hubungan lain yang pernah dijalaninya.”


tajam. ”Apakah Anda puas dengan hubung­an... seperti itu?”


Graciela bangkit. Waktu ia berbicara, suaranya .


Katanya, ”Tidak, saya tidak... bagaimanapun juga, saya seorang manusia biasa...”


Eloise menunggu beberapa saat, lalu berkata lagi,


”Jadi, mengapa, Miss West...?”


”Mengapa?” Graciela berbalik, meng­hadapinya sepenuhnya. ”Saya ingin Peter merasa puas, saya ingin Petr menndapatkan apa yang di­inginkannya. Saya ingin dia bisa melanjutkan apa yang didambakan­nya yaitu pekerjaannya. Bila dia tak ingin disakiti, tak ingin jadi mudah tersinggung lagi, nah, itu sudah cukup bagi saya!”


Eloise menggosok-gosok hidungnya.


”Tadi Anda menyebut Karen Clark Miss West . Apakah dia juga kekasih gelap Peter Hamilton?”


”Sudah kurang lebih enam atau tujuh belas tahun dia tak bertemu dengan wanita itu. Baru malam Minggu yang lalu itulah mereka ber­temu lagi.”


”Jadi, Peter Hamilton mengenalnya tujuh belas tahun yang lalu?”


”Ya. Yang kutahu mereka sudah bertunangan dan akan menikah.”


Graciela kembali, lalu duduk.


”Kelihatannya saya harus menjelaskan segala galanya. Peter sangat mencintai Karen. Karen adalah perempuan yang sangat egois, dari dulu sampai sekarang. Dia luar biasa egois. Syarat yang


diajukannya adalah Peter harus mengu­burkan segala yang didambakan­nya, dan menjadi suami Miss Karen Clark yang penurut dan tak punya arti apa-apa. Peter memutus­kan hubungan itu. Saya rasa itu suatu tindakan yang tepat. Tapi dia menderita sekali. Muncullah ide untuk menikah dengan seseorang yang berlawanan sifat­nya


dengan Karen. Dia menikah dengan Natasha, yang secara kasar bisa kita sebut orang paling bodoh di dunia. Itu memang baik dan aman, tapi sebagaimana kata orang, tibalah saatnya dia merasa jeng­kel karena telah menikah dengan


orang yang be­gitu bodoh. Dia pun mulai menjalin hubungan gelap dengan beberapa wanita lain, tapi tak satu pun di antaranya berarti. Saya yakin Natasha tentu tak per­nah tahu tentang hubungan gelap itu. Tapi saya sendiri merasa bahwa selama tujuh belas tahun itu ada sesuatu yang tak beres dengan Peter. Dan itu saya rasa itu sesuatu


sehu­bungan dengan Karen. Dia tak pernah


benar benar mampu melupa­kannya. Lalu hari Sabtu yang lalu dia bertemu lagi dengan Karen.”


Setelah lama berdiam diri, Eloise berkata sambil merenung, ”Dia keluar bersamanya malam itu,


un­tuk mengantar­nya pulang, dan kembali ke The Blossom sekitar jam empat pagi.”


”Bagaimana anda tahu?”


”Salah seorang pelayan menderita sakit kepala.”


Kata Graciela agak menyimpang, ”Julia terlalu memilki banyak punya pelayan.”


”Tapi anda sendiri juga tahu, bukan, Miss West?”


”Ya.”


”Bagaimana anda tahu?”


Sesaat lamanya tak ada jawaban. Lalu Graciela berkata lambat-lambat, ”Saya melihat ke luar dari jendela kamar, dan saya melihatnya kembali ke rumah.”


”Sakit kepalakah anda, Miss West?”


Graciela tersenyum padanya.


”Sakit yang lain sekali macamnya, Miss Hope.”


Graciela bangkit, lalu berjalan ke arah pintu. Eloise


berkata, ”Saya akan mengantar Anda kem­bali, Miss West.”


Mereka menyeberangi jalan umum, lalu masuk melalui pintu pagar, ke dalam kebun bunga.


”Kita tak perlu melewati rumah peristirahatan. Kita bisa naik ke kiri, dan masuk ke jalan setapak di puncak, yang menuju rumah kaca.”