
Dengan lembut Ryan berkata
"Aku mengerti kesedihan mu Graciela. "
"Apakah aku bersedih ?"
Pertanyaan yang membuat Ryan heran . Sepertinya itu sebuah pertanyaan kepada diri nya sendiri bukan kepada Ryan.
Graciela bergumam
"Semuanya terjadi begitu cepat. Ketika kita masih hidup dan bernapas detik kemudian nya kita sudah mati. Yang ada mungkin hanya rasa hampa. Persetan dengan itu semua , sementara kita di sini enak enak makan dan mengatakan bahwa kita hidup padahal menurutku Peter lah yang jauh lebih hidup. Tahukah kau Ryan saat saat Peter sekarat itulah dia terlihat lebih hidup dari pada kita. "
"Hentikan Graciela. "
Sesaat Graciela menatap Ryan .
"Kau pasti tidak mengira bahwa itu adalah perasaan ku yang sebenarnya. Apakah kau pikir aku akan menangis seharian ? Dan kau akan datang padaku dan dengan lembut mengatakan bahwa semua akan di lupakan. Kau memang baik Ryan. Sangat baik tapi sayang itu semua tidak cukup untuk ku."
Ryan mundur beberapa langkah. Wajah nya berubah muram. Suaranya menjadi berat ketika dia berkata
"Kau benar."
Dengan kesal Graciela melanjutkan lagi kata kata nya.
"Kau kira bagaimana perasaan ku semalam ? Hanya duduk duduk saja sementar Peter sudah meninggal dan tak seorang pun dari kalian yang peduli. Ya benar tidak seorang pun kecuali aku dan Natasha. Hanya kami berdua lah yang tahu bagaimana rasanya kehilangan Peter. Asal kau tahu saja duduk bersama kau yang senang karena Peter sudah mati ,Shawn yang muram , Amy yang berpura pura sedih dan Julia yang tidak berperasaan dan merasa senang karena surat kabar murahan yang dia baca menjafi kenyataan . Tahukah kau bahwa ini adalah sebuah mimpi buruk bagi ku."
Ryan diam saja. Dia tidak tahu apa yang harus di katakannya sekarang.
Melihat sikap diam nya Ryan , Graciela berkata
"Kau tahu bagi ku hanya Peter yang terasa nyata."
Dengan nada datar Ryan berkata
"Aku tahu jika di bandingkan dengan aku tidak lah nyata. Semua berbicara seperti itu."
"Maafkan aku Ryan. Tapi bagi ku saat ini aku begitu membenci keadaan ini. Keadaan di mana orang yang begitu hidup bagi ku sudah mati."
"Dan aku yang hanya setengah hidup ini masih berdiri di hadapan mu Graciela ."
"Bukan seperti itu maksudku Ryan."
"Kurasa kau sudah cukup jelas menjelaskan maksudmu pada ku Graciela dan kurasa itu benar."
Graciela kembali merenung. Dia berkata
"Kurasa selamanya aku tidak akan bisa bersedih untuk Peter. Padahal aku ingin sekali bersedih untuknya. Mungkin benar apa yang di katakan nya dulu pada ku."
Ryan diam saja. Tapi dia tiba tiba menjadi terkejut ketika Graciela berkata
"Aku akan pergi ke rumah peristirahatan. "
Lalu Graciela pergi menuju hutan. Sedangkan Ryan pulang kembali ke rumah.
Amy cukup terkejut ketika melihat Ryan pulang . Wajah nya pucat seolah olah tidak ada darah yang mengalir di sana. Sedang Ryan sama sekali tidak mendengar panggilan Amy.
Ia berjalan menuju kursi di depan perapian dan berkata
"Malam ini dingin."
"Lebih baik kunyalakan api ya."
"Apa ?"
Amy pergi mengambil sebatang korek dan menyalakan perapian nya. Dengan hati hati di pandangi nya Ryan.
"Bagus sekali sekarang menjadi hangat dan nyaman, " kata Amy.
"Alangkah kelihatan dingin nya dia itu. Padahal cuaca di luar tidak begitu dingin. Pasti terjadi sesuatu dengan dia dan Graciela. Apa yang sebenarnya di katakan Graciela padanya?"
"Kemarilah Ryan."
"Apa ?"
Kini Amy berbicara sangat lambat dan nyaring seperti berbicara kepada orang tuli.
Lalu tiba tiba Ryan yang dia kenal kembali. Ryan yang seperti biasa selalu tersenyum lembut padanya.
"Tidak apa apa."
Kayu kayu bakar di perapian berbunyi bunyi. Membuat api makin menyala terang. Di ulurkan nya tangan yang panjang itu dan dia berkata,
"Bagus sekali api nya."
Amy berkata
"Ingatkah kau dulu kita suka membakar ubi di Logdewood?"
"Tentu saja. Dan sekarang pun aku masih melakukannya. Setiap hari selalu di antar sekeranjang ubi ke sana."
Amy mengingat hari hari mereka di Logdewood. Ryan di Logdewood. Ryan sedang duduk di perpustakaan nya. Ada pohon kenari besar yang menutupi jendela di salah satu ruang perpustakaan . Melalui jendela yang satu lagi kita bisa menikmati pemandangan ladang bunga matahari. Sementara itu di ladang bunga itu berdiri dengan kokoh sebuah pohon yang sudah cukup tua.
Oh Logdewood . Aku sungguh merindukan nya.
Serasa tercium oleh nya bau bunga matahari. Bunga matahari yang berwarna keemasan . Bau ubi yang di bakar di kebun. Lalu bau buku lama yang suka di baca Ryan. Biasanya Ryan aka selalu membaca buku di kursi favorit nya. Lalu tiba tiba Amy teringat pada Graciela.
Amy tersadar dan bertanya ,
"Graciela di mana ? "
"Dia pergi ke rumah peristirahatan. "
"Kenapa ?" Tanya Amy dengan mata terbelak.
Suaranya yang mendadak dan terdengar agak dalam menyadarkan Ryan kembali.
"Amy sayang ku .... kau tentu tahu bukan bahwa dia kenal dekat dengan Hamilton."
"Oh tentu saja aku tahu itu. Tapi yamg tak ku mengerti adalah kenapa dia harus pergi ke temat Peter meninggal. Graciela tidak pernah seerti itu."
"Apakah menurut mu kita tahu semua tentang orang orang di rumah ini ? Terutama Graciela?"
Alis mata Amy sedikit naik. Dia berkata
"Tapi kurasa kita sudah mengenal nya sejak kecil bukan.
"Dia sudah berubah."
"Kurasa tidak ."
"Graciela sudah berubah."
Amy menatap nya dengan pandangan menyelidik.
"Lebih besarkah itu dari pada perubahan mu atau pun aku."
"Oh itu benar
" Tidak aku belum berubah aku masih sama. Dan kau juga."
Tapi tiba tiba Ryan merasa tidak pasti. Dia memusatkan matanya dan memperhatikan Amy yang sedang mengaduk tumpukaan kayu di perapian. Ia memandangi Amy dari kejauhan ,dagu nya , kulit nya dan matanya yang memiliki kekerasan tekad.
"Kurasa akan sangat menyenangkan sekali Amy sayang kalau kita sering bertemu ."
Amy memandangnya dan tersenyum kecil. Dia berkata
"Aku tahu betapa sulit nya sekarang untuk tetap saling berhubungan. "
Di luar terdengan bunyi dan Ryan segera bangkit mendekati nya.
"Betul, kata Julia " katanya lagi " Hal ini memang cukup melelahkan karena inilah pertama kalinya kita berurusan dengan pembunuhan. Aku akan tidur. Selamat malam Amy."
Ryan meninggalkan ruang tamu dan naik ke kamar tidur nya. Ketika Graciela kembali ke rumah .
Amy menoleh padanya dan berkata
"Apa yang sudah kau katakan kepada Ryan ?"
"Ryan ?" Tanya Graciela dengan bingung.
Dahinya berkerut. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit.