Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 18


Permainan Peter juga tidak buruk. Hanya saja dia terlalu percaya diri membuat beberapa kesalahan kecil. Sedang Ryan adalah seorang pemain yang sangat baik. Dia pandai dalam menganalisa musuh nya.


Malam sudah semakin larut dan Graciela masih bermain Angka angka kedua belah pihak makin bertambah. Natasha cukup menikmati permainan kartu kali ini. Tanpa terasa Graciela mempermudah Natasha untuk mengambil keputusan yang kadang sulit baginya.


Tapi Peter tentu saja tidak bisa menahan diri nya. Berkali kali dia memarahi Natasha karena membuka kartu yang tidak seharusnya dan itu membuat kepercayaan diri Natasha berkurang. Dan jika itu sudah terjadi Graciela dengan cepat akan membela Natasha dan Peter hanya bisa berdiam diri saja.


Meteka sudah bermain hampir dua jam lamanya. Dan kedudukan mereka seri.


Graciela berkata


" Kurasa kita sudah cukup berusaha malam ini Natasha."


Natasha hanya tersenyum.


Dengan senyum ceria Peter berkata


"Akhir pertandingan yang bagus."


Graciela menatap nya dengan tajam . Peter hanya tersenyum sambil beranjak duduk di dekat perapian. Dia berkata


"Kau dari tadi berusaha melihat kartu ku dengan sengaja bukan ."


"Apakah aku melakukannya terlalu jelas? Padahal aku cukup yakin aku bisa menang." Balas Graciela dengan sengit.


"Maksudmu kau ingin Natasha memenangkan permainan ini ? Konyol sekali."


"Aku hanya ingin membuat Natasha nyaman di sini."


"Sepertinya pasangan main ku juga membantu mu."


Jadi dia menyadari nya. Padahal dari tadi aku sudah menduga duga apakah Ryan mengerti maksud ku apa tidak. Ryan sangat pandai sekali bermain. Tidak ada kesalahan sedikit pun kecuali tadi. Ketika dia salah mengeluarkan kartu. Padahal Graciela yakin sekali bahwa Ryan orang yang sangat jujur dalam bermain. Dia tidak akan pernah mengalah hanya untuk membiarkan Graciela menang. Kecuali dia tidak ingin membiarkan Peter Hamilton menang


Tiba tiba perasaan Graciela tidak enak. Dia merasa pesta akhir pekan ini sangat berbahaya.


Laku tiba tiba saja Karen Clark muncul begitu saja. Dia membuka pintu depan secara dramatis seperti sebuah pertunjukan.


Pintu di rumah keluarga Cavendish memang belum di tutup. Di karenakan cuaca yang memang agak panas. Karen Clark berjalan melewati pintu yang sudah di buka lebar olehnya. Dia berhenti dengan gaya yang anggun dan suara yang di buat semanis mungkin. Semua mata tertuju padanya.


"Tolong maafkan saya , karena saya masuk begitu saja. Saya tinggal di sebelah rumah anda Nyonya Cavendish. Saya sangat membutuhkan bantuan anda."


Dengan wajah penuh senyuman dia melanjutkan kata kata nya.


"Mohon maaf nama saya adalah Karen Clark. Saya membutuhkan bantuan anda. Saya ingin meminta lilin. Listrik di tempat saya sepertinya terputus dan betapa bodohnya saya tidak membeli lilin. Padahal saya sudah menyiapkan sekotak korek api. "


Semua orang terdiam. Mungkin merasa konyol dengan alasan yang di berikan oleh Karen. Karen Clark berpenampilan sangat menarik. Ia cantik sangat cantik. Cantik yang terkesan kejam. Rambut nya bergelombang berwarna merah tampaj bersinar indah. Bibir nya di poles lipstik berwarna pink senada dengan pakaian beludru yang di kenakan nya. Begitu juga dengan mantel bulu berwarna pink.


Ia menatap mereka dengan wajah polos nya.


"Padahal seharusnya saya menyiapkan nya. "


Julia mendekati Karen , sikap nya bersahabat dan dia tersenyum senang.


"Tentu saja bisa..."


Sebelum Julia selesai berbicara kata katanya sudah di potong oleh Karen.


Ia melihat Peter Hamilton wajahnya berubah dari heran menjadi senang. Ia mendekati Peter. Dengan kegirangan dia berkata


"Oh Peter Hamilton. Astaga tidak ku sangka akan bisa bertemu dengan mu di sini. "


Ia langsung memeluk Peter. Sikap nya berubah menjadi semangat . Dia berkata kepada Julia Cavendish.


"Ini merupakan kejutan yang sangat menyenangkan sekali. Peter adalah teman lama saya. Bahkan dia adalah tunangan saya dulu nya ."


Senyum merekah di wajah Karen. Sambil tertawa kecil membayangkan masa lalu nya dulu.


Sebagai tuan rumah yang baik William Cavendish mempersilahkan tamu nya untuk masuk dan minum. Ia mengambil gelas gelas.


Julia berkata


"Amy tolong kau panggil kan Morris. Minta dia untuk membawakan selusin kotak lilin."


Karen berkata


"Tidak perlu terlalu banyak Nyonya Cavendish. Dua kotak saja sudah lebih cukup untuk ku. "


Peter memperkenalkan Natasha padanya.


"Ini istri ku Karen ."


"Senang sekali aku bisa berjumpa dengan mu. Kupikir istri Peter adalah orang yang luar biasa." Karen berkata dengan nada mengejek.


Morris kembali lagi membawa dua kotak. Di letakannya di atas nampan. Dan di bawa nya kepada Karen.


Karen berkata


"Oh anda baik sekali Nyonya Cavendish. "


Julia hanya tersenyum. Dia berkata


"Tidak apa apa. Kami masih punya banyak. "


William Cavendish bertanya dengan nada senang


"Bagaimana rasanya tinggal di sana?"


"Sabgat menyenangkan sekali. Sesekali menikmati pemandangan pedesaan memang sangat bagus sekali."


Karen menghabiskan minuman nya dan meletakannya di atas meja. Di ambilnya kembali mantel bulu berwarna pink dan di pakai nya.


"Terima kasih sekali lagi atas kebaikan anda Nyonya Cavendish. Sekarang saya harus pamit dan membawa ini semua. Mohon maaf sydah mengganggu kesenangan kalian semua."


Lalu sambil tersenyum dia berkata


"Peter bisa tolong antar aku pulang. Aku ingin sekali berbincang bincang dengan mu. Rasanya sudah bertahun tahun kita tida pernah berbicara. "


Karen pergi menuju pintu keluar. Peter mengambil dua kotak itu dan memgikutinya keluar.


Setelah mereka berdua keluar William Cavendish berkata


"Malam yang menyenangkan. "


Julia menguap. Dia berkata


"Kita juga harus segera tidur. Kita harus nonton salah satu film nya nanti. Rasanya aku memilikinya. Akting nya sungguh sangat luar biasa tadi."


Mereka semua berpisah menuju kamar masing masing setelah saling mengucapkan selamat malam. Pada saat sudah berada di lantai dua Amy bertanya pada Julia .


"Apa maksudmu akting nya luar biasa ?"


"Bukan kah itu sudah sangat jelas sekali sayang."


Amy menganggukkan kepalanya dia berkata


"Menurut ku dia sebenarnya memiliki kotak lilin yang banyak di rumahnya."


"Tentu saja sayang. Aku yakin dia memiliki berpuluh puluh kotak lilin di sana rapi kitakdi boleh pelit kan. Dan akting nya memang tadi sangat luat biasa kan."


Di loring lorong rumah terdengar pintu pintu di tutup dan di kunci. William Cavendish berkata


"Pintu yang ini tidak akan ku tutup. Sebab Peter belum pulang. "


Akhirnya Graciela berpamitan pada Natasha. Sambil berkata


"Kenapa para artis selalu saja masuk secara dramatis?"


Setekah berkata seperti itu Graciela masuk ke dalam kamarnya.


******


Karen Wood berjalan dengan pelan di sepanjang jalan setapak dihutan . Ia keluar dari hutan menuju rumah peristirahatan milik keluarga Cavendish.