
”Dia sudah tua,” pikir Eloise Hope. ”Rambutnya
sudah mulai beruban, wajahnya sudah banyak kerutnya. Tapi dia punya daya tarik gaib. Dia akan selalu memiliki daya tarik itu.”
Dengan halus Julia Cavendish berkata, ”Saya ingin anda berbuat sesuatu untuk saya.”
”Ya, Nyonya?”
”Pertama tama, saya harus berbicara dengan anda
tentang Peter Hamilton.”
”Mengenai Dokter Hamilton?”
”Ya. Menurut saya, satu satunya hal yang harus di lakukan adalah mengakhiri segala galanya. Anda tentu mengerti maksud saya, bukan?”
”Saya tak yakin apakah saya mengerti maksud Anda, Nyonya Cavendish.”
Lucy melemparkan senyum manisnya lagi kepada Eloise, dan memegang lengan baju Eloise dengan tangannya yang panjang dan putih.
”Miss Hope yang baik, anda tahu betul. Polisi akan
berusaha mencari siapa pemilik sidik jari itu. Mereka tidak akan menemukannya, dan akhirnya mereka harus mengakhiri semua urusan ini. Tapi saya khawatir bahwa anda yang tak mau
mengakhirinya.”
”Tidak, Nyonya, saya tak akan mengakhirinya,”
kata EloiseHope dengan mantap.
”Saya juga sudah menduga begitu. Sebab itulah saya datang kemari. Anda ingin kebenaran, bukan?”
”Tentu saya menginginkan kebenaran.”
”Rupanya keterangan saya belum cukup jelas untuk anda. Saya ingin tahu mengapa anda tak mau mengakhiri urusan ini. Pasti bukan demi gengsi atau karena anda ingin si pembunuh digantung , saya selalu beranggapan bahwa mati digantung sangat tidak menyenangkan, seperti
pada abad pertengahan saja. Saya rasa sebabnya semata mata hanyalah karena anda ingin tahu saja. Anda tentu mengerti maksud saya, bukan? Bila anda ingin tahu kebenarannya, bila anda sudah diberitahu tentang kebenarannya, saya rasa... saya rasa mungkin anda akan puas. Apakah anda akan puas, Miss Hope?”
”Apakah anda menawarkan untuk menceritakan
kebenaran pada saya, Nyonya Cavendish?"
Wanita itu mengangguk.
”Jadi anda sendiri tahu kebenarannya?”
Julia Cavendish membuka matanya lebar lebar.
”Oh, ya, sudah lama saya tahu. Sekarang saya ingin
menceritakannya pada anda. Tapi harus kita sepakati bahwa setelah itu, semua dianggap selesai.”
Ia tersenyum pada Eloise. Senyum yang manis sekali.
”Maukah anda menerima tawaran saya itu, Miss Hope?”
Sulit sekali untuk Eloise Hope berkata, ”Tidak,
Nyonya, saya tidak menerima tawaran itu.”
Sebenarnya dalam hatinya Eloise Hope ingin... ingin sekali menganggap semuanya sudah selesai... karena Nyonya Cavendish-lah yang memintanya berbuat begitu.
Julia Cavendish duduk tanpa bergerak beberapa lama.
Lalu diangkatnya alisnya.
”Saya ingin tahu,” katanya. ”Saya ingin tahu apakah
Anda benar benar menyadari perbuatan anda itu.”
***********
Amy, yang sedang berbaring dengan mata terbuka dalam gelap, berbalik balik dengan gelisah di bantalnya. Didengarnya kunci pintu diputar, langkah kaki orang di lorong rumah di luar, melewati pintu kamarnya.
Amy segera menyalakan lampu di sebelah tempat tidurnya, lalu melihat sekilas ke jam yang ada di sebelah lampu di atas meja.
Jam empat kurang lima belas.
Ryan melewati kamarnya dan menuruni tangga
pada jam sekian. Aneh sekali.
Semalam mereka semua pergi tidur awal, jam setengah sebelas. Ia sendiri tidak tidur. Ia hanya berbaring baring di ranjangnya, dengan kelopak mata membara dan kepala sakit, serasa akan pecah.
Didengarnya bunyi jam di lantai bawah, dan suara
burung hantu di luar jendela kamarnya. Ia juga merasakan bahwa depresi mencapai titik terendah pada jam tiga subuh. Dan ia berpikir, ”Aku tak tahan... aku tak tahan. Hari esok sudah akan tiba satu hari lagi. Hari demi hari yang harus kujalani.”
Ia telah terusir dari Logdewood gara gara
tindakannya sendiri , dari semua yang indah dan yang disayanginya di Logdewood, yang sebenarnya bisa menjadi miliknya.
Tapi lebih baik terusir, lebih baik kesepian, lebih
baik menjalani hidup yang membosankan dan tidak
menarik daripada hidup dengan Ryan yang selalu
diganggu oleh bayangan Graciela. Sampai peristiwa di hutan itu, ia tak tahu bahwa ia bisa merasa begitu cemburu.
Lagi pula, Ryan selama ini tak pernah menyatakan mencintainya. Kasih sayang dan baik hati... ya. Tapi Ryan tak pernah berpura pura memberikan lebih daripada itu.
Dan Amy telah menerima batas batas itu. Tapi setelah menyadari apa artinya hidup berdampingan dengan seorang Ryan yang pikiran dan hatinya masih selalu dihantui oleh Graciela, barulah ia tahu bahwa baginya kasih sayang saja tak cukup.
Ryan tadi berjalan melewati pintu kamarnya, lalu
turun dari tangga depan. Aneh sekali. Ke mana ia pergi?
Amy menjadi gelisah. Banyak sekali kegelisahan yang dirasakannya di The Blossom sekarang ini. Apa yang akan dilakukan Ryan di lantai bawah sesubuh ini?
Apakah ia pergi ke luar?
Akhirnya ia tak tahan tinggal diam saja di kamarnya. Ia bangun, mengenakan kimono, lalu dengan membawa lampu senter, dibukanya pintu kamarnya dan keluar ke lorong rumah.
Keadaan masih amat gelap. Tak ada lampu yang
dinyalakan. Amy membelok ke kiri, dan tiba di kepala tangga. Di bawah, semua gelap pula. Ia menuruni tangga dengan berlari, dan setelah bimbang sebentar, dinyalakannya lampu di ruang depan. Semua sepi. Pintu depan masih tertutup rapat dan terkunci. Dicobanya membuka
pintu samping. Juga masih terkunci.
Kalau begitu, Ryan tidak keluar. Di mana dia?
Lalu tiba tiba diangkatnya kepalanya, dan ia mendengus.
Ada bau aneh. Bau gas yang amat samar.
Pintu di bagian luar dapur terbuka sedikit. Ia memasuki pintu itu. Dari pintu dapur yang terbuka, tampak sebuah cahaya samar, bersinar. Bau gas makin kuat.
Amy berlari sekuat tenaga di sepanjang lorong rumah, lalu masuk ke dapur. Ryan terbaring di lantai, kepalanya berada di dalam oven gas yang dibuka penuh.
Amy adalah seorang gadis yang cepat dan praktis.
Yang pertama tama dilakukannya adalah membuka lebar lebar daun jendela. Ia tak bisa membuka selot jendela kaca. Jadi, dibalutnya
tangannya dengan kain lap, dan dipecahkannya kaca jendela itu. Kemudian, sambil menahan napas, ia membungkuk dan menarik serta
menyeret tubuh Ryan keluar dari oven gas, lalu mematikan keran keran gas itu.
Ryan tak sadar, dan napasnya sesak. Tapi Amy
tahu bahwa ia takkan lama pingsan. Mungkin ia baru saja masuk ke dalam oven itu. Angin yang bertiup lewat jendela ke arah pintu yang terbuka dengan cepat mengembus uap gas ke luar. Amy menyeret Ryan ke suatu tempat di dekat jendela, tempat udara masuk dengan leluasa. Diraihnya tubuh anak muda itu ke dalam rangkulan tangannya yang kuat.
Dipanggilnya namanya, mula mula perlahan lahan,
lalu makin lama makin nyaring dengan rasa putus asa.