Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 30


"Soalnya kita kan tidak tahu apakah dia lebih suka menginap di Harrison Hotel atau menginsp disini bersama dengan kita."


Amy terlihat bingung dengan kata kata Julia. Dia balik menatap dengan pandangan bertanya pada Ryan. Ryan hanya mengangkat bahu nya tanda kalau ia juga tidak mengerti.


"Tidak ada gunanya kau bertanya pada Ryan , Amy. Ryan tidak tahu apa apa. Kau , Amy kau yang harus membantu ku. Kau selalu berpikiran praktis."


"Aku tak tahu apa maksud mu Julia ?"


Julia tampak bingung.


"Apa yang kau katakan Amy sayang? Tentu kau tahu maksudku. Ini semua tentang panggilan kepolisian itu. Natasha tentu akan datang untuk memenuhi panggilan tersebut. Menurutmu apakah sebaiknya dia menginap di sini atau di Harrison Hotel? Memang benar jika ia menginap di sini kejadian mengerikan itu pasti akan membebani nya. Kurasa jauh lebih baik ia menginap di Harrison Hotel. Tapi kalau dia menginap di sana kurasa jiga para wartawan yang haus berita itu dan juga tamu tamu di sana pasti akan memandang nya dengan aneh dan kurasa itu juga akan membuat dia menjadi risih. Kau tentu tahu kita harus menghafiri panggilan itu pada hari Kamis , Amy sayang. Kurasa aku akan mengenakan pakaian hitam saja lengkap dengan topi dan sarung tangan."


Dia melanjutkan lagi kata katanya dengan wajah berseri seri.


" Kau tahu aku belum pernah sekalipun datang ke kepolisian apalagi tentang pembunuhan. Yah ini membuatku sedikit bersemangat. Tahukah kalian kurasa aku memiliki beberapa sarung tangan pesta , lebih baik jika ku gunakan itu saja. Tapi sudah lama sekali aku tidak menggunakan sarung tanga. Rasanya agak aneh, ya ?"


"Kurasa satu satunya kegunaan sarung tangan adalah agar tidak ada sidik jari saat melakukan kejahatan, " kata Ryan sambil tertawa kecil.


"Kata kata yang bagus sekali Ryan. Oh ya apa yang akan kulakukan dengan benda ini ?" Julia Cavendish melihat ke arah telepon dengan bingung.


"Apakah kau akan menghubungi seseorang Julia?"


"Entahlah, aku tidak ingat." Julia Cavendish menggelengkan kepalanya dan meletakan kembali pesawat telepon itu.


Ia memandangi Ryan dan Amy bergantian. Dia menghela napas.


"Kau jangan membuat Amy kesal Ryan. Kau harus tahu kematian mendadak Peter pasti membuat Amy sedikit terkejut."


"Julia sayang , aku tidak membicarakan tentang pembunuhan itu. Tadi aku sedang membicarakan tentang tempat Amy bekerja. Kurasa tempat itu tidak cocok dengannya ," kata Ryan sambil tersenyum.


"Menurut Ryan , aku harus mendapatkan pekerjaan yang memilki bos yang baik dan juga lingkungan yang menyenangkan, " jawab Amy dengan nada dingin.


"Ryan memang orang yang sangat perhatian sekali," puji Julia Cavendish.


Ia tersenyum pada Amy dan keluar dari ruangN itu. Tinggalah Ryan dan Amy berdua di sana.


"Kumohon Amy pikirkan lagi kata kataku. Aku sungguh sungguh berpikir bahwa kau harus..."


Dengan kesal Amy memotong kata kata Ryan.


"Dia membayar ku dengan gaji yang cukup tinggi per minggu. Itu sudah lebih dari cukup."


Dengan cepat Amy meninggalkan Ryan di sana. Dia menyeberangi ruangan dan menuju kebun.


William Cavendish sedang duduk sambil menghisap cerutunya di teras depan. Amy berbelok menuju kebun bunga Julia.


Dia tahu bahwa keluarganya sangat baik padanya. Tapi dia merasa , dia tidak membutuhkan kebaikan mereka pagi ini.


Shawn Cavendish sedang duduk duduk di pinggir kolam ikan.


Shawn hanya diam saja ketika Amy berjalan menuju tempat nya dan duduk disebelahnya. Dengan senang di pandanginya raut kesal Shawn.


Betapa sulit nya untuk menyendiri, pikir Shawn. Tadi pagi dia di usir dari kamar tidurnya karena para pelayan datang ubtuk membersihkan kamar nya. Dia pikir ke ruang perpustakaan adalah tempat yang baik untuk menyendiri tapi dia salah. Julia Cavendish keluar masuk tempat itu tiga kali dan mengoceh tidak jelas.


Ia memutuskan untuk pergi ke kolam ikan dan dudukduduk di sana seorang diri. Dia sedang memikirkan akhir pekan yang menyebalkan ini. Semula dia hanya akan tinggal sebentar di sini , tapi ternyata di perpanjang karena kejadian menyebalkan menurut dia.


Karena dia sedang sangat serius memikirkan hal hal tersebut ketika melihat Amy berjalan mendekati tempat nya. Dia menjadi tidak senang kalau Amy mengganggu nya.


Ia tidak menyukai gadis ini walaupun masuh sana sama Cavendish, tapi dia tidak terlalu menganggap Amy.baginya Amy adalah seorang gadis yang tidak memiliki intelektual tinggi. Jadi dia agak terkeju ketika melihat tatapan tajam dari mata Amy.


Bagaimana pendapatmu tentang keluarga Cavendish ini ?" Tanya Amy.


Shawn hanya mengangkat bahunya. Katanya " Apakah aku harus menikirkan tentang mereka?"


"Apakah kau memikirkan sesuatu ? " Amy bertanya.


Dengan tenang Shawn berkata "Aku hanya sedang berpikir tentang pembunuhan itu."


"Rasanya aneh sekali bahwa kita terlibat dalam suatu pembunuhan,” kata Amy.


Shawn mendesah dan berkata, ”Menjengkelkan.”


Mung­kin itulah sikap yang terbaik. ”Semua kejadian bisa, yang kita pikir hanya ada di buku cerita detektif fiktif!”


”Kau pasti menyesal telah datang,” kata Amy.


David mendesah.


”Ya, sebenarnya lebih baik aku tinggal dengan seorang temanku di London.” Ditambahkannya, ”Temanku itu memiliki sebuah toko buku."


”Tapi kurasa di sini lebih nyaman,” kata Amy.


”Apakah orang benar-benar ingin merasa nya­man?” tanya Shawn mengejek.


”Adakalanya aku merasa tidak menginginkan apa pun selain yang satu itu,” kata Amy.


”Itu sikap yang mengganggu dalam hidup,” kata Shawn. ”Seandainya kau seorang pekerja...”


Amy memotong kata-katanya lagi.


”Aku memang pekerja. Justru itu rasa nyaman begitu menarik. Tempat tidur nyaman, bantal bantal lembut, teh yang diletakkan dengan perlahan lahan sekali di sisi tempat tidur kita, subuh subuh, sebuah kamar mandi dari porselen yang cukup banyak air panasnya, dan garam­­ yang enak untuk air mandi. Kursi malas tempat kita benar-benar bisa membenamkan diri...”


Amy berhenti sebentar dalam menyebutkan daftar kenyamanan kenyamanannya itu.


”Para pekerja sepantasnya mendapatkan semua itu,” kata Shawn.


”Aku sependapat sekali denganmu,” kata Amy dengan sepenuh hati.


*******


Eloise Hope yang sedang menikmati minu­man cokelatnya yang dihidangkan menjelang siang, terganggu oleh dering telepon. Ia bangkit, lalu meng­angkat telepon tersebut.


”Halo?”


”Miss Hope?”


”Nyonya Cavendish situ?”


"Senang sekali anda mengenali suara saya. Apa­kah saya mengganggu Anda?”