
"Julia , Sayang,” kata William Cavendish ”Apa yang ada atau tak ada dalam kepalamu itu sudah bertahun taahun menyusahkan orang orang yang kenal betul padamu.”
Julia Cavendish memandang suaminya dengan senyum yang sangat manis.
”Aku sedang mencoba mengingat, William. Orang memang biasa melakukan hal hal aneh. Kemarin pagi umpamanya, aku mengangkat alat penerima telepon, lalu kudapati diriku hanya memandangi benda itu dengan kebingungan. Aku tak bisa
membayangkan untuk apa benda itu kuangkat.”
”Mungkin Anda akan menelepon seseorang?” kata
Inspektur dengan nada dingin.
”Tidak. Itulah anehnya, saya tak ada niat
menelepon siapa siapa. Setelah itu baru saya ingat. Saya penasaran mengapa Mrs. Browns, istri tukang kebun, menggendong bayinya dengan cara yang aneh begitu. Lalu saya angkat alat penerima telepon itu, hanya untuk mencoba bagaimana cara orang menggendong bayinya. Lalu saya sadar,
tentulah kelihatannya aneh, karena Mrs. Browns kidal, jadi kepala bayi itu ada di sisi lain.”
Dengan penuh kemenangan ia menatap kedua pria
itu bergantian.
”Yah,” pikir Inspektur, ”kurasa memang ada orang orang seperti ini.”
Tapi ia tidak begitu yakin akan hal itu. Semuanya
mungkin suatu jaringan kebohongan, pikirnya. Pelayan dapur itu, umpamanya, dengan jelas telah mengatakan bahwa yang dipegang Morris adalah sebuah pistol. Namun pernyataannya tidak dapat terlalu diandalkan. Gadis itu tak tahu apa apa tentang senjata api. Ia telah mendengar orang menyebut nyebut tentang pistol sehubungan dengan kejahatan itu, dan pistol atau revolver tentu sama saja baginya.
Baik Morris maupun Nyonya Cavendish telah menunjuk dengan pasti revolver Ruger itu, tapi tak ada satu pun yang bisa membuktikan kebenaran pernyataan mereka. Mungkin sebenarnya pistol yang hilang itu yang dpegang Morris, dan ia mungkin telah mengembalikannya, bukan ke ruang kerja, melainkan pada Julia Cavendish sendiri.
Semua pelayan agaknya benar benar menyayangi wanita itu.
Bagaimana seandainya Julia Cavendish sendiri yang telah menembak Peter Hamilton? Tapi alasannya apa ia melakukannya? Larkspur tidak mengerti alasannya. Apakah mereka akan tetap mendukungnya dan berbohong demi dia?
Ia jadi tak senang, karena merasa memang itulah yang akan mereka lakukan. Dan sekarang ada lagi kisah rekaannya bahwa ia tak ingat atau sebenarnya ia bisa mengarang sesuatu yang lebih
baik daripada itu. Dan ia kelihatannya wajar wajar saja, sama sekali tidak risi ataupun malu. Persetan semuanya, wanita itu memberikan kesan seolah olah ia mengatakan yang sebenarnya.
Larkspur bangkit.
”Kalau anda sudah ingat lebih banyak, tolong ceritakan pada saya, Nyonya Cavendish,” katanya datar.
”Tentu, Inspektur,” sahut Julia. ”Kadang kadang kita
bisa tiba tiba teringat akan hal hal tertentu.”
Inspektur Larkspur keluar dari ruang kerja itu. Di lorong rumah, dimasukkannya sebuah jarinya ke bagian dalam kerah bajunya, lalu dihirupnya napas dalam dalam. Ia merasa segala galanya seolah kusut dalam rumput berduri. Yang dibutuhkannya dalam keadaan ini adalah cerutu nya yang paling tua dan paling jelek, segelas bir dan sepiring daging bebek yang empuk dengan kentang tumbuk yang di bumbui merica. Sesuatu yang sederhana dan bermanfaat.
*********
Di dalam ruang kerja, Julia Cavendish berjalan kian kemari, menyentuh pelan barang barang di sana dan di sini dengan jari telunjuknya. Suaminya William Cavendish duduk bersandar di kursinya, memperhatikan. Akhirnya ia berkata, ”Mengapa
kauambil pistol itu, Julia?”
Julia Cavendish menghampiri suaminya, lalu duduk
dengan anggun di sebuah kursi.
”Aku tidak begitu yakin, William. Kurasa aku sudah
punya bayangan samar mengenai suatu
kecelakaan.”
”Ya. Mengingat akar akar pohon pohon itu,” kata
Julia Cavendish samar-samar, ”yang banyak menonjol di atas tanah, hingga mudah sekali kita tersandung pada salah satu di antaranya. Orang bisa saja melepaskan beberapa tembakan ke
sasaran, lalu meninggalkan sebuah peluru di dalam senjata itu. Itu tentu sangat ceroboh sekali tapi kebanyakan orang memang selalu ceroboh. Menurut pendapatku, melakukan hal semacam itu bisa saja merupakan kecelakaan. Sesudahnya orang memang menyesal sekali, dan akan menyalahkan dirinya sendiri.”
Suaranya menghilang. Suaminya duduk tak
bergerak, tanpa melepaskan matanya dari istrinya. Lalu ia bicara lagi, suaranya tetap tenang dan berhati hati, ”Siapa yang harus menjadi... sasaran itu?”
Julia memutar kepalanya sedikit ke arah suaminya,
dan menatapnya dengan heran.
”Peter Hamilton tentu saja.”
”Ya, Tuhan, Julia...” William Cavendish tak dapat melanjutkan kata katanya.
”Aduh, William,” kata Julia dengan wajah bersungguh sungguh, ”aku sedang khawatir sekali. Memikirkan Logdewood.”
”Oh. Logdewood lagi. Kau terlalu memikirkan Logdewood, Julia. Kadang kadang kupikir itulah satu satunya hal yang benar benar kaupikirkan.”
”Soalnya Ryan dan Shawn adalah yang terakhir. Mereka berdua adalah Cavendish yang terakhir. Dan Shawn tak bisa diharapkan, William. Dia takkan pernah menikah gara gara ibunya dan soal soal lainnya. Dia akan mewarisi tanah dan rumah itu bila Ryan meninggal, dan dia tak mau menikah, sedangkan aku dan kau pasti sudah lama mati
sebelum dia menjadi setengah baya. Dialah yang akan merupakan keturunan Cavendish terakhir, dan semuanya pun akan hilang.”
”Begitu besarkah artinya itu, Julia?”
”Tentu saja besar artinya! Itu Logdewood!”
”Sebenarnya lebih baik kalau kau dulu dilahirkan
sebagai anak laki laki, Julia.”
Tapi William tersenyum sendiri. Karena ia tak
bisa membayangkan Julia yang lain, kecuali Julia yang sangat feminin ini.
”Semua tergantung pada menikah atau tidaknya Ryan, sedangkan Ryan sangat keras kepala. Kepalanya yang panjang itu seperti kepala ayahku. Aku berharap dia bisa melupakan Graciela, dan menikah dengan seorang gadis manis yang lain. Tapi sekarang kulihat rasanya tak ada harapan. Kupikir hubungan gelap antara Graciela dan Peter akan berlangsung seperti biasa. Soalnya
hubungan hubungan gelap Peter tak pernah
bertahan lama. Tapi beberapa malam yang lalu, kulihat cara Peter memandangi Graciela. Dia benar benar cinta pada Graciela kalau saja Peter tak ada lagi, kurasa Graciela mau menikah dengan Ryan. Graciela bukan orang yang suka berlama lama
menyimpan kenangan dan hidup di masa lalu. Jadi, kesimpulannya... eenyahkanlah Peter Hamilton. ”
"Julia! Kau kan tidak... Apa yang telah kaulakukan,
Julia?” Julia Cavendish bangkit. Dikeluarkannya dua tangkai bunga anggrek yang sudah layu dari jambangan.
”Sayangku,” katanya, ”kau kan tidak mengira bahwa
aku yang menembak Peter? Aku memang pernah punya pikiran bodoh mengenai suatu kecelakaan.
Tapi kemudian aku ingat bahwa kitalah yang telah
mengundang Peter Hamilton kemari, bukan dia yang ingin datang sendiri. Kita tak mungkin mengundang seseorang, lalu merencanakan suatu kecelakaan. Jadi, jangan khawatir, William.”
Julia Cavendish berdiri, memandangi suaminya dengan senyum ceria dan penuh rasa cinta.
Dengan berat suaminya berkata, ”Aku selalu khawatir memikirkanmu, Julia."