Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 45


"Julia , Sayang,” kata William Cavendish ”Apa yang ada atau tak ada dalam kepalamu itu sudah bertahun­ taahun menyu­sah­kan orang orang yang kenal betul padamu.”


Julia Cavendish memandang suaminya dengan senyum yang sangat manis.


”Aku sedang mencoba mengingat, William. Orang memang biasa melakukan hal hal aneh. Kemarin pagi umpama­nya, aku mengangkat alat penerima telepon, lalu ku­dapati diriku hanya memandangi benda itu dengan kebingungan. Aku tak bisa


mem­bayangkan untuk apa benda itu kuangkat.”


”Mungkin Anda akan menelepon seseorang?” kata


Inspektur dengan nada dingin.


”Tidak. Itulah anehnya, saya tak ada niat


me­nelepon siapa siapa. Setelah itu baru saya ingat. Saya penasaran mengapa Mrs. Browns, istri tukang kebun, menggendong bayinya dengan cara yang aneh begitu. Lalu saya angkat alat penerima tele­pon itu, hanya untuk mencoba bagaimana cara orang menggendong bayinya. Lalu saya sadar,


ten­tulah kelihatannya aneh, karena Mrs. Browns kidal, jadi kepala bayi itu ada di sisi lain.”


Dengan penuh kemenangan ia menatap kedua pria


itu bergantian.


”Yah,” pikir Inspektur, ”kurasa memang ada orang orang seperti ini.”


Tapi ia tidak begitu yakin akan hal itu. Semuanya


mungkin suatu jaringan kebohongan, pikirnya. Pelayan dapur itu, umpamanya, dengan jelas telah mengatakan bahwa yang dipegang Morris adalah sebuah pistol. Namun pernyataan­nya tidak dapat terlalu diandalkan. Gadis itu tak tahu apa apa tentang senjata api. Ia telah mendengar orang menyebut nyebut tentang pistol sehubungan dengan kejahatan itu, dan pistol atau revolver tentu sama saja baginya.


Baik Morris maupun Nyonya Cavendish telah menunjuk dengan pasti revolver Ruger itu, tapi tak ada satu pun yang bisa membuktikan kebenaran pernyataan mereka. Mungkin sebenarnya pistol yang hilang itu yang dpegang Morris, dan ia mungkin telah mengembalikan­nya, bukan ke ruang kerja, melainkan pada Julia Cavendish sendiri.


Se­mua pelayan agaknya benar benar menyayangi wa­nita itu.


Bagaimana seandainya Julia Cavendish sendiri yang telah menembak Peter Hamilton? Tapi alasannya apa ia melakukannya? Larkspur tidak mengerti alasannya. Apakah mereka akan tetap mendukungnya dan berbohong demi dia?


Ia jadi tak senang, ka­rena merasa memang itulah yang akan mereka lakukan. Dan sekarang ada lagi kisah rekaannya bahwa ia tak ingat atau sebenarnya ia bisa mengarang se­suatu yang lebih


baik daripada itu. Dan ia kelihat­annya wajar wajar saja, sama sekali tidak risi ataupun malu. Persetan semuanya, wanita itu memberikan kesan seolah olah ia mengatakan yang sebenarnya.


Larkspur bangkit.


”Kalau anda sudah ingat lebih banyak, tolong ceritakan pada saya, Nyonya Cavendish,” katanya da­tar.


”Tentu, Inspektur,” sahut Julia. ”Kadang kadang kita


bisa tiba tiba teringat akan hal hal tertentu.”


Inspektur Larkspur keluar dari ruang kerja itu. Di lorong rumah, dimasukkannya sebuah jarinya ke bagian dalam kerah bajunya, lalu dihirupnya napas dalam­ dalam. Ia merasa segala galanya seolah kusut dalam rumput berduri. Yang dibutuhkannya dalam ke­adaan ini adalah cerutu nya yang paling tua dan paling jelek, segelas bir dan sepiring daging bebek yang empuk dengan kentang tumbuk yang di bumbui merica. Sesuatu yang sederhana dan bermanfaat.


*********


Di dalam ruang kerja, Julia Cavendish berjalan kian kemari, menyentuh pelan barang barang di sana dan di sini dengan jari telunjuknya. Suaminya William Cavendish duduk bersandar di kursinya, memperhatikan. Akhirnya ia ber­kata, ”Meng­apa


kauambil pistol itu, Julia?”


Julia Cavendish menghampiri suaminya, lalu duduk


de­ngan anggun di sebuah kursi.


”Aku tidak begitu yakin, William. Kurasa aku sudah


punya bayangan samar mengenai suatu


ke­celakaan.”


”Ya. Mengingat akar akar pohon pohon itu,” kata


Julia Cavendish samar-samar, ”yang banyak menonjol di atas tanah, hingga mudah sekali kita tersandung pada salah satu di antaranya. Orang bisa saja melepaskan bebe­rapa tembakan ke


sa­saran, lalu meninggalkan sebuah peluru di dalam senjata itu. Itu tentu sangat ceroboh sekali tapi kebanyakan orang memang selalu ceroboh. Menurut pendapatku, me­lakukan hal semacam itu bisa saja merupakan ke­ce­lakaan. Sesudahnya orang memang menyesal se­kali, dan akan menyalahkan dirinya sendiri.”


Suaranya menghilang. Suaminya duduk tak


ber­gerak, tanpa melepaskan matanya dari istrinya. Lalu ia bicara lagi, suaranya tetap tenang dan berhati hati, ”Siapa yang harus menjadi... sasaran itu?”


Julia memutar kepalanya sedikit ke arah suami­nya,


dan menatapnya dengan heran.


”Peter Hamilton tentu saja.”


”Ya, Tuhan, Julia...” William Cavendish tak dapat me­lanjutkan kata katanya.


”Aduh, William,” kata Julia dengan wajah bersungguh sungguh, ”aku sedang khawatir sekali. Memikirkan Logdewood.”


”Oh. Logdewood lagi. Kau terlalu memikirkan Logdewood, Julia. Kadang kadang kupikir itulah satu satunya hal yang benar benar kaupikirkan.”


”Soalnya Ryan dan Shawn adalah yang ter­akhir. Mereka berdua adalah Cavendish yang terakhir. Dan Shawn tak bisa diharapkan, William. Dia takkan pernah me­nikah gara gara ibunya dan soal soal lainnya. Dia akan mewarisi tanah dan rumah itu bila Ryan meninggal, dan dia tak mau menikah, sedangkan aku dan kau pasti sudah lama mati


se­belum dia menjadi setengah baya. Dialah yang akan me­­­­­­ru­pa­kan keturunan Cavendish terakhir, dan semuanya pun akan hilang.”


”Begitu besarkah artinya itu, Julia?”


”Tentu saja besar artinya! Itu Logdewood!”


”Sebenarnya lebih baik kalau kau dulu dilahir­kan


sebagai anak laki laki, Julia.”


Tapi William tersenyum sendiri. Karena ia tak


bisa mem­bayangkan Julia yang lain, kecuali Julia yang sangat feminin ini.


”Semua tergantung pada menikah atau tidaknya Ryan, sedangkan Ryan sangat keras ke­pala. Kepalanya yang panjang itu seperti kepala ayahku. Aku berharap dia bisa melupakan Graciela, dan menikah dengan seorang gadis manis yang lain. Tapi sekarang ku­lihat rasanya tak ada harap­an. Kupikir hubungan gelap antara Graciela dan Peter akan berlangsung seperti biasa. Soalnya


hu­bungan hubungan gelap Peter tak pernah


ber­tahan lama. Tapi beberapa malam yang lalu, kulihat cara Peter memandangi Graciela. Dia benar benar cinta pada Graciela kalau saja Peter tak ada lagi, ku­rasa Graciela mau menikah dengan Ryan. Graciela bukan orang yang suka berlama lama


me­nyimpan kenangan dan hi­dup di masa lalu. Jadi, kesimpulannya... eenyahkanlah Peter Hamilton. ”


"Julia! Kau kan tidak... Apa yang telah kau­lakukan,


Julia?” Julia Cavendish bangkit. Dikeluarkannya dua tangkai bunga anggrek yang sudah layu dari jambangan.


”Sayangku,” katanya, ”kau kan tidak mengira bahwa


aku yang menembak Peter? Aku memang pernah punya pikiran bodoh mengenai suatu kecelakaan.


Tapi kemudian aku ingat bahwa kitalah yang telah


meng­undang Peter Hamilton ke­mari, bukan dia yang ingin datang sendiri. Kita tak mungkin mengundang seseorang, lalu meren­canakan suatu kecelakaan. Jadi, jangan kha­watir, William.”


Julia Cavendish berdiri, memandangi suaminya dengan senyum ceria dan penuh rasa cinta.


De­ngan berat suaminya berkata, ”Aku selalu khawatir memikirkanmu, Julia."