Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 61


Natasha berkata, ”Tapi kau takkan mengerti , Graciela. Peter bukan... dia bukan...” Natasha berdiri saja, membisu, dan menimbulkan rasa iba.


Tiba tiba ia mengangkat matanya, menatap wajah Graciela. ”Semua bohong belaka , semua! Semua persangkaanku tentang diri­nya! Aku melihat wajah Peter waktu dia mengikuti perem­puan itu keluar malam itu. Karen Clark! Aku memang tahu bahwa dia per­nah mencintai perempuan itu, Peter pernah  mencintai nya bertahun tahun yang lalu, sebelum dia bertemu dan menikah denganku. Tapi kupikir itu sudah berlalu. Sudah menjadi masa lalu.”


”Tapi itu memang sudah berlalu, Natasha, ” kata Graciela dengan halus.


Natasha menggeleng.


”Tidak. Perempuan ****** itu , Karen datang dan berpura pura bah­wa dia sudah bertahun tahun tidak pernah bertemu dengan Peter lagi. Tapi aku melihat wajahnya , wajah  Peter. Dia ikut ke­luar dengan perem­puan itu begitu saja Graciela.  Aku pergi tidur. Aku berbaring saja di atas tempat tidur dan men­coba membaca sebuah buku. Kubaca cerita detektif yang sedang dibaca oleh Peter. Dan Peter belum juga datang. Akhirnya aku keluar.”


Matanya menerawang mengingat kejadian malam itu.


”Waktu itu terang bulan. Jadi aku bisa keluar tanpa menggunakan lampu senter. Aku pergi lewat jalan setapak, ke arah kolam ikan. Di rumah


peristirahat­an itu ada cahaya. Mereka ada di situ  , Peter dan perempuan ****** itu...”


Graciela mendesah samar samar. Wajah Natasha sudah berubah. Tidak lagi menampakkan keramahan yang agak hampa. Wajah itu kini berubah menjadi kejam, tak kenal ampun.


”Selama ini aku percaya padanya , pada Peter. Aku memercayainya, seolah olah dia adalah Tuhan. Kupikir dia adalah laki laki paling mulia di dunia ini. Kupikir dia adalah sosok yang penuh dengan kebaikan dan kemuliaan. Tapi nyatanya semua itu bohong! Aku terempas tanpa pegangan. Selama ini aku memuja Peter!”


Graciela menatapnya dengan terpesona. Karena di


depan matanya kini Natasha adalah sosok yang pernah dikhayalkannya, dan yang kemudian diciptakannya dengan melukisnya. Inilah Sang  Pemuja. Pemujaan yang tanpa batas sang pemuja terempas, tertipu, dan men­jadi mahluk yang sangat berbahaya.


”Aku tak tahan lagi,” kata Natasha. ”Aku harus membunuh­nya! Harus! Kau mengerti, kan, Graciela?”


Kata kata itu diucapkannya dengan nada biasa yang boleh dikatakan sangat ramah.


”Dan aku tahu bahwa aku harus berhati hati sekali, sangat berhati hati , karena polisi amat pandai. Tapi aku sebe­narnya tidak sebodoh yang disangka orang! Bila kita lamban dan suka menatap kosong, orang­ orang akan mengira kita tak mengerti apa apa. Bahkan mereka akan berpikir kita dungu. Padahal kadang kadang di dalam hati kita lah mener­tawakan mereka! Aku tahu bahwa aku


bisa mem­bunuh Peter, dan tak seorang pun akan tahu, se­bab aku sudah membaca dalam cerita detektif bahwa polisi bisa menentukan dari senjata apa suatu peluru ditembakkan. Petang itu, William Cavendish telah memperlihatkan padaku cara mengisi dan menembakkan sebuah pistol.  Aku akan meng­ambil dua buah pistol dari ruang kerjanya. Akan kutembak Peter dengan pistol yang satu, lalu kusembunyikan, dan kubiarkan


orang orang menemu­kan diriku se­dang memegang revolver yang lain. Mula mula mereka akan mengira akulah yang menembaknya, lalu mereka akan mendapati bahwa dia tidak di­tembak dengan pistol itu, dan mereka pun akan berkata bahwa ternyata bukan aku yang melaku­kannya!”


Ia mengangguk dengan penuh rasa kemenangan.


”Tapi aku lupa pada benda kulit itu. Apa namanya?


Sarung pistol? Itu ada di laci di kamar tidurku. Polisi pasti tak peduli lagi pada barang itu lagi sekarang.”


”Kenapa tidak?” kata Graciela. ”Sebaiknya


kau­berikan itu padaku, supaya kubawa pergi. Begitu benda itu sudah tak ada padamu, kau akan aman.”


Graciela duduk. Tiba tiba ia merasa amat sangat letih.


Kata Natasha, ”Kau kelihatan tidak sehat. Aku


se­dang membuat teh tadi.”


Ia keluar dari kamar itu. Sebentar kemudian ia kembali dengan membawa sebuah nampan. Di atasnya ada sebuah poci teh, wadah susu, dan dua buah cangkir.


Susu­nya melimpah karena terlalu penuh. Natasha meletakkan nampan itu, lalu me­nuang secangkir teh, dan diberikan­nya pada Graciela.


”Astaga,” katanya dengan murung, ”kurasa air di ketel tadi belum mendidih.”


Natasha merasa bimbang sebentar, lalu keluar dari kamar itu. Graciela mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan lengan ke atas meja, dan menyandarkan ke­palanya di lengan itu. Ia merasa letih, amat letih. Tapi sekarang sudah hampir selesai. Natasha akan selamat, sebagaimana dikehendaki oleb John.


Ia duduk tegak lagi, menyibakkan rambut dari dahinya, lalu mengambil cangkir. Tapi bunyi di ambang pintu membuatnya menoleh. Kali ini Natasha bergerak cepat.


Yang berdiri di ambang pintu adalah Eloise Hope.


”Pintu depan terbuka,” katanya sambil menghampiri meja, ”jadi saya memberanikan diri untuk ma­suk.”


”Anda!” kata Gracieladengan nada terkejut.


”Bagaimana anda sam­pai kemari?”


”Waktu anda mendadak berangkat dari The Blossom, saya langsung tahu tujuan anda. Saya menyewa sebuah mobil yang cepat sekali, dan langsung kemari.”


”Oh,” Graciela mendesah. ”Tidak heran.”


”Jangan minum teh itu,” kata Eloise sambil mengambil cangkir itu dan meletakkannya kembali ke nampan semula. ”Teh yang dibuat dari air yang tidak mendidih tak baik untuk diminum.”


”Apakah soal air mendidih saja begitu besar


arti­nya?”


Dengan lembut Eloise berkata, ”Segalanya besar


artinya.” Terdengar suara di belakang Eloise, dan Natasha masuk ke kamar itu. Ia membawa sebuah tas kerja. Mata­nya memandang Eloise sekilas, lalu beralih kepada Graciela .


Cepat cepat Graciela berkata, ”Rupanya aku merupakan tokoh yang dicurigai, Natasha. Agaknya Miss Hope terus membayang bayangi diriku.


Pikir­nya aku­lah yang telah membunuh Peter.Tapi dia tak bisa mem­buktikannya.”


Bicaranya makin lama makin lambat dan jelas. Ia takut kalau kalau Natasha akan  membuka rahasianya sendiri.


Dengan linglung Natasha berkata, ”Maafkan saya. Apakah anda mau minum teh, Miss Hope?”


”Tidak, terima kasih, Nyonya. ”


Natasha duduk di dekat nampan. Ia berbicara dengan nada mengandung permintaan maaf.


”Maaf, semua sedang keluar. Adik saya dan anak anak sedang pergi piknik. Saya kurang sehat, jadi mereka meninggalkan saya di rumah.”


”Kasihan anda, Nyonya.”


Natasha mengambil secangkir teh, lalu minum.


”Semua menyusahkan sekali. Semua. Soal­nya, Peterlah biasanya yang mengatur segala gala­nya, dan sekarang Peter sudah tiada...” Suaranya menghilang. ”Sekarang Peter sudah tiada...”


Pandangannya yang kebingungan dan mengiba­kan


beralih dari yang seorang pada yang lain. ”Saya tak tahu harus berbuat apa tanpa Peter. Prter-lah yang selalu mengurus saya. Dia yang menjaga saya. Sekarang dia sudah tiada, dan hi­langlah segala galanya. Dan anak anak... mereka bertanya terus, mereka bertanya terus tentang ayahnya dan saya ..... saya tak bisa menjawab­nya. Saya tak tahu apa yang harus saya katakan pada Rudy.  Dia bertanya pada saya, ‘Mengapa Papa dibunuh?’ Suatu hari kelak, dia akan tahu mengapa. Rudy selalu ingin tahu. Yang mengherankan saya, dia selalu bertanya


mengapa, bukannya siapa!”