Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 34


Telepon di meja kerja berdering. Miss Robert mengangkatnya.


”Untuk anda, Inspektur Larkspur,” katanya, lalu mem­berikan telepon itu pada Larkspur.


”Halo, Larkspur di sini. Apa?”


Nora bisa mendengar perubahan dalam nada suara Larkspur. Ditatapnya inspektur itu dengan pandangan menyelidik. Wajah yang seperti


patung kayu itu tidak berubah. Ia hanya menggeram dan mendengarkan.


”Ya... ya, aku mengerti... Apakah itu sudah pasti?


Tak ada kemungkinan salah? Ya... ya... ya, aku akan ke sana. Aku hampir selesai di sini. Ya.”


Diletakkannya kembali telepon itu, lalu du­duk


sebentar tanpa bergerak. Nora memandanginya dengan rasa ingin tahu. Inspektur menenangkan dirinya, lalu bertanya dengan suara yang amat berbeda dengan suaranya tadi.


”Apakah anda tak punya gagasan mengenai hal


ini, Miss Robert?”


”Maksud Anda?”


”Maksud saya, gagasan mengenai siapa yang telah


membunuh Dr. Hamilton”


Dengan tegas Nora menjawab, ”Saya sama se­kali tak punya gagasan apa-apa, Inspektur.”


Inspektur Larkspur berkata lambat-lambat, ”Waktu mayat itu ditemukan, Nyonya Hamilton sedang berdiri di sampingnya dengan memegang sebuah pistol..”


Dengan sengaja ia tidak menyelesaikan kalimat itu.


Nora Robert segera memberikan reaksi. Tidak dengan sikap marah, melainkan dengan dingin dan logis.


”Kalau Anda pikir Nyonya Hamilton yang telah membunuh suaminya, saya yakin Anda keliru Nyonya Hamilton sama sekali bukan wanita yang suka kekerasan. Dia lemah lembut, pengalah, dan benar-benar berada di bawah pengaruh suami­nya. Rasanya sangat tak masuk akal, kalau orang bisa membayangkan barang sesaat saja, bahwa dia­lah yang telah menembak Dr Hamilton .”


”Jadi, kalau bukan dia, siapa yang melakukan­nya?”


tanya Inspektur dengan tajam.


Nora menjawab lambat-lambat, ”Saya tidak tahu.”


Inspektur berjalan ke pintu. Nora bertanya, ”Apa­kah


Anda ingin bertemu dengan Nyonya Hamilton sebelum anda pergi’?”


”Tidak... eh, ya, sebaiknya saya menemuinya.”


Lagi-lagi Nora merasa heran. Ini bukan pria yang


sama, yang menanyainya sebelum telepon berdering. Berita apa yang telah diterimanya,


hing­ga membuatnya begitu berubah?


Natasha masuk ke ruangan itu dengan gugup. Ia tampak sedih dan bingung. Dengan suara rendah dan gemetar ia berkata,


”Sudahkah anda mendapatkan lebih banyak informasi, mengenai siapa yang membunuh suami saya Peter?”


”Belum, Nyonya Hamilton.”


”Rasanya tak masuk akal sama sekali.”


”Tapi itu yang telah terjadi, NyonyaHamilton.”


Natasha mengangguk, sambil memandang ke


ba­wah, dan meremas saputangannya hingga menjadi bola kecil.


”Apakah suami anda mempunyai musuh, Nyonya Hamilton?” tanya Inspektur dengan tenang.


”Peter? Oh, tak ada. Dia orang yang amat baik. Semua orang sayang sekali padanya.”


”Tak bisakah anda mengingat ingat kalau-kalau ada orang yang menyimpan dendam terhadapnya?” Inspektur berhenti sebentar. ”Atau terhadap anda sendiri?”


”Terhadap saya?” Natasha tampak bingung. ”Oh, sama sekali tak ada, Inspektur Larkspur.”


Inspektur Larkspur mendesah.


”Bagaimana dengan Miss Karen Clark?”


"Karen Clark? Oh, maksud anda orang yang datang malam itu untuk meminjam lilin?”


”Ya, yang itu. Kenalkah anda padanya?”


Natasha menggeleng.


”Saya tak pernah melihatnya sebelum malam itu.


”Saya rasa, mungkin dia menaruh dendam


ter­hadap suami Anda, tanpa setahu Anda?”


Dengan sikap pasti Natasha berkata, ”Saya rasa tak ada seorang pun yang punya rasa dendam terhadap Peter, juga di masa lalu. Dia orang yang paling baik hati, tak pernah mementingkan diri sendiri.”


”Hm,” kata inspektur. ”Ya, memang begitu. Nah,


selamat pagi, Nyonya Hamilton. Anda sudah tahu mengenai panggilan kepolisian, bukan? Hari Kamis, jam sepuluh , di Mews. Tak ada yang per­lu Anda khawatirkan mungkin akan ditangguhkan se­lama seminggu, supaya kami bisa mengumpulkan petunjuk-petunjuk lagi.”


”Oh, saya mengerti. Terima kasih.”


Natasha berdiri tanpa bergerak, menatap inspektur itu dari belakang. Inspektur Larkspur bertanya-tanya dalam hati apakah wanita ini tahu bahwa dirinya yang me­rupakan tertuduh utama.


Larkspur menghentikan sebuah taksi pengeluar­an un tuk itu bisa dibenarkan, mengingat informasi yang baru saja diterimanya melalui telepon,


meski­pun ia tak tahu dengan cara bagaimana informasi itu bisa mem­ban­tunya. Dilihat sepintas lalu, ke­lihatannya sama sekali tak ada hubungannya. Sepertinya sama sekali tak ada gunanya.


Tapi itu pasti berguna, meskipun ia be­lum tahu di mana. Satu satunya kesimpulan yang bisa ditariknya adalah,


pembunuhan ini bukan pembunuhan yang sederhana dan jelas, sebagaimana yang selama ini diduganya.


*********


William Cavendish menatap Inspektur Larkspur dengan rasa ingin tahu yang besar.


Ia berkata lambat-lambat, ”Saya rasa, saya tidak mengerti maksud Anda, inspektur.”


”Sebenarnya sederhana sekali, Tuan William. Saya minta anda memeriksa sekali lagi koleksi senjata api anda. Saya yakin benda benda itu dicantum­kan dalam sebuah katalog dan diberi nomor, bu­kan?”


”Tentu. Tapi saya sudah mengenali pistol itu sebagai salah satu koleksi saya.”


”Soalnya tidak sesederhana itu, TuanCavendish.” Inspektur Larkspur ber­henti sebentar. Nalurinya selalu me­larangnya untuk memberikan informasi apa pun, tapi pada saat ini agaknya ia terpaksa me­lakukannya.


William Cavendish adalah orang penting. Ia pasti mau memenuhi permintaan yang diajukan padanya, tapi ia pasti juga akan meminta ala­san­ya. Maka Inspektur memutuskan akan memberi­kan


alasan itu.


Dengan tenang ia berkata, ”Dr Hamilton tidak di tembak dengan pistol yang telah Anda kenali tadi


pagi.”


William Cavendish mengangkat alis.


”Menarik sekali!” katanya.


Inspektur Larkspur merasa agak terhibur. Ia sendiri juga merasa bahwa hal itu menarik. Ia merasa ber­terima kasih pada William Cavendish yang telah berkata begitu, dan juga bersyukur karena William Cavendish tidak mengatakan apa-apa lagi. Pada


saat itu, hanya sejauh itulah yang dapat mereka katakan.


Hal itu memang sangat menarik dan selanjutnya sama sekali tidak berarti apa-apa.


”Apakah anda punya alasan untuk menduga bahwa


senjata yang dipakai untuk menembak itu berasal dari koleksi saya?” tanya William Cavendish.


”Sama sekali tak ada alasannya. Tapi saya harus


meya­kinkan bahwa senjata itu tidak berasal dari koleksi anda.”


WIlliam Cavendish mengangguk membenarkan.


”Saya hargai pikiran Anda itu. Yah, kalau be­gitu,


kita harus mulai bekerja. Hal itu akan mema­kan waktu.”


Ia membuka laci meja kerjanya, lalu mengeluar­kan


sebuah buku bersampul kulit.


Sambil membuka buku itu, ia kembali berkata,


”Perlu waktu untuk mencarinya...”


Inspektur Larkspur jadi tertarik oleh nada suaranya. Men­dadak ia mengangkat wajah. Tampak olehnya bahu William Cavendish agak bungkuk dan ia tiba-tiba kelihatan lebih tua dan lebih letih.


Inspektur Larkspurmengerutkan dahi.


”Aku sama sekali tak mengerti apa yang harus kusimpulkan mengenai orang orang di sini,”


pikir­nya.


”Nah...


Inspektur Larkspur memutar tubuh, melihat ke arah jam. Dua puluh menit atau dua puluh menit yang lalu William Cavendish berkata, ”Perlu sedikit waktu."