
”Saya akan mengemukakan bahwa anda berada di
pondok peristirahatan itu pada hari Minggu setelah jam sebelas siang, pada waktu Morris membawa keluar gelas gelas kotor dari rumah peristirahatan. Anda berdiri di dekat meja itu, memperhatikan seseorang, atau menunggu seseorang, dan tanpa
sadar anda keluarkan pensil, dan nda gambarkan
sebuah pohon sakura tanpa menyadari benar apa yang sedang anda lakukan.”
”Saya tidak berada di pondok peristirahatan pada
hari Minggu. Saya duduk di beranda luar sebentar, lalu saya mengambil keranjang kebun dan pergi ke bedengan bunga daisy. Saya menggunting pucuk pucuknya, dan mengikat beberapa batang bunga peony yang tidak rapi. Lalu, tepat jam dua belas saya pergi ke kolam ikan. Semua itu sudah saya ceritakan pada Inspektur Larkspur. Saya tak pernah datang ke dekat kolam ikan itu sebelum jam satu, sesaat setelah Peter tertembak.”
”Itu cerita anda,” kata Eloise Hope. ”Tapi pohon sakura ini , Miss Hope, memberikan bukti yang sangat memberatkan anda.”
”Saya berada di rumah peristirahatan, dan saya
menembak Peter. Itukah maksud anda?”
”Anda ada di sana, dan anda yang menembak Dr. Hamilton, atau anda berada di sana dan anda melihat siapa yang menembak Dr. Hamilton, atau seseorang yang tahu tentang pohon sakura ini ada di sana, dan dengan sengaja menggambarnya di meja itu untuk menjatuhkan tuduhan pada anda.”
Graciela bangkit. Ia berbalik menghadapi Eloise
dengan dagu terangkat.
”Anda masih tetap menduga bahwa saya yang menembak Peter Hamilton. Anda pikir anda bisa membuktikan bahwa saya yang menembaknya. Nah, saya katakan ini pada anda. Anda takkan pernah bisa membuktikannya. Tidak akan!”
”Anda pikir anda lebih pintar daripada saya?”
”Anda takkan pernah bisa membuktikannya,” kata
Graciela. Lalu ia berbalik, dan berjalan melewati jalan setapak yang berliku liku, yang menuju kolam ikan.
**********
Larkspur masuk ke rumah Eloise Hope untuk minum teh dengannya. Tehnya tepat benar seperti yang sudah diduganya dan teh itu cair sekali, dan teh Cina lagi.
”Orang orang asing ini tak tahu bagaimana cara
membuat teh, dan tak bisa pula diajar,” pikir Larkspur.
Tapi ia tidak terlalu peduli. Ia sedang pesimistis. Dalam keadaan demikian, satu hal yang tidak memuaskannya justru jadi memberikan semacam kepuasan yang getir.
Katanya, ”Pemeriksaan pendahuluan yang tertunda
akan berlangsung tiga hari lagi, dan apa yang sudah kita hasilkan? Sama sekali tak ada apa-apa! Pedesaan sialan ini dan dengan hutannya yang berhektare hektare luasnya. Perlu satu pasukan tentara untuk menjelajahinya dengan saksama.
Tak ubahnya mencari jarum dalam tumpukan rumput kering. Benda itu bisa ada di mana saja. Pokoknya kit harus menghadapi kenyataan itu. Mungkin kita takkan pernah menemukan pistol itu.”
”Anda akan menemukannya,” kata Eloise dengan
pasti.
”Yah, pokoknya bukan karena kami kurang
berusaha!”
”Anda akan menemukannya, cepat atau lambat. Dan saya rasa bahkan bisa lebih cepat. Mau teh secangkir lagi?”
”Mau. Jangan, jangan pakai air panas,”
”Apakah itu tidak terlalu kental?”
”Oh, tidak, tidak terlalu kental.” Inspektur Larkspur menyadari nada bicaranya yang mencela.
itu. ”Perkara ini menjengkelkan saya, Miss Hope benar benar menjengkelkan saya! Saya tak mengerti mengapa orang orang di sini. Mereka kelihatannya suka membantu, tapi ternyata semua yang mereka ceritakan pada kita ternyata malah menyesatkan.”
”Menyesatkan?” tanya Eloise. Matanya
membayangkan rasa terkejut. ”Ya, saya mengerti. Menyesatkan...”
Inspektur makin kesal.
”Pistol itu, umpamanya. Menurut kesaksian medis, Hamilton ditembak hanya beberapa menit sebelum
anda tiba. Julia Cavendish membawa keranjang telur itu, Miss West membawa sebuah keranjang kebun yang penuh dengan bunga bunga yang sudah kering, dan Ryan Cavendish memakai jas menembak yang longgar, dengan saku besar besar berisi penuh dengan peluru. Salah seorang di antara mereka bisa saja melarikan pistol itu. Barang itu tidak disembunyikan di dekat kolam ikan. Anak buah saya telah memeriksa tempat itu
dengan teliti dan cermat, jadi itu pasti tak mungkin terlewatkan.”
Eloise mengangguk. Larkspur berbicara terus.
”Natasha Hamilton telah menjadi korban tuduhan
palsu. Oleh siapa? Dalam hal itulah setiap petunjuk
yang saya ikuti agaknya lenyap begitu saja.”
”Apakah cerita cerita tentang bagaimana mereka
menghabiskan waktu di pagi hari itu memuaskan?”
”Cerita ceritanya sendiri tak apa apa. Miss West
berkebun. Julia Cavendish mengumpulkan telur. Ryan Cavendish dan William Cavendish
menembak, lalu berpisah setelah hari agak siang. William Cavendish kembali ke rumah, sedangkan Ryan Cavendish turun ke kolam ikan melalui hutan. Anak muda yang seorang lagi siapa itu namanya , Shawn Cavendish berada di dalam kamar tidurnya, membaca buku. Tempat yang aneh untuk membaca pada hari yang begitu cerah. Tapi katanya dia memang suka tinggal di rumah dengan buku buku. Lalu Miss Owen membawa buku ke kebun buah buahan. Semua kedengarannya wajar sekali dan masuk akal, dan hal itu tak perlu lagi diselidiki. Morris mengantar senampan gelas ke luar, kerumah peristirahatan, kira kira jam sebelas. Dia tak dapat mengatakan di mana para tamu berada atau apa yang mereka lakukan. Secara
kasar, ada sesuatu yang memberatkan mereka semua.”
”Begitukah?”
”Tentu. Tapi orang yang paling dicurigai adalah
Karen Clark. Dia telah bertengkar dengan Hamilton,
dia membenci keberanian laki laki itu. Besar kemungkinan dia telah menembaknya, tapi saya tak bisa menemukan bukti sekecil apa pun bahwa dialah yang telah menembak Hamilton. Tak ada bukti bahwa dia mendapat kesempatan mencuri pistol pistol tersebut dari koleksi William Cavendish. Tak ada orang yang melihatnya mendatangi atau meninggalkan kolam ikan pada hari itu. Sedangkan pistol yang hilang itu sama sekali tidak ada padanya sekarang.”
”Oh, anda sudah meyakinkan diri mengenai hal itu?"
”Apa pikir anda? Kita sebenarnya boleh
mengadakan penggeledahan, tapi itu tak perlu. Dia bersikap luwes dalam hal itu. Benda itu tak ada di mana pun di bungalo kecil itu. Setelah
pemeriksaan pendahuluan ditunda, kami terus membuntuti Miss Clark dan Miss West, ke mana pun mereka pergi, dan apa pun yang mereka
lakukan. Kami menempatkan seseorang untuk mengawasi Karen. Tak ada tanda tanda bahwa dia mencoba membuang atau menyembunyikan pistol itu di sana.”
”Dan Graciela West?”
”Tak ada apa apa pula di sana. Dia langsung kembali ke Chelsea, dan sejak itu kami
mengawasinya terus. Pistol itu tak ada di dalam studionya atau pada dirinya. Dia tampaknya senang menghadapi penggeledahan.
Kelihatannya dia merasa geli. Beberapa di antara hasil karyanya membuat anak buah kami ketakutan. Katanya dia tak habis pikir mengapa orang orang mau membuat barang barang seperti itu, patung patung yang penuh dengan gumpalan dan benjolan benjolan , potongan potongan kain serta kuningan dan aluminium yang dibengkok bengkokkan menjadi bentuk bentuk aneh, ikan yang tidak kelihatan seperti ikan....”