Akhir Pekan Berdarah

Akhir Pekan Berdarah
Bab 54


”Saya akan mengemukakan bahwa anda berada di


pondok peristirahatan itu pada hari Minggu setelah jam sebelas siang, pada waktu Morris membawa keluar gelas gelas kotor dari rumah peristirahatan. Anda berdiri di de­kat meja itu, memperhatikan seseorang, atau me­nunggu seseorang, dan tanpa


sadar anda keluarkan pensil, dan nda gambarkan


sebuah pohon sakura tanpa me­nyadari benar apa yang sedang anda lakukan.”


”Saya tidak berada di pondok peristirahatan pada


hari Minggu. Saya duduk di beranda luar sebentar, lalu saya mengambil keranjang kebun dan pergi ke bedengan bunga daisy. Saya meng­gunting pucuk pucuknya, dan mengikat beberapa batang bunga peony yang tidak rapi. Lalu, tepat jam dua belas saya pergi ke kolam ikan. Semua itu sudah saya ceritakan pada Inspektur Larkspur. Saya tak pernah datang ke dekat kolam ikan itu sebelum jam satu, sesaat setelah Peter tertem­bak.”


”Itu cerita anda,” kata Eloise Hope. ”Tapi pohon sakura ini , Miss Hope, memberikan bukti yang sangat memberatkan anda.”


”Saya berada di rumah peristirahatan, dan saya


menembak Peter. Itukah maksud anda?”


”Anda ada di sana, dan anda yang menembak Dr. Hamilton, atau anda berada di sana dan anda melihat siapa yang menembak Dr. Hamilton, atau seseorang yang tahu tentang pohon sakura ini ada di sana, dan dengan sengaja menggambarnya di meja itu untuk menjatuhkan tuduhan pada anda.”


Graciela bangkit. Ia berbalik menghadapi Eloise 


dengan dagu terangkat.


”Anda masih tetap menduga bahwa saya yang menembak Peter Hamilton. Anda pikir anda bisa mem­buk­tikan bahwa saya yang menembaknya. Nah, saya kata­kan ini pada anda. Anda takkan pernah bisa me­m­buk­tikannya. Tidak akan!”


”Anda pikir anda lebih pintar daripada saya?”


”Anda takkan pernah bisa membuktikannya,” kata


Graciela. Lalu ia berbalik, dan berjalan me­lewati jalan setapak yang berliku liku, yang me­nuju kolam ikan. 


**********


Larkspur masuk ke rumah Eloise Hope untuk minum teh dengannya. Tehnya tepat benar seperti yang sudah diduganya dan teh itu cair sekali, dan teh Cina lagi.


”Orang orang asing ini tak tahu bagaimana cara


mem­buat teh, dan tak bisa pula diajar,” pikir Larkspur.


Tapi ia tidak terlalu peduli. Ia sedang pesimistis. Dalam keadaan demikian, satu hal yang tidak memuaskannya justru jadi memberikan se­macam kepuasan yang getir.


Katanya, ”Pemeriksaan pendahuluan yang ter­tunda


akan berlangsung tiga hari lagi, dan apa yang sudah kita hasil­kan? Sama sekali tak ada apa-apa! Pe­desaan sialan ini dan dengan hutannya yang berhek­tare hektare luasnya. Perlu satu pasukan tentara un­tuk menjelajahinya dengan saksama.


Tak ubahnya mencari jarum dalam tumpukan rumput kering. Benda itu bisa ada di mana saja. Pokoknya kit harus menghadapi kenyataan itu. Mungkin kita takkan pernah menemukan pistol itu.”


”Anda akan menemukannya,” kata Eloise de­ngan


pasti.


”Yah, pokoknya bukan karena kami kurang


ber­usaha!” 


”Anda akan menemukannya, cepat atau lambat. Dan saya rasa bahkan bisa lebih cepat. Mau teh secangkir lagi?”


”Mau. Jangan, jangan pakai air panas,”


”Apakah itu tidak terlalu kental?”


”Oh, tidak, tidak terlalu kental.” Inspektur Larkspur menyadari nada bicaranya yang mencela.


itu. ”Perkara ini menjengkelkan saya, Miss Hope benar benar menjengkelkan saya! Saya tak mengerti mengapa orang orang di sini. Mereka kelihatannya suka membantu, tapi ternyata semua yang mereka ceritakan pada kita ternyata malah menyesatkan.”


”Menyesatkan?” tanya Eloise.  Matanya


mem­bayangkan rasa terkejut. ”Ya, saya mengerti. Me­nyesatkan...”


Inspektur makin kesal.


”Pistol itu, umpamanya. Menurut kesaksian medis, Hamilton ditembak hanya beberapa menit sebelum


anda tiba. Julia Cavendish membawa ke­ranjang telur itu, Miss West membawa se­buah keranjang kebun yang penuh dengan bunga bunga yang sudah kering, dan Ryan Cavendish memakai jas menembak yang longgar, dengan saku besar besar berisi penuh dengan peluru. Salah seorang di antara mereka bisa saja melarikan pistol  itu. Barang itu tidak disembunyikan di dekat kolam ikan. Anak buah saya telah memeriksa tempat itu


dengan teliti dan cermat, jadi itu pasti tak mungkin terlewatkan.”


Eloise mengangguk. Larkspur berbicara terus.


”Natasha Hamilton telah menjadi korban tuduhan


palsu. Oleh siapa? Dalam hal itulah setiap petun­juk


yang saya ikuti agaknya lenyap begitu saja.” 


”Apakah cerita cerita tentang bagaimana mereka


menghabiskan waktu di pagi hari itu memuaskan?”


”Cerita ceritanya sendiri tak apa apa. Miss West 


berkebun. Julia Cavendish mengumpul­kan telur. Ryan Cavendish dan William Cavendish


me­nembak, lalu berpisah setelah hari agak siang. William Cavendish kembali ke rumah, sedangkan Ryan Cavendish turun ke kolam ikan  melalui hutan. Anak muda yang seorang lagi  siapa itu namanya , Shawn Cavendish berada di dalam kamar tidurnya, membaca buku. Tempat yang aneh untuk membaca pada hari yang  begitu cerah. Tapi katanya dia me­mang suka tinggal di rumah dengan buku buku. Lalu Miss Owen membawa buku ke kebun buah buahan. Semua kedengarannya wajar sekali dan masuk akal, dan hal itu tak perlu lagi diselidiki. Morris meng­­antar senampan gelas ke luar, kerumah peristirahatan, kira kira jam sebelas. Dia tak dapat mengatakan di mana para tamu berada atau apa yang mereka lakukan. Secara


kasar, ada sesuatu yang memberatkan mereka semua.”


”Begitukah?”


”Tentu. Tapi orang yang paling dicurigai adalah


Karen Clark. Dia telah bertengkar dengan Hamilton,


dia membenci keberanian laki laki itu. Besar kemungkinan dia telah menembaknya, tapi saya tak bisa menemukan bukti sekecil apa pun bahwa dialah yang telah menembak Hamilton. Tak ada bukti bahwa dia mendapat kesempatan mencuri pistol pistol tersebut dari koleksi William Cavendish. Tak ada orang yang melihatnya mendatangi atau mening­galkan kolam ikan pada hari itu. Sedangkan pistol yang hilang itu sama sekali tidak ada padanya sekarang.”


”Oh, anda sudah meyakinkan diri mengenai hal itu?"


”Apa pikir anda? Kita sebenarnya boleh


meng­adakan penggeledahan, tapi itu tak perlu. Dia ber­sikap luwes dalam hal itu. Benda itu tak ada di mana pun di bunga­lo kecil itu. Setelah


pemerik­saan pendahuluan ditunda, kami terus membuntuti Miss Clark dan Miss West, ke mana pun mereka pergi, dan apa pun yang mereka


lakukan. Kami menempatkan seseorang untuk meng­awasi Karen. Tak ada tanda tanda bahwa dia mencoba membuang atau menyembunyikan pistol itu di sana.”


”Dan Graciela West?”


”Tak ada apa apa pula di sana. Dia langsung kembali ke Chelsea, dan sejak itu kami


mengawasi­nya terus. Pistol itu tak ada di dalam studionya atau pada dirinya. Dia tampaknya senang mengha­dapi penggeledahan.


Kelihatannya dia merasa geli. Beberapa di antara hasil karyanya membuat anak buah kami ketakutan. Katanya dia tak habis pikir mengapa orang orang mau membuat barang barang seperti itu, patung patung yang penuh dengan gumpalan dan benjolan benjolan ,  potongan potongan kain serta kuningan dan alu­minium yang dibengkok bengkokkan menjadi ben­tuk bentuk aneh, ikan yang tidak kelihatan seperti ikan....”