
Lalu ia pun meluncur pergi begitu saja. William Cavendish berbalik dengan menggeram. Baru saja ia akan terlelap, ia terbangun lagi dengan mendadak.
”Apakah aku bermimpi?” gumamnya. ”Atau apakah
Julia benar benar masuk tadi dan berbicara tentang oven gas?”
Di luar, di lorong rumah, Julia Cavendish masuk ke
dapur, lalu menjerang ketel di atas kompor gas. Ia tahu bahwa orang orang kadang kadang suka
minum teh subuh subuh seperti sekarang ini. Karena merasa dirinya sudah berbuat benar, ia kembali ke tempat tidurnya dan meletakkan kepalanya ke bantal, dengan perasaan puas pada hidup dan pada dirinya sendiri.
Ryan dan Amy di Lodgewood , pemeriksaan pendahuluan selesai. Ia akan pergi menemui Miss Hope dan akan berbicara dengannya. Wanita yang baik dan cantik.
Tiba tiba terlintas suatu pikiran lain di kepalanya. Ia
duduk tegak di tempat tidurnya.
”Aku penasaran,” katanya pada dirinya sendiri, ”apakah dia ingat pada yang satu itu?”
Ia lalu turun dari tempat tidurnya, lalu berjalan di sepanjang lorong rumah, menuju kamar Graciela. Sebagaimana biasa, ia sudah mulai berkata kata sebelum bisa didengar oleh yang bersangkutan.
”...Dan aku tiba tiba ingat, Sayang, bahwa kau
mungkin kelupaan yang itu.”
Dengan mengantuk Graciela bergumam, ”Demi
Tuhan, Julia, bahkan burung burung pun belum bangun!”
”Oh, aku tahu, Sayang. Memang masih sangat subuh sekali, Tapi semalam banyak sekali gangguan yang terjadi , Ryan dengan oven gas, dan Amy dengan jendela dapur yang pecah, dan aku berpikir apa yang akan kukatakan pada Miss Hope, dan sebagainya...”
”Maaf, Julia, semua yang kaukatakan itu kacau
sekali. Nanti sajalah.”
”Hanya mengenai sarung pistol itu, Sayangku.
Kupikir mungkin kau tak ingat tentang sarung itu.”
”Sarung?” Graciela duduk tegak di tempat tidurnya. Dia langsung terjaga. Ia tiba tiba betul betul sadar.
”Ada apa dengan sarung pistol?”
”Pistol milik William itu ada di dalam sarungnya. Tapi sarungnya tidak ditemukan dimanapun. Dan mungkin tentu tak ada orang yang ingat akan hal itu, tapi sebaliknya mungkin ada orang yang ingat...”
Graciela melompat dari tempat tidurnya, lalu berkata, ”Selalu ada yang dilupakan orang , begitu kata orang! Dan itu benar!”
Julia Cavendish kembali ke kamarnya.
Ia naik ke atas tempat tidur, lalu segera tidur
nyenyak lagi.Dan air dalam ceret di atas kompor gas mendidih dan mendidih terus.
***********
Natasha berguling ke tepi tempat tidurnya, lalu
duduk diatas tempat tidurnya.
Kepalanya sudah lebih baik sekarang. Ia senang tidak ikut pergi piknik dengan yang lain. Terasa damai dan terhibur berada seorang diri di dalam rumah ini.
Alice memang baik , sangat baik sekali dan yah terutama mula mula. Mula mula ia didesak supaya sarapan di tempat tidur saja, dan makanan pun diantarkan kepadanya.
Semua orang mendesaknya untuk duduk di kursi yang paling nyaman. Ia disuruh menaikkan kaki, tak boleh mengerjakan apa apa yang memerlukan tenaga.
Mereka semua kasihan padanya dengan kematian Peter. Ia pun menerima baik sikap melindungi itu, dan merasa berterima kasih sekali. Ia tak mau
berpikir, tak mau merasa, tak mau mengingat.
Tapi kini ia merasa harus mulai hidup lagi, harus
memutuskan apa yang akan dikerjakannya, tinggal di mana.
Alice pun sudah mulai memperlihatkan ketidaksabarannya. ”Aduh, Natasha, jangan begitu lamban!” katanya, umpamanya.
Mereka semua menganggapnya lamban dan bodoh. Tak seorang pun yang berkata seperti Peter, ”Aku akan menjagamu Natasha.”
Kepalanya sakit lagi, dan Natasha berpikir, ”Aku akan membuat teh sendiri.”
Ia lalu pergi ke dapur, lalu menjerang ceret. Waktu air hampir mendidih, didengarnya bel pintu depan berbunyi.
Para pelayan sedang diliburkan. Natasha pergi ke
pintu dan membukanya. Ia terkejut melihat mobil Graciela yang mewah terparkir di tepi trotoar, dan Graciela sendiri yang berdiri di depan pintu.
”Wah, Graciela!” serunya. Ia mundur satu atau dua
langkah. ”Mari masuk. Kakakku dan anak anak ku sedang keluar...”
Graciela menyela dengan singkat.
”Bagus. Aku senang. Aku memang ingin bertemu
denganmu sendiri. Dengarkan aku , Natasha, apa yang kaulakukan dengan sarung pistol itu?”
Natasha tersedak. Matanya tiba tiba tampak
hampa , kosong , dan tak mengerti. ”Sarung pistol?” tanyanya.
Lalu dibukanya pintu di sebelah kanan ruang depan
itu.
”Sebaiknya kau masuk. Tapi agak berdebu. Soalnya
kami tak sempat membersihkannya tadi pagi.”
Graciela menyela lagi dengan mendesak.
”Dengarkan aku, Natasha,” katanya, ”kau harus
mengatakannya padaku sekarang juga. Semuanya sudah beres, kecuali sarung pistol itu. Percayalah, rahasia itu tertutup rapat rapat. Tak ada seorang pun yang dapat menghubungkanmu dengan perkara itu. Tenang saja. Aku sudah menemukan pistolnya, di tempat kau menyembunyikannya di dalam semak belukar, di dekat kolam ikan itu.
Lalu kusembunyikan lagi di suatu tempat, tempat yang kau tak mungkin menyembunyikannya, dan pada pistol itu terdapat sidik jari yang takkan pernah mereka kenali. Jadi, sekarang masalahnya hanya tinggal sarungnya. Aku harus tahu,
kauapakan barang itu.”
Ia berhenti dan berdoa dengan sungguh sungguh
agar Natasha cepat memberikan reaksi. Ia tak mengerti mengapa rasa mendesak ini ada pada
dirinya. Padahal mobilnya tidak dibuntuti oleh polisi hal itu sudah dipastikannya. Ia mula mula mengambil jalan ke London, lalu mengisi bensin sampai penuh, dan mengatakan bahwa ia akan pergi ke London. Lalu, setelah agak jauh, ia berputar menyeberangi pedesaan, hingga tiba di jalan utama yang menuju pantai selatan.
Natasha masih saja menatapnya. Kesulitan dengan
Natasha adalah dia terlalu lamban, pikir Graciela.
”Kalau barang itu masih ada padamu, Natasha, harus kauberikan padaku. Aku akan mencari jalan untuk menghilangkan jejaknya. Ketahuilah, tinggal benda itulah satu satunya yang mungkin menghubungkanmu dengan kematian Peter. Masih adakah padamu?”
Keadaan sepi sebentar, lalu Natasha mengangguk lemah.
”Tidakkah kau tahu bahwa menyimpan benda itu gila gilaan?” Graciela hampir hampir tak bisa menyembunyikan rasa tak sabarnya dan frustasi nya pada Natasha.
”Aku lupa. Barang itu ada di atas, di kamarku.”
Ditambahkannya, ”Waktu polisi datang ke rumah ini
, sarung itu sudah kupotong potong menjadi dua, lalu kumasukkan ke dalam kantong yang berisi barang barang kulitku.”
”Pandai sekali kau Natasha,” kata Graciela dengan tenang.
”Aku tidak sebodoh yang dikira orang selama ini, Graciela ” kata Natasha.
Ia mencengkeram lehernya. Katanya, ”Peter... Peter!” Suaranya terputus.
”Aku mengerti, Sayang, aku mengerti,” kata Graciela.